| Dirgantara Online |
| Vol 12 No 3-4 Mei-Agustus 2002 |
|
Home |
Dirgantara Online |
|
Indeks
Sapa Redaksi Laporan Berita Radio Kampus UU Penyiaran R Komunitas Kontes DX Sejarah Radio Profil Stasiun Radio TV Afgan Berita Radio Iklan Radio TV Review Top 50 Redaksi Volume 12 |
Sejarah Radio
Radio Tabung Indonesia : Quo Vadis ? Mengoleksi pesawat radio kuno merupakan pilihan tepat untuk para DXer. Selain dari nilai artistiknya, juga bermanfaat untuk digunakan menangkap siaran dari Radio Luar Negeri, karena kekuatannya. Ada semacam kepuasan tersendiri ketika memutar-putar tuning radio kuno, khususnya radio tabung. Bahkan sang pendiri majalah kita tercinta ini, Mas Aries Subagyo masih menyempatkan diri untuk memutar knob radio tabung (Dirgantara 1997), padahal notabene beliau memiliki perangkat pesawat penerima digital yang canggih. Sayangnya, hingga kini di Indonesia tidak diketahui pasti apakah ada kelompok atau klub yang secara khusus membahas radio tabung.
2. Urutan kedua : Kode kelas harga Menunjukkan kelas dan harga. Semakin kecil angka nomornya, berarti makin murah dan rendah kelasnya, sebaliknya semakin besar berarti semakin mahal. Kelas juga menunjukkan fasilitas yang menyertainya, misalnya untuk angka 0 (nol) adalah paling murah dan sederhana, tanpa disertai fasilitas apapun. Angka 6 dapat dipergunakan sebagai amplifier. Angka 9 termahal sekaligus memiliki beberapa fasilitas seperti tape recorder dan signal scope. 3. Urutan ketiga : Kode negara perakit
Pada masa jayanya, Philips memiliki banyak pabrik perakitan elektronik di berbagai negara, hingga dimunculkanlah kode-kode tertentu untuk membedakan asal pabrik perakitan. Yang paling umum adalah kode X, yang merupakan produksi Belanda (juga Belgia). Pasangan huruf dan nomor juga bisa berarti lokasi perakitan, misalnya E-nomor berasal dari Eindhoven, PL-nomor dari Philips Leuven. Radio dengan kode IN adalah rakitan pabrik Philips di Indonesia. 4. Urutan keempat : Kode tahun pembuatan dan serial Urutan keempat dan kelima merupakan pasangan nomor dari 00 hingga 99. Angka pertama memperlihatkan tahun pembuatan, sementara angka pasangannya sebagai pembeda dua radio yang memiliki karakteristik sama. Ingat, bahwa Philips membagi dua era penomorannya, pada 1946-1956 diawali dengan huruf-huruf, sementara pada tahun 1956-1966 diawali dengan huruf-nomor. 5. Urutan kelima : Kode sumber daya
Kode sumber daya pada umumnya berkode A, menunjukkan catu daya dari voltase AC. Pada kode U maka radio tersebut dapat memanfaatkan catu daya AC maupun DC. Huruf V umumnya adalah radio mobil. Kode huruf X berarti radio tersebut memiliki catu daya utama AC, tetapi dapat dinyalakan dengan catu daya DC melalui vibrator (semacam tenaga cadangan, fungsinya mirip baterai). 6. Urutan Terakhir : Kode akhiran penutup Akhiran (bisa berupa garis miring atau nomor) adalah kode tambahan, dan bisa juga berarti apa saja. Misalnya sebagai kode perbaikan teknis, tingkat pengembangan, besar frekuensi daya listrik, kode modifikasi, maupun produk untuk pasar tertentu. Misalnya Anda memiliki pesawat radio Philips dengan nomor seri B6X61A/01, maka dapat dibaca :
Jadi pesawat Anda adalah Philips model table top, klas harga 6 yang memiliki fungsi untuk phono, dirakit di Belanda pada tahun 1956, dengan menggunakan catu daya listrik AC. Misalnya lagi pesawat Philips dengan nomor seri L4X24T, maka produk itu adalah radio jinjing (portabel) dengan komponen transistor, bertenaga baterai, yang dirakit di Belanda di tahun 1962. Philips mulai memproduksi radio transistornya yang pertama pada tahun 1957. Selamat berburu !!! |
| Dirgantara Online - Vol 12 No 3-4 Mei-Agustus 2002 |