Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 12 No 3-4 Mei-Agustus 2002
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Laporan Berita
Radio Kampus
UU Penyiaran
R Komunitas
Kontes DX
Sejarah Radio
Profil Stasiun
Radio TV Afgan
Berita Radio
Iklan Radio TV
Review Top 50
Redaksi

Volume 12
  Sejarah Radio
Radio Tabung Indonesia : Quo Vadis ?

Mengoleksi pesawat radio kuno merupakan pilihan tepat untuk para DXer. Selain dari nilai artistiknya, juga bermanfaat untuk digunakan menangkap siaran dari Radio Luar Negeri, karena kekuatannya. Ada semacam kepuasan tersendiri ketika memutar-putar tuning radio kuno, khususnya radio tabung. Bahkan sang pendiri majalah kita tercinta ini, Mas Aries Subagyo masih menyempatkan diri untuk memutar knob radio tabung (Dirgantara 1997), padahal notabene beliau memiliki perangkat pesawat penerima digital yang canggih. Sayangnya, hingga kini di Indonesia tidak diketahui pasti apakah ada kelompok atau klub yang secara khusus membahas radio tabung.

Barangkali ada tetapi tidak mau dipublikasikan, atau lebih suka independen. Padahal di luar negeri aktivitas demikian sudah berkembang pesat. Mulai dari banyaknya klub, kegiatan rutin, penerbitan majalah, pembuatan situs, hingga jual beli pesawat radio dan komponen (Dirgantara 1998). Coba Anda masuk search engine di dunia maya, dan ketik "antique radio", "tube radio", atau "old radio", maka sim-salabim, ribuan situs siap menanti untuk Anda masuki. Begitu mudahnya. Langkanya komunitas radio tabung Indonesia menyebabkan informasi seluk-beluk radio tabung sulit didapat.

Memang, ada kolektor individu atau pemilik galeri yang ahli dalam bidangnya, tetapi apakah informasinya harus terhenti sampai di kepala mereka saja ? Internet memberi pilihan yang baik, tetapi sama saja. Mungkin Anda sudah mem-browse ratusan situs, tetapi yaa sudah... sekedar membaca untuk diri sendiri. Barangkali setelah ini, ada pembaca yang tergerak untuk menyusun buku mengenai radio tabung Indonesia, lengkap dengan sejarah dan gambar-gambarnya !! Atau setidaknya bikin klub ??

Mengidentifikasi Radio Tabung Philips
Merk Philips sudah begitu melekat di kepala orang Indonesia, terutama di era 50-70-an, saat kejayaan brand Philips sebagai produsen elektronik belum tergoyahkan oleh industri Jepang. Bahkan kalau Anda iseng-iseng ke pasar loak dan menemukan radio tua Philips (tabung atau transistor), pasti penjualnya akan pasang omong tinggi !! Artikel ini membahas cara-cara mengidentifikasi radio Philips melalui nomor tipe radio untuk produk 1946-1966. Siapa tahu, Anda sedang penasaran dengan radio tua di gudang belakang, kira-kira kapan dibuatnya ya ??

Biasanya, Philips menggunakan 6 hingga 7 digit kode sebagai identifikasi produknya. Penomoran tersebut dimanfaatkan selama 20 tahun, sejak 1946 hingga 1966. Pada dekade 1946-1956, urutan nomor diawali oleh 2 huruf (misal BX, BD, BF), sementara di era 1956-1966 dengan huruf dan angka (misal B4, B6, L4). Selepas tahun 1966, Philips pun mengubah sistem penomoran produknya, yakni dengan kode AL, RL. Semisal 90 RL 490, 16 AL 360 / 00R, dan lain-lain. Artikel berikut merupakan saduran dari Situs Gerard Corner di : http://www.cs.uu.nl/~gerard/RadioCorner/Articles.htm.

Metode Penomoran pada Periode : 1946-1956
- Kode pertama berupa Huruf merupakan kode untuk Jenis
- Kode kedua berupa Huruf merupakan kode untuk Negara Perakit
- Kode ketiga berupa Angka merupakan kode untuk Kelas Harga
- Kode keempat berupa Angka-Angka merupakan kode untuk Tahun / Serial
- Kode kelima berupa Angka merupakan kode untuk Catu Daya
- Akhiran

Metode Penomoran pada Periode : 1956-1966
- Kode pertama berupa Huruf merupakan kode untuk Jenis
- Kode kedua berupa Angka merupakan kode untuk Kelas Harga
- Kode ketiga berupa Huruf merupakan kode untuk Kelas Negara Perakit
- Kode keempat berupa Angka-Angka merupakan kode untuk Tahun / Serial
- Kode kelima berupa Angka merupakan kode untuk Catu Daya
- Akhiran

1. Urutan pertama : Kode jenis produk
A
F
B
N
: Tuner
: Console
: Tabletop
: Radio Mobil
H
L
P
T
: Radio dengan Pickup
: Portabel
: Portabel / Radio Mobil
: Televisi

2. Urutan kedua : Kode kelas harga
Menunjukkan kelas dan harga. Semakin kecil angka nomornya, berarti makin murah dan rendah kelasnya, sebaliknya semakin besar berarti semakin mahal. Kelas juga menunjukkan fasilitas yang menyertainya, misalnya untuk angka 0 (nol) adalah paling murah dan sederhana, tanpa disertai fasilitas apapun. Angka 6 dapat dipergunakan sebagai amplifier. Angka 9 termahal sekaligus memiliki beberapa fasilitas seperti tape recorder dan signal scope.

3. Urutan ketiga : Kode negara perakit
X
A
D
S
DK
E
: Belanda / Belgia
: Austria
: Jerman
: Swedia
: Denmark
: Spanyol
F
SF
G
I
N
W
: Perancis
: Finlandia
: Inggris Raya
: Italia
: Norwegia
: Amerika Serikat

Pada masa jayanya, Philips memiliki banyak pabrik perakitan elektronik di berbagai negara, hingga dimunculkanlah kode-kode tertentu untuk membedakan asal pabrik perakitan. Yang paling umum adalah kode X, yang merupakan produksi Belanda (juga Belgia). Pasangan huruf dan nomor juga bisa berarti lokasi perakitan, misalnya E-nomor berasal dari Eindhoven, PL-nomor dari Philips Leuven. Radio dengan kode IN adalah rakitan pabrik Philips di Indonesia.

4. Urutan keempat : Kode tahun pembuatan dan serial
Urutan keempat dan kelima merupakan pasangan nomor dari 00 hingga 99. Angka pertama memperlihatkan tahun pembuatan, sementara angka pasangannya sebagai pembeda dua radio yang memiliki karakteristik sama. Ingat, bahwa Philips membagi dua era penomorannya, pada 1946-1956 diawali dengan huruf-huruf, sementara pada tahun 1956-1966 diawali dengan huruf-nomor.

5. Urutan kelima : Kode sumber daya
A
U
B
V
T
X
Z
: Tenaga listrik AC
: Universal (AC / DC)
: Baterai
: Aki
: Radio transistor dengan baterai voltase rendah
: Catu daya utama AC atau dengan vibrator DC
: Gabungan aki / soket

Kode sumber daya pada umumnya berkode A, menunjukkan catu daya dari voltase AC. Pada kode U maka radio tersebut dapat memanfaatkan catu daya AC maupun DC. Huruf V umumnya adalah radio mobil. Kode huruf X berarti radio tersebut memiliki catu daya utama AC, tetapi dapat dinyalakan dengan catu daya DC melalui vibrator (semacam tenaga cadangan, fungsinya mirip baterai).

6. Urutan Terakhir : Kode akhiran penutup
Akhiran (bisa berupa garis miring atau nomor) adalah kode tambahan, dan bisa juga berarti apa saja. Misalnya sebagai kode perbaikan teknis, tingkat pengembangan, besar frekuensi daya listrik, kode modifikasi, maupun produk untuk pasar tertentu. Misalnya Anda memiliki pesawat radio Philips dengan nomor seri B6X61A/01, maka dapat dibaca :

Urutan
Pertama
Kedua
Ketiga
Keempat
Kelima
Keenam
Kode
B - Jenis
6 - Kelas Harga
X - Negara Perakit
61 - Tahun / Serial
A - Catu Daya
01 - Akhiran
Arti Kode
Tipe tabletop
Kelas harga 6 dengan fasilitas amplifier / phono
Belanda sebagai negara pembuatnya
Tahun pembuatan 1956
Catu daya AC
???

Jadi pesawat Anda adalah Philips model table top, klas harga 6 yang memiliki fungsi untuk phono, dirakit di Belanda pada tahun 1956, dengan menggunakan catu daya listrik AC. Misalnya lagi pesawat Philips dengan nomor seri L4X24T, maka produk itu adalah radio jinjing (portabel) dengan komponen transistor, bertenaga baterai, yang dirakit di Belanda di tahun 1962. Philips mulai memproduksi radio transistornya yang pertama pada tahun 1957. Selamat berburu !!!

 
Dirgantara Online - Vol 12 No 3-4 Mei-Agustus 2002
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space