Back to the Nature... Kembali ke Alam. Begitulah kira-kira slogan yang paling pantas buat kegiatan DX Camp 2001. Meskipun tak jauh berbeda dengan acara DX Camp dua tahun sebelumnya di Tawangmangu, kegiatan yang berlokasi di daerah wisata Batu Raden, DX Camp 2001 lebih banyak dan lebih didominasi kegiatan di alam bebas (outdoor). Tempat yang tinggi, lingkungan asri dan alami, membuat Batu Raden memang layak untuk kegiatan DXing. Tidak banyak menjanjikan dan tidak banyak gembar-gembor seperti kegiatan lainnya, DX Camp 2001 bisa terselenggara.
Terlepas dari sukses atau tidaknya, ternyata acara DX Camp 2001 ini mendapat minat tersendiri. Terbukti dari banyaknya partisipasi dari berbagai pihak, dari stasiun radio maupun calon peserta. "Kami memang tak menetapkan target yang muluk-muluk," ujar Ketua Panitia, Aries Subagyo. Kegiatan ini hanyalah sebagai refreshing, setelah sekian waktu vakum akan kegiatan yang sejenis lainnya, tambahnya. Kalau melihat jumlah peserta memang kalah dibandingkan kegiatan DX tahun sebelumnya, Temu Pendengar Djokdja 2000 di Kaliurang Yogyakarta.
Hal ini juga sudah masuk dalam perhitungan pihak penyelenggara. Terbukti dengan pengambilan tempat kegiatan yang digunakan tidaklah seluas dan sebanyak Temu Pendengar 2000 kapasitasnya. "Target kami hanya 20 peserta. Karena kami tidak mengejar kuantitas peserta, melainkan kualitas. Kami lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat teknis atau DX." Partisipasi dari pihak stasiun radio sebagai mitra juga cukup simpati. Terbukti dengan banyaknya kiriman cendera mata.
Bahkan Radio Korea Internasional menyempatkan diri untuk melakukan wawancara secara langsung per telephone dengan pihak penyelenggara. Mungkin Anda sudah memantaunya di siaran Radio Korea Internasional melalui acara "Pelangi Indonesia Korea". Tidak mengenal waktu, berbeda dengan kegiatan radio dan televisi yang mengenal waktu tayang, DX Camp sudah mulai begitu tiba di lokasi. Selepas dari "prime time", saat mana beberapa stasiun radio dan televisi mengudara dengan acara utamanya, DX Camp 2001 juga memulai acaranya secara resmi.
Saran dan Kritik
Dalam kesempatan DX Camp 2001 ini, sesi diskusi adalah sesi yang paling menarik. Karena di sinilah para peserta bebas mengeluarkan pendapat masing-masing sesuai dengan topik atau tema yang dilemparkan. Apa pendapat mereka, sebagian bisa Anda baca pada edisi ini juga. Dua hari berada di tempat berketinggian yang sangat ideal untuk berDX, membuat betah para Dxer. Tak terasa, memang, karena asyik dengan kegiatan yang memang sudah mendarahdaging. Namun ada satu keinginan bersama untuk saling bertemu lagi tahun berikutnya dalam kegiatan yang lebih akbar, Bali DX Tour.
Adalah Dwi Budhi Rahardjo dan Herbert Sunu Budihardjo, dua dedengkot Indonesian DX Club Jakarta, yang hadir dengan gagasan yang menurut kami baru. Dengan bantuan rekan-rekan yang lain, mereka yakin dan optimis untuk menyelenggarakan kegiatan "Bali DX Tour" tahun 2002. "Kalau memang itu bisa terselenggara, kita bisa melibatkan berbagai pihak, termasuk klub-klub pendengar lain. Baik yang berada di Indonesia sendiri maupun luar negeri," ujar Aries Subagyo menambahkan.
Bali merupakan daya tarik tersendiri bagi mereka untuk datang dan hadir dalam kegiatan tersebut, lanjut Aries. Menurut hemat Dwi Budhi Rahardjo, kegiatan semacam ini belum pernah terselenggarakan di Indonesia. "Sekali-sekali kita bikin kegiatan yang lebih profesional dan mengglobal" tambahnya. Lajang kelahiran Wonosobo ini memang yang paling antusias untuk mengadakan kegiatan tersebut. Satu hal yang cukup menggembirakan, wacana sudah dilempar . Gayung pun bersambut. Beberapa rekan merespon dengan antusias pula.
Ada hal yang menarik dari keterangan Ketua Indonesian DX Club, Aries Subagyo. "Pada satu kesempatan Djokdja 2000 lalu, kak Maria Soekamto, Kepala Seksi Bahasa Indonesia Radio Taipei Internasional, mengusulkan agar kegiatan semacam DX bisa dilangsungkan di Bali." "Saya sangat setuju dan siap membantu kegiatan tersebut," ujar Alwi Hasan dari Makasar. Dia merasa lebih dekat di Bali daripada di Jawa. Lepas dari terselenggara atau tidak, Bali DX Tour 2002 yang sementara ini masih dalam tahap wacana, pantas untuk direspon.
Sejauh mana respon dari berbagai pihak tentu sangat kami harapkan. Seperti yang disampaikan Aries Subagyo, kegiatan tersebut memang sebaiknya tidak membawa bendera klub. "Demi persatuan dan kesatuan kalangan penggemar siaran gelombang pendek." Sampai jumpa lagi dalam Bali DX Tour 2002.
Saran untuk Radio Korea Internasional KBS
- Dwi Budhi Rahardjo, Jakarta :
Saya jarang memantau karena sinyal lemah. Perbaiki siaran untuk malam hari.
- Aries Subagyo, Kutoarjo :
Siaran malam hari 13670 kHz co-channel dengan Radio Liberty / Radio Free Europe. Kadang BBC World Service. Kartu QSL-nya banyak yang tidak sah, karena tidak diisi data teknisnya.
- Agus Sutikno, Yogyakarta :
Respon atau tanggapan terhadap surat-surat kurang memuaskan. Kartu QSL mohon untuk lebih teliti, karena sering yang dikirim bukan kartu QSL, melainkan blankonya saja. Realisaikan siaran relay via Singapura malam hari melalui 9640 kHz.
- Alwi Hasan, Makasar :
Sayembaranya terlalu banyak pertanyaannya. Sebagai contohnya, "Sebutkan 3 judul film Korea", itu kan terlalu subyektif.
- Suparto, Sumedang :
Sering mengulang materi siaran, sehingga terkesan kekurangan materi atau bahan siaran. Siaran beritanya terlalu banyak Korea-nya. Korea sentris. Juga para penyiarnya kurang mikroponis. Suaranya kurang keras, dan kadang harus menempelkan telinga untuk bisa mendengar dengan jelas.
- Aloysius H.M., Tuban :
Siaran malam hari susah diterima !! Kalau bisa jangan mengulang atau tak ada siaran ulangan. Semua beda.
- Hendrik Rotinsulu, Solo :
Siaran malam susah hingga malas untuk memantaunya.
- Jemmy Liwang, Yogyakarta :
Siarannya terkesan sebagai corongnya pemerintah. Mungkin ada baiknya Radio Korea Internasional belajar dari Radio Republik Indonesia (RRI). Lagu yang diputar jangan lagu Korea terus Layanan surat menyurat kurang lancar.
Saran untuk Radio Taipei Internasional
- Agus Sutikno, Yogyakarta :
Dengan adanya Program 1 dan Program 2 membuat acara makin beragam. Bagus !! Sebaiknya surat menyurat langsung dari Taiwan, tidak melalui perwakilan Surabaya. Kenapa buletinnya mesti beda antara Program 1 dan Program 2 ? Untuk menghemat, cukup satu saja.
- Dwi Budhi Rahardjo, Jakarta :
Program 2 sebaiknya di MW saja. Karena yang menjadi sasaran adalah mereka yang ada di Taiwan / Hong Kong.
- Suparto, Sumedang :
Saya bingung dengan Program 1 dan Program 2. Apa maksudnya ?
- Jemmy Liwang, Yogyakarta :
Bedakan antara Program 1 atau Program 2. Mana yang untuk luar, mana yang untuk domestik. Program siaran setempat (domestik). Program 2 tetap di SW. Program 3 siaran international.
- Aries Subagyo, Kutoarjo :
Kalau memang dipancarkan ke Indonesia dan juga lokal Taiwan / Hong Kong kenapa tidak dijadikan satu saja, dengan durasi 2 jam.
Ucapan Terima Kasih untuk
- Radio Korea International KBS
- Radio Nederland Wereldomreop
- Suara Jerman Deutsche Welle
- Radio Australia
- Radio Taipei International
- Radio Jepang NHK World
- Radio Singapura International
- Radio New Zealand International
- Voice of America
- Radio Canada International
- Radio Veritas Asia
- Passport to World Band Radio
- Don Nichelson
- Nick Grace
- Bulletin Anda
- Soehartono Ashar
- Aloysius H.M.
Terima kasih atas bantuan dan partisipasinya dalam "IDXC DX CAMP 2001" di Batu Raden. (Tim IDXC / Panitia)