Sapa Redaksi
Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Mungkin saja begitu yang Anda rasakan selama ini, ketika menunggu dan menunggu meluncurnya Dirgantara edisi Djokdja yang Anda baca ini. Mungkin kata maaf yang pantas kami ucapkan kepada para pelanggan Dirgantara yang selama ini selalu menunggu-nunggu kehadiran kami. Banyak email, telepon, dan surat yang masuk ke alamat kami menanyakan keberadaan buletin Dirgantara, khususnya edisi djokdja. Beragam pendapat yang dapat kami tangkap dari email, telepon, dan surat yang masuk ke redaksi. Itulah wujud dari perhatian Anda kepada Dirgantara. Apapun dan bagaimanapun pendapat Anda dengan senang hati dan tangan terbuka kami terima. Karena kami yakin maksud baik Anda semua. Terima kasih.
Barangkali luput dari indera pendengaran Anda, ataupun perhatian Anda, meski mungkin beberapa di antara Anda juga telah menerima bocoran kami. Kami di jajaran Redaksi Dirgantara mencoba untuk merapatkan barisan dalam menghadapi tantangan yang selalu siap menghadang. Dalam kesempatan emas ketika berlangsungnya DX Camp Batu Raden 2001, jajaran Pengurus dan Redaksi mengadakan rapat kecil untuk membahas kelangsungan hidup buletin kita, Dirgantara.
Tak banyak menjanjikan, kami mencoba memperbaiki kinerja kami. Antara lain tercapai kesepakatan untuk menerbitkan Dirgantara dari Yogyakarta atau Kutoarjo yang mana mungkin nanti akan lebih dikenal sebagai edisi djokdja atau kutoarjo. Meskipun dalam kenyataannya kami masih banyak kendala dalam menindaklanjuti kesepakatan itu. Namun bukan berarti dengan terbitnya Dirgantara edisi djokdja ini, telah terjadi dualisme kepengurusan di tubuh Indonesian DX Club. Tidak sama sekali. Jangan salah sangka, kami tetap solid dan tetap rapat dalam satu barisan. Kami hanya ingin kelangsungan hidup IDXC dengan buletin Dirgantara tetap eksis, hingga kami harus berbagi tugas. Maklumlah kami yang duduk di jajaran kepengurusan IDXC maupun Redaksi Dirgantara mempunyai kesibukan tersendiri.
Hanya karena rasa cinta kami akan hobby dan loyalitas kepada klub membuat kami merelakan sebagian waktu kami untuk mengelola kelangsungan hidup klub kita ini. Tanpa memperhitungkan untung dan ruginya kalau dilihat dari sisi materi. Semata-mata demi kepuasan Anda sebagai pembaca atau kita sebagai pelaku di Indonesian DX Club. Kalau Anda memperhatikan jajaran Redaksi Dirgantara, ada beberapa nama lama yang kembali aktif memperkuat barisan. Itulah wujud loyalitas kepada klub.
Sengaja kami melibatkan kembali mereka yang sudah beberapa waktu tidak aktif, untuk menambah kekuatan kami. Tentu saja kami tetap memerlukan bantuan Anda. Di sini Anda bukan obyek, tapi subyek alias pelaku. Karena di sini tetap berlaku motto "Dari Anda oleh Anda untuk Anda." Dalam artian, bagus-tidaknya sangat bergantung pada partisipasi Anda sebagai pelaku di dalamnya. Mungkin Anda merasakan ada perubahan ataupun perbedaan dalam edisi Djokdja ini. Kami inginkan komentar, saran dari Anda akan bentuk dan wajah kami. Berikan kami kritik, saran, atau usulan, agar kami juga tahu akan kekurangan kami dan tentu saja keinginan Anda. Anda bisa memanfaatkan fasilitas kami, baik sarana komunikasi lewat Internet ataupun telepon yang bisa Anda hubungi.
Tidak ada maksud kami untuk pamer kekuatan. Semua demi kemudahan Anda bila menginginkan berkomunikasi dengan kami. Silahkan Anda pilih lewat jalur mana dan kepada siapa Anda ingin berkomunikasi. Tinggal pilih saja. Semoga apa yang kami berikan kepada Anda kali ini bisa memuaskan Anda semua. Jangan lupa beri kami masukan. Selamat menikmati sajian kami. (asb)
Terima Kasih kepada Pimpinan dan Staf Radio MD Station 93.9 FM
atas Wawancaranya yang Diudarakan pada
Hari Selasa, 11 Juni 2002, Pukul 13.00-14.00 WIB
Bali DX Tour 2002
Mungkin Anda sedikit kaget ternganga saat membaca judul itu. Terkesan wuaahhh. Bahkan mungkin terlalu mengada-ada. Tapi itu memang sudah menjadi wacana dan menjadi buah bibir peserta DX Camp 2001 di Batu Raden kemarin. Adalah Dwi Budhi Rahardjo dan Herbert Sunu Budihardjo, dua dedengkot IDXC Jakarta yang membawa gagasan terbaru tersebut. Satu gagasan yang cukup menantang kita semua.
Bisakah kegiatan tersebut terselenggara ? Semua tergantung kepada keseriusan kita dalam merencanakan dan melaksanakannya. Bali, atau yang juga dikenal dengan Pulau Dewata, memang punya nilai jual di tingkat international. Sudah bukan rahasia umum lagi, Bali merupakan daerah tujuan wisata internasional. Jangan heran kalau orang luar lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Itulah bukti betapa potensial nilai jual Bali di kalangan international.
"Mungkin hal semacam itulah yang akan kita usung dalam kegiatan Bali DX Tour. Kegiatan yang membawa dua misi. Memperkenalkan Indonesian DX Club pada dunia internasional dan membantu program pemerintah dalam menggalakkan kunjungan wisata ke Indonesia, khususnya ke Bali," ujar Herbert Sunu Budihardjo optimis. "Kita merencanakan kegiatan berlangsung selama 3 hingga 4 hari," Dwi Budhi Rahardjo menambahkan, "Dan lebih banyak kegiatan wisatanya daripada DX-nya," katanya lagi. Lantas, bagaimana kita bisa menarik minat peserta agar berkunjung ke Bali ? Satu tugas yang tidak mudah dan tidak ringan bagi kita. Karena tantangan memang bakal menghadang kita di sana-sini.
Tetapi kita yakin, dengan satu tekad bersama semua itu akan bisa kita laksanakan. Kita bisa !! "Kita akan mengajak rekan-rekan lain atau klub-klub lain untuk bekerja sama dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Mungkin ada sekitar lima organisasi di Indonesia yang bisa kita ajak kerjasama," jelas Dwi Budhi Rahardjo, lajang kelahiran Wonosobo. "Untuk bisa sukses kita harus melakukan promosi jauh-jauh hari," Agus Sutikno, redaktur artistik Dirgantara, menambahkan.
Dia memang ikut merasakan betapa susahnya mengatur kegiatan semacam DX Camp ini, yang memang mengalami banyak kendala dalam hal publikasi. Dari Indonesia Bagian Timur, Aloysius H.M., Tuban, yang selalu kami rekrut sebagai seksi publikasi, berpesan agar penyelenggaraan bisa dilaksanakan pada bulan Juni atau Juli. Saat mana anak-anak sekolah libur. "Mungkin bisa menambah banyak jumlah pesertanya, karena musim liburan," Cak Aloysius memberikan alasannya. Dengan konsekuensi mungkin pengalaman Djokdja 2000 kembali terulang.
Beberapa peserta kesulitan transportasi karena bertepatan dengan liburan sekolah. Satu langkah yang mungkin menjadi terobosan baru adalah mengajak rekan-rekan dari klub pendengar lain di bumi nusantara ini. Sebagaimana kita ketahui banyak sekali klub-klub pendengar yang terlahir di nusantara ini.
Seperti halnya yang dikemukakan Ketua Indonesian DX Club, Aries Subagyo, "Sudah saatnya kita mempunyai satu asosiasi klub-klub pendengar di negeri ini. Alangkah mudahnya semua, bila ada suatu asosiasi klub pendengar yang menaungi klub-klub pendengar di negeri ini." "Dalam satu kesempatan kami pernah menerima usulan dari Kak Maria Soekamto (Kepala Seksi Indonesia Radio Taipei Internasional), agar kalau bisa kegiatan diselenggarakan di Pulau Bali," kata Aries Subagyo.
Bola telah dilempar, tinggal kita-kita ini yang akan mengolahnya. Bagaimana agar bola kita ini bisa kita arahkan ke gawang, dan menghasilkan gol ? Semua tergantung pada kita semua selaku pemain di lapangan. Sebagai satu tim, sudah sepantasnya kalau kita ingin lebih baik hasilnya adalah kita bekerjasama. Dari kota Angin Mamiri, Alwi Hasan, sanggup menjadi salah satu pengelolanya. "Mungkin nanti saya bisa melibatkan rekan-rekan kami di Makasar untuk menjadi koordinatornya."
Alwi Hasan yang sudah lama nggak aktif sudah merasa gatal untuk ikut mengadakan kegiatan pertemuan pendengar. Apalagi dengan skala yang lebih besar lagi. Dari bagian timur, tepatnya di Nusa Tenggara Barat, Ketua Mapem Club, M. Jayadi D., juga sudah siap dengan planning-nya. Di dalam suratnya kepada redaksi Dirgantara, dia menyambut baik ajakan untuk mengadakan kegiatan secara bersama. Dan kami juga yakin masih banyak yang berkenan untuk bekerja sama menyelenggarakan kegiatan tersebut. Ditunggu kerjasama dari rekan-rekan yang lain.
"Kegiatan ini tidak membawa bendera klub," ujar Budhi, yang diamini rekan-rekan lainnya. Dan mungkin dari sini gagasan asosiasi klub pendengar yang pernah menjadi satu wacana menarik bisa terealisasi. Tentu saja, semua harus ada usaha dari kita, selaku para pelaku di dalamnya. Bagaimana ? (Tim IDXC)