Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 12 No 2 Mar-Apr 2002
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
DirgaNet
Televisi
DX Tips
Profil Stasiun
Sejarah Radio
Review Top 50
Redaksi

Volume 12
  DirgaNet
Perkembangan Website IDXC

Layanan Download IDXC

Bosan dengan wallpaper layar monitor komputer Anda ? Mungkin Anda ingin memiliki wallpaper unik bertema dunia radio ? Silakan Anda kunjungi Layanan Download IDXC ( IDXC DOWNLOAD SERVICE ), yang merupakan layanan baru website IDXC, beralamat di URL : http://download.idxc.org.

Saat tulisan ini disiapkan, ada 4 pilihan wallpaper yang dapat Anda download, masing-masing bergambar : (1) pesawat penerima analog (analog receiver) Sony ICF-SW40, (2) lokasi pemancar Radio Free Europe / Radio Liberty, (3) fasilitas pemancar Suara Jerman DW, dan (4) Sony ICF-SW100 analog receiver.

Untuk masing-masing pilihan gambar wallpaper di atas tersedia 3 pilihan resolusi layar (1024x768, 800x600 dan 640x480). Untuk pengembangan selanjutnya akan kami sediakan lebih banyak pilihan gambar. (AIG)

Pengguna Email Gratis IDXC

Anda sudah mempunyai alamat email dari Situs Web IDXC (http://webmail.idxc.org) ? Apabila belum, segeralah daftarkan diri Anda !! Saat tulisan ini disiapkan jumlah account yang terdaftar sudah mencapai 178 account !! Makin banyak account yang telah terdaftar, maka akan semakin kecil pula kemungkinan Anda dapat memilih username yang Anda inginkan. Dengan menggunakan layanan email gratis IDXC, Anda dapat memiliki account email hingga 6 MB (Mega Bytes). Tercatat sudah puluhan anggota IDXC memiliki account email gratis ini. Bila Anda belum memilikinya, silakan daftarkan diri Anda sekarang juga di URL : http://webmail.idxc.org. (AIG)

Pelanggan IBSI DX News Mailing List

Dapat kami informasikan jumlah total pelanggan IBSI (Indonesian Broadcasting Stations Information) DX News Mailing List telah mencapai 150 pelanggan. Bila Anda belum menjadi pelanggan mailing list DX news ini silakan daftarkan diri Anda sekarang juga !! Arsip-arsip lama IBSI dapat Anda baca di Website IDXC pada URL : http://ibsi.idxc.org. Apabila Anda belum memiliki alamat email untuk berlangganan IBSI DX News Mailing List, Anda dapat gunakan layanan email gratis dari IDXC. (AIG)

Hari Jadi IDXC Website ke-4

Tak terasa 4 (empat) tahun sudah Indonesian DX Club Website online di Internet. Tepatnya pada 4 Maret 2002 kemarin, situs Web klub kita ini merayakan hari jadinya yang ke-4. Terima kasih banyak atas kunjungan, masukan, saran, maupun kritik yang telah Anda kirimkan ke pengurus untuk kemajuan Situs Web IDXC. Pengurus tentunya akan terus berusaha memberikan yang terbaik untuk memenuhi kebutuhan seluruh pengunjung. (AIG)

Radio Komunitas : Radio tanpa Alokasi Frekuensi Jelas

Kurang disambutnya keberadaan radio komunitas ternyata terbukti dalam seminar "Radio Komunitas : untuk Demokrasi dan Persatuan Bangsa" yang diselenggarakan Unesco (United Nations Education, Scientific dan Cultural Organization) - Sekretariat Jakarta, di Jakarta Media Centre, Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih No.32-43, Jakarta Pusat. Beberapa perwakilan radio daerah yang turut hadir menyesalkan kurangnya waktu yang disediakan Prof. Dr. Dimyati Hartono sebagai Ketua Pansus RUU Penyiaran DPR RI dan Prof. Dr. Astrid Susanto, anggota Pansus RUU Penyiaran, yang hanya datang sebentar.

Berdasarkan panduan Unesco, Radio Komunitas (RK) didefinisikan sebagai radio yang dimiliki, diatur, dan dijalankan suatu komunitas. Usahanya tidak mencari laba dan mempunyai misi sebagai katalisator pembangunan. Isi programnya merupakan tanggapan terhadap kebutuhan komunitasnya yang mencerminkan identitas lokal dan memberi akses pada keanekaragaman suara. Radio ini mencakup wilayah lokal dengan siaran yang sempit. Orientasinya adalah warga komunitasnya, dengan pendekatan merangsang partisipasi, berbagi informasi dan inovasi. Untuk teknologi, RK berbiaya rendah, yaitu menggunakan transmitter FM berkekuatan sekitar 20 watt. Biaya peralatan ditaksir berkisar antara Rp 27 juta sampai dengan Rp 135 juta.

Selama ini ada kontroversi soal keberadaan RK. Ada yang mencurigai bahwa RK berpotensi melahirkan perpecahan karena RK hanya memperjuangkan kepentingan komunitasnya. Akan tetapi, ada pula yang berpendapat bahwa RK mampu mengatasi ancaman disintegrasi bangsa apabila dilihat dari keberhasilannya di berbagai negara. Perdebatan inilah yang mendorong Unesco untuk mengadakan seminar ini. Sayang, usaha pihak Unesco mempertemukan pihak birokrat dengan pihak perwakilan radio-radio daerah tak membuahkan hasil.

Para birokrat yang hadir tidak memberikan jawaban pasti tentang masa depan RK. Dimyati Hartono misalnya yang menjadi pembica pertama, hanya mengutarakan janji bahwa keberadaan lembaga ini ditampung dalam RUU Penyiaran yang tengah digodok di DPR. "Masalah-masalah itu sudah dimasukkan dalam DIM (Daftar Inventarisasi Masalah) yang masih akan dilihat dan diteruskan ke DPR," katanya. Janji ini terasa pahit ketika Dimyati pamit setelah menerima satu pertanyaan saja dengan alasan ada janji pertemuan yang menunggunya.

Begitu pula dengan Astrid Susanto. Saat ditanya apakah bisa pemerintah memberikan alokasi frekuensi bagi radio komunitas nantinya, Astrid menyerahkan masalah ini kepada pemerintah daerah masing-masing. "Yang pasti akan tetap ada satu radio publik yaitu RRI dan satu televisi publik yaitu TVRI. Untuk alokasi frekuensi bisa ditetapkan di pemerintah daerah masing-masing," kata Astrid yang juga tidak bisa berlama-lama hadir di seminar.

Pendapat Astrid ini disayangkan beberapa pihak, misalnya salah seorang peserta dari PRSSNI (Persatuan Radio Siaran Swasta Niaga Indonesia) wilayah Semarang. Ia menyayangkan kurangnya pengetahuan para birokrat pusat tentang hal yang terjadi di daerah. "Kenyataannya, radio dari pemerintah untuk publik itu tak hanya RRI, tapi juga frekuensi untuk RSPD (Radio Siaran Pemerintah Daerah)," katanya. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap alokasi frekuensi ini menyebabkan banyak radio nonkomersial di daerah yang melakukan penyiaran secara ilegal, seperti radio-radio kampus. Karena bersifat ilegal, tentu saja pihak berwenang dapat menindak radio-radio itu kapan saja.

Praktek seperti ini disayangkan Wijaya Jayaweera, Penasehat Komunikasi Regional UNESCO untuk Asia. "Di negara lain, pemerintah menyediakan frekuensi untuk radio komersial, publik, dan komunitas," ujar Wijaya.

Sebuah Radio di Desa Timbulharjo

Mungkin anggapan radio komunitas beresiko besar terhadap disintegrasi bangsa akan terusir jika melihat perkembangan Radio Angkringan di Desa Timbulharjo, Kec. Sewon, Bantul, Yogyakarta. Berkat radio komunitas itulah, penduduk desa di sana bisa memecahkan masalah-masalah seperti kredit macet sambil mendengar hiburan musik campur sari. Akhmad Nasir, sarjana komunikasi dari Universitas Gadjah Mada, mengembangkan Radio Angkringan ini yang berawal dari sebuah media cetak bernama Buletin Angkringan, yang terbit 14 Januari 2000 dan dijual ke masyarakat desa dengan harga Rp 400. Karena banyak kendala teknis, seperti mahalnya biaya produksi dan lambatnya sirkulasi, maka muncul aternatif media, yaitu radio.

Masih menggunakan nama Angkringan, radio ini mulai mengudara pada 9 Juli 2000. Memanfaatkan sebuah frekuensi kosong di 89.95 FM, siaran dipancarkan dari pesawat pemancar berkekuatan 15 watt, dengan antena dari bambu setinggi 10 meter. Dengan ketinggian antena itu, siaran radio bisa menjangkau sampai radius 2 km. Semua peralatan ini menghabiskan biaya sekitar Rp 450 ribu. Mereka siaran dari pukul 18.00 WIB sampai 24.00 WIB. "Karena saat itulah prime time para penduduk desa," kata Akhmad Nasir.

Berkat salah seorang penduduk desa yang punya komputer Pentium II, maka lagu yang diperdengarkan mendapat stok dalam format MP3 yang diputar dengan perangkat lunak Winamp dan Raduga. "Tapi, kebanyakan lagu-lagu campursari dan dangdut," ujar Nasir. Lagu yang disiarkan juga bisa dipesan lewat kartu pendengar yang dijual Rp 50 per lembar atau melalui telepon. Radio ini memiliki program cukup lengkap, mulai dari berita seputar desa, obrolan, hiburan, hingga iklan. Radio ini bekerja sama dengan Lembaga Studi Jawa (LSJ), untuk menyiarkan berbagai kegiatan seni, budaya, juga pengajian. Iklannya berisi info komersial dari warga sendiri, seperti promosi usaha, info jual beli kebutuhan pokok, dan lowongan pekerjaan.

Setelah menerima dana dari hadiah ISAI Award sebesar Rp 2.5 juta pada bulan September 2000, Radio Angkringan memperbesar kekuatan transmitter menjadi 20 watt, dan mengganti antenanya dengan dua pipa air setinggi 12 meter, sehingga mampu menjangkau radius jarak 4-5 km. Kini, dengan banyaknya pesawat handy talky yang dimiliki warga, siaran juga bisa dilakukan dari berbagai tempat. "Mereka bahkan bisa berpartisipasi dari pos ronda," ujar Nasir.

Radio Komunitas Internet

Selain sebagai radio untuk komunitas tertentu, juga muncul Radio Komunitas Internet untuk mengatasi kurangnya akses ke komputer dan ketidakmampuan masyarakat desa untuk menanggung biaya koneksi dan telekomunikasi. Salah satu contoh adalah RK Internet di Kothmale, Sri Lanka, yang menyediakan program radio bernama Radio Browse yang menyiarkan informasi Internet ke dalam bahasa lokal. RK ini juga berfungsi sebagai Internet Service Provider (ISP) lokal dengan akses Internet gratis.

Saat ini, Unesco sudah mengadakan proyek di negara-negara Asia, Amerika Latin, dan Afrika. Di Sri Lanka, dikembangkan RK Mahaweli yang didirikan pemerintah untuk mewadahi kebutuhan komunikasi transmigran. Di Nepal, stasiun Radio Sagaramantha didirikan oleh konsorsium LSM lokal untuk memajukan kepedulian terhadap masalah lingkungan hidup di Kathmandu. Sementara itu, di Indonesia, Unesco membantu program akses komunitas 25 stasiun radio swasta. (dewi ria / Tempo Interaktif / aig)

 
Dirgantara Online - Vol 12 No 2 Mar-Apr 2002
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space