Radio Kampus
Radio Kampus, Antara Laboratori, Idealisme, dan Komersialisme
Keberadaan radio kampus sampai saat ini masih mengambang. Mengambang karena tidak ada kanal yang khusus yang bebas dipergunakan oleh radio ini. Sementara, media lain telah memperolehnya dengan perizinan yang tidak begitu ketat. Media cetak memiliki kebebasan yang amat besar. Siapa pun kini memperoleh kesempatan untuk menerbitkan buletin, tabloid, koran, majalah, tanpa ada hambatan yang berarti. Media elektronika televisi kini telah muncul yang baru. Trans TV dan TV Tujuh telah mengudara, sementara Latief TV dan TV Global sebentar lagi.
Beberapa daerah yang cukup kaya kini telah mengoperasikan stasiun televisi, meskipun belum didukung dengan kemampuan sumber daya manusia yang handal. Seperti misalnya AMTeve (Amuntai Televisi), yang mengudara di Kabupaten Kapuas Hulu Utara, dan Riau TV. Tentunya kelonggaran ini akan diikuti juga oleh stasiun radio. Radio Kampus selama ini nyaris terlupakan. Kalaupun mengudara, hanya sebatas sebagai laboratori. Beberapa radio kampus kini memang telah merambah ke swasta yang bernuansa komersial, seperti MS Tri dan Swara Gama.
Untuk itulah beberapa saat yang lalu, beberapa stasiun radio kampus yang tergabung dalam Foraki (Forum Radio Kampus Indonesia) mengadakan diskusi dengan Dirjen Pos dan Telekomunikasi dan para staf pembantunya di Gedung Postel, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Diwakili oleh radio-radio kampus dari delapan perguruan tinggi, antara lain : Radio Tiara FM (STEI), Radio Teksada (Univ. Satria Dharma), Radio Three M, Radio Semanggi Atma Jaya, RMB 97.6 (Univ. Borobudur), KOWL FM, RTC-UI FM, Radio Kampus ITB, dan Radio Stekpi, pertemuan ini cukup kondusif dan bersahabat.
Dalam rangka mencari solusi permasalahan alokasi frekuensi bagi radio komunitas kampus ini, Dirjen Postel sendiri sangat terbuka untuk bersama-sama merumuskan permasalahan ini, sehingga ditemukan titik temu yang fair bagi semua kalangan. Fakta yang ada bahwasannya sumber daya frekuensi ini sangat terbatas, namun dari keterbatasan ini juga harus tetap dipertimbangkan :
(1) Optimalisasi penggunaan sumber daya frekuensi ini, karena seperti saat ini, lebar bandwidth antarkanal frekuensi yang 350 kHz (pada band FM) dinilai sangat boros. Apalagi kurangnya kontrol terhadap penggunaan daya yang saat ini sangat boros, sehingga cukup banyak mempengaruhi kebersihan kanal frekuensi.
(2) Azas keadilan bahwa semua pihak yakni golongan mampu (komersial), golongan tidak mampu (sosial / pendidikan), maupun pemerintah sendiri dapat secara efektif menggunakan sumber daya frekuensi ini bersama-sama.
(3) Strategisnya peran media radio ini sebagai katalisator transformasi budaya di masyarakat.
Dari diskusi ini, pihak Dirjen Postel sangat mengharapkan masukan / rekomendasi, terutama berkaitan dengan permasalahan teknis pembagian frekuensi yang cukup rumit ini. Selama ini, mereka sendiri melakukan riset terhadap hal ini, dengan visibility penerapan konsep spasi 200 kHz. Foraki sendiri mengusulkan adanya pembagian berdasarkan zona dan klas-klas siaran, sehingga dapat menampung aspirasi akan kebutuhan frekuensi ini.
Saat ini teman-teman Foraki sendiri sedang mencoba menyiapkan rekomendasi teknis yang bakal diajukan ke Dirjen Postel. Apabila ada dari teman-teman yang memiliki masukan mengenai masalah teknis alokasi frekuensi ini, mungkin bisa dikirimkan. Tetap konsisten teman-teman, demi perjuangan Indonesia yang lebih baik, dan lewat media inilah kita akan bersama-sama memperbaikinya. (HSB / ABS)
Apabila Mereka Mengelola Radio Kampus
Radio kampus keberadaannya selalu dirindukan. Bukan hanya karena merupakan wahana pelatihan untuk meningkatkan kemampuan, namun sekaligus bagaimana mereka nantinya mampu bekerja sebagai sebuah tim. Kerja tim adalah hal yang mutlak diperlukan bagi yang bekerja di dunia media massa. Berikut merupakan liputan penulis berkenaan dengan pengelolaan radio kampus.
Lukman mengatakan, "Dalam memberikan perintah saya akan bersikap tegas, tetapi sopan dalam memberi petunjuk yang jelas, serta memberi batas waktu dalam setiap pekerjaan. Memberikan batas waktu akan menambah kedisiplinan pada mereka." Lukman adalah mahasiswa semester V di sebuah universitas swasta. Teman satu angkatannya, Ary Bachriansyah, berpendapat bahwa kewenangan sebagai manajer akan digunakannya secara bijaksana. Ary berprinsip bahwa dengan mendapatkan kepercayaan orang lain akan ditangani dengan realistis dan efektif.
Seorang mahasiswi yang berpostur tubuh pendek secara lugas langsung pada sasaran, "Program entertainment yang akan dibuat adalah Lagu (Lagu Aku dan Kamu), Berisik (Berita dan Musik), Filter (Film Terbaru), sedangkan untuk informasinya In News (Indonusa News), Trensi (Trend Mahasiswi), dan Atlas (Acaranya Fakultas). Dipta Wiryawan, yang mantan reporter Pro 2 FM Bogor itu mengatakan bahwa ia akan melakukan pembenahan manajemen di dalamnya. Di antaranya ia ingin membentuk sistem kerja secara team work dan kekeluargaan, sesuai dengan pembagian tugas masing-masing berdasarkan job description-nya.
Lain lagi dengan mahasiswi yang suka berdandan menor, Vitasha Vidianna, "Saya harus menyusun program-program apa saja yang akan saya lakukan untuk jangka waktu ke depan. Dan saya harus mempunyai sifat disiplin, kreatif, bertanggung jawab. Mampu mengembangkan imajinasi dengan baik, mampu me-manage orang lain, sehingga menghasilkan karya kerja sama yang baik."
Masalahnya adalah radio kampus yang mereka idam-idamkan tersebut "belum ada". Di tengah kerinduannya, Trifina Febrini Rahmatika mengatakan, "Adanya laboratorium radio di kampus akan menambah kreativitas para mahasiswa. Kreativitas yang tergolong positif ini bisa dipergunakan sebagai latihan atau pengenalan perangkat radio. Mahasiswa pun dapat merencanakan dan memproduksi program sesuai dengan keinginan mereka." Senada dengan Febrini, Maria Yuwanita menambahkan, "Radio kampus perlu untuk mengembangkan SDM agar lebih aktif dan kreatif. Sekaligus untuk praktikum."
Mahasiswa yang bernama Sugiantoro lain lagi pendapatnya, menurutnya laboratorium radio mutlak diperlukan. Minimal mahasiswa dapat mengetahui peralatan apa saja yang akan dipergunakan. Mulai dari mike serta jenis-jenisnya, tape deck, mixer, jenis antena yang dipergunakan, komputer, serta program yang terdapat di dalamnya. Ini kaitannya dengan teknik editing yang akan dipergunakan nantinya, apakah Cool Edit Pro, Caka Wake Audio Pro. "Dalam manajemen radio, tidak sebatas program acara saja yang perlu diketahui, melainkan juga masalah teknik, pemasaran, riset," ujarnya lebih lanjut.
Pertanyaan yang muncul adalah : Apakah keinginan mahasiswa tersebut sebatas dalam tulisan saja, ataukah perlu ada realisasinya. Semua berpulang pada pengelola pendidikan dan mahasiswanya. Tentu semuanya menyadari bahwa perlu dilakukan hal-hal yang sama-sama menguntungkan, baik itu untuk pengelola pendidikan dan juga untuk mahasiswanya. Kapan akan terealisir ? Wallahualam bissawab ! (HSB)