Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 12 No 1 Jan-Feb 2002
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Sayembara
DirgaNet
Internet
Profil Stasiun
DX Mania
DX Tips
Telekomunikasi
Radio Kampus
Radio Satelit
Review Top 50
Redaksi

Volume 12
  Telekomunikasi
Untuk Menghemat Biaya, Indosat Akan Gunakan DCS 1800

P.T. Indosat Tbk. akan menggunakan infrastruktur seluler Digital Cordless System (DCS) 1800 untuk membangun jaringan komunikasi domestik yang akan segera dimulai pada Agustus 2002. "Model pemanfaatan jaringan untuk mengembangkan dua produk sekaligus otomatis menghemat biaya investasi ketimbang kami harus melakukan investasi melalui jaringan kabel bawah tanah yang pasti biayanya lebih tinggi," kata Direktur Pengembangan Perusahaan P.T. Indosat Tbk., Budi Prasetyo, di Jakarta, Minggu.

Dikatakannya, teknologi untuk pengembangan jaringan telekomunikasi lokal dan sambungan langsung jarak jauh (SLJJ) Indosat nantinya berupa jaringan tanpa kabel (wireless line). Dengan memanfaatkan teknologi gelombang radio (wireless) tersebut, maka biaya investasi per satuan sambungan telepon (SST) akan lebih murah bila dibandingkan investasi pada jaringan kabel, ujarnya. Investasi per SST dengan teknologi wireless bisa ditekan hingga 40% menjadi 300 dolar AS sampai 400 dolar AS per. Sementara investasi per SST pada jaringan kabel bisa mencapai 1.000 dolar AS, ujarnya.

Dikatakannya, pembangunan jaringan dengan teknologi wireless tersebut relatif lebih praktis dan murah dan strategi tersebut dilakukan Indosat dalam upaya penciptakan customer base yang selama ini memang belum dimiliki perusahan tersebut. "Selama ini kami bergerak dalam bisnis telekomunikasi internasional yang pelanggannya tidak nyata seperti halnya terdapat pada pelanggan lokal dan SLJJ Telkom," ujarnya.

Namun demikian, ujar Budi, bukan berarti Indosat tidak akan membangun jaringan telepon tetap (fixed line) dalam jumlah memadai. Pembangunan jaringan Public Switched Telephone Network (PSTN) tetap akan dikembangkan Indosat, namun akan difokuskan bagi pelanggan korporat, ujarnya seperti dilaporkan Antara.

Proses reformasi dan restrukturisasi pada sektor telekomunikasi di Indonesia yang dilaksanakan sejak 1999 antara lain pelaksanakan percepatan hak eksklusivitas bagi P.T. Telkom dan P.T. Indosat masing-masing dalam penyelenggaraan jasa layanan telekomunikasi domestik dan internasional. Sebagai konsekuensi dari percepatan tersebut pada 2002, Indosat diizinkan masuk dalam bisnis telepon lokal dan SLJJ. Sebaliknya, P.T. Telkom mulai tahun 2003 diizinkan mengoperasikan bisnis telepon internasional, kecuali sambungan internasional melalui jasa Voice over Internet Protocol (VoIP).

Untuk komunikasi melalui jasa VoIP baik Indosat maupun Telkom, telah mengantongi izin tersendiri di luar kesepakatan dalam percepatan hak eksklusivitas. Layanan komunikasi internasional melalui VoIP telah banyak ditawarkan dalam bentuk kartu prabayar yang biaya percakapannya bisa lebih murah hingga 70% dibandingkan melalui percakapan konvesional lewat kabel atau wireless. (Tommy Meiyuddin Gobel / Satunet.com / abs)

Indonesia Akan Menjadi Besar di Bidang Teknologi Komunikasi

Sangat menarik kalau masyarakat Indonesia di negeri Belanda menyelenggarakan seminar sehari mengenai teknologi informasi dan komunikasi. Penyelenggaranya Keluarga Katolik Indonesia Amsterdam. Pembicaranya semua orang Indonesia atau yang berlatar belakang Indonesia. Pesertanya kebanyakan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Belanda.

Moderator Seminar

Moderator seminar adalah Ir. Lucas Ong, lulusan Universitas Teknik Delft. Dilahirkan di Jakarta pada Januari 1966. Pada usia 7 tahun, bersama orang tuanya pindah ke negeri Belanda. Itulah sebabnya dari SD sampai universitas ia menempuh pendidikan di Belanda. Jadi tidak mengherankan kalau ia mudah memperoleh pekerjaan di Belanda. Sekarang ia bekerja pada perusahaan Cap Gemini Ernst & Young sejak Juni 1998. Walaupun ketika kembali ke Jakarta pada tahun 1993, dia juga mudah memperoleh pekerjaan, agaknya kerusuhan Mei 1998 itulah yang memaksa dia kembali lagi ke Belanda.

Waktu itu, ia sudah bekerja di perusahaan Argo Pantes, sebuah pabrik sepeda, lalu pindah ke Jarum Holding. Ia sudah berpikir matang-matang untuk pindah ke Belanda, karena "keselamatan kan lebih penting", katanya mengenang peristiwa Mei 1998. "Lagi pula saya dapat belajar lebih banyak lagi, baik di bidang cara kerja orang Belanda, dan juga tentang profesionalismenya yang lebih tinggi. Satu saat nanti semua ini dapat saya terapkan kalau saya kembali ke Indonesia." Walaupun 23 tahun di Belanda sudah, Ir. Lucas Ong dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan lancar. Inilah ciri yang memperlihatkan kecintaannya pada Indonesia sangat besar.

Etos Kerja Orang Belanda

Mengenai etos kerja orang Belanda, Lucas Ong mengatakan sangat berbeda dengan orang Indonesia. Di Indonesia, katanya, orang lebih hirarkis, "Kalau ada bos, pegawai tak boleh bicara. Di Belanda harus banyak buka mulut, kalau ingin maju." Pada waktu ia baru datang ke Indonesia, ia melihat orang Indonesia bekerja giat. Harus mengejar waktu untuk menyelesaikan pekerjaan. Pada dasarnya sama dengan orang Belanda.

Pada posisi tertentu, orang Belanda harus menyelesaikan sesuatu, "Yang kita harus mengejarnya, karena kalau tidak akan tidak beres. Dalam hal ini sama di Belanda. Tetapi, orang Belanda dapat bekerja lebih efisien, karena profesionalisme mereka sudah lebih tinggi ketimbang di Indonesia." Di mana sebenarnya letak keefisienan mereka? Ia melihat ketika bekerja di pabrik sepeda Argo Pantes. Di pabrik itu bekerja 250 orang, yang menurutnya di Belanda dapat dikerjakan oleh 50-100 orang, karena produktivitas orang Indonesia lebih rendah.

Faktor yang besar adalah tanggung jawab pribadi. Orang Indonesia tidak dididik benar-benar 100% untuk menyelesaikan pekerjaannya. Di Belanda tidak begitu. Dari kecil anak-anak sudah diberikan etos kerja dari orang tua, diberi contoh oleh berbagai sumber, seperti misalnya televisi. Dari kecil mereka sudah mendapat penjelasan mengenai banyak hal melalui berbagai media.

Pendidikan

Dengan sistem selama ini, hasil pendidikan di Indonesia juga rendah. "Tetapi, sebenarnya orang Indonesia kreatif. Cuma kadang-kadang terlalu santai. Untuk benar-benar maju kurang drive, kurang motivasi," tambahnya. Para pejabat Schlumberger di Indonesia mengatakan lulusan ITB lebih besar motivasinya untuk berinisiatif dan bekerja di perusahaan swasta ketimbang menjadi pegawai negeri. Ir. Lucas Ong juga mendengar hal itu, karena kebanyakan lulusan ITB lebih mandiri dan ia setuju bahwa mereka lebih senang memilih bekerja di perusahaan swasta.

Mahasiswa Indonesia Di Luar Negeri

Kepada para mahasiswa yang hadir, ia menekankan bahwa banyak kesempatan bagi mahasiswa Indonesia yang kini belajar di luar negeri. Tapi ia menyadari bahwa saat ini kesempatan itu diperlambat oleh keadaan yang memprihatinkan di bidang sosial ekonomi. "Kesempatan banyak bagi orang lulusan luar negeri. Mereka akan lebih cepat maju kalau ada motivasi." Mengenai lapangan kerja, Lucas Ong mengatakan sangat bergantung kepada masing-masing. "Apakah mereka mau bersusah-susah dahulu. Atau cari jalan lain, bekerja di luar negeri, menyerap ilmu, baru nanti kembali ke Indonesia."

Kemajuan Indonesia di Bidang Informatika

Berdasarkan bacaan dan ingatannya, ia mengatakan sebenarnya kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia tidak kalah dengan Belanda. Ia memberi contoh GSM (Global System for Mobile Communications) yang di Indonesia dikenal sebagai telepon genggam. Dari dulu sudah ada di Indonesia, padahal di Eropa baru populer 3-4 tahun lalu.

Ia melihat contoh lain. Di Jarum ada seorang mahasiswa yang sangat ahli di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Tapi dilihat dari profesionalisme untuk mengembangkan software (piranti lunak), ia masih terlalu jauh untuk mencapai mutu yang baik. Karena produksi kurang baik dan tidak sesuai.

Ia juga mengakui bahwa peraturan maupun pendukung kurang. Mengapa ? "Karena prioritas pemerintah bukan pada teknologi, baru pada masalah sosial, ekonomi, dan politik. Kalau pemerintah sudah memfokuskan prioritas ke teknologi, pasti akan berkembang lebih baik." Ia yakin apa yang dikerjakan oleh pakar Indonesia akan setara dengan pakar-pakar Barat.

Internet Protocol

Drs. Jutta Ticoalu, dilahirkan pada 26 tahun lalu di Amsterdam. Kedua orang tuanya masih warga negara Indonesia. Jutta sendiri, sebenarnya ingin mempertahankan kewarganegaraan Indonesianya. Tetapi, karena pekerjaannya banyak bepergian ke luar daratan Eropa, terutama ke Inggris, ia merasa kesulitan kalau tiap pergi harus mengurus visa. Maklum Inggris walaupun anggota Masyarakat Eropa, bukan negara penandatangan Perjanjian Schengen. Jadi terpaksalah Jutta harus mengganti paspor Indonesianya dengan paspor Belanda.

Pada usia 24 tahun ia menyelesaikan studinya di Fakultas Ekonomi Vrije Universiteit Amsterdam. Lalu ia bekerja pada UUnet, sebuah Penyedia Layanan Internet yang besar, yang kini menjadi bagian dari WorldCom. Menurut Jutta, Internet Protocol (IP) penting karena dalam dunia informasi dan komunikasi terus berkembang. IP merupakan dasar dari jaringan Internet pribadi. Sebagai intelijen penganalisis pasar kawasan Eropa Timur Tengah dan Afrika ia melihat kawasan Asia Pasifik sangat potensial di masa depan bagi pemasaran teknologi Informasi dan Komunikasi.

Saat sekarang jumlah pengguna komputer masih kecil, tetapi Jutta sangat yakin dalam masa lima tahun mendatang pengguna komputer dan Internet akan berlipat ganda, terutama Cina dan Jepang. Tetapi ia juga melihat negeri orang tuanya akan berkembang pesat.

Telepon Genggam Jadi Andalan

Yang menjadi masalah di Asia fix-line telephone (jaringan telepon kabel) tidak banyak dibandingkan dengan Eropa dan Amerika Serikat. Itulah sebabnya GSM atau telepon genggam menjadi andalan di Asia. Internet tanpa kabel, sejalan dengan pertumbuhan GSM di Asia sangat cepat. Internet mobil (bergerak) memang mahal karena tak banyak saluran telepon biasa. Luas wilayah Asia sangat besar. Internet mobil akan menjadi andalan masa depan. Orang Asia, menurut Jutta pintar-pintar. Mereka ingin menerima barang baru dan di masa depan, dalam waktu cepat, hubungan ini berupa hubungan tanpa kabel.

Perkembangan teknologi Informasi Indonesia menghadapi masalah berat, terutama karena hempasan krisis moneter pada 1997 sampai hari ini belum pulih. "Apabila ekonomi Indonesia pulih," kata Jutta. Potensi Indonesia sangat besar. Indonesia akan menjadi besar sesudah Cina dan Jepang." Melihat jumlah penduduk di suatu negara, Jutta menyatakan, sangat potensial dilihat dari pasarnya. Misalnya Cina yang jumlah penduduknya lebih dari satu miliar jiwa. Bila Indonesia berkembang menjadi pasar besar, pembangunan di bidang komunikasi pun akan meningkat. Sayang, pertumbuhan dan pembangunan di Asia hanya terpusat di kawasan tertentu saja. Itulah sebabnya tidak semua orang mempunyai saluran telepon. E-Commerce

E-commerce, menurut Jutta tidak selalu bergantung kepada Internet, tetapi juga pada staf yang terampil. Kemampuan perusahan untuk melihat sesuatu yang lebih besar dan lebih jauh juga penting. "Jadi kita harus melihat secara prospektif. Kita harus mempunyai proses yang benar dengan usaha yang benar, proses di dalam dan juga dengan orang-orang yang tepat."

Perusahaan tempatnya bekerja, WorldCom, tidak banyak diketahui orang. UUnet adalah penyedia layanan Internet terbesar. WorldCom perusahaan terbesar kedua sesudah AT&T di Amerika Serikat, mempunyai karyawan 70.000 orang, tumbuh dalam waktu singkat. Perusahaan ini baru, jadi tidak dapat dibandingkan dengan Siemens, misalnya. "Dibandingkan dengan perusahaan telco lain, WorldCom besar," tutur Jutta.

Sebagai intelijen analisis pasar untuk Eropa, Timur Tengah, dan Afrika, pekerjaan sehari-hari Jutta melakukan riset, menganalisis pasar, pelanggan, dan jaringan lain. Karena perusahaan ini multinasional, tidaklah mengherankan kalau dalam kerja hariannya, sering ia harus menghadiri rapat di berbagai kota tempat WorldCom beroperasi. (DX Komunikasi ANK / HSB)

 
Dirgantara Online - Vol 12 No 1 Jan-Feb 2002
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space