DX Mania
Profil Pendengar RSI : Aries Subagyo
Bagi para anggota Indonesian DX Club, nama Aries Subagyo mungkin sudah tidak asing lagi. Dialah pendiri Indonesian DX Club. Pria lajang kelahiran Purworejo tanggal 4 Oktober ini ini sehari-harinya adalah tinggal di Kutoarjo, Jawa Tengah. Aries mulai gandrung dengan siaran SW sejak kecil, terutama dari mendengarkan siaran-siaran pertandingan olahraga dunia, seperti Thomas Cup. Di mana sebetulnya kenikmatan mendengarkan siaran SW dan bagaimana ceritanya sampai ia pernah mendapatkan kartu QSL bergambar palu arit dari sebuah radio di Eropa, berikut wawancara dengannya yang dilakukan lewat email. (RSI Website / HSB)
Apa yang mendorong anda tertarik mendengar radio gelombang pendek ? Bukankah sekarang teknologi radio sudah lebih maju, sementara radio SW masih begitu-begitu saja, dalam artian kualitas suaranya tak bisa dibilang bagus ?
Ada dua alasan yang mungkin bertolak belakang. Kalau di jaman dulu, mendengarkan radio gelombang pendek kita bisa memperoleh informasi yang jarang bisa didapatkan dari media dalam negeri Indonesia. Tetapi sejalan dengan globalisasi teknologi informasi, keunggulan dan keunikan tersebut sudah menjadi hal yang biasa.
Informasi yang dulu tidak bisa kita peroleh, kini sudah bisa. Bahkan lebih dari yang kita perkirakan sebelumnya. Disamping itu, setelah sekian tahun berjalan, memantau siaran gelombang pendek berkembang menjadi kegiatan DX. Bukan sekedar memantau saja, tetapi aktif berkirim laporan, dan berburu kartu QSL. Di sinilah kepuasan yang sebenarnya terpenuhi. Bukan soal informasi, tetapi kepuasan akan kemampuan kita dan tentu saja pesawat penerimanya, bisa memantau siaran dari negara yang jauh sekali letaknya.
Sejak kapan mulai tertarik mendengarkan radio SW ?
Saya masih ingat. Dulu dalam keluarga kami siaran pertandingan Piala Thomas selalu banyak menarik perhatian. Sejak kecil saya selalu dikondisikan dengan siaran pertandingan Piala Thomas ataupun siaran pertandingan sepakbola dari Stadion Senayan. Bukan dari dalam keluarga saja. Tetangga pun demikian juga. Lama-lama saya terbiasa dan tertarik. Dari rasa tertarik itulah disaat lain saya berusaha mencari sendiri. Awalnya RRI, baik itu RRI Surabaya, Ujung Pandang (kini Makasar), maupun siaran RTM Malaysia.
Saya masih ingat setiap turnamen sepakbola Merdeka Games saya selalu mengikuti siarannya lewat gelombang pendek. Secara tak sengaja saya bisa menemukan siaran lainnya, yaitu BBC. Saat itu menyiarkan acara Dunia Olahraga. Penyiarnya Ibrahim. Makin penasaran saja. Kebetulan, di sekolah ada guru yang bercerita soal radio luar negeri. Katanya," Untuk memperoleh informasi dunia bisa mendengarkan siaran BBC'. Dari situlah saya beranjak untuk mencari siaran-siaran lainnya.
Apakah anda punya pengalaman menarik selama menjadi pendengar SW ?
Saya pernah dikirimi kartu QSL yang bergambar "Palu Arit" dari Radio Tashkent, Uzbekhistan. Padahal saat itu hal tersebut tabu. Lebih ngeri lagi, sampul surat itu saya terima dalam keadaan sobek. Dan tidak dibungkus ulang. Padahal, biasanya pasti ada bungkus ulang. Coba kalau diketahui, atau disensor. Bisa-bisa dipanggil Kejaksaan Negeri. Saat menonton TVRI siaran Dunia Dalam Berita, saya dibuat trenyuh melihat Gedung Radio TV Lithuania dibombardir bom. Dalam hati saya menduga pasti surat sya termasuk dalam korban kebakaran. Hangus terbakar.
Tetapi alangkah gembiranya ketika seminggu kemudian balasan kartu QSL dari Radio Lithuania saya terima. Berarti saat pengeboman itu surat balasan sudah meluncur ke alamat saya. Saat Perang Teluk antara AS vs Irak, saya juga sempat mengikuti siaran-siaran radio clandestine mereka. Irak meluncurkan Voice of Jihad, di-counter Voice of Hollywood. Dan seterusnya. Isinya tentu saja menyiarkan semua kepentingan masing-masing. Indoktrinasi melalui siaran radio. Saya bisa mengikuti perang bak mengikuti siaran langsung pandangan mata pertandingan sepakbola saja.
Kalau tak salah, anda juga terlibat dalam pendirian Indonesian DX Club (IDXC) ? Bisa ceritakan keterlibatan anda di sana ?
Saya adalah pendiri Indonesian DX Club. Nomor anggota saya IDXC-0001/INS. Dari awal berdirinya sampai tahun kelima saya menangani redaksional Dirgantara. Saya menjadi Penanggung Jawab dan Pemimpin Redaksinya. Sejalan dengan kesibukan saya, saya berbagi tugas dengan rekan lain di Jakarta. Tercapai kesepakatan bahwa rekan-rekan di Jakarta menangani penerbitan media buletin Dirgantara. Sedangkan saya urusannya keluar.
Jenis radio apa yang anda gunakan dan apakah anda punya trik-trik tersendiri untuk bisa meningkatkan kualitas penangkapan siaran SW ?
Saya gunakan radio antik, analog TOSHIBA RL-590-RA, juga National RX. Disamping itu juga saya gunakan radio digital Roberts R-617 dan Roberts R-809. Tergantung bagaimana kita mau mencari kepuasan. Kalau ingin kepuasan yang berlebih, saya gunakan radio kuno yang analog. Dengan memutar-mutar jarum gelombang kita bisa mencari-mencari sinyal suatu stasiun tertentu. asyiknya tentu saja banyaknya suara yang sebenarnya sangat memusingkan kepala. Tetapi kalau mau praktis, pakai yang digital. Tinggal pencet, langsung kena. Tetapi nilai kepuasannya berbeda dengan yang analog.
Apakah anda punya saran untuk sesama pendengar Radio SW ?
Memantau siaran SW, khususnya sebagai DXer (beda lho antara DXer dan BCLer) kita dituntut punya jiwa jujur, ulet, telaten. Saya masih melihat banyaknya pendengar yang kurang jujur, tidak sportif. Sebagai contoh saja, hanya demi memenangkan satu sayembara dia kirim banyak nama yang mengatasnamakan keluarganya. Padahal yang kirim cuman dia seorang. Hanya karena dibatasi seorang hanya boleh mengirimkan satu kartu dia "tidak jujur' dengan mengirimkan nama-nama lainnya. Ini belum bisa dikatakan sportif atau jujur. Paling tidak jujur kepada dirinya sendiri.
Apakah anda punya saran untuk RSI dalam meningkatkan pelayanannya ?
RSI siarannya cukup kuat di Indonesia. Tetapi sayang sekali, tidak didukung dengan pelayanan yang memuaskan. Surat yang selama ini sangat didambakan pendengar selalu saja masih menjadi kendala. Balasan yang seret, bahkan kadang tidak responsif. Dengan demikian pendengar pun akan malas menulis surat. Yang berlanjut malas pula memantaunya. So... tingkatkan pelayanan surat menyuratnya.