Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 11 No 4-5 Juli-Oktober 2001
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
DX Camp 2001
DirgaNet
Pers
Hukum
Profil Stasiun
Komunikasi
Internet
Sosok
Pendengar
Review Top 50
Redaksi

Volume 11
  Sosok
Ishadi SK Komandan TransTV

Karirnya cukup baik. Pernah menjabat Diretur Jenderal Radio, Televisi dan Film Departemen Penerangan, Ishadi SK, M.A. (SK dari Soetopo Kartosapoetro), kelahiran Majene, Sulawesi Selatan, 30 April 1943, mulai Juli 2001 akan mengomandani TransTV.

Rekan Seiring dan Survai Penonton
Ia dibantu dua rekannya, yaitu Alex Kumara, mantan Direktur Operasi RCTI, dan Reza Permadi, Kepala Liputan 6 SCTV. Survai penonton dilakukan di lima kota. Dari survai ini ternyata orang masih memerlukan stasiun televisi lain. Dan ia yakin benar bahwa hasil itu memacu usahanya. Peluang ini memang akan menimbulkan keragaman isi dan jumlah pemirsa, serta jumlah jam tonton pemirsa makin bertambah. Kalau sebelum ini orang menonton televisi tiga jam, saat sekarang jumlah itu bertambah menjadi lima jam.

Jabatan yang Mulus
Ishadi SK yang pernah mengenyam pendidikan di Amerika Serikat, pernah menjadi Kepala Stasiun TVRI Yogyakarta (1985-1987) dan Direktur Televisi (1987-1992), lalu menjabat Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Media Departemen Penerangan (1992-1996), kemudian menjadi Direktur Operasi Televisi Swasta TPI (Februari 1996-Mei 1998) sebelum akhirnya menjadi Direktur Jenderal Radio, Televisi dan Film Departemen Penerangan.

Pindah Ladang
Sebenarnya, karir Ishadi SK lebih banyak sebagai pejabat pemerintah. Namun ia merasa menjadi orang swasta sejak 10 tahun lalu, sehingga begitu berakhir tugas dari Dirjen RTF menjadi Direktur TransTV tidak ada masalah. Titik tolaknya ketika ia menjadi direktur TVRI, sudah harus bersaing dengan televisi swasta. Persaingan yang dikembangkan itu nampaknya membuat dia tidak cocok dengan Menteri Penerangan Harmoko waktu itu, sehingga ia harus meninggalkan TVRI.

Kekurangan itu Akan Ditutup
Ia mengakui kemungkinan secara teknis masih ada kekurangan, tetapi keswastaannya sudah memadai dan tahu dia harus bersaing dengan siapa. Ketidaktahuan yang diakuinya itu misalnya saja soal-soal pemasaran dan manajemen keuangan. Ia yakin ada orang-orang yang membantu di bidang itu. Mengenai visi, misi dan strategi televisi swasta sudah ia kuasai benar.

Reformis di Tengah Kekuasaan Otoriter
Ketika ditanya apakah ia seorang reformis di masa kekuasaan otoriter masih berlangsung dan dia berada di dalamnya, ia hanya menjawab semestinya orang lain yang menilainya. Kalau dia harus menilai dirinya sendiri sangat sulit. "Saya berpendapat bahwa pengelolaan televisi oleh birokrat dalam bentuk government owned itu sudah lewat. Di seluruh dunia televisi macam ini sudah tidak ada lagi, kecuali di beberapa negara totaliter.

Pertama karena memang tidak dapat bersaing dengan TV swasta yang ada, yang ditentukan oleh penonton sebagai juri. Kalau tontonan itu bagus, tidak peduli apakah itu TV swasta atau pemerintah mereka akan menonton. Dalam berbagai situasi, TV pemerintah itu tidak dapat bersaing. Orang tidak mau menonton TV pemerintah lagi, karena tidak efektif.

TV Pemerintah Tidak Dapat Menangkap Perubahan
"Kedua, memang TV pemerintah dengan sistem birokrasi tidak dapat menangkap nuansa maupun perubahan. Perubahan dalam sistem, perubahan dalam manajemen. Sebagai ilustrasi dapat saya tunjukkan selama 30 tahun di TVRI baru dua kali organisasi diubah. Saya di TPI, swasta, dua tahun, menyaksikan tujuh kali organisasi itu diubah. Karena harus dinamis. Organisasi mengantisipasi tujuan. Jadi kalau tujuan lain, maka harus berubah. TV Pemerintah sulit melakukannya dan swasta sangat cepat perubahannya."

TV dan Radio Terpusat di Jakarta
Konsentrasi kegiatan TV di Jakarta tidak sehat, menurut pandangannya. "Ini kan merupakan buah dari sentralisasi pemerintahan. Buah dari Orde Baru yang sangat sentralistik, sehingga ketentuannya pun sangat sentralistik. Saya percaya bahwa otonomi daerah memberikan perubahan yang sangat drastis, potensi ekonomi akan berpindah ke daerah. Dan TV senantiasa mengikuti potensi ekonomi. Karena itu TransTV bersiap-siap untuk membangun stasiun-stasiun di daerah-daerah. Begitu otonomi daerah diberlakukan, barangkali 40% kekuatan kami berada di daerah. Tahap berikutnya, 60% di daerah," tuturnya.

Menengah ke Atas
Program unggulan TransTV sejak awal memantapkan segmen menengah ke atas, sebab merupakan peluang beriklan. Pendapatan iklan dari kalangan menengah ke atas masih dapat direbut, sehingga stasiun TV-nya dapat bertahan hidup. Di kalangan menengah atas, TransTV akan mempertajam acaranya, karena diketahui selain hiburan mereka ingin memperoleh pengetahuan, informasi, dan aktualitas, yang akan menjadi kekuatan TransTV.

Di dalamnya juga drama-drama yang bukan salon, meskipun Ishadi tidak akan meninggalkan pola-pola yang ada. Inti usahanya adalah pasar yang sekarang ini. (RN DX-Komunikasi / ASK / HSB)

 
Dirgantara Online - Vol 11 No 4-5 Juli-Oktober 2001
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space