Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 11 No 4-5 Juli-Oktober 2001
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
DX Camp 2001
DirgaNet
Pers
Hukum
Profil Stasiun
Komunikasi
Internet
Sosok
Pendengar
Review Top 50
Redaksi

Volume 11
  Internet
Internet dan Pendidikan Rakyat Melalui Undang-Undang

Ricky Sadikin, manajer Teknologi Informasi pada PT Indovision di Jakarta mengatakan multi media di Indonesia mengikuti trend di dunia, seperti Internet, LPI, jaringan, yang berkembang cukup pesat. Trendnya ke Internet, karena mudah diakses. Masalahnya di Indonesia dial-up lewat telepon masih menggunakan sinyal analog, bukan digital jadi masih lambat. Perkembangannya hampir sama dengan di luar, sudah ada ISDN, kabel, satelit.

Makin Besar
Di Indonesia muncul PLI yang baru, dan mereka mencoba akses ke backbonenya dengan satelit atau kabel laut. Sudah ada backbone 45 MB, 8 MB, 6 MB, mulai besar juga dibanding dengan 3-4 tahun lalu yang hanya 2 MB atau 500 KB.

Perancang dan Pemrogram Web
Di Indonesia sudah banyak perancang jaringan situs dan juga pemrogramnya. Perancang jaringan merancang dan pemrogram berbeda tugasnya dengan perancang. Biasanya mereka mencoba-coba sendiri atau membaca buku atau mengikuti kursus.

PLI dan Isi Internet
PLI hanya melayani Internet, situs jaringan, bukan isinya. Para pelanggan PLI ini akan menyewa server atau menempatkan server pada PLI. Dari jumlahnya penyedia isi situs biasanya lebih banyak dari PLI.

Prospek Internet
Prospek Internet di Indonesia sangat baik, karena begitu mudahnya orang akses ke Internet, suatu jaringan nirbatas dengan informasi nirbatas juga. Di Indonesia trend itu ke sana. Jumlah pengakses ada kurang lebih 6 juta orang. Dan kebanyakan para pengakses Internet, menurut Ricky Sadikin, melalui warung Internet (Warnet).

Pelanggan PLI sendiri tidak banyak baru 1 juta orang. Modal untuk komputer, modem dan langganan telepon serta langganan PLI cukup tinggi. Bila harga kompuyer, modem dan langganan telepon serta Internet makin murah, "Saya kira jumlah pengakses Internet di Indonesia akan bertambah banyak.

DotCom
Para pengelola dotcom di Indonesia lebih banyak memuatkan berita. Alasannya menurut Ricky Sadikin sederhana, karena orang Indonesia belum "aware" (tahu, sadar). Di luar negeri sudah tahu ke mana mencari toko buku online, yaitu amazon.com. Kalau orang ingin membeli kapal buka saja situs www.queenship.com. Dalam soal perbankan pun mereka juga sudah mengerti, bahwa jasa bank dapat dilayani melalui online. Di Indonesia banyak orang belum mengetahuinya. Untuk menjaring orang-orang ini, menurut Ricky Sadikin, diperlukan kebiasaan membangkitkan "awareness" (kesadaran), melalui berita. Dari kebiasaan membaca berita, orang melihat pilihan-pilihan lain.

Iklan
Sebenarnya untuk mendapatkan iklan di Internet atau juga memasangnya, tidak sulit. Tapi, menurut Ricky Sadikin, memasang iklan di Internet kurang efektif. Karenanya kurang banyak iklan pada Internet. Dan karena mudahnya orang membuat situs jaringan (website) orang lebih memilih membuat situs jaringan dari pada memasang iklan. Dengan adanya PLI di luar negeri yang memberikan alokasi web secara cuma-cuma, banyak perusahaan yang lebih memilih membuat situs jaringan. Akibatnya, pada banyak PLI, orang saling barter iklan, untuk memperluas jaringan.

Tenaga TI
Kemampuan orang muda untuk memahami dan mendalami Teknologi Informasi sangat cepat di Indonesia. Dengan belajar sendiri melalui Internet, atau buku-buku dan coba-coba atau mengikuti kursus, orang muda dapat lebih cepat mempelajari masalah-masalah yang berkaitan dengan Teknologi Informasi. Orang Indonesia pintar-pintar.

Karena kesempatannya kurang sajalah, menurut pakar Manajemen Informasi lulusan Universitas Ohio, Amerika Serikat, gagasan-gagasan pada orang muda ini kurang berkembang. Di suatu perusahaan yang kenal program Microsoft, akan hanya menggunakan program ini. Padahal masih banyak program lain yang dapat dikembangkan seperti Unix, Linux, Netobjects dan lain-lain, kata alumni Bisnis Internasional Universitas Sydney Barat.

Undang-Undang Harus Demokratis
Aris Jauhari Ketua Ikatan Jurnalis TV Indonesia, salah seorang perumus Undang-undang pertelevisian dan presentator program debat TPI, mewakili asosiasi TV dalam pembahasan undang-undang penyiaran nomor 24/1997, menyatakan undang-undang itu tidak demokratis, karena siaran berada di bawah kendali pemerintah. Yang diinginkan oleh industri televisi adalah dikelola oleh publik, sehingga lebih demokratis.

Ada tiga pemain yaitu publik, pemerintah dan industri (stasiun TV dan radio),yang ketiganya harus diakui hak dan kewajibannya dan pula harus bergabung dalam satu lembaga independen, yang dapat menghasilkan keputusan-keputusan demokratis demi keadilan ketiga komponen tersebut. Lembaga Pengatur yang Independen Lembaga ini diinginkan sebagai regulator body, atau fasilitator pada bagian-bagian tertentu. Lembaga ini adalah lembaga negara yang bertanggung jawab pada DPR dan keuangannya kepada BPK. Dalam soal-soal pelarangan, atau ijin, harus terbuka. Pelarangan hanya sah, melalui pengadilan untuk memenuhi asas keadilan.

Tarik ulur antara pemerintah dan masyarakat adalah keinginan siapa yang dominan, publik atau industri. Nampaknya pemerintah ingin membiarkan semuanya ada di tangan masyarakat. Keinginan yang muncul adalah publik menjadi dominan atau industri yang dominan. Tapi keinginan terbesar adalah publik. Semua hal ditentukan oleh publik. Karena itu lembaga ini harus diisi oleh publik, bukan industri. "Kami melihat hal ini tidak adil," kata Aris Jauhari.

"Karena keadilan harus menata semua pihak. Tidak boleh ada satu pihak yang dominan. Kalau salah satu dominan, berarti anarki dan prinsip-prinsip demokrasi tidak dapat lagi ditegakkan. Yang kami inginkan dari ATSI, Asosiasi Televisi Siaran Indonesia, adalah keadilan bagi semua pihak. Termasuk keadilan kepada publik. Itulah sebabnya dalam rancangan, dan satu-satunya dari empat rancangan, rancangan dari ATSI inilah yang kemudian secara jelas pada pasal-pasanya menyebutkan keterlibatan LSM, keterlibatan masyarakat yang harus diakui.

Ini agak mengherankan dan kemungkinan merupakan langkah besar, kenapa justru industri yang memberi peluang besar pada keterlibatan LSM lewat pasal-pasal yang sangat jelas. Sementara yang dibuat pihak lain, yang menyatakan diri sebagai publik, tidak mencantumkan jelas dalam rancangan mereka keterlibatan dari publik antara lain juga LSM. Ini sangat mengherankan. Ada keinginan yang besar dari kalangan industri juga untuk mendemokrasikan dirinya sendiri, juga menginginkan adanya kontrol dari luar. Jadi keinginan untuk demokrasi itu lahir dari berbagai segi termasuk dari industri."

Pasal-pasal
Aris Jauhari melihat banyak pasal yang menunjukkan betapa dominannya pemerintah, seperti, antara lain, pembinaan TVRI, TV swasta, maupun RRI, dikelola oleh Departemen Penerangan. Pasal-pasal itu memungkinkan diteruskan oleh Peraturan Pemerintah. Karena tidak diatur oleh undang-undang, pemerintah dapat bertindak sesukanya. Itulah sebabnya banyak pasal yang dilihatnya tidak demokratis. Pemerintah dapat sewenang-seneng dalam membuat peraturan. Yang sudah terjadi sudah seperti itu. Untungnya belum ada peraturan yang dilahirkan oleh Undang-undang itu, karena sebelum diundangkan sudah ditentang oleh semua pihak termasuk industri.

Tiga Pihak Sama-sama Dominan
Dalam undang-undang lalu tidak ada dualisme. Yang ada adalah kekuasaan mutlak di tangan pemerintah. Bahkan industri pun dikorbankan oleh peraturan itu. Kita tidak ingin yang berkuasa adalah pemerintah dan industri. Tapi justru industri ingin ketiga pihak berkepentingan yang punya tempat secara sama dan adil sesuai dengan fungsi dan tanggung jawab. Ketiganya punya tanggung jawab dan hak yang sama.

Euforia yang Menyesatkan
Bangsa Indonesia masih dalam euforia, sehingga siapa saja boleh bicara dan melakukan apa saja. Sering orang tidak mau mengecek kembali apa yang diucapkan maupun yang dilakukan, sehingga mucul fitnah yang melanggar norma dan hukum. Masyarakat belum memahami apa arti kebebasan yang mereka peroleh di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bukan Ancaman
"Saya melihat adanya pikiran-pikiran yang mengatakan satu media lahir akan mengancam yang lain. Sama sekali pikiran-pikiran itu tidak relevan dan sama sekali tidak mempelajari sejarah perkembangan komunikasi dan media. Kalau kita lihat ketika dunia media dikuasi media cetak, muncul radio, orang kuatir media cetak tidak laku dan sebaliknya. Tetapi masing-masing mempunyai karakter sendiri.

Demikian juga ketika televisi lahir, kekuatiran itu tidak terjadi, meskipun TV mengalami kemajuan luar biasa, masih ada tempat media cetak dan radio. Munculnya online pun tidak akan mengancam media yang sudah ada. Tiap-tiap karakter akan menentukan wilayah masing-masing. Jadi ancaman itu justru merupakan perkelahian antara media cetak dengen media cetak, radio dengan radio, TV, dengan TV online, dengan online. Dalam perkembangannya, meskipun ada video orang maish nonton film di bioskop. Kini tiap media harus lebih kreatif," ungkap Aris Jauhari.

Rakhmat
Jumlah televisi banyak. Demikian juga media yang lain. Apakah ini akan menjadi ancaman bagi persatuan dan kesatuan Indonesia ? Aris Jauhari lebih melihat apakah semua itu untuk keseragaman atau tetap menghormati keberbagai ragaman. Kalau untuk keseragaman ini memang merupakan ancaman. Dan berbahaya.

Perbedaan dan keberbagai ragaman haruslah kita lihat sebagai rakhmat. Perbedaan dan keberbagai ragaman ini bukan suatu bahaya yang mengancam persatuan dan kesatuan. "Memang kita harus berani memformulasikan kembali kesatuan dan persatuan dalam bentuk yang lebih esensial, sehingga tidak terpecah belah oleh hal-hal yang tidak penting sifatnya."

Konsumerisme
Perubahan teknologi terjadi dari analog ke digital. Biaya lebih murah, demikian juga biaya yang diliput oleh konsumen. Perubahan ini membawa dampak peralatan konsumen pun harus berubah. Persoalannya adalah konsumerisme, suatu kenyataan yang berada di luar televisi, yang berusaha melayani masyarakat secara luas. Karena itu pilihan teknologi haruslah arif. TV berusaha untuk menyajikan program yang baik yang disukai penonton.

Sinetron dan sejenisnya paling disukai berdasarkan rating. Tapi Informasi kini lebih tinggi. Dalam waktu dekat informasi haruslah menjadi primadona bagi stasiun televisi. "Berita menjadi lokomotif bagi stasiun televisi, yang sudah dibuktikan oleh SCTV, yang pada awalnya sudah hampir ditinggalkan orang. Tapi setelah menayangkan informasi, orang mulai ketagihan untuk menyaksikan yang lain-lain." (RN DX-Komunikasi / ANK / HHG / HSB)

 
Dirgantara Online - Vol 11 No 4-5 Juli-Oktober 2001
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space