Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 11 No 4-5 Juli-Oktober 2001
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
DX Camp 2001
DirgaNet
Pers
Hukum
Profil Stasiun
Komunikasi
Internet
Sosok
Pendengar
Review Top 50
Redaksi

Volume 11
  Profil Stasiun
Belajar dari RRI

Sama-sama perusahaan jawatan (perjan), Radio Republik Indonesia (RRI) relatif lebih lincah. Lembaga itu bisa hidup bukan sekedar 'menghisap' APBN, tapi juga mencari uang dari 'proyek' kanan-kiri. RRI yang berubah statusnya menjadi perusahaan jawatan pada 1 Juli 2001 lalu nyatanya lebih leluasa mencari dana.

Dengan perubahan status menjadi perjan, RRI kini dapat melakukan kerja sama dengan swasta dan juga menerima iklan. Ya, iklan ! Jadi jangan kaget di beberapa program RRI juga bisa didengar tayangan iklan, lazimnya dilakukan radio swasta. Pengemasan iklan itu bervariasi. Ada yang jelas-jelas spot iklan, akan tetapi ada juga yang bersembunyi di balik kerja sama.

Kepala Divisi Pemasaran dan Pengembangan Usaha RRI, Djoko Saksono, mengatakan RRI sekarang ini sudah menjadi stasiun radio publik. Tugasnya tetap melayani kepentingan umum secara mandiri, independen dan netral. Namun tidak semata-mata hanya mencari keuntungan. Untuk itu, siaran iklan dibatasi 15-20% dari jumlah jam siar dalam setiap hari. Selain berupa iklan, kerja sama operasional juga dihalalkan. Dengan pemerintah misalnya program pemberdayaan pendidikan atas kerja sama dengan Depdiknas. Ada juga program sosialiasi otonomi daerah bekerja sama dengan Depdagri.

Djoko mengatakan kerja sama dengan swasta dilakukan lewat sistem kontrak minimal tiga bulan hingga setahun. Kerja sama itu bisa juga dengan sistem barter. Misalkan, kata Djoko, RRI mempromosikan produk Astra dengan barteran mobil. RRI juga telah melakukan kerja sama dengan Indosat dan Telkom menyelenggarakan siaran haji.

Jual Air Time

Menurut Djoko, RRI memiliki 7 programa, termasuk di dalamnya siaran luar negeri. Masing-masing program operasional pada satu frekuensi. Salah satu program yang cukup dikenal masyarakat adalah Pro 2 FM. Frekuensi berita ini dinilai cukup cepat mengangkat isu actual. Bahkan petunjuk lalu-lintas dari radio itu kerap kali dijadikan acuan warga Jakarta yang memanfaatkan jalan raya.

Satu sumber di RRI mengungkapkan Pro 2 FM sepenuhnya dikelola oleh swasta, "Orang-orang RRI tak terlibat di dalamnya," kata sumber itu. Penyiar hingga reporter tidak masuk struktur RRI. Penyelenggara siaran wajib menyerahkan bagi hasil pemanfaatan frekuensi itu. Sudah barang tentu peralatan studio milik RRI, Cuma pendukung operasional lapangan disediakan pengelola.

Djoko tidak berkomentar banyak soal Pro 2 FM itu. Dia mengaku sejak awal tak mengetahui keberadaan siaran Pro 2 FM tersebut. Pihak pengelola Pro 2 FM belum bersedia menjelaskan secara rinci. "Biar bos yang bicara," Menurut Djoko, Pro 2 FM itu merupakan anak perusahaan RRI. "Memang manajemennya ditangani swasta," jelasnya. Dia menambahkan, aturan-aturan mengenai pihak swasta mengelola frekuensi secara penuh tidak ada. Bila kebijakan Pro 2 FM menyimpang dari garis operasional RRI, maka manajemen RRI punya hak untuk mengambil tindakan, "Otoritas penuh ada di tangan RRI."

Djoko juga menegaskan RRI bukanlah menjual frekuensi, sebagaimana anggapan banyak orang, tapi menyewakan air time. Bisa jadi programa lain pun bisa ditawarkan ke swasta lain dengan status hak pengelola siaran. (MS / Bisnis Indonesia 22-6-01 / DBR / AIG)

The 60th Birthday of China's International Radio Broadcasts

Desember 3rd marks the 60th birthday of China's international radio broadcasts. In 1941, New China Broadcasting (now CRI) was established in Yan'an in northwest China, at height of the eight-year war against Japanese aggression. The radio stastion told Japanese soldiers and correspondents what happening in China and on the world's anti-facism Battlefields. Several years later, on 11th September 1947, CRI opened an English Service with just 2 announcers broadcasting from a cave in the Taihang Mountains in northern China.

The newly established People's Republic of China invested heavily in CRI, then Radio Peking. As a result, inn the 1950's and 60's many other foreign language departments were opened, in addition to the existing Japanese and English Department. Since, 1984, CRI has also launched domestic broadcast in over 10 languages including English, Japanese and Frech.

So far, CRI has established about 70 correspondent offices at home and abroad to better serve Radio and TV audiences as well as newspaper and Internet readers. In 1998, http://www.cri.com.cn/ was launches, and it is equivalent in North America, http://www.crinews.com/. Now web surfers can check out the news and listen to the radio online in 11 languages. By the end of this year, our listeners will be able to listen to shows online in 43 languages (38 foreign languages, Chinese Putonghua and four Chinese dialect). In addition, we are trying to set up an online video program.

Over the past 60 years, radio has become a bride of friendship between China radio International and listeners from various countries. Director of CRI's listeners department, Guo Shizhi, says, according to conservative survey, CRI's listeners are spread throughout the whole world, in over 200 countries and regions. Just last year, CRI received over 680 thousand letters and emails from 153 countries and regions.

Since the People's Republic of China was founded, more, more than 2.000 foreigners have worked at CRI. They have played an irreplaceble role in CRS`s work and some of them have even dedicated their whole lives to working in China. They have paved the bridge of friendship and peace between China and others countries.

 
Dirgantara Online - Vol 11 No 4-5 Juli-Oktober 2001
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space