Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 11 No 4-5 Juli-Oktober 2001
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
DX Camp 2001
DirgaNet
Pers
Hukum
Profil Stasiun
Komunikasi
Internet
Sosok
Pendengar
Review Top 50
Redaksi

Volume 11
  Pers
Amplop Menghancurkan Solidaritas dan Integritas Wartawan

Amplop yang diberikan oleh pengusaha atau pejabat kepada wartawan telah menghancurkan solidaritas dan integritas wartawan. Itulah yang diungkapkan oleh Pemimpin Redaksi Majalah Berita Mingguan TEMPO, Goenawan Mohamad. Banyak masalah lain dalam dunia pers di Indonesia, yang pada akhirnya bukannya mengembangkan pers, tetapi mematikan.

Selfcencorship, Privacy, dan Etika Wartawan
Mengenai pendapat bahwa di negara-negara yang kurang bebas persnya, wartawan haruslah mempunyai selfcencorship,Goenawan mengatakan sangat bergantung kepada apakah ada rasa takut, kebencian dan lain-lainnya. Dan apabila wartawan tidak dapat mengendalikan diri, akan memperburuk keadaan. Seperti misalnya masalah-masalah yang lebih bersifat pribadi, privacy, haruslah dihormati. Karena itu etika wartawan sangat diperlukan, agar ia tetap bekerja berdasarkan hati nurani.

Ketakutan
Ada masanya wartawan mengalami ketakutan, apalagi di masa lalu. Ketakutan sekarang bagi wartawan, menurut Goenawan Mohamad, bukan pada pemerintah, tetapi apa organisasi-organisasi non-pemerintah seperti Front Pembela Islam, Banser, PDI-P. Mereka tanpa menghormati hukum, dapat dengan tiba-tiba menduduki kantor surat kabar sehingga suratkabar tidak terbit. Pembacalah yang rugi. "Dan ketakutan ini harus dilawan," tutur Goenawan Mohamad.

Bagaimana pun rasa takut ini haruslah dikelola dengan baik. Pengalaman di masa Orde Baru telah membuat dia mampu mengelola ketakutan, karena di masa itu seorang wartawan dapat saja ditangkap, diculik, atau seorang Pemimpin Redaksi tiba-tiba ditelepon tidak boleh menyiarkan sesuatu berita.Ketakutan ini jangan dibiarkan. Kalau tidak, ketakutan itu akan menjadi kangker. Larangan-larangan melalui telepon harus dikelola dengan baik, jangan sampai semua wartawan tahu. Cukup empat lima orang saja. Dengan demikian wartawan yang tidak tahu kalau Pemimpin Redaksinya ditelepon, masih dapat menelusuri berita yang dilarang disiarkan dengan rasa aman, tidak kuatir atau cemas.

Dibreidel, Jadi Pahlawan
Goenawan Mohamad menuturkan, masalah seperti itu juga harus dibicarakan dengan wartawan yang masih mempunyai hati nurani dan keberanian. Di TEMPO, mereka selalu melihat skenario terburuk, yaitu dibreidel. Kalau ada tindakan ini, paling masuk koran dan dapat menjadi pahlawan. Pembreidelan itu bukan akhir zaman, tapi yang penting wartawan harus survive, bertahan hidup.

Tidak Sendirian
Goenawan mengakui pernah mempunyai rasa takut. "Tapi setelah TEMPO dibreidel, rasa takut saya hilang." Setelah berlalu, maka ternyata "kami tidak sendirian, karena ada orang lain yang mendukung. Kalau kita menyerah pada ketakutan, berarti menyerah pada teror. Takut itu sendiri adalah menyerah. Bagi saya mungkin itu semacam kesombongan dari pada keberanian."

Dalam perlawanan, ternyata ada teman-teman yang dipenjara, atau hanya sekedar ditahan. Goenawan menekankan kita tak perlu takut, karena ada orang lain. Dia dan teman-temannya mengunjungi teman-teman yang dipenjara secara rutin. Dengan sistem ini sebenarnya "kami menularkan keberanian."

Musuh Utama : Amplop dan Pemilik
Di era kebebasan pers seperti sekarang ini bukan penyadapan telepon atau Internet yang menjadi kendala atau musuh, bahkan, masih tetap merupakan lawan yang harus kita hadapi adalah amplop dan para pemilik. Ada sebuah radio di suatu tempat di Indonesia yang menyalurkan berita-berita dari Kelompok Radio 68 di Utan Kayu. Tiba-tiba radio ini ditutup. Ketika diselidiki, bukan karena masalah politik, tidak, tetapi karena pemilik stasiun radio ini berpacaran dengan salah seorang penyiar. Isterinya marah dan memerintahkan menutup stasiun radio tersebut.

Serikat Kerja dan Dewan Karyawan
Untuk menghindari keadaan seperti itu, Goenawan Mohamad menyarankan agar wartawan juga mempunyai Serikat Pekerja. Di TEMPO adalah Dewan Karyawan yang mempunyai cukup kekuatan. Bila ada wartawan yang dipecat, dewan ini berjuang untuk membelanya. "Kalau perlu, Redaksi juga duduk di Dewan Direksi," tambahnya. "sehingga pemilik tidak sembarangan bertindak.

Ia mengakui kebebasan pers juga sering dihambat oleh wartawan sendiri, misalnya dia mengirimkan gambar sangat besar, sehingga ketika diturunkan, akan memakan waktu lama.

Goenawan masih tetap merasa memiliki TEMPO, walaupun ia sudah mengambil jarak karena lebih senang mengurus kesenian dan juga majalah lain serta pusat pelatihan bagi wartawan. Walaupun demikian, "Saya tidak perlu harus kembali, karena banyak wartawan muda yang masih dekat dengan saya." Ia masih duduk di Dewan Direksi. "Tapi saya tidak mau campur, karena saya juga tidak bisa lama-lama duduk."

Mengurus Manusia itu Melelahkan
Ia merasa terlalu capai menjadi Pemimpin Redaksi, "karena yang diurus bukan hanya tulisan, tapi mengurus orang itulah yang paling capai."

Goenawan Mohamad, selain dikenal sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Berita Mingguan TEMPO, dikenal pula sebagai penulis puisi, meskipun diakuinya tidak produktif. Ia juga dikenal sebagai penulis esai. Sebagai budayawan ? "Di Indonesia," katanya, orang menyebut saya demikian. Tapi apa sih, budayawan itu ? Budayan itu seorang yang banyak bicara, tentang segala hal, tetapi pengetahuannya dangkal. Lalau apa yang bisa diharapkan dari orang seperti itu ? Apa bisa dipercaya ?"

Kesibukan Goenawan
Kini dia sedang sibuk menyelesaikan libretto tentang Tan Malaka bersama-sama dengan salah seorang komponis Indonesia, dan akan dibawakan oleh Paduan Suara Universitas Parahyangan dari Bandung.

Goenawan kini lebih sibuk di Komunitas Utan Kayu yang mempunyai berbagai kegiatan, seperti galeri, Radio 68, penerbitan Pantau (yang memantau media di Indonesia), Kalam (jurnal tiga bulanan tentang kebudayaan). Dalam kata-katanya kegiatan komunitas Utan Kayu ini dibagi dalam tiga bagian, yaitu: kebudayaan, media, pelatihan dan ditambah sayap politik.

Mengapa ia bergiat demikian ? Karena dia mengimbau agar kemampuan berpikir kritis dikembangkan oleh setiap orang Indonesia. Pengalaman melawan rezim Soeharto kita harus tegar, tapi semua itu harus jelas. Harus dialektis. Menurut pendapatnya, sekarang ini banyak orang kembali ke agama, baik Islam maupun Kristen, "Tetapi saya lihat kegiatan mereka itu bukan spiritualitas. Malah mengumbar dendam, kebencian. Kegiatan macam ini menurut saya merugikan, bukan hanya secara sosial tetapi terlebih-lebih lagi pribadi. Menurut Karl Marx, agama itu candu, opium, bukan, sekarang bahkan agama itu heroin. Seharusnya kan tidak begitu."

Apa pun sebutannya, Goenawan paling senang kalau tulisannya dimuat dan dipuji baik. (RN DX-Komunikasi / ASK / HSB)

 
Dirgantara Online - Vol 11 No 4-5 Juli-Oktober 2001
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space