Mitra Kita
S. Soeprapto, Penyiar, Dalang, Pemusik, dan Budayawan
Pengantar : Sebelum kembali ke Amerika, Mas Prapto -- begitu saya menyapanya -- sempat berdwicakap dengan redaksi di sela-sela Temu Pendengar Djokdja (TPD) 2000. Berikut tulisannya. (HSB)
Bagi Mas Prapto, ada beberapa kesan ketika menghadiri TPD 2000 di Kaliurang, yang diselenggarakan oleh Indonesian DX Club. "An impressed so much that has moved the feeling happily and exactly", begitu ia mengawalinya. Kumulatif Temu Pendengar III ini lebih dari yang saya duga dan harapkan. Kehangatan, keramahan, persahabatan mendekatkan para pendengar dan penyiar, serta relasi. Ada baiknya Temu Pendengar serupa ini ditingkatkan, disosialisasikan, digalakkan, dan dimanfaatkan.
Kontak dan tatap muka untuk dapat berkomunikasi secara terus terang dan beritikad baik akan sangat membuka pandangan satu sama lain untuk lebih kreatif, inovatif, dan produktif. Untuk itu, desakan agar segera memberi laporan ke Amerika, tentang pertemuan tersebut disampaikannya juga, walaupun hari telah larut malam. Serta jumlah biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Bahkan, ia berjanji tetap akan datang apabila memperoleh dukungan. Seraya mengatakan komunikasi akan langsung ditanggapinya, begitu Mas Prapto memulai prolognya, sebelum melakukan wawancara.
S. Soeprapto adalah putra Sala. Bergabung dengan Suara Amerika mulai tanggal 29 Januari 1976. Karir dalam dunia keradioan dimulai dari IKIP Negeri Yogyakarta Jurusan Bahasa Inggris, English Speaking Association (ESA), Yogyakarta. Bekerja membantu RRI Nusantara II Yogyakarta sebagai instruktur Siaran Bahasa Inggris. Selain itu, ia juga dosen Bahasa Inggris pada IKIP Veteran Yogyakarta, dan di Akademi Bahasa Asing Yogyakarta.
Kesempatan adanya tawaran program pertukaran penyiar dengan Suara Amerika diikutinya atas dorongan almarhum Soemarno, yang waktu itu menjabat sebagai Kepala RRI Nusantara II Yogyakarta. Aplikasi yang disampaikan mendapatkan respon, dan setelah lulus testing, terbanglah Mas Prapto ke negeri Paman Sam. Tugasnya ketika itu membawakan warta berita dan mengasuh acara tetap sekali sepekan, Pertanian di Amerika. Kini Mas Prapto setia dengan acara yang diasuhnya, yaitu Lingkungan Kita dan Seni Budaya.
Pengalaman yang pertama diperoleh adalah pada saat ia datang. Kebetulan waktu itu sedang musim salju. Betapa ia melihat Amerika sebuah negara yang luas, indah, dan bersih. Selanjutnya, ia mengatakan bagaimana ia harus beradaptasi dari kebiasaan yang semula hidup dalam dua musim, kini hidup dalam alam empat musim, dimana ia selalu mempunyai harapan baru setiap musim semi tiba.
Apakah ia merasa canggung dengan teknologi waktu itu ?
Dengan tegas menyatakan tidak, karena pada prinsipnya semuanya sama. Yang berbeda adalah sistem penyiaran. Di RRI, ruang penyiar dan operator dipisahkan, demikian juga di Suara Amerika. Bedanya adalah adanya produser, yang bertugas di antara penyiar dan operator, dengan memberi instruksi berdasarkan script yang dibacakan MC. Perbedaannya dengan ABC, di Australia, penyiar merangkap operator dan produser. Untuk itu, ia harus dapat menyelesaikan semua yang ada kaitannya dengan siaran secara sendirian.
Lantas bagaimana dengan jurnalistik radionya ?
Pada dasarnya tetap sama, yaitu 4W + 1H. Tugas penyiar di RRI hanya menyiarkan, yang disiapkan oleh redaksi atau staf pemberitaan. Sedangkan di Suara Amerika, selain sebagai pembaca berita, pembawa acara, juga menyiarkan script, dan membuat script untuk dibawakan. Juga sebagai reporter, penulis naskah, dan pembaca script. Penyiar dituntut bisa menjadi reporter, produser, maupun penulis naskah, sedangkan yang rutin adalah wawancara.
Bolehkah membantu media lain ?
Tidak !! Penyiar Suara Amerika adalah bekerja untuk pemerintah Amerika. Bekerja di luar pekerjaan resmi tak diperbolehkan. Kalaupun ada, harus mendapat persetujuan dari kantor.
Kerjasama dengan RRI ?
Saat ini tidak lagi dilaksanakan. Pola yang dipakai adalah hubungan antar pribadi.
Adakah Co-produksi ?
Pembuatan siaran dengan kerjasama tidak. Co-produksi hanyalah bersifat afiliasi, misalnya dengan Radio Retjo Buntung dan Elshinta, sehingga kerja samanya adalah saling mengudarakan. Imbalannya, tentunya radio yang bersangkutan memperoleh bahan-bahan siaran untuk diudarakan.
Adakah mempunyai diklat (pendidikan dan pelatihan) seperti Multimedia Training Center, untuk meningkatkan sumber daya manusianya ?
Proses menjadi penyiar adalah dengan mengadakan orientasi dan pelatihan.
Lho, kok sempat mendalang juga ? Apa dikemukakan saat "goro-goro" tiba ?
Lulusan Pendidikan Pedalangan Kraton Yogyakarta "Habiranda" dan Pawiyatan Pedalangan Gaya Sala "Marsudi Budaya" tersebut mengatakan, "Di luar jam kerja, saya adalah orang Indonesia". Di luar jam resmi, dia bisa melakukan kerja bebas. Kesempatan goro-goro dipergunakannya untuk melestarikan budaya Indonesia dalam bidang seni, tari, musik, pentas, membawa misi Pemerintah Amerika dan mengangkat peristiwa aktual.
Mas Prapto tetap berharap di Indonesia akan lahir asosiasi klub pendengar sebagai wadah menyatukan visi dan misi. Beliau sanggup membantu dengan menghubungkan organisasi di Amerika. Ayo siapa yang mau ikut ?
Meskipun... Tetapi, Pengalaman Saya Mendengar Radio
Oleh : Sugeng Santoso, S.H.
Meskipun saya mulai mendengarkan radio gelombang pendek (baca radio luar negeri) sudah cukup lama, jarang sekali saya mengirimkan surat, kecuali untuk meminta pedoman acara. Untuk BBC satu contoh, sejauh saya ingat tidak lebih tiga kali. Untuk ABC biasanya yang saya minta adalah kalender, buku pelajaran bahasa Inggris, dan pedoman acara. Begitu pula dengan radio-radio lainnya.
Saya mendengarkan radio mulai awal tahun 70-an. Waktu itu radio yang pertama kali saya dengarkan berhasil saya pantau adalah ABC -- Radio Australia, dimana siarannya dimulai dengan suara burung yang khas. Pada awalnya, mendengar radio tetangga sebelah, tertarik, menanyakan radio apa yang sedang didengar, kemudian mencari sendiri gelombang radio ABC. Setelah itu seiring perjalanan waktu berturut-turut di tahun-tahun berikutnya saya temukan Suara Amerika, Radio Nederland, Suara Jerman Deutsche Welle, dan lain-lain.
Mengapa saya enggan mengirim surat ke radio luar negeri di luar meminta pedoman acara ? seperti meminta lagu, misalnya. Hal inilah yang akan saya kisahkan pada kesempatan ini. Sekitar tahun 1975, saya bergabung dengan RLC (Radio Listeners Club) Indonesia, saya pernah mengirim kartu pos meminta lagu ke ABC acara Pilihan Kita. Waktu itu dua bulan menjelang lebaran, saya ingin mengirimkan lagu kepada sesama anggota RLC, yang saya perkirakan merayakan Hari Raya Idul Fitri. Harapan saya untuk dapat disiarkan saat lebaran atau beberapa hari/minggu sesudahnya.
Apa yang terjadi setelah dua bulan berlalu ? Ternyata permintaan lagu yang saya kirimkan belum disiarkan. Saya menunggu lagi 1-2 bulan berikutnya, ternyata tak juga disiarkan. Akhirnya saya kehilangan gairah menunggu permintaan saya tersebut. Tetapi tetap mendengarkan acara Pilihan Kita, walaupun sambil lalu saja. Entah perasaan apa yang berkecamuk di hati saya waktu itu... sedih dan kecewa bercampur menjadi satu. Namun saya berusaha menyadari akan berbagai faktor yang menyebabkan hal itu bisa terjadi. Siapa tahu surat saya tidak sampai pikir saya.
Lebaran tahun berikutnya, seperti biasa saya mendengarkan acara Pilihan Kita. Apa yang terjadi ? Saya hampir tidak percaya hari itu dibacakan !! Seketika itu hilang rasa kecewa yang saya pendam selama berbulan-bulan, tetapi untuk meminta lagu lagi jadi malas. Sampai saat ini, kondisi ABC seperti sekarang ini. Belakangan ini, setelah saya bergabung dengan Indonesian DX Club, saya mulai rajin mengirim surat ke radio luar negeri, terutama radio yang belum banyak saya kenal.
Surat dimaksud dalam rangka melaporkan penerimaan siaran. Sempat terhenti sejenak saat terjadi krisis moneter. Namun berjalan lagi setelah saya menemukan cara yang mudah mengirim surat, yaitu melalui email. Apa targetnya ? Untuk memperoleh apa yang disebut QSL, sehingga dapat berpartisipasi mengisi salah satu rubrik yang ada di buletin Dirgantara, IDXC punya. Tetapi dari pengalaman mendengarkan radio, saya punya kemampuan menganalisis masalah politik yang hampir sama dengan para pelaku politik itu sendiri.
Untuk masalah-masalah politik yang terjadi di Indonesia, yang jadi acuan saya adalah siaran BBC pagi hari, Warta Berita dan Laporan Hari Ini. Sering waktu ngomong-ngomong dengan istri atau teman-teman, saya memberi komentar terhadap peristiwa politik. Peristiwa yang paling baru yang saya komentari adalah waktu Amien Rais menyampaikan keinginan para politisi yang membentuk poros tengah mencalonkan Gus Dur sebagai presiden.
Waktu itu saya katakan pada istri dan teman-teman, "Jangan-jangan itu keinginan Amien Rais, siapa tahu Gus Dur menolak, kemudian menunjuk Amien Rais sendiri menjadi presiden. Ibarat seseorang diperintah memberi bola kepada orang lain, kemudian orang yang diberikan bola itu menolak, bukankah bola kembali ke orang yang menyuruh memberikan ?" kata saya. "Mengapa bukannya Hamzah Haz yang maju ke Gus Dur ?" tanya saya kemudian. Sore harinya, ternyata sebuah koran memuat komentar seorang pengurus PBNU, yang isinya tak banyak beda dengan komentar saya.
Apakah memang kemampuan saya menganalisis masalah politik makin meningkat ? Wallahu'alam bissawab. Sebab ini hanyalah salah satu contoh. Banyak contoh peristiwa lain yang saya komentari, ternyata komentar saya (hampir) sama dengan komentar para pelaku politik. Namun tentunya tidak dapat saya menceritakan semua pada karangan yang singkat ini. (SSA)