DirgaNet
Perkembangan Homepage IDXC
Perkembangan Situs Web IDXC beberapa bulan terakhir sangat menggembirakan. Jumlah pengunjung semakin meningkat dari hari ke hari, dengan rata-rata kunjungan sekitar 60 kunjungan per harinya. Saat naskah DirgaNet ini dipersiapkan per 16 November 2000, jumlah kunjungan ke Web site klub kita ini telah mencapai lebih dari 12500 kunjungan !!
Bagi Anda yang baru-baru ini mengunjungi situs Web IDXC, tentunya Anda melihat perubahan yang drastis pada tampilan halaman awal (front page)-nya. Perubahan tampilan ini pengurus lakukan selain untuk mempercepat waktu akses juga sebagai penyegaran setelah lebih dari dua tahun tetap menggunakan tampilan awal saat situs Web IDXC mulai dibangun. Berikut ini sebagian data jumlah kunjungan dalam dua bulan terakhir untuk bulan September dan Oktober, serta pertengahan bulan November :
1-30 September : 1790 kunjungan
1-31 Oktober : 1809 kunjungan
1-15 November : 982 kunjungan
Bagi Anda yang memiliki saran maupun kritik untuk pengembangan situs Web klub kita ini, silakan Anda berkirim surat ke : Pengurus IDXC Home Page, P.O. Box 2001, DPPS Depok 16432 atau bisa juga melalui email ke : akbarig@centrin.net.id. Kami nantikan selalu masukan dari Anda !! Tampilan baru front page situs Web IDXC dapat Anda lihat pada halaman lain edisi Dirgantara ini. (AIG)
Buku Tamu IDXC Website
K. Wiadnyana - kwiadnyana@...
Kegiatan : Pendengar gelombang pendek
Mengetahui Situs Web IDXC dari : Search Engine
Alamat : City of Grosse Pointe, Michigan 48230, USA
Pesan :
Hello, just check out the site. I wonder if you are still active now (Sept 2000). It's good to know there are many others who listen to the SW band. Keep up the good work !!
Berita dari Internet
Masima Grup Rancang Siaran Radio Multibahasa
Tujuh radio swasta di Indonesia akan siarkan tayangan khusus anak muda yang dikemas dalam bentuk hiburan, musik, gaya hidup, travel dan informasi di seluruh dunia dengan berbagai bahasa. Ketujuh radio swasta tersebut terdiri dari Radio Prambors 102.3FM, Delta 99.5FM, FeMale 100.2FM, Bahana 101.9FM, SPFM 90.75 (Jakarta), Rase 102.3FM (Bandung) dan di Menado, radio 100.2 Sol FM. Mereka serentak akan menayangkan sebuah acara radio bertajuk 'Borneo Wave Channel' yang mulai siaran awal Januari 2001 mendatang.
Menurut Hanny Soema Dipraja, Direktur Masima Corporation, selaku pengelola ketujuh radio tersebut, pihaknya sengaja membuat program baru ini khusus untuk anak muda di seluruh dunia dalam tiga bahasa, Inggris, Indonesia, serta Mandarin. Jaringan radio digital global di seluruh dunia khususnya kawasan Asia ini akan disiarkan melalui fasilitas yang disediakan WorldSpace Indonesia dengan Satelit AsiaStar yang diluncurkan bulan Maret lalu.
Berdasarkan data survei Lintas Link yang diadakan beberapa waktu lalu, sebagian besar kalangan eksekutif muda membutuhkan acara seperti ini. "Karena itu, kami kami memilih acara khusus anak muda. Sesuai dengan namanya Borneo Wave Channel," ujarnya. Acara ini dikemas dalam bentuk hiburan, musik, gaya hidup, traveling dan informasi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Prosentasi acara Indonesia dengan tayangan luar negeri adalah 50 banding 50.
"Tayangan Indonesia banyak dimunculkan karena untuk mengangkat citra Indonesia yang sekarang ini buruk di mata dunia," jelasnya. Meskipun disiarkan serentak di tujuh radio tersebut, hal ini tidak akan mengganggu siaran radio masing-masing yang biasanya. "Bentuknya bukan blocking time, melainkan siaran acara yang hanya bisa ditangkap pesawat penerima (receiver) dan disiarkan selama setengah jam tiap harinya berupa program pendek," tutur Hanny.
Untuk tahap awal, pihak Masima masih akan melakukan siaran dengan tape recorder maupun rekaman acara. "Selanjutnya, kami akan usahakan untuk siaran langsung," papar Hanny. Perihal biaya yang dikeluarkan Masima, Hanny belum dapat memastikan jumlahnya. "Kami masih dalam tahap negosiasi," katanya lagi. (Ratri Suyani / ari / abs)
Channel NewsAsia Mulai Tayang di Indonesia
Channel NewsAsia secara resmi meluncurkan penyiaran televisi Channel NewsAsia (International) di Asia dan mengudara di Indonesia mulai Kamis. Maka, pemirsa di luar Singapura, seperti Hongkong, India, Indonesia, dan Filipina bisa mengakses saluran ini melalui satelit Apstar IIR dan Palapa C2 yang mencakup daerah-daerah geografis dari Afrika hingga Timur Tengah melewati India, Korea, sampai Australia.
Menurut Chief Executive Officer Channel NewsAsia, Shaun Seow target penyiaran dengan kecepatan berita dalam perspektif Asia kepada sekitar 5,5 juta keluarga di seluruh Asia telah tercapai. Ke depan, target akan ditingkat hingga keluarga yang terjangkau mencapai 12 juta pada 2003. "Kami berharap untuk dapat meluaskan jaringan di beberapa tempat seperti Australia, Brunei, Cina, Hongkong, Korea Selatan, dan Thailand," kata Seow dalam siaran persnya.
Disebutkannya pula, dengan membentuk kemitraan, Channel NewsAsia berusaha merangkul permirsa lebih banyak lagi, dengan menyediakan program-program yang diinginkan. Debutnya di Indonesia dilalui dengan sebuah 'Perjanjian Lisensi Hak Siar' dengan perusahaan TV kabel terbesar K@belvision dan pelopor industri layanan TV kabel, Indovision.
Dengan perjanjian tersebut Kabelvision akan menawarkan program standar Channel NewsAsia kepada sekitar 30 ribu pelanggan di Jakarta dan Bali. Sementara itu, Indovision akan memperluas jangkauan di hotel-hotel dan apartemen di Indonesia. Channel NewsAsia menyiarkan program-program produksi lokal seperti politik regional, bisnis dan keuangan, analisa dan gaya hidup. Di Indonesia sendiri, saluran ini memiliki program 'Niaga Indonesia' yang menampilkan para pelaku bisnis terkemuka dan menguasai seluk-beluk dunia usaha di Indonesia.
Penyedia informasi dan pemberitaan regional yang berdiri pada Maret 1999 ini telah memiliki kekuatan 140 wartawan yang tersebar di berbagai negara. Di luar Singapura yang menjadi pusat pemberitaan Channel NewsAsia, saluran ini telah memiliki koresponden di Australia, Cina, Hongkong, India, Indonesia, Korea Selatan, Jepang, Malaysia, Thailand, serta Filipina. (Laporan : Yogi Kuswantini, www.satunet.com / anr / abs)
Radio Klasik, Riwayatmu Kini
Menjelang tengah malam hari Senin, 24 Juli 2000, detik-detik berakhirnya siaran radio Klasik FM mencapai kesempurnaan. Hening. Tak ada lagi suara komposisi dari Ludwig van Beethoven, Johann Sebastian Bach, Warner, Tchaikovsky atau suara Placido Domingo, Luciani Pavarotti, dan lainnya yang selama ini cukup sering mengalun di radio ini. Pasalnya sejak saat itu Senin 24 Juli itu, secara resmi Radio Klasik (RK) yang berada di gelombang 89.65 FM itu berhenti mengudara dengan alasan pergantian kepemilikan frekuensi.
Sekitar sepekan sebelum berhenti siaran, radio ini mengumumkan adanya rencana penutupan masa siarannya itu. Pada saat itulah mereka membuka semacam "open house" bagi pendengar yang ingin mengeluarkan segala uneg-uneg, komentar maupun perasaan lainnya sehubungan dengan rencana penutupan RK itu dan bagaimana solusi ke depannya. Tampaknya hampir semua pendengar yang menelepon ke radio ini menyayangkan berhentinya masa siaran radio ini.
Tidak kurang dari pianis muda handal kebanggaan Indonesia, Ananda Sukarlan menyayangkan peristiwa yang menjadi tragedi di kancah musik klasik ini. "Karena ini satu-satunya radio yang khusus memutar musik klasik yang ada di Indonesia," katanya saat dimintai komentar oleh salah seorang penyiarnya. Setelah itu, berbagai respon berupa telepon, faksimili, e-mail, dan semua bentuk simpati mengalir deras ke RK. Jelas, mereka idem dito dengan Ananda Sukarlan. Banyak yang menyayangkan, merasa kehilangan dan menyesalkan hingga hal ini harus terjadi.
Kalangan pendengar yang rata-rata sudah berumur, tak kuasa menahan kesedihannya mendengar berita ini. Seseorang yang mengidentifikasikan sebagai ibu seorang balita mengatakan bahwa dia merasa kehilangan karena dia tahu musik klasik sangat membantu menumbuhkan kecerdasan anak, baik sejak masa di kandungan maupun sudah lahir. "Sekarang saya harus mendengar siaran dimana lagi ?" katanya sedih. Rasa penasaran dari para pendengar tampak sekali dengan adanya penutupan dikarenakan alasan perpindahan frekuensi ini.
Memang, pihak penyelenggara radio itu tidak memberikan informasi yang menyeluruh perihal beralihnya frekuensi ini dari siapa ke siapa. Tampaknya ini menjadi rahasia perusahaan. Mereka cukup menyebut ganti kepemilikan. Menjelang penutupan masa siar itu, Firman Taufik, Presdir Media Network Consolidated (MNC), holding pengelola radio ini, mengungkapkan bahwa perusahaan ini memang akan berpindah frekuensi. Selama ini mereka eksis selama lima tahun dengan format musik klasik. Namun untuk terus eksis ternyata tetap sulit dengan berbagai alasan.
Akan tetapi dia merasa terkejut dengan begitu banyaknya dukungan untuk mempertahankan satu-satunya radio yang mengudarakan format musik klasik ini. Karena itulah pihaknya menjanjikan untuk tetap hadir dengan format klasik. "Tetapi di frekuensi lain," katanya penuh kesedihan. Cuma, sejauh ini memang belum ada tanda-tanda ke frekuensi mana nantinya RK akan mengudara lagi mengingat frekuensi FM makin padat saja di Jakarta.
Frekuensi Milik Militer
RK sendiri hadir Oktober 1995 menggantikan format Radio Top FM dan berkantor di puncak Gedung Arthaloka, Jendral Sudirman Kav 2, Jakarta. Radio ini dikelola MNC dan Pri Sulisto yang sebelumnya mengomandani Top FM. Sementara frekuensi itu sendiri, sebagaimana diinformasikan, dimiliki oleh Puspen ABRI yang bekerjasama mengoperasikan frekuensi itu. Dalam hal ini MNC adalah pengelola yang menyediakan perangkat lunak dan perangkat keras pendukung lainnya. Setelah bekerjasama selama 10 tahun, akhirnya Puspen ABRI meminta kembali frekuensi ini dan dengan sangat berat RK harus keluar dari udara.
"Frekuensi itu memang milik Puspen, wajar bila diminta kembali. Kami tahu frekuensi itu lebih penting bagi mereka. Puspen memang telah berbicara kepada kami, mereka akan menggunakan frekuensi itu. Kita serahkan dengan suka rela, tidak ada paksaan, karena itu memang hak Puspen," ujar Firman sebagaimana dikutip Suara Pembaruan. Dengan berhentinya siaran ini, praktis semua karyawan RK yang berjumlah 15 itu harus berhenti kerja. Namun mereka tampaknya mereka bakal disalurkan ke perusahaan jaringan MNC yang ada.
Kelompok 23
Melihat tragedi ini lalu beberapa pendengar (dari total sekitar 50.000 orang) mulai tergerak untuk membentuk semacam kelompok yang nantinya bisa meneruskan eksistensi radio klasik ini. Tak kurang dari aktivis perempuan Debra Yatim, Otto Iskandar, dan konduktor Twilite Orchestra Addie MS menunjukkan simpatinya. Bahkan tak tanggung-tanggung, lalu terbentuklah "Kelompok 23" yang secara intern akan bertemu dalam pekan-pekan ini untuk meninjau kembali dan kemungkinannya untuk bisa memperoleh frekuensi baru FM.
"Kami akan terus mencari alternatif," ujar Fachri Muhammad, salah satu personil radio ini dalam salah satu sesi pamungkasnya, Minggu malam. Yang cukup menarik juga adalah rasa simpati yang luar biasa itu diungkapkan dalam bentuk bantuan dana yang kemudian oleh RK ditampung dalam rekening. Dalam hal ini mereka membukanya di Bank Muamalat Indonesia Cabang Artahloka di nomor AC 3010011810 atas nama PT Metro Fokus Mediatama.
Itulah, dalam waktu singkat terbentuklah suatu Komunitas Pecinta Radio Klasik (KPRK) yang semakin banyak peminatnya. Sehingga tak tertutup kemungkinan terbentuknya suatu yayasan khusus mengenai forum ini. Mengantisipasi animo yang membludak itu, menurut Luki Indianto, pimpinan RK, bahwa setelah ini, RK tidak akan ke mana-mana, karena setelah ini mereka terus berusaha untuk bangkit.
"Ini adalah sebuah jeda, tidur pendek dari awal eksistensi perkembangan musik klasik, karena penggemar musik klasik di Indonesia cukup luar biasa," katanya. Karena itulah dia menenangkan para pecinta RK, dengan mengatakan bahwa RK masih tetap eksis di gelombang lain, seperti yang juga dikatakan Firman Taufik.
Pasar
Memang, dapat dikatakan bila ini adalah sebuah tragedi sebuah radio yang pada awalnya didirikan dengan idealisme yang tinggi untuk meningkatkan apresiasi musik klasik di Indonesia. Sebagaimana pada awal berdirinya lima tahun silam, radio ini memang dijejakkan untuk mengisi pasar yang kosong di musik jenis serius ini. Tapi apakah benar ada bau bisnis di musik klasik ? Setidaknya para pendiri RK berpikir demikian.
Sampai akhirnya waktu berjalan terus, bahkan diselingi dengan adanya era reformasi dan krisis ekonomi, sehingga dalam bisnis radio terkena imbas dan yang pasti perolehan iklan untuk akselerasi dan napas sebuah stasiun radio jadi terhambat. Di RK tampak sekali bahwa durasi yang panjang dalam sebuah komposisi musik klasik cukup menyita waktu. Sehingga kemungkinan untuk diselipkan iklan komersial cukup tanggung dan bahkan mungkin tak ada sama sekali.
Praktis, jika mendengarkan radio ini, jarang mendengar iklan komersial. Sementar pasar radio klasik masih kering untuk dimasuki iklan. Padahal dari segi segmen pasarnya, angka 50.000 pendengar fanatik, cukup signifikan. Cuma masalahnya juga tergantung pada giat tidaknya manajemen dan marketing berburu iklan. Toh, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Ini sudah suratan bahwa RK harus berakhir di tengah pecintanya yang mulai apresiatif.
Walau begitu, komunitas ini diharapkan tetap hadir. Bahkan dalam salah satu sesi terakhirnya itu, Fachri Muhammad mengatakan bahwa komunitas radio ini kini masih ada melalui internet di alamat www.iprbor.com yang ternyata adalah alamat Biro Oktroi Rooseno, salah satu kantor hukum yang banyak bergerak di advokasi, paten dan HAKI. Cuma, saat dibuka, sejauh ini belum ada forum yang dimaksudkan.
Yang jelas kini aura musik telah terkikis perlahan dan kini hendak dibangun kembali. Jadi bila ingin mendengar musik klasik dari sebuah radio, telinga mungkin harus berpaling ke radio lain seperti Delta FM yang juga rajin secara periodik memutar program "Delta Classic" setiap harinya. Atau kalau ingin eksklusif, siaplah merogoh kantong untuk membeli kaset atau CD klasik di toko. (Penulis: Prima Harison, www.satunet.com / ari / abs)