Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 10 No 5 Sep-Okt 2000
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
DirgaNet
Profil Stasiun
Antena
Aktif
Profil Receiver
Perforasi
DXmania
Laporan Berita
Review Top 50
Redaksi

Volume 10
  DXmania
Gara-gara Takut Ditinggal Pergi Orangtua

Memang bermacam-macam alasan seseorang sampai punya hobi nguping radio terutama siaran gelombang pendek. Ada yang karena bosan hanya mendengar siaran radio lokal, ada yang karena ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan. Ada yang karena berteman baik dengan teknisi radio lokal atau stasiun TV. Ada yang karena heran melihat orang lain menyukai siaran radio lebih daripada acara-acara TV. Ada yang karena membaca satu naskah tentang siaran radio di media cetak. Ada yang karena secara kebetulan tune in ke siaran radio luar negeri. Bahkan ada yang karena melihat pameran yang diselenggarakan oleh suatu klub pendengar radio.

Seingat saya, saya mulai mendengarkan siaran radio luar negeri sejak duduk di bangku klas 1 SLTP tahun 1994. Sebagai seorang anak, saya merasa ketakutan sewaktu karena suatu urusan orang tua pada suatu malam saya terpaksa ditinggal sendirian di rumah. Untuk mengurangi rasa takut saya pasang TV dengan suara keras, demikian juga pesawat radio yang saya pinjam dari orang yang tinggal indekos di rumah saya.

Saat itulah saya mencoba mencari-cari siaran radio BBC yang saya pikir satu-satunya stasiun radio yang punya siaran bahasa Indonesia. Baru saat sign off saya tahu bahwa siaran itu bukan siaran BBC, melainkan Suara Jerman Dortsevelle seperti yang terdengar di telinga saya. Dengan alamat yang sempat saya catat, pada kesempatan lain saya menulis surat, dengan memakai alamat saya di sekolah.

Tepatnya tanggal 6 Oktober 1994 saya menerima balasan. Wah, malu juga saya setelah melihat bahwa nama radio yang saya tulis di surat dulu ternyata salah, sangat jauh berbeda dengan nama sebenarnya -- Deutsche Welle. Mungkin karena itu saya ingat sekali tanggal penerimaan balasan tersebut. QSL pertama yang saya terima adalah dari Suara Tiongkok Merdeka, pada tahun 1996, setelah sebelumnya mengisi blangko laporan penerimaan siaran (LPS) sebisanya. Tahulah saya, bahwa untuk mendapat QSL suatu stasiun radio kita harus mengisi dan mengirimkan LPS ke stasiun radio tersebut.

Suatu ketika saya baca di harian Jawa Pos tulisan Aries Subagyo tentang rencana penutupan siaran Radio Nederland, juga alamat Indonesian DX Club di Kutoarjo. Balasan surat permintaan informasi tentang club yang saya kirim ke alamat tersebut datang setelah lebih kurang setahun kemudian, berupa prospektus. Setelah bergabung menjadi anggota klub itulah, maka pemahaman saya tentang dunia DXing semakin bertambah. Demikian juga dengan perburuan QSL semakin intensif, yang membuat saya lebih tekun memantau siaran-siaran radio gelombang pendek (shortwave).

Pernah saya dalam usaha mencari stasiun yang langka mendengarkan radio sampai jam 4 pagi. Bisa dibayangkan bagaimana suara-suara yang saya dengar waktu itu, berisik, naik turun bergelombang dan sering susah didengar. Tetapi saya merasa memang di situlah unik dan menariknya dunia DXing. Semua rasa jengkel dan jenuh saat monitoring akan segera sirna begitu kita memperoleh balasan dari stasiun radio berupa QSL maupun cindera mata dan bahan-bahan publikasi lainnya. (Seperti dituturkan oleh Bakhrul Effendy)

Surat dari Juichi Yamada : Kunjungan Saya ke Indonesia

I took a trip to Indonesia from 5th August to 13th August. Visiting some places, Jakarta and Makassar, and purpose of my visit is studying radio broadcasting stations in Indonesia and also meeting some friends. Before departure from Japan, I contacted Akbar Indra Gunawan, one of IDXC staff, and informed him the schedule of my trip.

When I arrived at the Soekarno-Hatta International Airport, Mr.Sunu and Nick Grace, a famous DXer from USA came to meet me at the airport. With them, we went to hotel in Jakarta, and Akbar and Dwi visited the hotel where I stayed. We made a meeting, visited some radio stations, like Radio Cendrawasih Pusat, Radio Pelangi Nusantara, the RRI Cimanggis transmitter site. We also visited the room of Albert Hutabarat, broadcaster of Voice of America. I enjoyed very much and had a nice time.

To tell the truth, I was worried whether Jakarta was dangerous or not, because the Japanese government appointed to tourists that Indonesia, except Bali Island, was a dangerous place, so tourists had not better go to Indonesia. But, really, I had comfortable and safe time. I thank for support from IDXC staff and my friends, and I hope we continue to have this friendship in the future. Now, I am in Tokyo, Japan. If I have a time to visit Indonesia, we meet again, and have an enjoyable time. Thanks again !! ( Juichi Yamada )

Radio adalah Sahabat dan Guruku
Semenjak duduk di bangku SMP

Sejak aku duduk di bangku SMP Muhammadiyah radio sudah mulai jadi sahabat dan guruku sebagai narasumber ilmu pengetahuan. Mulai dari warta berita sampai pada acara-acara yang ditujukan khusus kepada para remaja ketika itu. Termasuk acara Kontak Remaja dan Angkasa Ria lewat RRI Nusantara I Ujung Pandang (sekarang RRI Nusantara IV Makassar, Red.) yang diasuh Kak Ramla Hatta Niola alias Kak Ramy.

Tercipta Keharmonisan Rumah Tangga dengan Mendengar Radio

Demikian juga acara Musik Pelepas Lelah (MPL) via RRI stasiun Nasional Jakarta dan Musik Pelepas Istirahat (MPI) via RRI Kendari yang diasuh oleh Lilla Madda. Kedua acara ini jarang terlewatkan olehku, kecuali kalau lagi tak ada di rumah. Bermula dari saling kirim-kiriman lagu, akhirnya aku pun menemukan jodoh di udara. Betapa indahnya dunia keradioan ini untuk dinikmati sebagai gaya hidup yang unik bila sepasang suami isteri sehobi. Karena keduanya saling pengertian dan romantis dalam melengkapi irama keharmonisannya, seolah dalam rumah tangga ini terasa tiada lengkap tanpa mendengarkan siaran radio setiap harinya.

Dari perputaran waktu yang berjalan tanpa terasa, akupun mulai mengenal siapa radio luar negeri seksi Indonesia. Stasiun radio yang pertama kalinya kukenal adalah Radio Australia, menyusul Radio Nederland, BBC, DW, dan Suara Amerika. Mulailah aku memberanikan diri menyurat ke stasiun stasiun radio tersebut di atas. Di luar dugaan saya, sekitar sebulan kemudian berdatangan surat balasannya, walaupun hanya berupa pedoman acara dan beberapa lembar foto para penyiarnya. Emma Suradja dari Suara Amerika, Amy Davidson dan Nuim Khaiyat dari Radio Australia.

Betapa gembiranya hatiku ketika itu, bagaikan tak berpijak di muka bumi ini. Seiring dengan bertambahnya usiaku, informasi dari radio terasa secara langsung mempengaruhi visi dan wawasanku dalam menyikapi persoalan fenomena ekonimi, sosial, dan politik yang sedang terjadi di belahan bumi ini, termasuk di negara kita. Mulai hati kecilku berontak dari kemauan orang tuaku yang sejak dini mempersiapkan untuk menjadi seorang guru agama.

Sementara aku sendiri bercita-cita untuk menjadi seorang tokoh politik yang ulung dan disegani oleh kawan maupun lawan. Namun cita-cita itu tidak kesampaian juga, justru tidak mendapat restu dari orang tuaku, terutama bapakku yang sudah lebih duluan merasakan pahit manisnya jatuh bangun dalam dunia politik. Takdir pun berbicara dan menentukan lain, aku pun tetap terpaut dalam dunia pendidikan. Namun bukan sebagai guru agama, sebagaimana harapan ke dua orang tuaku, melainkan sebagai guru umum di tingkat Sekolah Dasar.

Berbekal dari mendengar siaran radio, khususnya siaran radio luar negeri seksi Indonesia, akupun semakin banyak tahu tentang banyak hal seiring dengan lajunya ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian berkembang ke depan. Sehingga akupun tak mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas di kelas sebagai seorang guru. Meskipun, pada mulanya, aku hanya mengantongi ijazah Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Demikian pula ketika masih kuliah sampai sukses menyelesaikan studi tak pernah merasa kesulitan dalam menyerap terapan dan disiplin ilmu dari para dosen kami.

Sebab banyak sekali mata kuliah kami yang relevan dengan materi siaran radio luar negeri. Khususnya acara Ruang Iptek dan Kotak Surat Deutsche Welle, Sains dan Teknologi BBC, Menjelajah Angkasa Luar Suara Amerika, serta Cakrawala Ekonomi, Perspektif, Kotak Pos, dan Dunia Pendidikan Radio Australia. Dari bertahun tahun menekuni hobi DX ini, sekarang saya memiliki dua buah pesawat radio sederhana, masing-masing Tens R-97T dan Sony Digital ICF SW-30.

Namun timbul masalah baru bagiku. Sebab dengan menggunakan baterai sangant banyak memakan biaya, sedang penghasilan saya dalam sebulan sebagai seorang guru SD boleh dikatakan sangatlah pas-pasan, sementara ketiadaan rasa syukur merupakan sumber derita. Maka, mulailah aku menggunakan daya nalar dan mencari jalan keluar dari tantangan ini. Kemudian aku mencoba menggunakan power supply yang masing-masing berkekuatan 5 ampere. Dengan panjang kabel dari power supply ke pesawat radio sekitar 8 meter.

Ternyata hasilnya sangat memuaskan, asal jangan menggunakan lampu neon dalam ruangan monitor. Tentu saja mendatangkan keuntungan ganda, hemat biaya, dan penangkapan atau penerimaan pesawat radio yang digunakan sangat kuat. Kedua power supply tersebut saya buatkan kotak, kemudian masing masing saya pasang pada dinding dengan menggunakan siku baja sebagai penyangga. Sehingga tak menghalangi kegiatan lain, dibandingkan bila diletakkan begitu saja di atas meja monitor.

Bila ada cara televisi yang bersamaan dengan acara siaran radio, tak mau kulewatkan begitu saja, maka langsung saja aku membentangkan kabelnya ke depan TV dengan menggunakan alat bantu ke telinga agar keduanya tidak saling terganggu. Asyyiiik kaaan ?

Setuju dengan Terbentuknya Asosiasi Pendengar

Menanggapi akan terbentuknya asosiasi pendengar, saya sangat setuju, agar hobi yang unik ini eksistensinya dikenal oleh masyarakat umum sebagai suatu wadah. Tentunya Dirgantara diharapkan proaktif untuk menghubungi klub-klub lainnya, seperti Klub Anda dan Mapem Club. Bagaimana teknik pelaksanaanya, dan siapa saja yang menjadi penyelenggara pertemuan.

Sebagai acuan, maka saya sarankan agar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga-nya berorientasi pada pembentukan manusia yang bermoral tinggi, handal penuh dedikasi untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa dalam "Wawasan Indonesia Satu dan Satu Wawasan Indonesia" tak dapat dipisah-pisahkan satu sama lainnya. Sebab sangat baik mnjadi orang penting, namun jauh lebih penting lagi menjadi orang yang baik. Semogalah. (Oleh : Andi Aziz Thaba, seperti ditulis dalam suratnya / HSB)

 
Dirgantara Online - Vol 10 No 5 Sep-Okt 2000
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space