Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 10 No 5 Sep-Okt 2000
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
DirgaNet
Profil Stasiun
Antena
Aktif
Profil Receiver
Perforasi
DXmania
Laporan Berita
Review Top 50
Redaksi

Volume 10
  Perforasi

Pengantar : Perforasi adalah rubrik baru yang disajikan Redaksi. Uraian ini merupakan kelanjutan uraian terdahulu. (HSB). Perangko juga merupakan suatu "daily dialogue" antara sesama kita tentang "current event & problem". Selain digambarkan beberapa cabang olahraga yang dipertandingkan, juga digambarkan beberapa tempat yang menunjang kelancaran pesta olahraga tersebut, antara lain : Hotel Indonesia, Press House, Main Stadium, Road Improvement, dan Tugu Selamat Datang.

Suatu kecenderungan umum (common sense), bahwa seseorang dalam mendengar perkataan perangko atau postage stamp, asosiasinya cenderung dihubungkan dengan soal-soal pos atau sesuatu yang bersangkutan dengan pengiriman melalui pos. Dengan perkataan lain, pengertian di atas diperoleh berdasarkan data obyektif, yang hidup atau pernah hidup sebagai "pendapat umum" yang terjadi dalam masyarakat.

3. Letak dan Hubungan Perangko dengan Media Komunikasi Lain

Keadaan masyarakat yang mempunyai sifat mobile dan heterogen seperti sekarang ini dihadapkan pada suatu jaringan teknologi yang makin canggih dan beragam. Perangko sebagai medium komunikasi massa merupakan bagian sistem komunikasi melalui gambar, dengan prinsip daya penglihatan (optical system of communication), yang mempunyai ciri umum sedikit sekali memerlukan teks untuk menjelaskannya.

Bahkan kadang sama sekali tidak memerlukan teks (they can speak for themselves), berarti bahwa dalam komposisinya antara teks dan gambar (bila mana gambar tersebut memakai teks), yang dominan adalah gambar, dan teks yang dipergunakan hanya bersifat membantu memperjelas. Sistem komunikasi melalui gambar tadi, refleksi maupun manifestasinya termasuk dalam bentuk media, seperti fotografi, lukisan, ilustrasi, poster, reklame, karikatur, dan perangko, dimana yang satu bukan menjadi bagian yang lain, melainkan masing-masing secara keseluruhan adalah "pengejawantahan" dari picture of things pada umumnya.

Perangko dalam hal-hal tertentu dapat mengambil bentuk yang menyerupai poster atau foto-foto yang diperkecil dalam hubungannya dengan cara atau gaya membawakan message atau isi pernyataan tertentu, akan tetapi belum tentu bahwa perangko merupakan bagian daripadanya. Karena perangko, poster, fotografi, karikatur, dan sebagainya, secara keseluruhan merupakan pengejawantahan dari picture of things masing-masing mempunyai ciri dan karateristik yang hampir berbeda antara satu dan yang lain, seperti halnya membedakan antara surat kabar dan buku.

Hakikat dari proses komunikasi adalah pemindahan (transmission) stimuli dari individu yang satu kepada individu yang lainnya. Dalam proses yang demikian, yang terpenting adalah bagaimana suatu pesan atau stimuli itu bisa dimengerti oleh pihak yang menjadi sasaran komunikasi. Sehingga pesan-pesan yang terkandung dalam perangko dapat disamakan dengan iklan, karena di dalamnya terkandung unsur persuasif, yaitu demi peningkatan permintaan suatu barang atau jasa yang ditawarkan oleh pihak produsen, dalam hal ini pemerintah.

Tahun 1985, ketika mengadakan studi komparasi di Perum Pos dan Giro Bandung, Kepala Humas pada waktu itu menjawab pertanyaan penulis sehubungan dengan alasan penerbitan perangko suatu negara, adalah :

• Untuk keperluan pengeposan
• Sebagai bahan propaganda, kampanye atau iklan yang berkaitan dengan adanya peristiwa nasional, misalnya MTQ, Pemilihan Umum, dan Keluarga Berencana
• Untuk menunjukkan adanya kedaulatan negara (perangko di masa revolusi)
• Sebagai latar belakang pandangan politik suatu negara (perangko perjuangan PLO)
• Meningkatkan pendapatan dengan penjualan kepada filatelis

Sejarah Perangko

"Perangko" berasal dari kata "Franko" yang diperkirakan berasal dari nama seorang Italia, yaitu Francesco de Tassis, dari keluarga Thurn and Taxis (Mengenai Filateli oleh Richard Yani Susilo, hal. 23). Pada waktu itu, dia membuat suatu sistem pengantaran pos di Eropa, dengan rute pengantaran pos itu hanya terbatas di kalangan raja atau bangsawan. Sistem ini untuk pertama kali dilakukan pada tanggal 18 Januari 1505.

Berbagai cara dilakukan untuk mengantarkan surat pada waktu itu, antara lain dengan mempergunakan merpati pos. Bahkan pernah menggunakan kerbau berkereta, sedangkan di Rusia pernah mempergunakan onta, anjing, dan rusa. Dibandingkan dengan saat ini, cara pengiriman maupun sistem pembayarannya lain sekali. Pada saat itu, si penerima suratlah yang harus membayar ongkos kirimnya, kini kebalikannya, si pengirim surat yang harus membayarnya.

Hati seseorang bisa menjadi sedih jika menerima surat, karena pada saat itu tidak mempunyai uang sebagai ongkos penggantinya. Apalagi jika surat tersebut berisi hal-hal yang penting. Bandingkan sekarang, orang kaya atau miskin tidak menjadi soal, bahkan akan kelihatan gembira bila menerima surat, walaupun kantongnya kosong saat itu.

Ide munculnya perangko berasal dari Sir Rowland Hill, anak seorang guru, lahir pada tanggal 3 Desember 1795. Mengapa ide ini muncul ? Karena terjadi penyalahgunaan jasa, setelah melihat kisah cinta sepasang remaja di Inggris. Tempat tinggal kedua remaja tadi berjauhan. Suatu ketika, kedua remaja tadi bersepakat membuat tanda-tanda tertentu yang hanya diketahui mereka berdua. Kemudian, mereka berulang kali mengirimkan surat tanpa mau membayar. Bagaimana hal ini bisa terjadi ?

Ternyata, si pemuda menulis surat tadi dengan tanda-tanda yang hanya mereka ketahui. Setelah surat sampai di tangan pemudi, dikatakan pada si pengantar, bahwa dia tak mengetahui siapa pengirim surat tersebut. Tentu saja, sebelum dikatakannya, ia membaca terlebih dahulu tanda-tanda yang tertera di amplop surat. Dengan demikian, si pemudi terbebas dari bea pos, karena surat dikembalikan lagi.

Post Office Reform, Its Importance and Practicability

Oleh Sir Rowland Hill, kejadian yang merugikan pihak pos tersebut cepat diketahuinya, yang kemudian mengajukan tulisan di atas. Isinya sekedar pembaharuan sistem pos yang ada, yaitu tarif pos yang sama untuk seluruh bagian Inggris sampai dengan kiriman surat yang beratnya setengah ons. Perangko selama ini dianggap sebagai suatu benda pos belaka. Padahal, di dalamnya mengandung suatu pesan khusus, yang apabila dilihat dari segi komunikasi mempunyai nilai yang tak kecil artinya. Secara resmi, perangko dikeluarkan oleh Dinas Jawatan Pos Inggris pada tahun 1840, atas usul Sir Rowland Hill.

Di Indonesia sendiri, perangko untuk pertama kalinya diperkenalkan pada 1 April 1864, bergambar Raja Willem III. Dalam perkembangannya, kini pemanfaatannya tidak hanya sekedar sebagai ongkos kirim surat, melainkan secara intensif dan sistematik perangko dipergunakan untuk menyatakan sesuatu atau guna membawa suatu message (pesan atau amanat) yang lebih luas lagi. Yakni dapat dipergunakan sebagai sumber (sources) informasi dalam arti yang seluas luasnya.

Apalagi setelah terbentuknya UPU (Universal Postale Union) pada tahun 1874, daerah edar serta pemakaian perangko lebih luas lagi. Ditambah dengan munculnya gejala semakin banyaknya peminat untuk mengumpulkan benda-benda filateli pada akhir abad ke-19. Daya tarik perangko sebagai benda koleksi semakin besar, terutama karena semakin bervariasi bentuk dan desain perangko perangko dunia. Tidak seperti perangko pada masa-masa awal kelahirannya, yang hanya melukiskan gambar lambang atau kepala negara, dan angka-angka.

Seperti halnya lukisan, ilustrasi, poster, reklame, atau karikatur, perangko pun merupakan pengejawantahan dari picture of things (benda bergambar) pada umumnya. Sebagai bagian dari "visual system of communication", dimana masing masing mempunyai ciri yang hampir sama. Melalui perangko, orang dapat mengetahui apa yang sedang terjadi di masa lampau maupun kini, baik peristiwa politik, kebudayaan, maupun peristiwa peristiwa lain.

Dari perangko, kita dapat belajar sejarah, kebudayaan, flora dan fauna, teknologi, dan banyak lagi. Di samping itu, mengumpulkan perangko berarti melatih kesabaran, ketekunan, ketelitian, kecermatan, dan mendorong orang kepada aktivitas atau kegiatan yang positif sifatnya (Filateli Selayang Pandang). Bahkan di negara Eropa, orang mengumpulkan perangko untuk belajar bahasa. Seperti yang dikemukakan oleh Anthony S. Mollica, "There are those rare teachers capable of compiling grammar outline for a language using the illustration solely the inscription on postage stamps from that country" (Teaching francophonie with postage, Richard E. Wood).

Selain itupun, perangko dapat dipergunakan sebagai media propaganda yang sangat ideal, karena pesan yang terkandung di dalamnya sangat bermanfaat. Charlos Stoetzer mengatakan, "The stamp itself is an ideal propaganda. It goes from hand to hand and town to town. It reaches the farthest corners and the provinces of countries of the world. It is symbol of the nation from which the stamp mailed, a vivid expression of that country's culture and civilization, and of ideas of ideals. By the use of symbol, slogans, pictures, even loaded words, it conveys its far and wide" (Charlos Stoetzer, Library of Conggress Catalog Card No. 53-5788).

Dan selanjutnya, Carl I. Hovland mengatakan, "Komunikasi adalah proses dimana seseorang memindahkan perangsang yang biasanya berupa kata-kata, untuk mengubah tingkah laku orang lain". Jadi, pengertian komunikasi di sini adalah suatu proses dimana seseorang atau kegiatan menyampaikan perangsang berupa pikiran, perasaan, harapan, dan pengalaman, yang mengandung makna kepada orang lain, dan biasanya menggunakan lambang lambang dalam bentuk bahasa.

Lambang yang paling banyak dipergunakan adalah bahasa, karena hanya bahasalah yang dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan, fakta dan opini, yang konkrit dan abstrak, pengalaman yang sudah lalu, dan kegiatan yang akan datang, dan sebagainya. Karena itu, dalam komunikasi, bahasa memegang peranan yang sangat penting. Tanpa penguasaan bahasa, hasil yang bagaimanapun baiknya tidak dapat dikomunikasikan kepada orang lain secara tepat. (Bersambung)

 
Dirgantara Online - Vol 10 No 5 Sep-Okt 2000
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space