Profil Stasiun
Sejarah Singkat Radio Melayu Republik Islam Iran
Pengantar : Salah satu radio siaran bahasa Melayu / Indonesia yang jarang didengarkan oleh para pendengar radio luar negeri adalah Radio Melayu Republik Islam Iran (IRIB). Di dalam kesempatan ini, Redaksi menyajikan profil stasiun radio yang bersangkutan seperti diceritakan Abdurrahman. Selamat membaca !! (HSB).
Awal Mula Siaran
Radio Melayu Suara Republik Islam Iran, mulai mengudara pada hari Sabtu tanggal 4 Maret 1995. Sesungguhnya, niat dan pembicaraan untuk mengadakan siaran yang dipancarkan ke Nusantara sudah muncul sejak beberapa tahun sebelumnya. Saya ingat benar, ketika itu tahun 1986-an, masa dimana saya tengah melewatkan pendidikan agama di salah satu pusat pendidikan (semacam pesantren di Indonesia) di kota Qom, yang berjarak sekitar 150 km sebelah selatan Teheran. Saat itulah terdengar rencana mengadakan siaran radio berbahasa Indonesia dari Teheran.
Akan tetapi, ternyata tidak ada tindak lanjut rencana tersebut. Dan tak ada siapa pun di antara kami yang saat itu berada di kota Qom yang mengetahui dengan pasti alasan tak berjalannya rencana itu. Yang jelas, pada tahun-tahun itu, keadaan Iran memang sedang gawat, karena adanya agresi Irak ke Iran. Dan pada tahun itu pulalah rudal-rudal scud Irak berhamburan menghujani kota-kota penting Iran, termasuk kota Qom. Inilah yang disebut Perang Kota kedua, selain Perang Perbatasan. Sedangkan Perang Kota pertama terjadi pada tahun sebelumnya, yaitu 1985, dengan masuknya pesawat pesawat tempur Irak ke kota-kota Iran.
Sampai saya kembali ke Indonesia di akhir tahun 1988 (saya berada di Iran sejak pertengahan tahun 1984). Tak berapa lama, kembali saya mendengar bahwa rencana siaran radio bahasa Indonesia dari Teheran, dihidupkan lagi. Bahkan beberapa teman sudah menjalani latihan. Namun, kembali rencana iu tenggelam, sampai tahun 1994, saya kembali ke kota Qom dalam rangka tur dan kunjungan singkat. Saat itulah, pembicaraan serius terjadi antara kami dengan beberapa pengurus IRIB yang datang dari Teheran ke Qom, menawarkan pengoperasian segera siaran radio ini.
Sejak awalnya hanya teman-teman dari Indonesia yang terlibat pembicaraan masalah ini. Akan tetapi, pada pertemuan terakhir itu, saudara-saudara kita dari Malaysia pun dilibatkan. Nah, memandang keterlibatan mereka itulah, maka akhirnya radio kami ini kami bernama "Radio Melayu". Apa lagi karena memang sasaran yang dituju adalah bangsa Melayu yang menyebar di Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Pilipina Selatan, dan Thailand Selatan.
Tenaga Penyiar dari Indonesia
Radio Melayu Suara RII dibuka dengan 5 tenaga (lima orang), yang semua mereka itu adalah pelajar Indonesia dan Malaysia yang selama itu tengah menuntut ilmu-ilmu agama di kota Qom, yang memang merupakan kota pelajar dan pusat ilmu-ilmu agama di Iran. Di antara lima orang ini, empat dari Indonesia, termasuk saya sendiri, dan seorang dari Malaysia. Tak lama kemudian datang lagi seorang dari Malaysia, dan beberapa lagi dari Indonesia. Jumlah anggota dan kru Radio Melayu kita ini pernah mencapai sepuluh orang.
Namun terjadi pergantian orang, dan ada pula yang kembali ke kampung halaman. Saat ini, di Radio Melayu terdapat tujuh orang petugas, enam dari Indonesia dan seorang perempuan dari Malaysia.
Nama para penyiar yang saat ini bertugas di radio Melayu ialah Faruk Ali, Muhammad Khatib, Musa Muzawir, Nano Warno, Hadi Hidayat, Nuraini Abdullah, Abdurrahman.
Frekuensi yang Dipergunakan
Pada mulanya, Radio Melayu mengudara selama setengah jam. Kemudian meningkat menjadi satu jam, mulai pukul 19.30 sampai 20.30 WIB. Saat ini siaran radio kami dapat ditangkap lewat 4 frekuensi. Frekuensi frekuensi tersebut ialah 17715 pada 16 meter, 17555 pada 16 meter, 15585 pada 19 meter, dan 15200 pada 19 meter.
Mata Acara yang Disiarkan
Adapun acara-acara utama Radio Melayu ialah : Warta Berita, Analisis Politik, dan acara-acara mingguan. Warta berita dan analisis politik tentu saja mengudara setiap hari. Sedangkan acara mingguan kami yang ada saat ini ialah : Sabtu : "Tafsir Al-Quran", dan "Pelajaran Bahasa Persia". Ahad : "Kisah dan Bimbingan", dan "Dunia Kitab". Senin : "Panorama Budaya Iran" dan "Krisis Makanan di Dunia". Selasa : "Iran Selayang Pandang", dan "Pelajaran Bahasa Persia" (ulangan). Rabu : "Arena Silaturrahmi", dan "Iran Dalam Gelanggang Sejarah".
Kamis: "Nuansa Iman", "Syair dan Pemikiran". Jumat: "Seiring Bersama Mentari" dan "Bunga Rampai Malam Sabtu".
Selain acara-acara mingguan yang tetap (untuk masa tertentu), sebagaimana di atas, di Radio Melayu juga terdapat acara-acara khusus. Seperti hari-hari besar agama dan nasional, yang jika bertepatan dengan hari Sabtu, umpamanya, maka acara khusus ini akan menggantikan salah satu acara mingguan hari itu. Demikian juga jika terjadi peristiwa besar yang patut mendapat sorotan khusus.
Keluarga Berencana, Wawancara, dan Cuaca Buruk
Pengantar : Dalam edisi tahun lalu, Rudiger Siebert, Kepala Seksi Indonesia Deutsche Welle, dalam wawancara dengan Redaksi, menyinggung adanya kerjasama dengan radio di Indonesia. Berikut tulisannya yang dimuat dalam Majalah Scala.
Suara Jerman Deutsche Welle tidak hanya menyiarkan program program radio dan televisi ke seluruh dunia, tetapi Deutsche Welle juga bekerja sama dengan banyak stasiun radio dan televisi di seluruh dunia. Produksi bersama internasional yang mengerjakan feature untuk radio sudah merupakan tradisi siaran siaran luar negeri Jerman, yang berpusat di Koln dan Berlin. Dalam hal itu, beberapa produksi siaran bersama yang tema temanya relevan dengan kebijakan kebijakan pembangunan diproduksi di negara negara bersangkutan. Kementerian Kerja Sama Ekonomi & Pembangunan Jerman bersama dengan Kementerian Luar Negeri Jerman dan Kementerian Dalam Negeri Jerman mendukung dan mensponsori prakarsa Deutsche Welle.
"Ilmu Pengetahuan untuk Kemanusiaan", begitu kira-kira arti judul produksi bersama internasional pertama yang diproduksi bersama oleh Deutsche Welle dan Voice of Kenya di Nairobi, dalam bahasa Kisuaheli pada tahun 1979. Sejak saat itu, telah dibuat sekitar 250 produksi bersama dengan stasiun stasiun radio di lebih dari 80 negara di Afrika, Asia, Amerika Latin, Eropa Timur, dalam bahasa Inggris, Spanyol, Portugis, Jerman, Perancis, Arab, dan tentu saja, dalam bahasa Indonesia.
Produksi bersama yang terbaru yang dikerjakan di Indonesia mengambil tema "Keluarga Berencana" (KB). Bagi Indonesia yang berpenduduk lebih dari 205 juta jiwa, Keluarga Berencana merupakan suatu tema yang sangat penting. Untuk seri produksi bersama ini, Deutsche Welle mengundang 15 stasiun radio dari Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Dan dari Indonesia diundang stasiun Radio Swasta Mara dari Bandung.
Radio Mara menyiarkan program programnya, yang mencakup wilayah seluas sekitar 60 kilometer persegi, dengan penduduk hampir tiga juta jiwa. Radio Mara mengudara pada gelombang FM. Berbeda dengan banyak stasiun radio swasta lain, yang kebanyakan menyiarkan program program hiburan, Radio Mara sangat peduli dengan politik, dan bersikap kritis. Bahkan juga ketika masa sulit semasa rezim Soeharto. Program Indonesia Deutsche Welle telah lama menjalin kerja sama dengan stasiun radio ini, yaitu dengan para wartawannya dan para penyiarnya.
Program Keluarga Berencana serta pembinaan, dana, dan pengelolaannya oleh negara dan instansi instansi terkait, juga termasuk masalah masalah umum yang harus diatasi Indonesia dalam menuju demokratisasi yang tidak mudah. Feature yang diproduksi bersama dengan Radio Mara membahas permasalahan tersebut, dengan memilih judul "Family Planning in Crisis -- Lessons from Indonesia" (Keluarga Berencana di Saat Krisis -- Pelajaran dari Indonesia).
Sebagai contoh permasalahan, digambarkan satu keluarga miskin yang mempunyai banyak anak di Bandung. Nasib dan situasi kehidupan seperti keluarga ini menampakkan dimensi kemanusiaan. Orang tua dan salah seorang anak perempuannya mendapat kesempatan berbicara. Dengan latar belakang suara asli di tempat kejadian, pernyataan pernyataan, dan dialog dialog, "keluarga percontohan" ini ditampilkan dalam program siaran ini. Sebagai latar belakang, dilaporkan bahwa program Keluarga Berencana di Indonesia merupakan konsep kebijakan di tahun 70-an dan 80-an, yang sangat dianjurkan secara nasional. Indonesia mendapat pujian internasional sebagai negara yang berhasil mengembangkan contoh program Keluarga Berencana yang dianjurkan oleh pemerintah.
Dalam berbagai wawancara dengan berbagai pihak, seperti para ahli dari instansi yang terkait, para ahli masalah kependudukan, maupun dengan para dokter dan wakil wakil lembaga swadaya masyarakat yang dimasukkan dalam siaran tersebut, banyak diutarakan kritik tajam terhadap anjuran pemerintah tersebut. Konsep tersebut dinilai sama halnya seperti struktur instruksi pemerintahan yang datang dari atas ke bawah. Berorientasi kepada angka statistik, tapi tidak berorientasi kepada nasib masing masing orang.
Kurangnya penyuluhan dan pelayanan kesehatan masih tetap merupakan masalah utama. Sejak terjadinya krisis ekonomi yang berkelanjutan hingga saat ini, semakin banyak orang yang menjadi miskin, yang mengakibatkan semakin banyak orang yang tidak sanggup lagi membeli alat kontrasepsi. Para ahli mengkhawatirkan akan adanya ledakan kelahiran (baby-boom). Pandangan kritis ini mewarnai pernyataan pernyataan dalam feature radio ini. Perubahan situasi politik dalam negeri Indonesia pada akhir tahun 1999, ketika feature ini diproduksi, memudahkan pemilihan orang orang yang akan diwawancarai. Situasi pada awal kebebasan pers saat itu, berbeda dengan situasi dalam tahun-tahun sebelumnya yang represif, membuat orang berani bersuara kritis.
Untuk memasukkan cara hidup pedesaan secara kontras ke dalam program siaran ini, dilakukan beberapa hari studi lapangan ke desa-desa pantai utara Jawa. Produksi bersama ini berhasil memproduksi satu feature berbahasa Inggris, yang berdurasi 30 menit, serta satu serial dalam bahasa Indonesia, yang terdiri dari enam bagian, yang berdurasi masing masing tujuh hingga delapan menit. Versi bahasa Inggris disiarkan oleh Deutsche Welle maupun oleh stasiun stasiun radio negara lain yang bekerja sama dengan Deutsche Welle. Program tersebut juga ditawarkan kepada stasiun stasiun radio lain di seluruh dunia untuk digunakan dalam program siarannya. (Bersambung)