DirgaNet
Perkembangan Situs IDXC : Situs WAP IDXC
Perkembangan teknologi komputer yang sangat pesat pada beberapa tahun terakhir ini telah semakin mempermudah komunikasi, terutama setelah dikembangkannya konsep jaringan Internet. Saat ini pun jaringan komputer dunia tersebut semakin melebarkan sayapnya dengan diperkenalkannya teknologi "WAP". WAP merupakan kependekan dari istilah Wireless Application Protocol, yang secara sederhana dapat didefinisikan sebagai sebuah protokol aplikasi jaringan Internet tanpa kabel (wireless), yang digunakan pada telepon selular / telepon genggam.
Apabila aplikasi protokol jaringan Internet pada umumnya melalui saluran kabel -- seperti kabel telepon -- maka dengan teknologi WAP ini, seorang pemakai jaringan Internet tidak perlu terhubungkan pada jaringan kabel telepon, namun ia dapat menggunakan telepon genggamnya sebagai sarana penghubung antara dirinya dan jaringan Internet.
Menyadari pentingnya peran WAP di masa mendatang, maka pengurus berinisiatif membangun situs WAP IDXC, selain situs Web yang selama ini telah beroperasi di Internet. Situs WAP IDXC, sebagaimana situs World Wide Web-nya, pengurus tempatkan di situs gratisan, yaitu di Tagtag.Com dengan alamat URL-nya di : http://tagtag.com/idxc. Dan seperti halnya situs Web IDXC, situs WAP klub kita ini pun bisa diakses lewat fasilitas Come.To dengan alamatnya : http://come.to/idxc.
Bila alamat http://come.to/idxc tersebut Anda ketikkan di handphone, maka Anda akan dibawa ke situs WAP IDXC di Tagtag.Com, sedangkan bila alamat itu diketikkan pada layar komputer, maka Anda akan dibawa ke situs Web IDXC yang selama dua tahun ini telah online di GeoCities.Com.
Saat ini, informasi yang pengurus muat pada Situs WAP IDXC baru mencakup informasi singkat mengenai keberadaan IDXC dan alamat situs Web klub kita ini di jaringan World Wide Web. Mudah-mudahan pada waktu-waktu mendatang dapat lebih banyak data yang pengurus muat pada situs WAP IDXC. Kami selalu nantikan kunjungan Anda, baik ke situs Web maupun situs WAP IDXC melalui handphone Anda !! (AIG)
Berita dari Internet : Internet Gratis, Mungkinkah ?
Dotcom, trend munculnya ISP-ISP (Internet Service Provider : perusahaan penyedia layanan sambungan ke jaringan Internet, ed.) gratis di berbagai belahan dunia, mengundang pertanyaan apakah benar model bisnis seperti itu bisa dijalankan di sini, di Indonesia ? Pertanyaan tersebut muncul bukan tanpa alasan yang kuat. Berbagai ISP gratis yang ada di beberapa negara menunjukkan pendekatan model bisnis yang berbeda-beda.
Di Inggris misalnya, raksasa retail Dixon Group memberi akses Internet gratis untuk mendorong pertumbuhan bisnis e-commerce yang dijalankan. Diluncurkan di bulan September 1998 dengan nama Freeserve, mereka berhasil meraup 450.000 pelanggan dalam dua bulan. Model bisnis ini bertujuan memperoleh customer base yang sebanyak-banyaknya, sehingga mendorong pemasangan iklan dan penjualan e-commerce pada grup retail milik Dixon. Intinya Internet gratis sebagai media pemasaran belaka.
Model serupa juga dilakukan di Perancis oleh Libertysurf, sebuah ISP gratis milik grup konglomerat Arnaud. Kingfisher PLC, perusahaan retail Eropa yang berbasis di London, juga menjual layanan serupa. Di Inggris sendiri, Dixon menghadapi saingan dari sesama bisnis retail, Tesco. Model lainnya adalah bagi hasil pendapatan pulsa antara operator telekomunikasi dengan ISP. Beberapa yang melakukannya adalah Telinco di Inggris dan World Online France di Perancis.
Pendekatan semacam ini dapat dilakukan, dimana ada sejumlah operator telekomunikasi yang beroperasi. Pasar yang tidak monopolistik, adanya pembagian pendapatan dari biaya interkoneksi antar jaringan, memberikan peluang untuk itu. Selain itu, operator telekomunikasi cenderung mendorong utilisasi jaringan secara maksimal, sehingga bersedia bekerja sama dengan ISP gratis tersebut.
Model bagi hasil tersebut banyak tumbuh di Inggris, dimana ISP gratis bekerja sama dengan operator telekomunikasi lokal berbagi pendapatan dari hak 2.5 pence dari British Telecom. Model ini bisa juga bisa berlaku di Jerman dan Belgia dimana biaya terminasi (ke operator lokal cukup tinggi). Sebaliknya di Perancis sulit dilakukan karena kecilnya hak para operator lokal tersebut.
Ada pula model gabungan, seperti dilakukan salah satu divisi perusahaan jasa keuangan Prudential di London, Inggris. Mereka menawarkan akses Internet gratis untuk menarik pelanggan baru dan memberikan fasilitas home banking buat mereka. Model gabungan lain dilakukan oleh screaming.net, yang bahkan menawarkan biaya telepon gratis pada jam-jam tidak sibuk untuk mereka yang pelanggan operator telepon lokal Localtel, Ltd.
Di Indonesia, LinkNet secara resmi mengukuhkan rumor yang selama ini beredar. Mereka menggratiskan biaya akses Internetnya. Tampaknya mereka akan meniru gaya Dixon, mengingat mereka memiliki Matahari sebagai andalan di bisnis retail. Sebelum itu, Web8888 menawarkan akses murah, dengan menawarkan Rp 88.888 per-bulan untuk akses unlimited (tidak terbatas).
Jika kita melihat ke daftar domain net.id yang sudah disetujui, ada beberapa nama yang berbau-bau gratis. Tampaknya sebentar lagi pilihan gratis akan makin banyak. (penulis : Haemiwan Z. Fathony / sumber : detik.com / AIG)
Siaran Televisi dan Radio di Internet
Mengikuti siaran radio dan televisi merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi sebagian orang. Bagi sebagian yang lain, radio dan televisi merupakan kegiatan profesional yang ditekuni secara serius. Mari kita melihat secara santai kondisi siaran televisi dan Radio di Internet saat ini. Berawal dari usaha pioneering yang dilakukan oleh rekan-rekan dari RealNetworks April 1995, saat ini di Internet ada 1700 lebih stasiun siaran televisi dan radio dengan pemirsa atau pendengar sekitar 60 juta orang !!
Dengan sekitar 400.000 situs Web yang mengirimkan siaran stream. Total, ada sekitar 8500 list atau URL yang dapat di-search (dicari) di RealGuide, RealAudio, dan RealVideo, yang juga merupakan pilihan bagi CNN, ABC, dan Bloomberg. Delapan puluh lima persen dari teknologi yang mendasari ini semua adalah RealAudio dan RealVideo. Perangkat lunak bagi pemirsa dan pendengarnya dapat diperoleh secara cuma-cuma dari Real Network di : http://www.real.com.
Para pendengar dan pemirsa melalui Internet dengan kecepatan akses sekitar 28.8 Kbps (Kilobyte per second) kemungkinan dapat menikmati suatu siaran audio dengan kecepatan audio sebesar 20 Kbps, jika tidak ada kemacetan di jaringan. Dengan demikian, banyaknya pilihan stasiun radio di Internet, termasuk beberapa stasiun radio dan televisi siaran di Indonesia, juga telah melakukan siaran di Internet maka siaran radio di Internet pun menjadi semakin marak.
Bagaimana bentuk teknologinya ? Versi sederhana bagi para pemula atau pencoba dari perangkat lunak yang dibutuhkan, yang dapat diambil secara cuma-cuma di RealNetworks di : http://www.real.com. Terus terang, kami di ITB juga sedang melakukan uji coba hal ini, terutama mengonversikan koleksi-koleksi tape suara yang ada di Perpustakaan Pusat ITB menjadi streaming audio di Perpustakaan Digital ITB, yang dipimpin oleh Ir. Ismail Fahmi.
Skema umum dari teknologi RealNetwork secara umum dapat dibagi dalam tiga bagian besar, pada proses : a) Build RealMedia (proses pembuatan) - b) Serve RealMedia (pada sisi server), dan - c) Play RealMedia (pada sisi client / pemakai). Beberapa features utama teknologi RealNetworks yang ada pada RealSystem G2 dapat diterangkan sebagai berikut :
SureStream : Kemampuan secara otomatis mengatur kecepatan pengiriman data, yang diadaptasi dengan kondisi jaringannya. Kemampuan ini tetap terjamin dengan baik hingga kecepatan Mbps (Megabyte per second).
Infrastructure Software : Untuk menjamin kualitas maka dikembangkan perangkat lunak untuk meredistribusi siaran-siaran RealNetwork ini melalui mekanisme relay (atau dikenal dengan splitter). Dengan proses redistribusi melalui splitter, maka akan menghemat bandwidth dari infrastruktur Internet yang ada.
Advanced Codecs : Mekanisme pengiriman data stream mempergunakan proses digitalisasi Codecs yang dimodifikasi, untuk dapat mengadaptasi kecepatan pengiriman data yang berubah-ubah, karena kondisi kepadatan jaringan Internet.
Standard-based layout : Menggunakan SMIL bagi stream media yang distandarisasi oleh Konsorsium Web (World Wide Web Consortium atau W3C). Hal ini memungkinkan untuk mengirimkan audio, video, dan teks, yang harus disinkronkan terhadap waktu.
Standard-based transport : Menggunakan protokol RSTP yang telah distandarsisasikan oleh satgas teknologi Internet IETF di dalam proses pengiriman stream media secara terkontrol melalui berbagai media.
Cross platform support : Perangkat lunak yang ada yang dikembangkan untuk berbagai platform, baik UNIX, Windows, SunOS, Linux, maupun platform lainnya.
Bagi rekan-rekan yang ingin mencoba, dapat dengan mudah melakukan hal tersebut. Perangkat lunak untuk merekam dan mempublikasikannya tersedia secara cuma-cuma dari : http://www.real.com. Peralatan PC multimedia yang umum kita miliki cukup untuk memproduksi stream file dari suara yang dimasukkan melalui mic SoundCard komputer. Beberapa provider juga menyediakan tempat untuk publikasinya secara cuma-cuma. Mengenai hal ini dapat dicari di : http://www.real.com. (Penulis : Onno W. Purbo -- Pengamat T.I. dan Pakar Internet ITB / Sumber : detik.com / AIG)
Ketika Jurnalistik Semakin Merasuki Radio-radio
Jurnalistik di radio tampaknya masih dirasakan kalangan pengusaha radio swasta di tanah air terlalu memakan biaya besar. Karena itu, tak heran bila hanya segeleintir kalangan yang berani terjun ke bidang ini. Tetapi, radio-radio swasta yang telah mengandalkan jurnalistik sebagai produk jualnya, hingga kini masih terus bertahan. Bahkan, di Jakarta ada radio yang berani memformatkan diri sebagai radio berita dan bercita-cita mempunyai 100 orang reporter.
"Saya memilih format radio berita, karena tahu pasarnya," ujar Nor Pud Binarto, Direktur Jakarta News FM (JNF), radio yang tergolong sangat berani terjun di bidang yang kering tersebut. Menurut lulusan Hubungan Internasional, Universitas Parahyangan Bandung -- yang mengaku sudah malang melintang di dunia radio siaran selama tujuh belas tahun, mulai dari penyiar sampai jadi direktur seperti sekarang, para pendengar program-program berita radio merupakan khalayak yang dapat menjadi target pemasaran bernilai tinggi.
"Semakin berani program berita suatu radio, pasarnya justru semakin tajam," katanya. Tak heranlah kalau ia memasang tarif Rp 185.000 untuk per 30 detik iklan di radionya. Ia mencontohkan program-program berita yang sempat dibidaninya dari beberapa radio di Jakarta. Misalnya Jakarta’s Round Up Radio Trijaya, acara talk show yang pada akhirnya dibredel. "Pemasang iklan untuk acara ini harus antri selama enam bulan sebelumnya," cerita Nor Pud.
Sentuhan jurnalistik radio untuk RRI Pro 2 FM, Jakarta, menurutnya juga menjadi kekuatan jual radio tersebut. Di RRI Pro 2 FM, Nor Pud sempat berkiprah sebagai program director pada 1995. "Awalnya radio itu tak punya pendengar, penghasilannya cuma Rp 13 juta per bulan. Tetapi, setelah saya ubah, penghasilannya bisa Rp 250 juta per bulan, dan sekarang ini stabil sekitar Rp 400 juta per bulan," katanya. Diungkapkan Nor Pud, keberanian menembus kebekuan jurnalistik radio itu didorong oleh prinsip memperlakukan khalayak radionya sebagai komunitas intelektual, bukan sebagai lahan mencari uang.
"Saya berpendapat radio harus menjadi entitas yang memberi pencerahan, baik bagi penyiar, pelaku media, maupun masyarakat," jelas Nor Pud yang sempat belajar sinematografi di Jerman, selama tiga tahun ini. Tentang JNF sendiri, diakui oleh Nor Pud, masih merupakan proyek coba-coba. JNF merupakan radio hasil ambil-alih manajemen dari Radio Safari. "Awalnya Radio Safari adalah radio tak punya modal. Tahun 1998 saya bersama-sama teman tapol Orde Baru menjadikan radio ini seperti radio berita. Saya mengajak Ahmad Taufik, Tri Agus, Fadjrul, dan Andi Syahputra bersiaran," tutur Nor Pud.
Saking kerasnya acara talk show mereka, Radio Safari menurut Nor Pud sempat masuk majalah Far Eastern Economic Review (FEER) sebagai Radio Reformasi. Namun karena persoalan dana, kesalahan manajemen, ditambah hantaman krisis moneter, radio ini akhirnya collaps. Namun, menciptakan radio dengan format berita itu rupanya terus menjadi obsesi. Bekerjasama dengan Rizal Ramli, Direktur Econit, serta sosiolog Arief Budiman, Nor Pud dan rekan-rekan aktivisnya mengajukan proposal kepada beberapa LSM dan Yayasan di Australia untuk mendirikan JNF, yang akhirnya mengudara pada jalur FM 97,4 sejak September 1999.
Biaya untuk men-take over Radio Safari, menurut Nor Pud hanya sebesar Rp 500 juta. Selama delapan bulan pertama, JNF mengudara selama 24 jam setiap harinya, program-program acaranya sepenuhnya berita. Mulai dari laporan langsung reporter di lapangan, wawancara, hingga pembacaan petikan petikan berita dari sumber lain. Tetapi, setelah kita evaluasi masa siaran dari jam tiga hingga lima pagi itu tidak efektif. Sehingga, dua bulan terakhir ini kami hanya mengudara mulai dari jam lima pagi sampai tiga pagi esok harinya," jelas Nor Pud.
"Selain itu, format radio beritanya mulai diselingi dengan lagu-lagu atau musik easy listening yang porsinya tak lebih dari sepuluh persen. Format berita total seperti CNN itu ternyata di market-nya sulit diterima. Karena pendengar radio kita dinilai belum memiliki radio habit, mencari berita, sehingga rating pendengar sulit kita tembus," tutur Nor Pud. Sebagai pengelola radio berita, Nor Pud mengaku pihaknya memang masih belajar. Seperti halnya pendengar pun harus belajar terbiasa mendengarkan radio berita. Dari sisi bisnis, dikatakan pria yang juga pernah menjadi penyiar Radio Prambors ini, JNF belum memberikan keuntungan.
Ia menyatakan setiap bulan radionya harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 70 juta untuk menggaji 30 orang karyawan. "Yang jelas gajian itu tidak pernah telat dibayar. Fasilitas radio kami tidak bagus, tapi juga tidak jelek. Pokoknya tidak bikin repot orang," katanya. Menurutnya, JNF juga masuk sepuluh besar radio yang terbanyak pendengarnya di Jakarta. Keadaan ini dikatakan Nor Pud lumayan, mengingat usia JNF baru sepuluh bulan. Uniknya, selama ini JNF tak memiliki staf marketing.
Karena itulah, nyaris tanpa ada iklan JNF dapat terus bertahan. Sumber dana yang sebenarnya bisa juga disebut iklan, menurut Nor Pud selama ini didapat dari kalangan LSM. "Tapi, ke depan, yakinlah iklan di radio saya tidak terlalu buruk," katanya. Dia mengungkapkan kesalahan banyak radio di tanah air adalah memaksakan mengandalkan marketing intern-nya. Sementara, ia kini mulai mengandalkan network pemasaran pihak luar dengan bantuan teman-teman dekat.
"Saya tidak mau pusing mengurusi marketing," ujarnya. Sedikitnya kalangan radio swasta yang terjun langsung ke lapangan jurnalistik, diakui menemui kendala pendanaan. "Membuat berita radio yang baik itu sangat mahal. Pendengar sebenarnya lebih suka mendengar laporan yang fresh, langsung dari reporter di lapangan, tidak suka berita yang hasil kutip sana sini," jelas Nor Pud.
Kantor Berita Radio
Jalan keluar dari kesulitan ini antara lain adalah dengan kantor berita radio. Kantor berita radio 68H yang berkantor di Jl Utan Kayu, Rawamangun Jakarta boleh jadi merupakan kantor berita radio swasta pertama yang mampu merelay beritanya ke seluruh radio di tanah air dengan bantuan satelit. Menurut Direktur Kantor Berita Radio 68H, Santoso, radio-radio swasta, terutama di daerah, sangat antusias merespons kehadiran mereka. Dalam tempo singkat, ada 63 radio di seluruh tanah air, yang memakai produk 68H lewat satelit.
Sedangkan yang men-download-nya lewat situs http://www.radio68h.com ada sekitar 80 radio. Maka keseluruhan pemakai program 68H sekitar 140 radio. "Khusus untuk jaringan satelit, akan terus meningkat, diperkirakan mencapai 100 radio di Agustus depan," ungkap Santoso. Menurut Santoso dari segi bisnis, Radio 68H memang belum mendatangkan keuntungan. Diperkirakan setelah tiga tahun, baru BEP (Break Event Point)-nya dapat tercapai. Usia 68H sendiri sekarang baru sekitar satu tahun.
"Kantor berita ini, semula merupakan salah satu program di Institut Studi Arus Informasi (ISAI), yang dibantu pendanaannya oleh The Asia Foundation, Media Development Loan Fund, dan sebagian dari Kedutaan Belanda. Tetapi, sejak Januari 2000, pengelolaan program ini beralih ke PT, sejalan dengan orientasi bisnis yang mulai dikembangkan di dalamnya," jelas Santoso. Soal lain yang mengganjal kiprah radio swasta di bidang jurnalistik sebenarnya merupakan persoalan klasik, yaitu keterbatasan sumber daya manusia.
"Soal SDM ini paling bikin saya pusing. Mencari SDM yang baik untuk siaran berita dan menjadi reporter radio sangat susah," keluh Nor Pud. Namun kesulitan tersebut bukan berarti membuat profesionalisme menjadi terabaikan. Santoso berpendapat bahwa profesionalisme menjadi kunci kepercayaan pendengar dalam jangka panjang. Karena itu, tim 68H selalu meningkatkan kemampuan SDM, melalui in house training dan pelatihan di lain tempat.
"Memang kami masih baru di bidang jurnalistik radio, tetapi banyak diantara awak 68H sudah lama menjadi jurnalis. Kami mengerti betul pentingnya kemerdekaan pers, dan hak masyarakat untuk memperoleh informasi. Dan, orientasi itulah yang membimbing kami mengembangkan jurnalisme radio. Saat ini jajaran redaksi ditopang oleh sekitar 20 jurnalis," jelas Santoso. (Penulis : Asih Nurhayati / Sumber : www.satunet.com -- Sabtu, 1 Juli 2000 / ABS / AIG)