Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 10 No 4 Jul-Agu 2000
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
DirgaNet
Aktif
Laporan Berita
Antena
Citizen Band
Review Top 50
Redaksi

Volume 10
  Laporan Berita
Laporan Temu Pendengar Djokdja 2000
Lama Tak Bertemu, Djokdja 2000 Luber

Begitu kira-kira yang bisa digambarkan dari Temu Pendengar Djokdja 2000 yang berlangsung selama dua hari, 8-9 Juli 2000. Meskipun masih banyak kekurangan disana-sini, secara keseluruhan Djokdja 2000 sudah terselenggarakan dengan baik. Begitu kesan dari beberapa peserta sebelum berpisah. "Pertemuan ini memang lain daripada yang lain", ujar Ketua Panitia saat diwawancarai jarak jauh oleh Radio Jepang NHK World. Peserta yang hadir cukup representatif, dalam artian hampir semua wilayah terwakili kehadirannya.

Di samping itu, Djokdja 2000 juga mampu mennghadirkan beberapa wakil klub pendengar dari Indonesia dan manca negara, seperti Cumbre DX, Mapem Club, dan Always Group. Jum'at pagi, beberapa peserta sudah mendahului panitia, hadir di lokasi. Tercatat beberapa rekan dari Sulawesi yang hadir tanggal 7 Juli 2000. Memang, lokasi pertemuan yang di luar kota menyebabkan adanya beberapa kendala. Bahkan pihak panitia sendiri juga mengalaminya. Tetapi berkat kesigapan panitia, kendala tersebut dapat teratasi. Sejumlah acara yang telah disusun panitia terpaksa harus digusur.

Ini mengingat sempitnya waktu yang ada. Jemmy Liwang, Wakil Ketua Panitia, yang sejak awal pertemuan paling sibuk, nampak sedikit kecewa. Karena kesibukan itulah dia tidak sempat ngobrol dengan peserta, lebih-lebih dengan beberapa tamu kehormatan. "Memang ini konsekuensi jadi Panitia," ujar Aries Subagyo, menanggapi keluhan beberapa rekan Panitia. Dr. K.R.M.T. Sonny S.IC., S.Ked., dengan topik "Komunikasi melalui Satelit" tampil sebagai pembicara pertama.

Sebagaimana kegiatan serupa beberapa tahun yang lalu, sesi ini memang kurang mendapatkan respon peserta. Hanya beberapa peserta saja yang nampak antusias mengikuti presentasi ini. Khususnya mereka yang sudah terjun di dalam dunia DX. Tercatat nama-nama seperti Kustiyono, Sugeng Santoso, dan Soekirno. Topik yang semula hanya sebatas "satelit" ternyata berkembang lebih jauh. Begitu menyinggung masalah propagasi, Ketua Indonesian DX Club, Aries Subagyo, mewakili anggota IDXC, meminta penjelasan dari pakar komunikasi tersebut.

"Sebagai pendengar siaran gelombang pendek, kami yang tergabung dalam Indonesian DX Club tak lepas dari yang namanya propagasi (sunspot). Untuk mudahnya, pertanda alam bagaimana yang baik untuk ber-DX ?" Karena bila memang tidak memungkinkan, meski berupaya sekuat mungkin rasanya percuma saya memutar gelombang radio. Jawabannya ? Ternyata sederhana saja, "Saat Subuh dan surup." Maksudnya saat dimana matahari akan terbit dan tenggelam. Nah, silahkan dicoba.

Satu hal yang memang ditunggu-tunggu peserta, sesi dialog. Tercatat ada 2 sesi dialog antara pendengar dan stasiun. Kesimpulan yang bisa diambil, ternyata para pendengar menganggap layanan surat masih menjadi ganjalan. Radio Singapura Internasional dan Suara Amerika (VOA) tak luput dari kejaran peserta. "Saya sudah dijanjikan hadiah, tapi sampai kini tak kunjung tiba" ujar Ellyzah dari Palembang, pendengar setia RSI.

"Katanya saya akan dikirimi kartupos bergambar kota New York, tapi itu hanya janji saja," ujar Halimatus Sa'diyah Jamiluddin, IDXCer peserta dari Banjarmasin yang kini tinggal di Sumedang. IDXCer yang hadir bersama suaminya, Jejen Jamiluddin, ini tetap belum puas meski sudah dijelaskan secara detail. Soeprapto, yang akrab dipanggil Mas Prapto, tak kalah lihai dalam menghadapi derasnya kritik. "Komunikasi yang baik ialah komunikasi yang bisa saling menghargai," ujar Mas Prapto.

Dengan sedikit banyak bercerita tentang surat-surat pendengar, Mas Prapto nampak taktis dalam mengantisipasi pertanyaan. Ini nampak ketika begitu sesi tanya jawab dibuka, salah seorang peserta mengajukan pendapatnya. Kebetulan topiknya mengena sekali. Meski belum memuaskan, tapi stasiun yang hadir sudah bisa menerima kritikan dan berusaha untuk memperbaiki. "Saran saran dan masukan dari Anda akan kami bawa ke sidang dalam pertemuan redaksi nanti" janji Mas Prapto.

Zaenab Rahim dan Budi Setiawan, wakil dari Radio Singapura Internasional (RSI) juga tak luput dari kritikan. "Dulu sewaktu RSI baru mulai siaran, surat-surat lancar. Tapi kini, setelah ada siaran bahasa Indonesia kok seret. Apa perlu dikembalikan ke seksi Melayu ?" tanya Erenst Meiki Rorong. Sama seperti VOA, RSI pun tak kalah sigapnya dalam berkilah. Dengan nada sedikit tinggi Budi Setiawan nampak kewalahan. "Dari Singapura surat surat lancar, tetapi nampaknya di Indonesia-lah yang tersendat-sendat."

Hanya Lilis Ariwaty yang nampak tenang, karena tak mendapat keluhan soal surat menyurat. Hanya soal kartu QSL yang jadi pertanyaan, seperti yang diajukan oleh arek Suroboyo, Sugeng Santoso. "Kami sekarang sudah menangani kartu verifikasi," ujar Lilis-san yang diiyakan beberapa peserta. Seru, dan terkesan ramai. Kalau Anda sempat menonton siaran langsung Sidang Paripurna DPR meng-interpelasi Gus Dur, kira-kira begitulah.

Sampai-sampai ada pertanyaan yang membuat nara sumber kebingungan. "Saya dengar RSI siaran bahasa Mandarin banyak menyiarkan kuis dengan hadiah seperti voucher dan sebagainya," ujar Soeparto dari Sumedang menanggapi minimnya hadiah kuis RSI siaran Bahasa Indonesia. Tentu saja Zaenab Rahim dan Budi Setiawan bingung. Untuk menetralkan suasana, Aries Subagyo pun ikut urun rembug, "Mungkin itu siaran dari Radio Corporation of Singapore." Ternyata memang benar adanya, karena RSI hanya siaran malam hari. Diluar itu adalah RCS.

Berbeda dengan kegiatan Temu Pendengar yang terdahulu, Panitia juga menyediakan waktu untuk beberapa klub pendengar rekanan IDXC untuk mempresentasikan keberadaannya. Namun hanya Cumbre DX yang melalui Nick Grace memanfaatkan kesempatan tersebut. Nick, begitu panggilan akrabnya, dengan bahasa Indonesia yang lancar menjadi bintang segala bintang tamu. Salah satu program Cumbre DX adalah pengadaan buku-buku keradioan seperti World Radio TV Handbook (WRTH), Passport to World Band Radio. "Mohon nanti Nick bisa merekomendasi permintaan dari anggota Indonesian DX Club," potong Aries Subagyo yang diamini Nick. Nah lho... kesempatan.

Terlepas dari banyak kekurangan disana-sini, Temu Pendengar Djokdja 2000 sukses terselenggara. Tercatat ada 68 peserta yang hadir. Jumlah yang melebihi kapasitas wisma yang hanya 40 tempat tidur. "Kami memang kesulitan, karena sampai tanggal 5 Juli baru sekitar 20-an peserta yang mendaftarkan diri" ujar Aries Subagyo. Tak kalah bingungnya rekan Agus Sutikno yang dibuat pontang-panting urusan kamar. Sayang sekali, karena bertepatan liburan sekolah dan Muktamar Muhammadiyah, beberapa peserta urung hadir karena tidak mendapatkan transportasi.

Tentu saja ini dukungan dari semua pihak, baik anggota simpatisan maupun sponsor (Radio Candi Sewu 98,8 MHz). Melalui laporan ini tak lupa pula Panitia mengucapkan banyak terima kasih pada Radio Candi Sewu Klaten, Radio Jepang NHK, Suara Amerika, Radio Singapura Internasional, Radio Australia, Radio New Zealand International, Radio Santec, Radio Taipei Internasional, Radio Veritas Asia, Radio Korea Internasional KBS, Radio Kuwait, Radio Canada Internasional, Wisma Gadjah Mada, Dr. K.R.M.T. Sonny S.IC., S.Ked., dan semua pihak yang telah membantu terselenggaranya kegiatan ini. Terima kasih dan sampai jumpa di Temu Pendengar IV 2002 di Jakarta. (ASB / JML / AST / ABS)

Serba-serbi TPD 2000

Dalam suasana cerah ceria TPD 2000, badan capek akan pupus, setelah bertemu teman-teman yang hanya dikenal namanya, tetapi wajahnya belum pernah dilihat. Atau pernah jumpa, namun lama tak bersua. Rasa rindu dan kangen mengalahkan segala kantuk, capek dan kumal setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh agar sampai di Kaliurang. Berbagai suka ceria sangat sayang dilewatkan begitu saja. Semoga segala kenangan menjadi perekat persahabatan dan persaudaraan.

Pawang Hujan

TPD 2000 kali ini didukung oleh cuaca yang amat bersahabat, walaupun dingin terasa menusuk tulang. Kaliurang terletak di lereng Merapi. Syukur ngga turun hujan. Selidik punya selidik, bukan panitia menyiapkan pawang hujan, melainkan kedatangan sohib lama yang merangkap pawang hujan, yaitu Cak Heri S. dari kota apel, Malang, yang datang ke Yogya dengan mengendarai roda dua. Tapi apakah Cak Heri benar-benar pawang hujan ? "Profesi saya bukan pawang hujan, hanya teman-teman biasa menyapa dengan sebutan Heri Dukun". Oalaah Cak, Cak, tak kira dukun santhet tenanan. Lha tampangnya mirip dukun tenanan !!

Pendengar Super

Acara permainan yang disiapkan panitia untuk menjaring pendengar super ternyata cukup menarik dan menantang peserta. Hampir semua peserta mengikutinya dengan antusias, cermat, dan seksama. Pemilihan pendengar super dimenangkan oleh Eddy Setiawan, Suryanto, dan Cak Nuryanto. Ketiganya layak mendapatkan bendera Amerika dan souvenir dari Suara Amerika, yang disampaikan oleh penyiar VOA, Mas Prapto. Semoga ketiga pendengar super ini menjadi manusia super, sehingga mampu menandingi negara super power Amerika.

Regu Tangguh

Wah !! Kali ini peserta begitu kompak dan cermat menyimak stasiun radio yang menjadi nama regunya. Ternyata kemampuan peserta masing masing regu untuk menjelaskan profil stasiun radio andalannya sangat bagus. Hasil perolehannya pun sama, 500 points. Dari hasil tanya jawab, regu yang memperoleh urutan pertama adalah Regu Radio Singapura Internasional, menyusul Suara Amerika, dan NHK.

Resepnya RSI menjadi regu tangguh kata Ibu Zaenab Rahim, Ketua Seksi Melayu RSI karena datang dengan dua penyiar, sedangkan Suara Amerika dan NHK masing masing hanya satu penyiar. Jadi, kalau mau menjadi regu yang tangguh, kirim penyiar sebanyak banyaknya di TP 2002 yang akan datang.

Tiga Puluh Jam Saja

Pendengar setia radio luar negeri yang dengan segala upaya hadir di TPD 2000 ini sudah akrab namanya, tampil dengan penuh semangat dan berapi-api saat acara perkenalan. Bahkan menceritakan bagaimana perjuangannya dari rumah tempat tinggalnya sampai di Kaliurang. Ibu Sophia Azis Taba menjelaskan waktu yang ditempuh dari Makassar ke Ujung Pandang 30 jam dengan kapal laut. Yang benar saja, Bu !! Bukankah hanya jalan di tempat, Bu ? Itulah akibat tampil penuh semangat. Keseleo lidah nggak terasa, yang penting peserta lain percaya, ya Bu ?

Bintang Temu Pendengar Djokdja 2000

Biasanya ajang seperti ini dimanfaatkan untuk saling melirik, baik cewek maupun cowok. Dari sekian cewek yang terkena lirik adalah mbak Lilis dari NHK. Mbak Lilis orangnya baik, ramah, selalu ceria, dan seperti sedang mendengarkan siaran langsung saja. Kalau cowok yang dilirik cewek sih sangat susah, sebab tidak ada cowok yang unggul sich !! Setelah dihom pimpa, ternyata yang keluar sebagai pemenang adalah Cak Aloysius dari Tuban. Keduanya menjadi bintang TPD kali ini, dan berhak mendapatkan bingkisan dari panitia, yaitu t-shirt dari Radio Australia Seksi Indonesia. Cak Aloysius mestinya ingat rekan Soekirno yang turut andil menyukseskan Anda, lho !!

Kuatir ? Nggak Ah !!

Benar !! Peserta TPD 2000 tidak perlu kuatir akan cuaca dingin lereng Merapi. Karena lapar cepat menyerang, Cak Aloysius siap menangkalnya dengan Roti Merdeka khas Tuban. Kalau kedinginan, nggak perlu selimut, cukup mengunyah permen jahe dari Pak Biyanto. Agar badan bersih dan tampil penuh senyum, Pak Kwet Hian mengirimkan sabun Nuvo dan pasta gigi Ciptadent. Dan block note dari Kang Jejen. Jadi peserta nggak perlu khawatir. Makanya, yang belum pernah ikutan temu pendengar, lain kali ikutan saja.

Bingung

Wah.. wah.. wah.. ini hampir dialami semua peserta yang datang dari luar kota Yogya, karena lokasi berpindah dan tidak tersedianya petunjuk atau rute menuju lokasi. Banyak peserta yang kebingungan saat tiba di Terminal Umbulharjo, maupun sesampainya di Kaliurang. Belum habis kebingungan, masih ditambah dengan olah raga mendaki jalan yang cukup jauh. Perlu energi lebih nich ye !! Celetuk salah seorang peserta, "Untuk panitia, jangan nambahi bingung dong. Kalau nambahi souvenir, pasti nggak ada yang nolak."

Numpang Nich Ye !!

Soal nampang bukan cuma urusan penumpang bis kota saja, lho. TPD kali ini bagi rekan pengantin baru Jejen Jamiludin dan pasangannya, Halimatus Sa'diyah, memanfaatkan bulan madu yang sungguh indah dan sejuta warna. Boleh dikata, sekali merengkuh dayung, dua pulau terlampaui. Selamat dan sukses kepada pasangan yang berbahagia itu. Selamat Ber-DX Ria di Kaliurang. Tempat dingin biasanya cespleng dan joss hasilnya.

Mister Bersemoga

Kedatangan mitra IDXC dari manca negara sebagai perwakilan Cumbre DX, yaitu Nicholas Grace, membawa suasana tambah meriah. Nick sangat fasih berbahasa Indonesia. Jadi kita menjadi ngiri. Masa, sebagai pengguna bahasa Indonesia sehari hari kita masih sering belepotan. Mr. Nick selalu bersemoga kepada peserta maupun kepada IDXC, tentang jalinan kerja sama agar tetap berjalan dan bahkan bertambah erat.

Ngomong ngomong, maksudnya bersemoga apa sih, Nick ? Oh.. oh.. oh.. kalau itu maksudnya itu lho... "berharap". Jadi kerna susah mengucapkan berharap, maka bersemoga saja. Kita bersemoga lho Nick, sepulang dari Indonesia ke Amrik kiriman majalah dan buku Passport to World Band Radio seperti janjinya segera dikirimkan.

Dhag Dhig Dhug Dher

Yang bener saja ah, hati dhag dhig dhug, kok malah jadi bahan tertawaan ? Habis kejadiannya sangat langka. Mas Soeprapto dari Suara Amerika yang telah siap berangkat ke lokasi pertemuan dengan menumpang taksi sibuk memasukkan barang bawaan ke bagasi. Sementara Jimmy sibuk memberi petunjuk kepada Pak Sopir. Ternyata, setelah Jimmy selesai, sopir langsung tancap gas ke Kaliurang. Mas Prapto sebagai penumpang ditinggal.

Rekan Jimmy dan Arief buru-buru mengejar taksi dengan Kijang, namun tak terkejar. Nasib bagus masih menyertai Mas Prapto, sopir taksi balik lagi ke Yogya menjemput ke tempat semula. Sopir baru tahu penumpangnya ketinggalan saat akan membayar tiket masuk lokasi wisata. Ketika ditengok ke belakang, lho, penumpangnya tak ada. Cilaka nich !! Salam dhag dhig dhug dhuer Mas Prapto. Semoga tidak kapok.

Menu Temu Pendengar 2002

Saat peserta sudah habis, tinggallah kami berenam, menginap semalam lagi di Kaliurang. Tiga dari Jakarta (Akbar, Budi, dan Sunu), tiga dari Yogya (Aries, Jimmy, dan Arief). Saat memasuki tempat tidur, tiba-tiba saja telah tersedia menu yang sangat aneh baunya. Siapakah penyajinya ? Ternyata Pak Budi yang baru saja keluar dari kamar mandi. Kami semua terpingkal pingkal, cemberut, sembari menutup hidung. Lha, kalau ini mah menu Temu Pendengar 2002 nanti. Kok sekarang sudah disajikan ? (DBR)

Tanggapan atas Komentar, Saran, dan Kritik terhadap Buletin Dirgantara
dari Peserta TPD 2000

Apapun isi komentar, saran maupun kritik -- sebagai penyelaras akhir sejak edisi 8 (6) sampai dengan edisi 10 (3), saya terima dengan baik. Dan saya ucapkan terima kasih, karena merupakan bukti bahwa buletin Dirgantara masih dibaca dan masih diperhatikan, di mana perlu diusahakan perbaikan. Tak lupa saya mohon maaf apabila ada tulisan saya maupun prosedur yang saya jalankan tak berkenan di hati pembaca atau anggota. Sekeras apapun nada tulisan saya, sedrastis apapun tindakan saya, tidak ada maksud di hati untuk meremehkan orang lain.

Secara umum, saya berpendapat bahwa semua komentar, saran, maupun kritik yang saya dengar dari rekan Dwi Budhi Rahardjo (DBR) dapat diterima, dan Insya Allah menjadi acuan bagi penerbitan selanjutnya, yang akan diedit oleh rekan Herbert Sunu Budihardjo (HSB) sebagai pemimpin redaksi dan penanggung jawab.

Perpindahan lokasi TPD 2000, dari Hotel Dirgantara ke Wisma Gajah Mada, Kaliurang. Sampai pada hari edar edisi 10 (3), memang belum ada kabar dari Sekretariat. Dua hari kemudian info itu baru saya terima lewat e-mail, dan segera saya siapkan pemberitahuan melalui edaran khusus bagi semua pembaca. Kalau melihat waktunya, pemberitahuan tersebut masih bisa belum terlambat, tapi soal kenapa pindah itu masalah lain.

Pengisian ulang formulir anggota baru. Sayang DBR tak menyebut nama pembicara, karena prosedur begini memang tidak umum dalam arti hanya pada kasus-kasus tertentu di mana -- untuk ketertiban administrasi -- saya terpaksa minta pengisian ulang formulir anggota baru.

Naskah ataupun masukan dari anggota yang mau ikut aktif seperti anjuran Redaksi, namun merasa dikecewakan karena tidak dimuat di buletin. Ini persoalan yang sangat umum di hampir setiap penerbitan. Pengirim naskah ingin naskahnya cepat dimuat, sementara Redaksi mencari waktu yang tepat selain melihat isi naskahnya sendiri.

Sisipan jadwal transmisi stasiun RLN jangan berupa fotokopi. Fotokopi itu saya kirim demi efisiensi sebagai pengganti kolom Bursa DX di mana editor harus mengutip data-data dari jadwal yang asli. Dengan fotokopi jelas akan lebih lengkap, tepat dan cepat alias hemat waktu. Kalau pembaca tidak suka dengan (isi) foto kopian itu, berarti pembaca pun memang tidak suka dengan (isi) kolom Bursa DX. Soal isinya, pasti nggak akan sama antara yang fotokopi dan yang dimuat di kolom Bursa DX.

Sekian tanggapan saya atas beberapa poin yang saya ingat dan sekali lagi terima kasih. Wassalam. (SAS)

 
Dirgantara Online - Vol 10 No 4 Jul-Agu 2000
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space