Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 10 No 4 Jul-Agu 2000
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
DirgaNet
Aktif
Laporan Berita
Antena
Citizen Band
Review Top 50
Redaksi

Volume 10
  DirgaNet
Puluhan Web Award Lagi untuk Situs Web IDXC

Dalam dua bulan, Mei dan Juni yang lalu, situs web IDXC kembali memperoleh beberapa lagi Web award. Tidak tanggung-tanggung, puluhan Web award yang situs kita peroleh. Adapun maksud pengurus mengoleksi puluhan web award itu adalah untuk menambah perbendaharaan link ke situs web klub kita ini. Semakin banyak situs Web yang menyediakan link ke situs Web IDXC, diharapkan akan semakin banyak pula pengunjung yang datang. Berikut beberapa Web award yang telah Situs Web IDXC peroleh selama bulan Mei, Juni, dan Juli yang lalu :

01. Elena's Award for Website Excellence
02. Elena's Award for Most Useful Website
03. Sunny's Amazing Site Award
04. Sunny's Wonderful Performance Award
05. Lavanderia Pulp King Award
06. Upfront Media's My Cool Award
07. M&Ms Award of Excellence
08. One Nation Under God Award
09. Best of Asia Pacific Year 2K Award
10. Kiss for Excellent Page Award
11. Viduxites' Leviatan Silver Award
12. Mylo Award Gold
13. Award to A Perfect Website 2000
14. Toymaker's Award for Creative Design and Heart
15. Creative Web Award
16. Green Fairy's Somewhat Sullied Web Award
17. Otakou Creative Design Merit Award
18. Best of the Web 2000 Bronze Award
19. Golden Web Award 2000-2001
20. Lady Js Excellent Homepage Award
21. WS Member Nomination Award
22. Smile from Heart Award
23. Southern Nytes Award of Elegance
24. Top Site Award

Saat tulisan ini dipersiapkan, masuk kembali beberapa Web award baru yang tidak sempat kami cantumkan di atas. Untuk melihat tampilan Web award yang telah diperoleh Situs Web IDXC, silakan Anda kunjungi alamat http://www.geocities.com/ Eureka/Enterprises/4311/Web/award.htm (AIG)

Situs IDXC dalam Majalah Internet Infokomputer

Selain diperolehnya puluhan Web award baru, ada satu berita lain yang sangat menggembirakan. Situs Web IDXC terpilih untuk dimuat dalam rubrik GALERY pada majalah Internet Infokomputer edisi Maret-April yang lalu. Dimuatnya situs Web klub kita ini baru pengasuh ketahui pada bulan Mei yang lalu, hingga tak sempat diinformasikan pada edisi DirgaNet yang lalu.

Rubrik Galery pada majalah tersebut merupakan rubrik yang memuat situs-situs Web mengenai Indonesia yang menarik atau direkomendasikan untuk dikunjungi para pembacanya. Di dalam penilaiannya, staf majalah Internet memberikan nilai bintang empat (****) secara keseluruhan, dari segi tampilannya, kelengkapan isi, dan hal-hal lainnya. Penilaian berdasarkan rating dari bintang satu (*) hingga lima (*****).

Hal ini tentunya menjadi suatu promosi gratis bagi situs Web klub kita, dengan meningkatnya secara drastis jumlah pengunjung selama bulan April-Mei yang lalu. Selain itu, dapat pula pengurus informasikan, hingga tulisan ini disiapkan per tanggal 31 Juli 2000, jumlah pengunjung Situs Web IDXC telah mencapai lebih dari 9000 pengunjung. Bagi Anda yang belum pernah berkunjung, kami nantikan kunjungan Anda !! (AIG)

Ralat Pemuatan Foto Anggota IDXC

Dalam edisi ini, pengurus ingin meralat informasi pemuatan foto anggota IDXC yang dimuat pada edisi Dirgantara bulan Mei-Juni 2000 yang lalu. Dalam edisi yang lalu, diinformasikan jumlah anggota yang fotonya telah online di Situs Web IDXC mencapai 121 anggota. Setelah dicek ulang ternyata hanya 120 anggota, karena foto dari rekan Abdul Wahid termuat 2 kali. Oleh karena itu, bagi para anggota yang fotonya telah online dan (mungkin) ingin diganti dengan foto terbaru, mohon diberitahukan ke pengurus. (AIG)

Berita dari Internet
Jalur Alternatif Menuju ke Pakar

Kadang saya suka geli dan tersenyum-senyum sendiri melihat rekan-rekan jurnalis ada yang menjuluki saya Pakar Internet, Profesor Internet (sekarang tanpa perguruan tinggi), bahkan Menteri Internet (tanpa Keppres Gus Dur). Padahal, modal saya betul-betul modal dengkul. Saya tidak pernah belajar formal tentang Teknologi Informasi, tak pernah belajar formal tentang Internet, saya jelas lebih bodoh daripada adik-adik mahasiswa di ITB, lha wong sering nanya ke mereka kok saya ini. Terus terangnya, saya praktis tidak punya apa-apa secara formal. Saya pikir, apa mungkin karena gelar saya yang S3 dari Kanada itu ?

Padahal, jelas-jelas, gelar itu bidangnya adalah teknologi pembuatan IC, dan S2 saya di serat optik, tidak ada hubungannya sama sekali dengan Internet. Terus terang, Internet saya pelajari sendiri dan berguru secara informal. Jadi, secara formal harusnya saya tidak berhak atas semua gelar, julukan yang diberikan rekan jurnalis di atas. Mungkin pendidikan informal yang akhirnya lebih banyak membentuk saya seperti saat sekarang ini.

Saya merasa proses sosialisasi, berteman, belajar dari teman, kemampuan untuk mengolah ataupun mengembangkan pengetahuan merupakan kunci sukses selama ini. Di dalam tulisan ini, saya mencoba mengupas beberapa hal praktis yang saya lalui hingga mencapai kondisi sekarang ini, yang saya yakin masih jauh dari kondisi sempurna. Paling tidak jalur tersebut saya harap bisa memberi wawasan bagi rekan-rekan untuk mulai menjalankan karirnya di hal-hal yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya.

Sebuah karir di mana reward, acknowledgement, dan akreditasi diberikan langsung oleh masyarakat, tidak harus tergantung 100% pada ijazah, ujian negara, sebangsanya. Tampaknya, sebagian besar jalan hidup saya berawal dari hobby amatir radio, nge-break, begitu barangkali bahasa gaulnya. Dengan modal awal tidak punya apa-apa, hanya keinginan untuk nge-break dengan CB seperti teman-teman SMP yang lain, saya akhirnya membeli buku teknik membuat pemancar transistor. Kebetulan sekali, dalam buku itu ditulis bahwa teman-teman yang suka membuat pemancar sendiri suka mangkal di frekuensi 3,5 MHz (80 meter band).

Zaman itu, di tahun 1978-an, pada waktu itu mungkin masih zaman susah, sehingga memaksa orang untuk kreatif, untuk membuat sendiri pemancar-pemancarnya. Diskusi antar-para pembuat pemancar ini dilakukan cukup aktif di 80 meter band. Hampir setiap hari, selama dua tahun lebih saya monitoring 80 meter band dan obrolan rekan-rekan ini, radio merupakan barang yang hampir tidak pernah lepas dari sisi saya. Dari pembicaraan mereka, saya tahu kita bisa membuat pemancar sederhana menggunakan tabung 6V6, 6L6, 807, dan lain-lain.

Di kemudian hari, ternyata pola belajar informal yang paling baik adalah secara serius mendengar, membaca, diskusi, yang dilakukan oleh rekan-rekan sehobi. Belajar dan mengerjakan apa-apa yang kita sukai memang hal yang paling menyenangkan. Akhirnya di tahun 1979 saya bisa membuat pemancar sendiri dari tabung bekas dan buku amatir radio yang saya peroleh dari teman sekelas saya, Krishna Ariadi Pribadi. Dengan bermodal buku dan tabung bekas, saya mengudara di 80 meterband dengan peralatan yang dibuat sendiri, sangat sederhana, memang.

Di sini, saya sangat beruntung dapat berinteraksi dengan banyak rekan-rekan amatir radio yang senior, dan belajar teknik-teknik elektronika dari pada senior tersebut secara lebih interaktif. Memang, harus diakui bahwa pasif mendengar saja tidaklah cukup, harus juga dibarengi dengan kemauan keras untuk membaca buku-buku, aktif berinteraksi dengan orang yang lebih ahli di dalam bidangnya. Tanpa terasa, pembentukan karakter, pola pengembangan diri terpatri sejak dini di dunia amatir radio.

Sekitar tahun 1981-an, saya mengenal komputer dari Bachti Alisyahbana (putra dari Profesor Iskandar Alisyahbana), sering saya ke rumahnya untuk ngoprek dan mengobok-obok komputer Radio Shack-nya karena memang saya tidak mempunyai komputer. Saya mencoba pemrograman BASIC di komputer beliau. Saya suka sekali dengan komputer ini, belum pernah terbayangkan ada alat hitung seperti komputer yang bisa di program dan dimainkan sedemikian menarik. Tampaknya jika ada kemauan yang kuat, biasanya akan ada saja jalan untuk memperoleh pengetahuan pengetahuan tersebut.

Di tahun 1986-an, saya mulai diperkenalkan oleh rekan-rekan amatir radio senior, seperti Mas Robby Soebiakto YB1BG, Pak Achmad Zaini YB1HR cs. bahwa kita bisa mempergunakan komputer untuk saling berkomunikasi satu dengan lainnya menggunakan radio. Sebuah gabungan dua teknologi yang menarik sekali bagi saya. Di tahun 1986-an, kami saat itu merupakan belasan amatir radio di Indonesia yang merintis teknik komunikasi data packet radio pada 7 MHz, gelombang 40 meter band.

Teknik yang dipakai dikenal sebagai teknik packet radio menggunakan protokol komunikasi data AX.25. Itu pada mulanya pertama kali saya berkenalan dengan teknik-teknik komunikasi data yang relatif canggih. Terkagum-kagum saya melihat di layar komputer kita bisa bercakap melalui keyboard, masuk ke Packet Bulletin Board System (PBBS) rekan lain, seperti Pak I.G.K. Manila, YB1GM (sekarang YB0AA), dan mengirimkan berita e-mail ke seluruh dunia melalui jaringan "store and forward" PBBS amatir radio.

Komunikasi digital sederhana ini kami lakukan di tahun 1986-an, mungkin belum terbayangkan oleh sebagian besar dari kita yang menikmati Internet pada hari ini. Kekaguman demi kekaguman terus dirasakan dan mendorong untuk terus membaca dan mempelajari teknik komunikasi data secara otodidak. Pada tahun 1987, saya berangkat ke Kanada untuk meneruskan S2. Beruntung, saya memilih kota Hamilton dan menjadi satu-satunya orang Indonesia di kota itu, sehingga memaksa saya untuk bisa bergaul dalam bahasa Inggris.

Kebetulan sekali, di kota Hamilton ada perkumpulan packet radio yang cukup aktif di Amerika Utara yaitu Hamilton Amateur Packet Network (HAPN), yang mengembangkan peralatan radio paketnya sendiri. Saya bergabung dengan HAPN dan belajar banyak dari mereka. Di tahun 1987 itu, Mas Robby, YB1BG, mengirim surat kepada saya dan menyarankan, bahkan mungkin sangat mendorong untuk mempelajari lebih dalam lagi teknik TCP/IP karena akan menjadi dasar utama bagi jaringan komputer di masa mendatang.

Alhamdullilah, saya betul-betul mengikuti nasihat Mas Robby, YB1BG, yang bekerja di USI / IBM. Saya harus mengakui bahwa nasihat dari Mas Robby, YB1BG, yang banyak mempengaruhi saya di bidang Internet, tanpa arahan beliau, tidak mungkin saya menjadi seperti sekarang. Saya masuk ke beberapa mailing list amatir radio di jaringan perguruan tinggi seperti BITNET dan NSFNet. Pada tahun 1987, belum ada Internet seperti yang kita kenal saat ini. Mailing list umumnya menggunakan listserv pada jaringan BITNET yang berbasis pada SNA IBM.

Berbekal akses e-mail BITNET di kampus, saya banyak belajar, dengan membaca berbagai mailing list amatir radio, mengambil perangkat lunak untuk amatir radio khususnya NOS, yang menjadi uji coba jaringan TCP/IP radio paket pada PC bersistem operasi DOS. Metode banyak mendengar, banyak membaca berbagai diskusi ternyata sangat ampuh untuk belajar secara otodidak. Beruntung sekali, dengan adanya mailing list proses belajar menjadi tak lagi dibatasi dimensi institusi, dimensi ruang, dan waktu.

Sebagian besar informasi sebetulnya ada di manual dan arsip diskusi. Pola belajar yang terbaik adalah "membaca" dengan baik, istilahnya rekan-rekan di mailing list biasanya adalah RTFM (Read The F_cking Manual). Atau cari di FAQ (Frequently Asked Questions), maupun di white paper dari berbagai topik yang sudah ada. Belakangan, khususnya di komunitas Unix / Linux juga ditulis dokumentasi di dalam bentuk "HOW TO". Membaca, menganalisis, mengerti dengan baik ilmu yang ada di Internet merupakan modal awal yang sangat manjur untuk ke tahap selanjutnya.

Sampai di tahap ini, saya rasa kita masih berada pada posisi penerima pengetahuan dan konsumen informasi. Konsumen merupakan posisi paling rendah dalam mata rantai permintaan dan penawaran atau "supply and demand". Konsumen biasanya yang mengeluarkan uang, dan hanya pihak produsenlah yang akan memperoleh keuntungan yang maksimal. Menjadi posisi produsen informasi atau pengetahuan dilakukan secara perlahan dan bertahap, dan untuk menjadi produsen pengetahuan sebetulnya tidak terlalu sulit.

Yang paling sederhana adalah menjawab pertanyaan di news group atau mailing list. Mau tidak mau, kita harus menjawab dengan baik dan benar, dengan berbekal pada pengalaman dan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya. Komunitas mailing list yang akan mengevaluasi secara langsung apakah jawaban kita betul atau salah. Jika salah seringkali hujatan, istilahnya flame, akan dilontarkan kepada kita. Audit kepakaran akan secara langsung dilakukan oleh komunitas mailing list, yang biasanya terbatas jumlahnya sekitar puluhan atau ratusan anggota.

Kecepatan merespon diskusi atau interaksi mailing list akan menunjukan komitmen kita kepada masyarakat. Di Internet, rekan-rekan akan sangat mengharapkan kita merespon dalam waktu cepat berorde menit, kalau bisa detik. Saya rasa, langkah yang harus dilakukan selanjutnya adalah secara serius mensintesa ilmu pengetahuan yang kita peroleh selama ini. Hal ini mulai saya lakukan secara serius pada tahun 1992, dengan menulis artikel-artikel pendek di Kompas. Kemudian berlanjut ke berbagai media lainnya, seperti : www.infokomputer.com, www.dot.com, www.detik.com dan lain-lain.

Kritik tak lagi dibatasi dalam komunitas mailing list, tapi mulai berkembang ke masyarakat banyak. Audit masyarakat sering kali lebih keras dengan kritik yang jauh lebih tajam. Pengalaman menunjukkan sangatlah sulit untuk memuaskan semua orang. Sama sulitnya menerangkan suatu konsep dalam bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh para pembaca, yang mungkin bukan berlatar belakang teknik. Bahkan, kadang-kadang sangat sulit mencarikan kompromi dari berbagai kondisi yang ada.

Dan keberpihakan pada keuntungan masyarakat banyak, biasanya akan lebih menguntungkan, dengan konsekuensi badai yang dahsyat, terutama apabila konsep yang dilontarkan akan merugikan pihak yang berkuasa. Transparansi seluas-luasnya, pengetahuan dan informasi kepada masyarakat banyak tampaknya yang akan menyelamatkan diri kita pada tingkat itu. Tampaknya, penggunaan konsep GPL, copyleft, copy wrong, dan public domain yang menguntungkan rakyat banyak secara alamiah memproteksi dari badai dan topan yang dahsyat tadi.

Badai itu telah saya alami, dan tampaknya akan terus saya alami. Seperti pohon, semakian tinggi sebuah pohon, semakin keras anginnya. Saat ini, kita cukup diuntungkan dengan maraknya media media online, keterbatasan halaman yang ada pada media cetak menjadi hilang (artikel atau paper menjadi jauh lebih mudah untuk dipublikasikan pada berbagai portal). Persaingan menjadi lebih gampang. Sangat berbeda dengan masa lalu yang sangat ketat, karena media masih dibatasi halaman.

Society audit menjadi kenyataan, tidak lagi redaksi sebagai penentu utama kualitas sebuah tulisan. Tentunya, jangan berhenti menulis artikel, lanjutkan ke menulis buku. Menulis buku merupakan kelanjutan dari menulis artikel, kita perlu mengidentifikasi, siapa yang akan membaca buku. Mengapa buku tersebut menjadi penting ? Apakah para pembaca di untungkan dengan ilmu yang dijelaskan ?

Cara paling sederhana untuk menulis yang saya alami adalah mulai dari outline power point. Berlanjut pada penyiapan gambar yang dibutuhkan. Buku akan terjadi dengan sendirinya pada saat kita mengelaborasi outline power point yang kita buat di awal. Kadang, teman mulai menjuluki kita pakar pada saat buku kita telah selesai ditulis dan diterbitkan, padahal sebagian besar ilmu yang dituangkan dalam bentuk buku diperoleh dari akumulasi pengetahuan dari berbagai diskusi mailing list, membaca FAQ, whitepaper, HOW TO yang diperoleh selama beberapa tahun.

Dalam kasus saya, mulai dari tahun 1980-an, hingga tahun 1998-an baru saya mulai menulis buku jadi merupakan proses yang sangat panjang, hampir 20 tahun sebelum mampu menulis buku. Saya yakin generasi muda Indonesia hari ini tak harus menunggu sedemikian lama lagi, informasi dan pengetahuan akan menjadi sangat mudah diperoleh. Dengan menggunakan Internet, beberapa mahasiswa saya bahkan sanggup menulis buku setelah aktif berdiskusi dan surfing di Internet dalam waktu 1-2 tahun saja.

Society audit bahkan dapat terjadi secara cepat dan langsung melihat hasil buah karya mereka dalam berbagai media, baik cetak, elektronik maupun online. Sebuah proses pembelajaran yang jauh lebih efisien dari pada apa yang saya alami sendiri. Proses society audit yang demikian efisien ini pada akhirnya akan mempercepat proses reward, acknowledgement, akreditasi langsung oleh masyarakat pada penulis yang menjadi sumber pengetahuan baru tadi.

Akhirnya, seluruh proses itu mempertanyakan konsep konvensional, seperti Ijazah, Ujian Negara, dan Badan Akreditasi. Sampai sejauh mana telah merepresentasikan acknowledgement masyarakat. Mudah mudahan, setelah membaca tulisan ini, pembaca dapat melihat sebuah jalan alternatif menjadi seorang pakar. Pendidikan formal bukan satu-satunya jalan menjadi pakar, pendidikan informal otodidak yang justru akan sangat dominan untuk dapat menjadikan Anda seorang pakar. Pola pendidikan informal ini bahkan memungkinkan belajar dan mengerjakan hal-hal yang kita sukai saja.

Internet telah memungkinkan untuk membentuk seorang pakar di dalam waktu yang singkat, tanpa perlu bergantung sepenuhnya pada pendidikan formal. Apalagi, saat sekarang ini, untuk meneruskan kuliah saja terkadang sangat sulit. Pengakuan pakar akan diberikan oleh masyarakat dinilai dari besar bantuan yang telah kita berikan untuk masyarakat. Semakin banyak masyarakat yang diuntungkan, maka semakin tinggi tingkat kepakaran kita. Dalam bahasa yang lebih religius, semakin banyak amal dan ibadah, makin banyak pahala yang akan diperoleh, dan tentunya juga rezeki.

Penulis : Onno W. Purbo, pengamat teknologi informasi dan pakar Internet Institut Teknologi Bandung (Sumber : http://www.detik.com / AIG)

 
Dirgantara Online - Vol 10 No 4 Jul-Agu 2000
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space