Profil Stasiun
47 Tahun Siaran Perdana Deutsche Welle
Hari Minggu, tanggal 3 Mei 1953, jam 11.30 pagi Waktu Eropa
Tengah. Deutsche Welle mulai mengudarakan siarannya dalam bahasa Jerman,
yang tiap harinya berdurasi tiga jam. Utamanya, siaran itu diperuntukkan
bagi orang orang Jerman di perantauan. Sebagai tanda pengenal, sinyal
interval, adalah "Es sucht der Bruder seine Bruder" dari Opera Fidelio,
karya Ludwig van Beethoven, dan diteruskan dengan pembukaan :
"Inilah Deutsche Welle. Anda sedang mendengarkan kami dari
Koln melalui siaran yang ditujukan ke Timur Jauh, pada gelombang 25 meter
band, atau pada getaran 11795 kHz. Deutsche Welle melangsungkan siaran ini
atas nama Badan Siaran Republik Federal Jerman. Anda dapat mendengarkan
siaran kami setiap hari, mulai dari jam 11.30 sampai 14.30 Waktu Eropa
Tengah."
Presiden Jerman, Profesor Dr. Theodor Heuss yang pertama
menyampaikan pesannya kepada pendengar di seluruh dunia, "Dari dalam lubuk
hati, saya sampaikan salam pertama dari tanah air, semoga bisa didengar di
telinga maupun di hati masyarakat Jerman di seluruh dunia melalui udara.
Kata-kata ini datang dari rumah, bagi Anda pendengar siaran ini, suara dari
tanah air." (40 Jahre Deutsche Welle Weltweid / SAS)
Yang Serius dan yang Ha ha Hi hi ...
Hari maupun tanggal siarannya sama, hari Jum'at, tanggal 21
April 2000, bertepatan dengan Hari Kartini. Bahan siarannya pun sama, yaitu
surat surat dari pendengar. Siaran yang pertama dari Suara Jerman Deutsche
Welle, melalui frekuensi 17820 kHz, jam 11:26:48 sampai dengan 11:37:40 UTC,
terpantau dengan SINPO 55544. Penyiarnya S.E. Rini dan Agus Setiawan,
acaranya bernama "Kotak Surat".
Surat pertama datang dari Moh. Rafei, di Cirebon, menanyakan
tentang pembuat peta dunia yang pertama, ramalan cuaca, dan bagaimana bisa
terjadi curah hujan di Arab, gurun pasir. Surat kedua, yang menurut penyiar
terdiri dari dua halaman, datang dari Sumarni Rahmana, di Mekah, Arab Saudi.
Isinya adalah pesan si pengirim kepada para tenaga kerja wanita (TKW) atau
pendengar SJDW yang sedang bekerja di Arab Saudi, agar bisa menjaga diri
atau nama baik sebagai perempuan Indonesia.
Jangan gampang terpengaruh bujukan orang setempat,
yang terbiasa menganggap murah wanita wanita tenaga kerja Indonesia, dengan
ucapan "khomsin" (?), yang berarti "lima puluh" (Rial) !! Isi surat tersebut
membuat penyiar jadi trenyuh, sedih, prihatin. Rasanya pendengar pun
demikian juga, apalagi andai diberi kesempatan melihat seluruh isi surat itu.
Surat berikutnya datang dari Klub Pegos, Tomohon, menanyakan
tentang the Art on Building di Hotel Eropa, nomor dua besarnya di Jerman, yang
juga merupakan proyek seni instalasi dengan hiasan gambar 130 tokoh Eropa,
dalam 500 tahun terakhir. Tinggi masing masing gambar 20 meter persegi, dan
ditempelkan di dinding hotel seperti menempel prangko !!
Surat terakhir datang dari H. Abdullah, di Arab Saudi,
menanyakan apakah di Jerman ada sexual harrasment, dan menceritakan bagaimana
sengsaranya menjadi tenaga kerja wanita di Arab Saudi, tidak lupa himbauan
kepada pemerintah serta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).
Apakah KBRI Jeddah tutup mata dalam urusan ini ? Kecuali dalam kasus Kartini ?
Siaran yang lain dari Radio Singapura Internasional, melalui
frekuensi 9665 kHz, jam 12:35:10 s.d. 12:59:20 UTC, terpantau dengan
SINPO 54322. Penyiarnya Fransisca Beding dan Monang Harahap, acaranya bernama
"Kontak Pendengar". Setelah jingle, dibacakan nama penyiar, alamat surat di
Jakarta, dan alamat e-mail, dibacakan bersama dengan aksen dibuat buat
seperti aksen orang Jawa.
Surat pertama dari M. Tamaruddin, di Tanah Grogot, isinya
minta kiriman pedoman acara, kalender, foto para penyiar, dan stiker RSI.
(Selama lebih kurang seminggu penulis memantau acara ini, isi surat surat
semacam ini selalu hadir). Surat berikutnya, dari Syaiful Ibad, di Musi
Banyuasin, yang mengucapkan terima kasih atas kiriman dari RSI, usul isi
RTA dilampiri istilah istilah unik dan lucu, seperti "sakurata", "tukang
sulap".
Surat ketiga datang dari Erna Toatiga, di Kinabalu,
menyampaikan salam dan selamat Hari Ulang Tahun RSI, minta foto penyiar
dan ibu pendiri RSI, dan gereja katedral, serta kalender. Juga berkomentar
tentang penyiar Rane Hafid dan Sisca. Sebelum pembacaan surat berikutnya,
yang merupakan surat terakhir, diperdengarkan sebuah lagu. Pengirim adalah
Petrus, dari Palembang, yang menyatakan senang dengan siaran RSI, dan minta
dikirimi pedoman acara.
Selanjutnya, penyiar menceritakan tentang apa itu Monday
Blues, sejenis penyakit (?), yang secara psikologis bisa membuat stres para
penderitanya. Seperti pada tiap hari Jum'at sebelumnya, dipilih "Surat
Minggu Ini", yang kali ini dimenangkan oleh surat dari Purwani Widyaningsih,
di Tanjung Enim. Sebagai alasan pilihan itu, penyiar menyebutkan karena
bersimpati pada pengirim surat, yang menjadi korban pencurian di rumahnya.
Dalam hal ini, penyiar mengucapkannya dengan gaya orang
yang menangis tersedu-sedu, dan mengharapkan agar hadiah tersebut bisa mengurangi
kesedihan karena kemalingan. Ya memang, lain padang lain belalang, lain
lubuk lain ikannya !! (SAS)