Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 10 No 3 Mei-Jun 2000
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Perforasi
DirgaNet
Aktif
DXperimen
Laporan Berita
Profil Stasiun
Review Top 50
Redaksi

Volume 10
  Profil Stasiun
47 Tahun Siaran Perdana Deutsche Welle

Hari Minggu, tanggal 3 Mei 1953, jam 11.30 pagi Waktu Eropa Tengah. Deutsche Welle mulai mengudarakan siarannya dalam bahasa Jerman, yang tiap harinya berdurasi tiga jam. Utamanya, siaran itu diperuntukkan bagi orang orang Jerman di perantauan. Sebagai tanda pengenal, sinyal interval, adalah "Es sucht der Bruder seine Bruder" dari Opera Fidelio, karya Ludwig van Beethoven, dan diteruskan dengan pembukaan :

"Inilah Deutsche Welle. Anda sedang mendengarkan kami dari Koln melalui siaran yang ditujukan ke Timur Jauh, pada gelombang 25 meter band, atau pada getaran 11795 kHz. Deutsche Welle melangsungkan siaran ini atas nama Badan Siaran Republik Federal Jerman. Anda dapat mendengarkan siaran kami setiap hari, mulai dari jam 11.30 sampai 14.30 Waktu Eropa Tengah."

Presiden Jerman, Profesor Dr. Theodor Heuss yang pertama menyampaikan pesannya kepada pendengar di seluruh dunia, "Dari dalam lubuk hati, saya sampaikan salam pertama dari tanah air, semoga bisa didengar di telinga maupun di hati masyarakat Jerman di seluruh dunia melalui udara. Kata-kata ini datang dari rumah, bagi Anda pendengar siaran ini, suara dari tanah air." (40 Jahre Deutsche Welle Weltweid / SAS)

Yang Serius dan yang Ha ha Hi hi ...

Hari maupun tanggal siarannya sama, hari Jum'at, tanggal 21 April 2000, bertepatan dengan Hari Kartini. Bahan siarannya pun sama, yaitu surat surat dari pendengar. Siaran yang pertama dari Suara Jerman Deutsche Welle, melalui frekuensi 17820 kHz, jam 11:26:48 sampai dengan 11:37:40 UTC, terpantau dengan SINPO 55544. Penyiarnya S.E. Rini dan Agus Setiawan, acaranya bernama "Kotak Surat".

Surat pertama datang dari Moh. Rafei, di Cirebon, menanyakan tentang pembuat peta dunia yang pertama, ramalan cuaca, dan bagaimana bisa terjadi curah hujan di Arab, gurun pasir. Surat kedua, yang menurut penyiar terdiri dari dua halaman, datang dari Sumarni Rahmana, di Mekah, Arab Saudi. Isinya adalah pesan si pengirim kepada para tenaga kerja wanita (TKW) atau pendengar SJDW yang sedang bekerja di Arab Saudi, agar bisa menjaga diri atau nama baik sebagai perempuan Indonesia.

Jangan gampang terpengaruh bujukan orang setempat, yang terbiasa menganggap murah wanita wanita tenaga kerja Indonesia, dengan ucapan "khomsin" (?), yang berarti "lima puluh" (Rial) !! Isi surat tersebut membuat penyiar jadi trenyuh, sedih, prihatin. Rasanya pendengar pun demikian juga, apalagi andai diberi kesempatan melihat seluruh isi surat itu.

Surat berikutnya datang dari Klub Pegos, Tomohon, menanyakan tentang the Art on Building di Hotel Eropa, nomor dua besarnya di Jerman, yang juga merupakan proyek seni instalasi dengan hiasan gambar 130 tokoh Eropa, dalam 500 tahun terakhir. Tinggi masing masing gambar 20 meter persegi, dan ditempelkan di dinding hotel seperti menempel prangko !!

Surat terakhir datang dari H. Abdullah, di Arab Saudi, menanyakan apakah di Jerman ada sexual harrasment, dan menceritakan bagaimana sengsaranya menjadi tenaga kerja wanita di Arab Saudi, tidak lupa himbauan kepada pemerintah serta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Apakah KBRI Jeddah tutup mata dalam urusan ini ? Kecuali dalam kasus Kartini ?

Siaran yang lain dari Radio Singapura Internasional, melalui frekuensi 9665 kHz, jam 12:35:10 s.d. 12:59:20 UTC, terpantau dengan SINPO 54322. Penyiarnya Fransisca Beding dan Monang Harahap, acaranya bernama "Kontak Pendengar". Setelah jingle, dibacakan nama penyiar, alamat surat di Jakarta, dan alamat e-mail, dibacakan bersama dengan aksen dibuat buat seperti aksen orang Jawa.

Surat pertama dari M. Tamaruddin, di Tanah Grogot, isinya minta kiriman pedoman acara, kalender, foto para penyiar, dan stiker RSI. (Selama lebih kurang seminggu penulis memantau acara ini, isi surat surat semacam ini selalu hadir). Surat berikutnya, dari Syaiful Ibad, di Musi Banyuasin, yang mengucapkan terima kasih atas kiriman dari RSI, usul isi RTA dilampiri istilah istilah unik dan lucu, seperti "sakurata", "tukang sulap".

Surat ketiga datang dari Erna Toatiga, di Kinabalu, menyampaikan salam dan selamat Hari Ulang Tahun RSI, minta foto penyiar dan ibu pendiri RSI, dan gereja katedral, serta kalender. Juga berkomentar tentang penyiar Rane Hafid dan Sisca. Sebelum pembacaan surat berikutnya, yang merupakan surat terakhir, diperdengarkan sebuah lagu. Pengirim adalah Petrus, dari Palembang, yang menyatakan senang dengan siaran RSI, dan minta dikirimi pedoman acara.

Selanjutnya, penyiar menceritakan tentang apa itu Monday Blues, sejenis penyakit (?), yang secara psikologis bisa membuat stres para penderitanya. Seperti pada tiap hari Jum'at sebelumnya, dipilih "Surat Minggu Ini", yang kali ini dimenangkan oleh surat dari Purwani Widyaningsih, di Tanjung Enim. Sebagai alasan pilihan itu, penyiar menyebutkan karena bersimpati pada pengirim surat, yang menjadi korban pencurian di rumahnya.

Dalam hal ini, penyiar mengucapkannya dengan gaya orang yang menangis tersedu-sedu, dan mengharapkan agar hadiah tersebut bisa mengurangi kesedihan karena kemalingan. Ya memang, lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya !! (SAS)

 
Dirgantara Online - Vol 10 No 3 Mei-Jun 2000
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space