Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 10 No 3 Mei-Jun 2000
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Perforasi
DirgaNet
Aktif
DXperimen
Laporan Berita
Profil Stasiun
Review Top 50
Redaksi

Volume 10
  DirgaNet
Buku Tamu Situs Web IDXC

Nama : Solstice Web
E-Mail : webmaster@...
Situs Web : http://www.solsticeweb.com
Kegiatan : Web Surfer
Alamat / Propinsi : Boulder, CO
Negara : Amerika Serikat
Mengetahui Homepage IDXC dari : Sumber lain
Pesan : Greetings from Solstice Web in the US !!

Nama : Yetra R ( JZ13EUG )
E-Mail : ytr@...
Jenis Kelamin : Laki-laki
Kegiatan : Operator Citizen Band Radio
Alamat : Jalan Kawi No.39, Magetan
Propinsi : Jawa Timur
Negara : Indonesia
Kode Pos : 63315
Telepon : (0351) 8945xx
Mengetahui Homepage IDXC dari : Search engine
Pesan : Situs Web ini amat sangat berguna bagi para penggemar komunikasi radio, utamanya sebagai tempat bertemu antara anggota RAPI dan ORARI, yang selama ini di udara terkesan kurang menyatu. Terima kasih.

Perkembangan Situs Web IDXC
Tujuh Web Award Lagi untuk Situs Web IDXC

Baru-baru ini, selama bulan Maret, April, dan Mei 2000 ini, Situs Web IDXC kembali memperoleh 7 Web award, yaitu :

• KB9TA Web Award of Excellence
• Pride! Award
• Market-Tek Design Award
• Best of the Web W5WWW's Ham Award
• MissouriAngel's Great Site Award
• White Wolf & Rotwyler's Web Page Excellence Award
• Critical Mass Award

Dua di antara Web award di atas, yaitu KB9TA Web Award of Excellence dan Best of the Web W5WWW's Ham Award merupakan Web award yang diberikan oleh 2 operator amatir radio di Amerika Serikat. Web-Web award baru itu dapat Anda lihat tampilannya di alamat : http://www.geocities.com/Eureka/Enterprises/4311/Web/award.htm. Dengan demikian, jumlah award atau penghargaan yang telah diperoleh IDXC sebanyak 11 buah award, termasuk dua buah award dari Deutsche Welle sebagai Klub Pendengar Aktif selama tahun 1996 dan 1997. (AIG)

Pemuatan AD / ART IDXC, ORARI, dan RAPI

Untuk menambah khasanah informasi pada Homepage IDXC, maka sejak awal bulan April yang lalu, pengurus telah memuat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD dan ART) klub kita ini, Indonesian DX Club, dan dua organisasi keradioan lainnya di Indonesia yaitu ORARI (Organisasi Amatir Radio Indonesia) dan RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia).

Pemuatan AD dan ART ketiga organisasi di atas pengurus harapkan dapat berguna, bukan saja bagi IDXCers maupun anggota ORARI dan RAPI, namun juga bagi DXer atau amatir radio mancanegara yang ingin mengetahui lebih banyak profil organisasi organisasi yang berhubungan dengan dunia keradioan di Indonesia. AD / ART ketiga klub (organisasi) tersebut dapat Anda baca di alamat-alamat URL berikut ini :

AD / ART Indonesian DX Club (IDXC) :
http://www.geocities.com/Eureka/Enterprises/4311/Indonesian2/ad-art-idxc.htm

AD / ART Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) :
http://www.geocities.com/Eureka/Enterprises/4311/Indonesian2/ad-art-orari.htm

AD / ART Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) :
http://www.geocities.com/Eureka/Enterprises/4311/Indonesian2/ad-art-rapi.htm

Domain Name untuk Situs Web IDXC

Selama ini, tentunya Anda sudah mengetahui Situs Web klub kita, IDXC, ditempatkan di GeoCities, suatu layanan untuk menempatkan situs Web secara gratis di Internet. Alamat asli situs Web IDXC sebenarnya cukup panjang untuk diingat, yaitu : www.geocities.com/Eureka/Enterprises/4311. Panjangnya alamat tersebut tentunya menyulitkan para pengunjung yang ingin berkunjung lagi untuk menghafalnya.

Karena itulah, pengurus berinisiatif untuk mendaftarkan situs Web klub kita ini pada layanan Come.To, suatu layanan yang menyediakan alamat URL yang lebih mudah diingat oleh pengunjung, dengan awalan : http://come.to/. Meskipun menggunakan alamat http://come.to/idxc, sebenarnya situs Web IDXC tetap berada di GeoCities, hanya saja dapat diakses dengan alamat yang lebih mudah diingat.

Meskipun layanan Come.To telah memudahkan para pengunjung mengingat alamat suatu situs Web, namun akan lebih baik, atau lebih bonafid-lah kata lainnya, kalau suatu situs Web memiliki domain name-nya sendiri. Definisi domain name secara sederhana adalah suatu alamat utama suatu situs Web, seperti www.geocities.com, www.hotmail.com, atau www.voa.gov.

Akhiran .com, .net, .org, atau .gov itulah yang disebut sebagai domain name. Untuk memperoleh atau menyewa suatu domain name, pemilik suatu situs Web diharuskan membayar sejumlah uang sewa untuk memperoleh domain name yang sesuai dengan nama perusahaan atau organisasinya pemilik situs Web. Keterbatasan danalah menyebabkan selama dua tahun sejak online di Internet, situs Web IDXC belum juga memiliki domain name-nya sendiri. Sejalan dengan pesatnya perkembangan Internet, mulai diadakan layanan yang khusus menyediakan domain name secara gratis.

Meskipun, bagi situs-situs Web yang menggunakan layanan ini diharuskan untuk menampilkan iklan dari layanan tersebut. Layanan yang baru pertama kalinya ada di Internet tersebut diadakan oleh Name Zero. Dengan adanya layanan domain name gratis dari Name Zero itu, maka sejak pertengahan bulan April yang lalu, situs Web IDXC telah dapat diakses menggunakan alamat yang selain lebih mudah diingat, namun juga lebih representatif, yaitu di alamat : www.idxc.org.

Meskipun, Anda harus memaklumi, apabila menemukan tampilan iklan pada layar komputer Anda pada saat mengakses situs Web IDXC menggunakan alamat di atas. Dengan alamat baru situs Web IDXC itu, diharapkan jumlah pengunjung akan meningkat, termasuk tentunya Anda sebagai salah seorang pengunjung tersebut !! (AIG)

Situs Web IDXC Bergabung dengan Web Ring

Sejak pertengahan bulan Maret yang lalu, Situs Web IDXC telah bergabung dengan "Amateur Radio Web Ring". Web Ring, secara sederhana, dapat didefinisikan sebagai perkumpulan sejumlah situs Web yang memiliki tema atau subyek yang sama, untuk kemudian situs-situs Web tersebut membuat link atau hubungan di antara mereka membentuk link berantai. Karena itulah dinamakan Web ring. Sebenarnya, terdapat puluhan Web ring bertemakan keradioan di Internet saat ini.

Pengasuh memilih Amateur Radio Web Ring dengan pertimbangan Web ring ini merupakan Web ring bertemakan dunia keradioan yang paling banyak jumlah anggotanya dibandingkan dengan Web ring bertemakan keradioan lainnya. Apabila Web ring bertemakan keradioan lainnya rata-rata hanya memiliki jumlah puluhan anggota, Amateur Radio Web Ring pada saat ini telah menghubungkan hampir 2000 situs Web (anggota) membentuk suatu Web ring.

Dengan bergabungnya situs Web IDXC pada Amateur Radio Web Ring, diharapkan dapat menjadi suatu sarana promosi untuk meningkatkan jumlah pengunjung ke situs Web IDXC. Fasilitas Web ring tersebut dapat Anda lihat tampilannya di bagian bawah halaman utama situs Web IDXC. (AIG)

Pemuatan Foto Anggota di Situs Web IDXC

Pada kesempatan ini kembali akan pengurus umumkan nama-nama rekan anggota yang fotonya telah online di Home page IDXC. Bagi Anda yang mengirimkan pas foto berwarna, pemuatan fotonya di Internet kami ubah ke dalam tampilan hitam putih, dengan pertimbangan untuk mempercepat waktu aksesnya, karena gambar berwarna membutuhkan waktu lebih lama untuk mengaksesnya. Berikut ini, daftar tambahan nama-nama rekan anggota yang pas fotonya telah online, dan dapat diakses dari Situs Web IDXC, dengan urutan sesuai dengan anggotanya :

1. (IDXC-0002/INS) Drs. Herbert Sunu B.
2. (IDXC-0009/INS) Fadly Santar
3. (IDXC-0099/INS) Kustiyono
4. (IDXC-0121/INS) Herman Firdaus
5. (IDXC-0254/INS) Abdul Wahid
6. (IDXC-0284/INS) Regina U. Keraf
7. (IDXC-0289/INS) Muhammad Syifa'
8. (IDXC-0290/INS) Udiy Mannan

Dengan dimuatnya ke-8 pas foto anggota IDXC di atas, maka hingga saat ini jumlah total anggota IDXC yang fotonya telah on line di Internet telah mencapai jumlah 121 anggota. Bagi rekan-rekan anggota lain yang belum berpartisipasi, selalu pengurus nantikan partisipasi Anda. Syaratnya mudah, cukup Anda kirimkan foto atau pas foto Anda (ukurannya bebas). Boleh berwarna atau hitam - putih, ke alamat redaksi di : P.O. Box 2001 DPPS, Depok 16432, Jabar. Atau bisa juga Anda scan sendiri foto Anda, untuk selanjutnya Anda kirim lewat e-mail ke : akbarig@centrin.net.id. (AIG)

Berita dari Internet
Land Reform di Dunia Media Elektronik

Bagi anda yang berdomisili di Jakarta, coba sekali-sekali berjalan di depan bekas kantor Deppen. Di sana, terpampang sebuah spanduk yang tertulis bahwa 85% bangsa Indonesia ada di pedesaan dan mereka berhak untuk memperoleh informasi (termasuk harusnya berekspresi dan berinteraksi -- komunikasi dua arah). Bagaimanakah cara kita menyampaikan informasi ke rakyat pedesaan tersebut ? Cara apa yang paling efisien ?

Melalui Koran Masuk Desa ? Berapa persenkah dari bangsa ini yang bisa membaca koran ? Statistik BPS menunjukkan 20-30% tenaga kerja tidak pernah sekolah SD dan sebagian tidak lulus SD !! Dan mereka jumlahnya jutaan. Bagaimana mungkin, mereka membaca ? Media tanpa membaca tampaknya akan jauh lebih efisien dibanding media baca tulis. Artinya, cara yang paling efisien, murah untuk memberdayakan bangsa ini kemungkinan adalah melalui media suara dan gambar seperti radio dan televisi, yang lebih mudah dicerna bagi mereka yang tidak berpendidikan maupun yang hanya berpendidikan SD.

Apabila diperhatikan, baik media elektronik radio maupun televisi keduanya menggunakan media gelombang radio. Peralatan penerima radio tampaknya cukup terjangkau bagi rakyat di pedesaan. Sekarang masalahnya, yang ada tinggal alokasi frekuensi di udara Indonesia. Urusan bisa seru karena benda satu ini merupakan sumber daya alam yang "terbatas". Di Indonesia, udara pada umumnya diidentikkan dengan sarana transportasi udara. Rupanya, di zaman milenium baru ini, udara juga merupakan media transportasi informasi yang tidak kalah strategisnya dengan sarana transportasi yang dibuat Pak Habibie.

Kalau kita mengacu ke UUD 45, pada dasarnya sumber daya alam yang strategis bagi kehidupan bangsa Indonesia seperti tanah, tambang termasuk udara dikuasasi negara. Pertanyaannya selanjutnya, Negara tersebut siapa ? Apakah MPR ? apakah DPR ? apakah badan eksekutif ? apakah operator ? apakah penyelenggara radio siaran ? Bagaimana mapping antara negara ke rakyat ? Di sinilah barangkali kunci utamanya. Kalau kita melihat semangat yang terkandung di dalam Undang-Undang Nomor 36, Tahun 1999, Bidang Telekomunikasi, tampak sekali bahwa negara di-map kepada rakyat dalam bentuk badan usaha.

Artinya tak akan ada lagi monopoli operator, seperti Telkom dan Indosat. Mungkinkah hal ini terjadi di dunia siaran radio dan televisi ? Artinya bukan hanya para pengusaha besar yang yang mampu membuat peralatan radio dengan kekuatan pancar hingga 100 kiloWatt, akan tetapi rakyat kecil di pedesaan pun dimudahkan untuk membuat pemancar radio siaran dengan kekuatan 10 Watt saja. Bagi Anda yang anggota ORARI, saya yakin Anda dapat membuat pemancar berkekuatan 10 Watt dalam waktu 1-2 hari saja, apalagi dengan modulasi AM di band MW dan SW.

Bayangkan dampaknya jika dimungkinkan dibangun radio-radio pemancar kecil atau kelas 10 Watt-an di pedesaan yang dioperasikan masyarakat itu sendiri. Kira-kira miriplah dengan konsep koperasi dalam dunia ekonomi konsep radio masyarakat atau community radio, akan merupakan terobosan luar biasa di dunia informasi elektronik di dalam rangka memberdayakan bangsa dari sisi informasi dan pengetahuan. Dengan radio masyarakat yang kecil, mandiri dan terdistribusi itu, masyarakat dapat saling belajar melalui radio, karena memang radio tersebut dibangun dan dioperasikan sendiri oleh masyarakat desa.

Barangkali identik dengan konsep balai desa tempat masyarakat berkumpul, hingga pembinaan karang-karang taruna secara elektronik lewat radio yang dioperasikan karang taruna tersebut. Yang perlu ditekankan konsep radio masyarakat atau public broadcasting, yang sifatnya bukan hanya merupakan komunikasi satu arah yang represif, tapi merupakan komunikasi dua arah juga yang interaktif di antara masyarakat pedesaan tersebut. Jadi betul-betul dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Kontrol kualitas dapat dilakukan secara kolektif oleh masyarakat itu sendiri.

Tentunya, akan lebih seru lagi cerita ini, apabila dimungkinkan dibangun jaringan radio masyarakat. Semua ini, Insya Allah, memungkinkan konsep "bottom-up community based development" akan dapat terbentuk. Sehingga pembangunan dapat berjalan secara mandiri dan sustainable, jika kita semua setuju dengan konsep pemberdayaan informasi atau pengetahuan rakyat melalui konsep community radio, tinggal masalah selanjutnya adalah masalah alokasi frekuensi yang notabene dikuasai negara. Negara yang mana ?

Mari kita lihat lebih lanjut beberapa konsep atau pola pikir di bawah ini. Di dalam dunia komersial, kita mengenal yang namanya "market development" (atau marketing). Marketing, di dalam bahasa sederhananya, merupakan "sedekah" untuk memperoleh rezeki yang lebih besar lagi. Bahkan, pada tingkat negara yang besar, alokasi dana untuk pembangunan masyarakat tidak sedikit. Sekarang ini, banyak dana-dana bantuan grant (bukan utang luar negeri) dari luar negeri melalui berbagai lembaga seperti CIDA, JICA, USAID, DAAD, atau AUSAID.

Sederhananya, mereka melakukan sedekah dari keuntungan yang mereka keruk selama ini dari Indonesia. Tak ada satupun grant dari luar negeri yang lebih besar dari keuntungan yang mereka keruk dari Indonesia. Dan dapat dijamin, bahwa negara yang diuntungkan oleh Indonesia dijamin akan mau menyisihkan sedikit dana berbentuk grant untuk membangun komunitas atau masyarakat Indonesia. Hal yang hampir mirip terjadi di bidang pertanahan -- saat ini dikenal konsep Land reform -- di mana dalam sebuah wilayah ada pendudukan tanpa izin oleh kelompok rakyat kecil secara ilegal.

Oleh negara, hal tersebut kemudian dilegalkan secara hukum melalui land reform untuk kepentingan rakyat kecil itu sendiri. Hal yang sama bisa juga sebetulnya dianalogikan di duna informasi elektronik, dalam hal ini alokasi frekuensi. Memang saya akui, bahwa frekuensi juga dilihat sebagai komoditi yang sangat strategis. Alokasi frekuensi memang terbatas, sama dengan tanah yang juga terbatas. Akan tetapi bukan berarti bahwa semua alokasi frekuensi hanya bisa dipakai oleh the haves, konglomerat, atau operator telekomunikasi.

Sudah selayaknyalah, ada alokasi frekuensi untuk bangsa kita di daerah pedesaan yang bisa membangun pemancar radionya sendiri. Mungkinkah kita melakukan frequency reform seperti halnya land reform ? Berikanlah alokasi frekuensi untuk community radio di daerah, dengan daya pancar kecil, 10 Watt-an, misalnya. Sama halnya dengan land reform, tidak seluruh frekuensi yang ada diberlakukan frequency reform, cukup frekuensi radio siaran, terutama mungkin di MW dan SW yang teknologinya relatif rendah untuk komunikasi satu arah dalam wilayah terbatas.

Untuk komunikasi dua arah, dipergunakan frekuensi ORARI dan frekuensi Citizen Band. Kemudahan izin perlu dipikirkan dengan memberikan koridor teknologi, dan sebaiknya tanpa pembebanan biaya lisensi yang tinggi. Pada saat ini, Internet dengan jumlah pengguna ratusan ribu masih berat untuk memberdayakan daerah khususnya daerah-daerah terpencil. Saya yakin, bagi Indonesia, dunia informasi elektronik khususnya radio dan TV, masih merupakan media alternatif bagi pemberdayaan rakyat, terutama di daerah, di samping koran.

Mudah-mudahan, konsep "community radio" atau "public broadcasting" ini dapat menjadi suatu alternatif solusi bagi pemberdayaan bangsa kita menuju "knowledge based society". (Penulis : Onno W. Purbo, pengamat teknologi informasi dan Pakar Internet ITB / Sumber : www.Detik.Com / AIG)

 
Dirgantara Online - Vol 10 No 3 Mei-Jun 2000
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space