DirgaNet
Buku Tamu Situs Web IDXC
Nama : Solstice Web
E-Mail : webmaster@...
Situs Web : http://www.solsticeweb.com
Kegiatan : Web Surfer
Alamat / Propinsi : Boulder, CO
Negara : Amerika Serikat
Mengetahui Homepage IDXC dari : Sumber lain
Pesan : Greetings from Solstice Web in the US !!
Nama : Yetra R ( JZ13EUG )
E-Mail : ytr@...
Jenis Kelamin : Laki-laki
Kegiatan : Operator Citizen Band Radio
Alamat : Jalan Kawi No.39, Magetan
Propinsi : Jawa Timur
Negara : Indonesia
Kode Pos : 63315
Telepon : (0351) 8945xx
Mengetahui Homepage IDXC dari : Search engine
Pesan : Situs Web ini amat sangat berguna bagi para penggemar komunikasi
radio, utamanya sebagai tempat bertemu antara anggota RAPI dan ORARI, yang
selama ini di udara terkesan kurang menyatu. Terima kasih.
Perkembangan Situs Web IDXC
Tujuh Web Award Lagi untuk Situs Web IDXC
Baru-baru ini, selama bulan Maret, April, dan Mei 2000 ini,
Situs Web IDXC kembali memperoleh 7 Web award, yaitu :
KB9TA Web Award of Excellence
Pride! Award
Market-Tek Design Award
Best of the Web W5WWW's Ham Award
MissouriAngel's Great Site Award
White Wolf & Rotwyler's Web Page Excellence Award
Critical Mass Award
Dua di antara Web award di atas, yaitu KB9TA Web Award of
Excellence dan Best of the Web W5WWW's Ham Award merupakan Web award yang
diberikan oleh 2 operator amatir radio di Amerika Serikat. Web-Web award
baru itu dapat Anda lihat tampilannya di alamat : http://www.geocities.com/Eureka/Enterprises/4311/Web/award.htm. Dengan demikian, jumlah award atau
penghargaan yang telah diperoleh IDXC sebanyak 11 buah award, termasuk dua
buah award dari Deutsche Welle sebagai Klub Pendengar Aktif selama tahun 1996
dan 1997. (AIG)
Pemuatan AD / ART IDXC, ORARI, dan RAPI
Untuk menambah khasanah informasi pada Homepage IDXC, maka
sejak awal bulan April yang lalu, pengurus telah memuat Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga (AD dan ART) klub kita ini, Indonesian DX Club, dan
dua organisasi keradioan lainnya di Indonesia yaitu ORARI (Organisasi Amatir
Radio Indonesia) dan RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia).
Pemuatan AD dan ART ketiga organisasi di atas pengurus
harapkan dapat berguna, bukan saja bagi IDXCers maupun anggota ORARI dan
RAPI, namun juga bagi DXer atau amatir radio mancanegara yang ingin
mengetahui lebih banyak profil organisasi organisasi yang berhubungan dengan
dunia keradioan di Indonesia. AD / ART ketiga klub (organisasi) tersebut
dapat Anda baca di alamat-alamat URL berikut ini :
AD / ART Indonesian DX Club (IDXC) :
http://www.geocities.com/Eureka/Enterprises/4311/Indonesian2/ad-art-idxc.htm
AD / ART Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) :
http://www.geocities.com/Eureka/Enterprises/4311/Indonesian2/ad-art-orari.htm
AD / ART Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) :
http://www.geocities.com/Eureka/Enterprises/4311/Indonesian2/ad-art-rapi.htm
Domain Name untuk Situs Web IDXC
Selama ini, tentunya Anda sudah mengetahui Situs Web klub
kita, IDXC, ditempatkan di GeoCities, suatu layanan untuk menempatkan situs
Web secara gratis di Internet. Alamat asli situs Web IDXC sebenarnya cukup
panjang untuk diingat, yaitu : www.geocities.com/Eureka/Enterprises/4311.
Panjangnya alamat tersebut tentunya menyulitkan para pengunjung yang ingin
berkunjung lagi untuk menghafalnya.
Karena itulah, pengurus berinisiatif untuk mendaftarkan
situs Web klub kita ini pada layanan Come.To, suatu layanan yang menyediakan
alamat URL yang lebih mudah diingat oleh pengunjung, dengan awalan :
http://come.to/. Meskipun menggunakan alamat http://come.to/idxc, sebenarnya
situs Web IDXC tetap berada di GeoCities, hanya saja dapat diakses dengan
alamat yang lebih mudah diingat.
Meskipun layanan Come.To telah memudahkan para pengunjung
mengingat alamat suatu situs Web, namun akan lebih baik, atau lebih bonafid-lah
kata lainnya, kalau suatu situs Web memiliki domain name-nya sendiri.
Definisi domain name secara sederhana adalah suatu alamat utama suatu situs
Web, seperti www.geocities.com, www.hotmail.com, atau www.voa.gov.
Akhiran .com, .net, .org, atau .gov itulah yang disebut
sebagai domain name. Untuk memperoleh atau menyewa suatu domain name,
pemilik suatu situs Web diharuskan membayar sejumlah uang sewa untuk
memperoleh domain name yang sesuai dengan nama perusahaan atau organisasinya
pemilik situs Web. Keterbatasan danalah menyebabkan selama dua tahun sejak
online di Internet, situs Web IDXC belum juga memiliki domain name-nya
sendiri. Sejalan dengan pesatnya perkembangan Internet, mulai diadakan
layanan yang khusus menyediakan domain name secara gratis.
Meskipun, bagi situs-situs Web yang menggunakan layanan ini
diharuskan untuk menampilkan iklan dari layanan tersebut. Layanan yang baru
pertama kalinya ada di Internet tersebut diadakan oleh Name Zero. Dengan
adanya layanan domain name gratis dari Name Zero itu, maka sejak pertengahan
bulan April yang lalu, situs Web IDXC telah dapat diakses menggunakan alamat
yang selain lebih mudah diingat, namun juga lebih representatif, yaitu di alamat :
www.idxc.org.
Meskipun, Anda harus memaklumi, apabila menemukan tampilan
iklan pada layar komputer Anda pada saat mengakses situs Web IDXC menggunakan
alamat di atas. Dengan alamat baru situs Web IDXC itu, diharapkan jumlah
pengunjung akan meningkat, termasuk tentunya Anda sebagai salah seorang
pengunjung tersebut !! (AIG)
Situs Web IDXC Bergabung dengan Web Ring
Sejak pertengahan bulan Maret yang lalu, Situs Web IDXC
telah bergabung dengan "Amateur Radio Web Ring". Web Ring, secara sederhana,
dapat didefinisikan sebagai perkumpulan sejumlah situs Web yang memiliki
tema atau subyek yang sama, untuk kemudian situs-situs Web tersebut membuat
link atau hubungan di antara mereka membentuk link berantai. Karena itulah
dinamakan Web ring. Sebenarnya, terdapat puluhan Web ring bertemakan
keradioan di Internet saat ini.
Pengasuh memilih Amateur Radio Web Ring dengan pertimbangan
Web ring ini merupakan Web ring bertemakan dunia keradioan yang paling banyak
jumlah anggotanya dibandingkan dengan Web ring bertemakan keradioan lainnya.
Apabila Web ring bertemakan keradioan lainnya rata-rata hanya memiliki jumlah puluhan
anggota, Amateur Radio Web Ring pada saat ini telah menghubungkan hampir
2000 situs Web (anggota) membentuk suatu Web ring.
Dengan bergabungnya situs Web IDXC pada Amateur Radio Web
Ring, diharapkan dapat menjadi suatu sarana promosi untuk meningkatkan jumlah
pengunjung ke situs Web IDXC. Fasilitas Web ring tersebut dapat Anda lihat
tampilannya di bagian bawah halaman utama situs Web IDXC. (AIG)
Pemuatan Foto Anggota di Situs Web IDXC
Pada kesempatan ini kembali akan pengurus umumkan nama-nama
rekan anggota yang fotonya telah online di Home page IDXC. Bagi Anda yang
mengirimkan pas foto berwarna, pemuatan fotonya di Internet kami ubah ke
dalam tampilan hitam putih, dengan pertimbangan untuk mempercepat waktu
aksesnya, karena gambar berwarna membutuhkan waktu lebih lama untuk
mengaksesnya. Berikut ini, daftar tambahan nama-nama rekan anggota yang pas
fotonya telah online, dan dapat diakses dari Situs Web IDXC, dengan urutan
sesuai dengan anggotanya :
1. (IDXC-0002/INS) Drs. Herbert Sunu B.
2. (IDXC-0009/INS) Fadly Santar
3. (IDXC-0099/INS) Kustiyono
4. (IDXC-0121/INS) Herman Firdaus
5. (IDXC-0254/INS) Abdul Wahid
6. (IDXC-0284/INS) Regina U. Keraf
7. (IDXC-0289/INS) Muhammad Syifa'
8. (IDXC-0290/INS) Udiy Mannan
Dengan dimuatnya ke-8 pas foto anggota IDXC di atas, maka
hingga saat ini jumlah total anggota IDXC yang fotonya telah on line di
Internet telah mencapai jumlah 121 anggota. Bagi rekan-rekan anggota lain
yang belum berpartisipasi, selalu pengurus nantikan partisipasi Anda.
Syaratnya mudah, cukup Anda kirimkan foto atau pas foto Anda (ukurannya
bebas). Boleh berwarna atau hitam - putih, ke alamat redaksi di : P.O. Box
2001 DPPS, Depok 16432, Jabar. Atau bisa juga Anda scan sendiri foto Anda,
untuk selanjutnya Anda kirim lewat e-mail ke : akbarig@centrin.net.id. (AIG)
Berita dari Internet
Land Reform di Dunia Media Elektronik
Bagi anda yang berdomisili di Jakarta, coba sekali-sekali
berjalan di depan bekas kantor Deppen. Di sana, terpampang sebuah spanduk
yang tertulis bahwa 85% bangsa Indonesia ada di pedesaan dan mereka berhak
untuk memperoleh informasi (termasuk harusnya berekspresi dan berinteraksi --
komunikasi dua arah). Bagaimanakah cara kita menyampaikan informasi ke rakyat
pedesaan tersebut ? Cara apa yang paling efisien ?
Melalui Koran Masuk Desa ? Berapa persenkah dari bangsa ini
yang bisa membaca koran ? Statistik BPS menunjukkan 20-30% tenaga kerja tidak
pernah sekolah SD dan sebagian tidak lulus SD !! Dan mereka jumlahnya jutaan.
Bagaimana mungkin, mereka membaca ? Media tanpa membaca tampaknya akan jauh
lebih efisien dibanding media baca tulis. Artinya, cara yang paling efisien,
murah untuk memberdayakan bangsa ini kemungkinan adalah melalui media suara
dan gambar seperti radio dan televisi, yang lebih mudah dicerna bagi mereka
yang tidak berpendidikan maupun yang hanya berpendidikan SD.
Apabila diperhatikan, baik media elektronik radio maupun
televisi keduanya menggunakan media gelombang radio. Peralatan penerima
radio tampaknya cukup terjangkau bagi rakyat di pedesaan. Sekarang
masalahnya, yang ada tinggal alokasi frekuensi di udara Indonesia. Urusan
bisa seru karena benda satu ini merupakan sumber daya alam yang "terbatas".
Di Indonesia, udara pada umumnya diidentikkan dengan sarana transportasi
udara. Rupanya, di zaman milenium baru ini, udara juga merupakan media
transportasi informasi yang tidak kalah strategisnya dengan sarana
transportasi yang dibuat Pak Habibie.
Kalau kita mengacu ke UUD 45, pada dasarnya sumber daya
alam yang strategis bagi kehidupan bangsa Indonesia seperti tanah, tambang
termasuk udara dikuasasi negara. Pertanyaannya selanjutnya, Negara tersebut
siapa ? Apakah MPR ? apakah DPR ? apakah badan eksekutif ? apakah operator ?
apakah penyelenggara radio siaran ? Bagaimana mapping antara negara ke
rakyat ? Di sinilah barangkali kunci utamanya. Kalau kita melihat semangat
yang terkandung di dalam Undang-Undang Nomor 36, Tahun 1999, Bidang
Telekomunikasi, tampak sekali bahwa negara di-map kepada rakyat dalam bentuk
badan usaha.
Artinya tak akan ada lagi monopoli operator, seperti Telkom
dan Indosat. Mungkinkah hal ini terjadi di dunia siaran radio dan televisi ?
Artinya bukan hanya para pengusaha besar yang yang mampu membuat peralatan
radio dengan kekuatan pancar hingga 100 kiloWatt, akan tetapi rakyat kecil di
pedesaan pun dimudahkan untuk membuat pemancar radio siaran dengan kekuatan 10
Watt saja. Bagi Anda yang anggota ORARI, saya yakin Anda dapat membuat
pemancar berkekuatan 10 Watt dalam waktu 1-2 hari saja, apalagi dengan
modulasi AM di band MW dan SW.
Bayangkan dampaknya jika dimungkinkan dibangun radio-radio
pemancar kecil atau kelas 10 Watt-an di pedesaan yang dioperasikan
masyarakat itu sendiri. Kira-kira miriplah dengan konsep koperasi dalam
dunia ekonomi konsep radio masyarakat atau community radio, akan merupakan
terobosan luar biasa di dunia informasi elektronik di dalam rangka
memberdayakan bangsa dari sisi informasi dan pengetahuan. Dengan radio
masyarakat yang kecil, mandiri dan terdistribusi itu, masyarakat dapat
saling belajar melalui radio, karena memang radio tersebut dibangun dan
dioperasikan sendiri oleh masyarakat desa.
Barangkali identik dengan konsep balai desa tempat masyarakat
berkumpul, hingga pembinaan karang-karang taruna secara elektronik lewat radio
yang dioperasikan karang taruna tersebut. Yang perlu ditekankan konsep radio
masyarakat atau public broadcasting, yang sifatnya bukan hanya merupakan
komunikasi satu arah yang represif, tapi merupakan komunikasi dua arah juga
yang interaktif di antara masyarakat pedesaan tersebut. Jadi betul-betul dari
rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Kontrol kualitas dapat dilakukan
secara kolektif oleh masyarakat itu sendiri.
Tentunya, akan lebih seru lagi cerita ini, apabila
dimungkinkan dibangun jaringan radio masyarakat. Semua ini, Insya Allah,
memungkinkan konsep "bottom-up community based development" akan dapat
terbentuk. Sehingga pembangunan dapat berjalan secara mandiri dan
sustainable, jika kita semua setuju dengan konsep pemberdayaan informasi
atau pengetahuan rakyat melalui konsep community radio, tinggal masalah
selanjutnya adalah masalah alokasi frekuensi yang notabene dikuasai negara.
Negara yang mana ?
Mari kita lihat lebih lanjut beberapa konsep atau pola
pikir di bawah ini. Di dalam dunia komersial, kita mengenal yang namanya
"market development" (atau marketing). Marketing, di dalam bahasa sederhananya,
merupakan "sedekah" untuk memperoleh rezeki yang lebih besar lagi. Bahkan,
pada tingkat negara yang besar, alokasi dana untuk pembangunan masyarakat
tidak sedikit. Sekarang ini, banyak dana-dana bantuan grant (bukan utang
luar negeri) dari luar negeri melalui berbagai lembaga seperti CIDA, JICA,
USAID, DAAD, atau AUSAID.
Sederhananya, mereka melakukan sedekah dari keuntungan yang
mereka keruk selama ini dari Indonesia. Tak ada satupun grant dari luar
negeri yang lebih besar dari keuntungan yang mereka keruk dari Indonesia.
Dan dapat dijamin, bahwa negara yang diuntungkan oleh Indonesia dijamin akan
mau menyisihkan sedikit dana berbentuk grant untuk membangun komunitas atau
masyarakat Indonesia. Hal yang hampir mirip terjadi di bidang pertanahan --
saat ini dikenal konsep Land reform -- di mana dalam sebuah wilayah ada
pendudukan tanpa izin oleh kelompok rakyat kecil secara ilegal.
Oleh negara, hal tersebut kemudian dilegalkan secara hukum
melalui land reform untuk kepentingan rakyat kecil itu sendiri. Hal yang
sama bisa juga sebetulnya dianalogikan di duna informasi elektronik, dalam
hal ini alokasi frekuensi. Memang saya akui, bahwa frekuensi juga dilihat sebagai
komoditi yang sangat strategis. Alokasi frekuensi memang terbatas, sama
dengan tanah yang juga terbatas. Akan tetapi bukan berarti bahwa semua
alokasi frekuensi hanya bisa dipakai oleh the haves, konglomerat, atau
operator telekomunikasi.
Sudah selayaknyalah, ada alokasi frekuensi untuk bangsa
kita di daerah pedesaan yang bisa membangun pemancar radionya sendiri.
Mungkinkah kita melakukan frequency reform seperti halnya land reform ?
Berikanlah alokasi frekuensi untuk community radio di daerah, dengan daya
pancar kecil, 10 Watt-an, misalnya. Sama halnya dengan land reform, tidak
seluruh frekuensi yang ada diberlakukan frequency reform, cukup frekuensi
radio siaran, terutama mungkin di MW dan SW yang teknologinya relatif rendah
untuk komunikasi satu arah dalam wilayah terbatas.
Untuk komunikasi dua arah, dipergunakan frekuensi ORARI dan
frekuensi Citizen Band. Kemudahan izin perlu dipikirkan dengan memberikan
koridor teknologi, dan sebaiknya tanpa pembebanan biaya lisensi yang tinggi.
Pada saat ini, Internet dengan jumlah pengguna ratusan ribu masih berat untuk
memberdayakan daerah khususnya daerah-daerah terpencil. Saya yakin, bagi
Indonesia, dunia informasi elektronik khususnya radio dan TV, masih merupakan
media alternatif bagi pemberdayaan rakyat, terutama di daerah, di samping
koran.
Mudah-mudahan, konsep "community radio" atau "public
broadcasting" ini dapat menjadi suatu alternatif solusi bagi pemberdayaan
bangsa kita menuju "knowledge based society". (Penulis : Onno W. Purbo,
pengamat teknologi informasi dan Pakar Internet ITB / Sumber : www.Detik.Com
/ AIG)