Perforasi
Rencana penerbitan perangko tahun 2000, seperti terbaca
pada papan pengumuman di Gedung Filateli, Jalan Pos No.2, Jakarta 10710 :
05-06-2000 : Peduli Lingkungan (Ecophila)
29-06-2000 : Post - 21 (Post in the 21st Century)
01-07-2000 : Olimpiade XVII
13-08-2000 : Worldwide Fund for Nature (WWF)
15-08-2000 : Indonesia 2000 #5
17-08-2000 : Dwi Tunggal Pemimpin Republik Indonesia
24-10-2000 : Tahun Internasional PBB
28-10-2000 : Pakaian Adat
01-11-2000 : Seniman Indonesia
Apa sebab 27 September diperingati sebagai Hari
Bakti Pos dan Telekomunikasi ? karena pada tanggal 27 September 1945
Angkatan Muda PTT melakukan perebutan Gedung Kantor Pusat Telegrap dan
Telepon (PTT) dari tangan Jepang. Peristiwa heroik itu memicu gerakan
patriotik di Bandung dan sekitarnya. (Swara Fila / SAS)
Jenis-jenis Prangko
1. Prangko Definitif (pada edisi 10 (1) kami menyebutnya
sebagai perangko reguler) yaitu : jenis perangko yang penerbitannya hanya
dimaksudkan untuk pelunasan biaya pengiriman surat dan dapat dicetak ulang.
Contoh : prangko seri Ucapan Selamat.
2. Prangko Istimewa yaitu : jenis prangko yang diterbitkan
untuk menarik perhatian masyarakat kepada hal-hal tertentu. Prangko ini
dicetak dalam jumlah terbatas, dan tidak dapat dicetak ulang. Contoh :
prangko dengan tema pelestarian satwa yang perlu dilindungi, seri Margasatwa.
3. Prangko Peringatan : jenis prangko yang diterbitkan
untuk memperingati suatu peristiwa. Jumlah yang dicetak, masa jual, dan laku
seperti perangko istimewa. Bahkan penerbitannya hanya diperbolehkan dalam
kelipatan 25 tahun. Contoh : prangko seri 50 Tahun Penerbangan Indonesia.
4. Prangko Amal. Sesuai dengan namanya, pada jenis prangko
tersebut ada harga tambahan yang dituliskan dengan angka lebih kecil di
samping harga nominal prangko. Setelah terkumpul, jumlah harga tambahan
tersebut akan diserahkan kepada badan-badan sosial yang terkait. Contoh :
prangko seri Bencana Alam. (Kak Adit / Swara Fila / SAS)
Alamat-alamat Divisi Filateli Pos Indonesia
Alamat Divisi Filateli Pos Indonesia Pusat dan unit unitnya
di daerah, selain yang sudah dimuat di Surat Anda edisi 10 (2) :
1. Pusat -- Jalan Cilaki No.73, Bandung 40115, Jawa Barat
Telp : (022) 4206847, 4208917, 4219742 -- Fax : (022) 4202086
E-mail : kdivfil@pos.wasantara.net.id
2. Medan -- Jalan Pos No.1, Medan 20111, Sumatra Utara
Telp : (061) 568940 -- Fax : (061) 515633
E-mail : 200fil@medan.wasantara.net.id
3. Jakarta -- Jalan Pos No.2, Jakarta 10710
Telp / Fax : (021) 3861787
E-mail : 100kfil@jakarta.wasantara.net.id
4. Denpasar -- Jalan Raya Puputan, Denpasar 80235, Bali
Telp : (0361) 2235566 -- Fax : (0361) 226584
E-mail : filateli@denpasar.wasantara.net.id
5. Bandung -- Jalan Asia-Afrika No.49, Bandung 40111, Jawa Barat
Telp (022) 4207081-82 -- Fax : (022) 440725
E-mail : divfil@bandung.wasantara.net.id
6. Semarang -- Jalan M.T. Haryono No.878, Semarang 50242, Jateng
Telp : (024) 311563-64 -- Fax : (024) 311563
E-mail : divfil@semarang.wasantara.net.id
7. Yogyakarta -- Jalan Senopati No.2, Yogyakarta 55121, DIY
Telp : (0274) 375890 -- Fax : (0274) 377322
E-mail : divfil@yogya.wasantara.net.id
8. Makassar -- Jalan Slamet Riyadi No.10, Makassar 90111, Sulsel
Telp : (0411) 323180 -- Fax : (0411) 324192
E-mail : 900undivfil@upandang.wasantara.net.id
Menanggapi tulisan di edisi 10 (1) tentang cara melepas
prangko dengan menggunting dan merendamnya dalam air, saya punya kiat lain.
Ide ini timbul karena persoalan dengan tempat di mana prangko yang akan saya
lepas itu menempel. Kalau cuma amplop biasa, tak apalah digunting, tapi
bagaimana kalau prangko itu menempel di sampul belakang Dirgantara ? Ide itu
juga muncul sehubungan dengan cara merekat prangko, dengan menekannya pada
busa atau spon basah. Jelasnya, eksperimen saya cukup berhasil.
Cari bahan yang mudah menyerap air, seperti karpet, spon
tipis, atau kain. Potong bahan itu dengan ukuran lebih kecil dari prangko
yang akan kita lepas. Misalnya, ukuran prangko 25x30 mm, maka ukuran bahan
itu 24x29 mm, jadi selisihnya lebih-kurang 1-2 mm. Bahan itu kita basahi
dengan air, lalu ditempelkan pada tengah tengah prangko. Secara kapiler, air
sedikit demi sedikit akan meresap ke dalam prangko berikut lemnya. Apabila
sudah cukup basah, apalagi kalau lemnya tidak "bandel", prangko itu akan
mudah dilepas dari tempatnya. Langkah selanjutnya adalah mengeringkan
prangko dan Dirgantara-nya. Silakan mencoba !! (Mujiantoro, IDXC 0201/INS)