DXperimen
Yang namanya DXing mesti punya kiat-kiat khusus, terutama
di negeri yang rata-rata pesawat penerimanya cuma dari kelas amatir, seperti
Indonesia ini. Pesawat penerima digital yang dimiliki para anggota IDXC pun
masih bisa dihitung dengan jari tangan plus taki, padahal itupun cuma yang
ukuran atau tipe portabel, misal Grundig YB400, Sony ICF-SW30, Sangean
ATS404, atau sekelasnya, yang mereknya tidak begitu populer. Banyak juga
yang pakai merek Sony dari kelas compo, seperti CFS-1133S, dengan tambahan
kabel panjang beberapa meter sebagai antena, selain teleskopiknya.
Penulis pada saat ini memanfaatkan pesawat penerima tersebut
untuk urusan monitoring stasiun stasiun besar, seperti Suara Amerika, Suara
Jerman DW, Radio Nederland, ataupun untuk ber-DX, bak mencari kutu stasiun
kecil atau pemancar stasiun relai, yang kadang kadang saja nyasar tertangkap
antena. Pakai jenis digital memang enak, langsung bisa tahu frekuensinya,
cuma dari kenyamanan ber-DX rasanya kurang nikmat. Mungkin karena kurang
berkeringat, begitu. Bisa jadi, pendahulu pendahulu kita merasakan juga
kekurang nikmatan itu.
Kalau Anda lihat di halaman dua edisi ini, ada gambar QSL
dari stasiun The Voice of Mongolia, Ulaanbaatar, dari negeri yang terjepit
di antara Cina dan Siberia, Rusia. Terus terang, penulis merasa "surprise"
sewaktu mendengar suara penyiarnya yang masih asing, karena memang belum
pernah penulis dengar sebelumnya. Biasanya, perasaan semacam itulah yang
dialami DXer sewaktu menangkap buruannya yang langka, juga jarang terbaca
datanya di media-media DX luar.
Penulis terangkan di dalam surat pengantar laporan penerimaan
siarannya, bahwa penulis sudah lama berusaha menangkap sinyal mereka, malahan
dengan pesawat penerima digital Sony ICF SW-30. Namun belum pernah berhasil.
Mungkin memang bukan hal yang aneh, karena bisa saja sinyalnya yang baru
sekarang ini mau mampir ke tempat penulis. Yang jelas, penulis berpendapat
DXing lebih mementingkan ketekunan dari pada perangkat kerasnya. Selain itu,
ada yang penulis anggap kiat khusus, dalam hal ini perangkat yang namanya
antena.
Sebagai penguat daya tangkap antena, penulis pakai earphone
yang mati sebelah speakernya. Jack earphone-nya dijepitkan dengan klip ke
batangan antena pesawat penerima. Apakah itu mampu menambah kemampuan sang
antena, penulis sendiri tak yakin. Sebenarnya, sebelum dipasang di pesawat
penerima, earphone itu pernah penulis pakai untuk pengganti antena dalam
pesawat televisi. Hasilnya memang bagus, dalam arti terang, baik gambar
maupun suaranya. Walaupun sudah tentu belum menyamai antena dalam beneran,
apalagi antena luar.
Mungkin ada rekan yang bisa memberi penjelasan tentang
tabiat antena earphone ini ? Sekalian juga penulis himbau agar rekan-rekan
yang punya pengalaman pengalaman yang unik dalam DXing, jangan segan-segan
untuk menuangkannya dalam tulisan dan mengirimkannya ke redaksi. Biasakanlah untuk
menulls, karena menulis sama dengan berbicara kepada seseorang, bahkan
dengan banyak orang sekaligus, alias berpidato. Bedanya, Anda tetap tidak
terlihat oleh pendengar cerita Anda. Salam DX !! (SAS)