Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 10 No 2 Mar-Apr 2000
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Perforasi
DirgaNet
Aktif
Tokoh Kita
Citizen Band
DXperimen
Laporan Berita
Profil Stasiun
Review Top 50
Redaksi

Volume 10
  DXperimen

Yang namanya DXing mesti punya kiat-kiat khusus, terutama di negeri yang rata-rata pesawat penerimanya cuma dari kelas amatir, seperti Indonesia ini. Pesawat penerima digital yang dimiliki para anggota IDXC pun masih bisa dihitung dengan jari tangan plus taki, padahal itupun cuma yang ukuran atau tipe portabel, misal Grundig YB400, Sony ICF-SW30, Sangean ATS404, atau sekelasnya, yang mereknya tidak begitu populer. Banyak juga yang pakai merek Sony dari kelas compo, seperti CFS-1133S, dengan tambahan kabel panjang beberapa meter sebagai antena, selain teleskopiknya.

Penulis pada saat ini memanfaatkan pesawat penerima tersebut untuk urusan monitoring stasiun stasiun besar, seperti Suara Amerika, Suara Jerman DW, Radio Nederland, ataupun untuk ber-DX, bak mencari kutu stasiun kecil atau pemancar stasiun relai, yang kadang kadang saja nyasar tertangkap antena. Pakai jenis digital memang enak, langsung bisa tahu frekuensinya, cuma dari kenyamanan ber-DX rasanya kurang nikmat. Mungkin karena kurang berkeringat, begitu. Bisa jadi, pendahulu pendahulu kita merasakan juga kekurang nikmatan itu.

Kalau Anda lihat di halaman dua edisi ini, ada gambar QSL dari stasiun The Voice of Mongolia, Ulaanbaatar, dari negeri yang terjepit di antara Cina dan Siberia, Rusia. Terus terang, penulis merasa "surprise" sewaktu mendengar suara penyiarnya yang masih asing, karena memang belum pernah penulis dengar sebelumnya. Biasanya, perasaan semacam itulah yang dialami DXer sewaktu menangkap buruannya yang langka, juga jarang terbaca datanya di media-media DX luar.

Penulis terangkan di dalam surat pengantar laporan penerimaan siarannya, bahwa penulis sudah lama berusaha menangkap sinyal mereka, malahan dengan pesawat penerima digital Sony ICF SW-30. Namun belum pernah berhasil. Mungkin memang bukan hal yang aneh, karena bisa saja sinyalnya yang baru sekarang ini mau mampir ke tempat penulis. Yang jelas, penulis berpendapat DXing lebih mementingkan ketekunan dari pada perangkat kerasnya. Selain itu, ada yang penulis anggap kiat khusus, dalam hal ini perangkat yang namanya antena.

Sebagai penguat daya tangkap antena, penulis pakai earphone yang mati sebelah speakernya. Jack earphone-nya dijepitkan dengan klip ke batangan antena pesawat penerima. Apakah itu mampu menambah kemampuan sang antena, penulis sendiri tak yakin. Sebenarnya, sebelum dipasang di pesawat penerima, earphone itu pernah penulis pakai untuk pengganti antena dalam pesawat televisi. Hasilnya memang bagus, dalam arti terang, baik gambar maupun suaranya. Walaupun sudah tentu belum menyamai antena dalam beneran, apalagi antena luar.

Mungkin ada rekan yang bisa memberi penjelasan tentang tabiat antena earphone ini ? Sekalian juga penulis himbau agar rekan-rekan yang punya pengalaman pengalaman yang unik dalam DXing, jangan segan-segan untuk menuangkannya dalam tulisan dan mengirimkannya ke redaksi. Biasakanlah untuk menulls, karena menulis sama dengan berbicara kepada seseorang, bahkan dengan banyak orang sekaligus, alias berpidato. Bedanya, Anda tetap tidak terlihat oleh pendengar cerita Anda. Salam DX !! (SAS)

 
Dirgantara Online - Vol 10 No 2 Mar-Apr 2000
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2010 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space