Tokoh Kita
Di Udara Andi Azis Taba Ketemu Jodohnya
Jodoh, rezeki, dan kematian adalah rahasia Tuhan yang sampai
kapanpun manusia tidak akan mampu menebak kapan dan di mana akan terjadinya.
Misteri tersebut hingga saat ini masih tetap menyelimuti manusia, dan mereka
dihadapkan untuk berusaha mencari jawaban atas misteri tersebut. Hidup
berputar laksana roda, rezeki seseorang tidak dapat ditebak, apakah itu
harta, pangkat, maupun kehormatan. Sangat mudah bagi seseorang sampai
terhempas pada kondisi tidak memiliki apapun. Terenggut semua apapun yang
dimilikinya.
Yang dilakukan manusia sekadar menjalani hidup ini apa
adanya, dengan tetap melakukan usaha dan ikhtiar ke arah kemungkinan terbaik.
Tidak ada manusia di bumi ini mampu mengetahui sebelumnya akan hal jodohnya,
dan kapan saat dia menjalani prosesi yang teramat sakral itu. Ada yang sudah
berpacaran berbilang tahun, namun pada akhirnya hanya karena suatu alasan
sepele bubar semua jalinan cinta kasih yang telah mereka bina bersama.
Begitu mudahnya bagaikan membalik telapak tangan.
Akan tetapi terkadang pula, hanya karena faktor kebetulan
berjumpa sesaat, malah berlanjut ke pelaminan, walaupun sebelumnya tanpa
melalui tahap berpacaran. Jodoh tidak akan datang begitu saja, tetapi
melewati jalannya sendiri. Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda
dalam menemukan jodoh dan pasangan hidup mereka. Sangat boleh jadi,
pengalaman hidup Andi Azis Taba dalam menjawab misteri hidup, khususnya
jodoh, agak unik. Perjumpaan dengan istrinya, Sophia, hanya dilakukan lewat
udara.
Kala itu, pada tahun 1974, mendengar siaran radio merupakan
salah satu bagian dari keseharian hidup pemuda asal Selayar yang kemudian
menetap di kota Makassar ini. Demikian pula dengan Sophia, yang pada waktu
itu menetap di kota Palopo. Kebiasaan mereka saling berkirim lagu lewat
udara di RRI Nusantara I Ujung Pandang, sekarang RRI Nusantara IV Makassar,
rupanya secara perlahan mampu menumbuhkan getar-getar cinta mereka. Mengingat
jarak yang memisahkan tempat tinggal mereka, maka untuk perjumpaan di darat
terasa sulit dilakukan. Sampai akhirnya, tahun 1977, terjadi perjumpaan di
darat yang pertama, di kota Makassar.
Pertemuan perdana itulah rupanya sebagai awal untuk
menjalin hubungan yang lebih akrab, kemudian mereka berjanji untuk membina
hidup dalam satu rumah tangga yang sakinah. Janji mereka rupanya mendapat
restu dari Allah SWT, dan akad nikah di depan penghulu dilaksanakan pada
tanggal 5 Juli 1987, di kota Palopo. Pasangan yang cukup ideal ini setelah
menjadi suami istri, justru semakin meningkatkan hobby mereka semula,
nguping radio. Yang tadinya hanya mereka lakukan pada siaran radio lokal,
mereka tingkatkan ke siaran stasiun radio luar negeri (SW).
Sulit bagi Andi Azis Taba meninggalkan hobinya. Demikian
pula dengan istrinya, Sophia. Sering pada saat bersamaan terdengar dari
rumah mereka suara siaran dari dua stasiun radio yang berbeda. Sejak aktif
mendengarkan siaran radio, pria dengan nomor keanggotaan IDXC 0272/INS ini
sudah menggunakan enam pesawat radio. Sewaktu masih tinggal di Selayar,
radio warisan orang tua, merk Telefunken ukuran besar, kemudian tiga radio
lagi merek Philips, dan saat ini menggunakan radio merek Tens tipe R-97T,
dan Sony ICF-SW30 digital. Dengan pesawat tersebut, hampir semua siaran
gelombang pendek seksi Indonesia tak ada yang lepas dari monitornya.
Sewaktu ada di rumah, jadwal nguping radio setiap hari
dijalaninya dengan teratur. Mulai pukul 16.00 WITA sampai Suara Jerman turun
dari udara, atau selagi RRI Surabaya frekuensi 585 kHz masih menyiarkan
lagu-lagu nostalgia, yang dipandu oleh Mas Yon dan Andri. Pasangan ini
memang sangat menyenangi acara ini, karena mengingatkan pada masa-masa
mereka berpacaran dulu. Mengingat tugas sehari harinya sebagai tenaga
pengajar di sekolah dasar, kegiatan nguping radio dibatasi hanya sampai
pukul 07.00 Waktu Indonesia Tengah.
Bagi Andi Azis Taba, mendengarkan siaran radio, selain bisa
menambah wawasan, pengetahuan, informasi, dan untuk hiburan, sebagai
penyaluran hobi pun memberi kepuasan tersendiri. Semenjak menggeluti hobi
ini, Andi Azis Taba punya banyak sahabat sahabat pena dari seluruh penjuru
tanah air, yang sudah tentu punya hobi yang sama. Komunikasi sesama
pendengar radio serta dengan stasiun radio luar negeri cukup rutin dan
lancar, sehingga petugas pos pun hapal betul dengan nama dan alamatnya.
Sering surat untuknya harus diikat, karena banyaknya. Hal
mana sempat menimbulkan pertanyaan kawan-kawan sejawatnya, dari mana saja
surat surat tersebut. Asyiknya hobi nguping radio itu sangat dirasakan oleh
Andi Azis Taba manakala bisa bertemu dengan sesama pendengar atau penyiar.
Terasa langsung akrab, meski tidak pernah jumpa muka sebelumnya, dan
perbincangan pun lancar saja. Profesi sebagai tenaga pendidik ternyata juga
sejalan dengan hobinya, karena informasi yang diperoleh melalui siaran radio
sangat membantu dalam mentransfer ilmu pengetahuan ke murid muridnya.
Juga memberikan kemungkinan untuk selalu mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan dari segi kehidupan lainnya secara lebih dini
dan lebih akurat. Persamaan hobi pasangan suami istri ini tidak menimbulkan
masalah, bahkan saling menunjang. Bila salah satu harus ke luar rumah untuk
suatu tugas, dan tidak bisa memenuhi jadwal nguping radionya, mereka
bersepakat agar yang lain ganti memonitor untuknya. Hobi pasangan ini
membawa mereka pada pilihan gaya hidupnya. Jangan heran, kalau pada suatu
saat bertemu mereka, kemudian sewaktu waktu sang suami yang berkaca mata
minus empat ini mengeluarkan radio dari baiik rompi atau jaketnya, karena
memenuhi jadwal rutinnya. (Yaya)