Perforasi
Sisi Lain Kegunaan Perangko sebagai Media Informasi
Seperti telah disinggung dalam uraian terdahulu, bahwa
perangko adalah suatu tanda (signal evidence). Sebagai suatu tanda, di
satu pihak, perangko menyatakan ongkos kirim (postage) di daiam kedudukannya
sebagai bagian dari "postal services as whole", sebagai benda pos. Di lain
pihak, perangko sebagai suatu tanda untuk menyatakan barang sesuatu, yakni
sebagai alat atau saluran (tool, means, medium, channel) yang mengandung
suatu pesan atau komunike yang lebih luas lagi sifat, serta isi, maupun
temanya sebagai media komunikasi. Pengertian komunikasi massa disini menurut
Oey Hong Lee adalah komunikasi yang menggunakan alat-alat komunikasi massa
yang ditujukan kepada massa.
1. Perangko sebagai Gejala Komunikasi
Media komunikasi secara keseluruhan adalah suatu lembaga
masyarakat, yang di dalam sosiologi sebagai suatu sistem khusus dari
aktivitas aktivitas bersama dari kelompok kelompok manusia dalam rangka
kehidupan suatu masyarakat (Prof. Dr. Koentjoroningrat, Pengantar Antropologi).
Pengertian lembaga di sini dipakai daiam pengertiannya sebagai suatu sistem
aktivitas kemasyarakatan, yang dalam bahasa asingnya disebut "institution".
Media komunikasi sebagai aktivitas kemasyarakatan ataupun lembaga masyarakat
mempunyai hubungan timbal balik dengan aktivitas kemasyarakatan lain.
Artinya, media tersebut di satu pihak diadakan atau
ditimbulkan, diberikan bentuk, atau diubah, dikembangkan, serta ditiadakan oleh
manusia manusia sebagai anggota masyarakat tadi. Atau dengan kata lain,
hakekat, serta fungsi, dan tugas kewajibannya ditentukan oleh masyarakat. Di
pihak lain, media tersebut memberi bentuk atau corak, bahkan mengubah sama
sekali masyarakat di mana media itu hidup dan berkembang. Manusia
sebagai anggota masyarakat dalam kehidupannya sering bergantung satu sama
lain. Juga dalam hasrat hendak memenuhi dorongan atau naluri melangsungkan
keturunan, manusia harus mencari kawan hidup sebagai suami atau istri.
Seiain hal itu, beberapa kecenderungan sosial, hasrat
meniru, bergaul, dan sebagainya yang kesemuanya menunjukkan motif hidup
bermasyarakat tadi. Salah satu di antara kecenderungan sosial yang merupakan
unsur pembentuk masyarakat, nampak pula dalam hakekat manusia sebagai
makhluk yang serba ingin diberi tahu dan ingin memberi tahu, yang mana
refleksi maupun manifestasinya nampak di dalam sistem bahasa atau "languange".
Bahasa sebagai suatu alat penghubung atau komunikasi yang
sekaligus bisa memenuhi hakikat manusia yang disebutkan tadi, lahir bersamaan
dengan adanya kehidupan manusia bersama. Setiap orang membutuhkan hubungan
sosial dengan lingkungannya, untuk itu diperlukan komunikasi, baik secara
langsung maupun tidak langsung, komunikasi personal maupun komunikasi lewat
media massa. Karena itu, komunikasi memegang peranan penting dalam kehidupan,
sehingga tidak dapat dibayangkan, bahwa kehidupan ini dapat beriangsung
tanpa adanya komunikasi.
Raimond Roos mengatakan, "Part of man's nature is need to
communicate ... we communicate to influence others to make desired responses,
whether we are always aware of it or not. This process has no beginning and
no end, it is ever changing, dinamic, and mutual". (Raimond S. Ross,
Persuasion : Communication and interpersonal Relations, 1974). Selanjutnya,
dari proses pengaruh mempengaruhi itu akan merupakan landasan dari
pembentukan suatu kelompok. Di sinilah proses komunikasi itu merupakan
proses yang bersifat sosial.
Dalam hubungannnya dengan sistem komunikasi, menurut Dr.
Julius E. Lips merupakan, "The simplest medium of communication or the
oldest means of human communication". Banyak kesalahan informasi maupun
interpretasi disebabkan oleh bahasa. Bahasa di sini tidaklah semata mata
bahasa lisan (spoken words), melainkan juga segala bentuk pernyataan lainnya,
seperti bentuk bentuk lambang, simbol simbol gambar, atau yang sejenis
lainnya. Pada prinsipnya, bahasa itu terdiri atas dua golongan dasar. Yang
pertama adalah bahasa yang bisa ditangkap melalui indra pendengaran
(acoustics, sound), dan bahasa yang dapat ditangkap melalui indra
penglihatan {optic, visual).
Sistem yang pertama, pada awal mulanya, dikembangkan oleh
masyarakat agraris, yang mendiami daerah tidak seberapa luas, sedangkan pada
suatu masyarakat yang bersifat nomaden, yang mendiami daerah luas, cenderung
mengembangkan sistem kedua. Kenyataannya, dalam kehidupan sehari-hari, kedua
sistem bahasa tersebut saling melengkapi, dipakai secara bersamaan, baik
oleh golongan masyarakat agraris maupun nomaden. Bahkan di zaman modern
seperti sekarang ini, dengan tingkat teknologi yang semakin canggih,
penggunaan secara kombinasi dari kedua sistem bahasa tadi (accoustic and
optical system) sudah dalam kemasan yang sangat unik, seperti nampak dalam
film, televisi, dan Internet (audio visual).
Bertolak dan sistem daya indra penglihatan (optical system),
yakni sistem yang mula-mula dikembangkan oleh masyarakat yang mendiami daerah
yang relatif luas, dengan mata pencaharian berburu. Sehingga di dalam gerak
perjuangan hidupnya senantiasa berpindah dari satu tempat ke tempat lain,
masyarakat tersebut mengadakan hubungan atau berkomunikasi dengan menggunakan
segala sesuatu atau alat yang mungkin bisa dilihat dengan mata telanjang,
dan jarak yang relatif jauh. Seperti api, asap, panah berapi, cermin, dan
sebagainya. Sistem ini oleh Julius E. Lips dinamakan dengan, "Of much wider
distribution than the acoustic means of communication".
Sistem komunikasi yang memakai prinsip daya penglihatan
tersebut dalam keseluruhannya, meliputi pula pemberian tanda tanda atau
isyarat isyarat pengenal lainnya, seperti gerak tangan, mimik wajah, warna,
pakaian khusus yang menunjukkan kehidupan seeseorang, atau tanda tanda
khusus, seperti bulu burung rajawali untuk seorang kepala suku bangsa Indian
di Amerika Utara, atau bulu burung Cenderawasih untuk kepala suku di Papua.
Makin lama, dalam perkembangannya, makin luas sifat dan macamnya.
Terutama sekali setelah orang mengenal sistem huruf atau
tulisan, banyak sekali tanda tanda yang merupakan gerak tari (verbal symbol)
yang bisa secara lebih luas dinyatakan, dan lebih jauh, banyak pengertian
atau ide-ide baru bisa dirumuskan orang. Apalagi setelah Johan Gutenberg
menemukan mesin cetak pada tahun 1450, jumlah penggandaan maupun sifat
sistem komunikasi dengan prinsip daya penglihatan ini sudah tidak terhitung
banyak dan macamnya.
Banyak lagi peralatan dan media diciptakan orang, sehingga
apalagi kita kenai dengan "printed word" dalam segala manifestasinya, secara
prinsip sudah kita kenal dan dilakukan oleh masyarakat yang masih sederhana
cara hidup maupun tingkat peradabannya. Bahwa salah satu bentuk sistem
komunikasi dengan prinsip penglihatan ini, yang boleh dikatakan paling
efisien dalam hubungannya dengan proses "dessiminating" atau "transmitting" stimulus
adalah komunikasi melalui gambar gambar. Karena untuk dapat memahami suatu
hal yang dinyatakan dengan gambar, dalam batas batas tertentu, orang tidak
perlu memiliki kecakapan membaca dan menulis.
Karena pada dasarnya, gambar-gambar berbicara dengan bahasa
universal, sehingga orang tak perlu, umpamanya, harus mengerti bahasa asing.
Contoh yang bisa kita jumpai dalam kehidupan sehari hari adalah tanda tanda
lalu lintas, yakni tanda yang harus diketahui dan dipatuhi oleh seorang
pemakai jalan umum di darat, terutama oleh para pengemudi kendaraan bermotor.
Keseluruhan tanda tersebut sebenarnya sudah dikenal jauh pada zaman di mana
orang masih hidup mengembara.
Pada waktu itu, orang sudah mengenal di dalam peradabannya,
penggunaan tonggak ataupun batang kayu yang dipancangkan untuk menunjukkan
arah sebagai rambu rambu lalu lintas, yang sekarang ini merupakan suatu
tingkat pengembangan yang telah disempurnakan dan telah dimodernisasikan
sesuai dengan tingkat perkembangan peradaban. Seperti dikatakan oleh Dr.
Julius E. Lips, "Of a more realistic nature are pictures of things they can
speaks for themselves. Thus we observe among the optical medium of
communication a clean trend toward the drawn picture as means of expressing
a message". Dengan demikian, berdasarkan uraian di atas, perangko selain
sebagai "As evidence of prepayment of designated postage", sebenarnya adalah
juga suatu alat atau sumber yang bisa dipakai atau dimanfaatkan dalam
hubungan komunikasi yang luas kepada massa.
2. Perangko sebagai Obyek Ilmu Komunikasi
Tetapi tidak semua alat atau benda yang dengan bahasanya
sendiri bisa atau mampu "menyatakan barang sesuatu" merupakan cakupan atau
obyek ilmu komunikasi. Di dalam perangko sebagai sumber informasi, kita akan
melihat pada tema atau maksud gambarnya, yang selanjutnya dihubungkan
dengan teori-teori, gejaia komunikasi, dan komunikasi massa. Jadi, kita
melihatnya pada apa yang dikandung oleh perangko terutama isi pernyataannya.
Jelas, bukan jenis pertanyaan, "What is a stamp ?", melainkan jenis
pertanyaan yang berbunyi, "What is in a stamp ?", yang kita garis bawahi.
Misalnya perangko peringatan seri Asian Games IV, sebagai
contoh. Seri pertama yang diterbitkan pada tanggal 24 Maret 1962, sebanyak
empat buah, yang dilukis oleh Soeroso. Menyusul kemudian, seri kedua yang
terbit sebanyak lima buah, yang digambar oleh Kartono, Sadjirun, Soeroso,
dan Soemarsono. Perangko ini menggambarkan seorang pemanah berciri khas
Indonesia, dan bertuliskan Asian Games IV, Jakarta 1962, sedangkan seri
kedua, selain bertuliskan sama dengan di atas, pada masing masing prangko
digambarkan para atlet yang akan bertanding dalam cabang lempar cakram,
senam, sepak bola, hoki, dan polo air.
Kesemuanya menggambarkan dan memberi tahu kepada kita dan
dunia, bahwa di Jakarta sedang berlangsung peristiwa besar di bidang olah
raga untuk kawasan negara Asia. Sebuah momentum yang merupakan suatu
peristiwa sangat akbar dan langka waktu itu. Di mana bangsa bangsa di
kawasan Asia, yang baru saja tumbuh dan berkembang, mampu menjadi
penyelenggara pesta olah raga terbesar. (Bersambung) (HSB)