Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 10 No 2 Mar-Apr 2000
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Perforasi
DirgaNet
Aktif
Tokoh Kita
Citizen Band
DXperimen
Laporan Berita
Profil Stasiun
Review Top 50
Redaksi

Volume 10
  Perforasi
Sisi Lain Kegunaan Perangko sebagai Media Informasi

Seperti telah disinggung dalam uraian terdahulu, bahwa perangko adalah suatu tanda (signal evidence). Sebagai suatu tanda, di satu pihak, perangko menyatakan ongkos kirim (postage) di daiam kedudukannya sebagai bagian dari "postal services as whole", sebagai benda pos. Di lain pihak, perangko sebagai suatu tanda untuk menyatakan barang sesuatu, yakni sebagai alat atau saluran (tool, means, medium, channel) yang mengandung suatu pesan atau komunike yang lebih luas lagi sifat, serta isi, maupun temanya sebagai media komunikasi. Pengertian komunikasi massa disini menurut Oey Hong Lee adalah komunikasi yang menggunakan alat-alat komunikasi massa yang ditujukan kepada massa.

1. Perangko sebagai Gejala Komunikasi

Media komunikasi secara keseluruhan adalah suatu lembaga masyarakat, yang di dalam sosiologi sebagai suatu sistem khusus dari aktivitas aktivitas bersama dari kelompok kelompok manusia dalam rangka kehidupan suatu masyarakat (Prof. Dr. Koentjoroningrat, Pengantar Antropologi). Pengertian lembaga di sini dipakai daiam pengertiannya sebagai suatu sistem aktivitas kemasyarakatan, yang dalam bahasa asingnya disebut "institution". Media komunikasi sebagai aktivitas kemasyarakatan ataupun lembaga masyarakat mempunyai hubungan timbal balik dengan aktivitas kemasyarakatan lain.

Artinya, media tersebut di satu pihak diadakan atau ditimbulkan, diberikan bentuk, atau diubah, dikembangkan, serta ditiadakan oleh manusia manusia sebagai anggota masyarakat tadi. Atau dengan kata lain, hakekat, serta fungsi, dan tugas kewajibannya ditentukan oleh masyarakat. Di pihak lain, media tersebut memberi bentuk atau corak, bahkan mengubah sama sekali masyarakat di mana media itu hidup dan berkembang. Manusia sebagai anggota masyarakat dalam kehidupannya sering bergantung satu sama lain. Juga dalam hasrat hendak memenuhi dorongan atau naluri melangsungkan keturunan, manusia harus mencari kawan hidup sebagai suami atau istri.

Seiain hal itu, beberapa kecenderungan sosial, hasrat meniru, bergaul, dan sebagainya yang kesemuanya menunjukkan motif hidup bermasyarakat tadi. Salah satu di antara kecenderungan sosial yang merupakan unsur pembentuk masyarakat, nampak pula dalam hakekat manusia sebagai makhluk yang serba ingin diberi tahu dan ingin memberi tahu, yang mana refleksi maupun manifestasinya nampak di dalam sistem bahasa atau "languange".

Bahasa sebagai suatu alat penghubung atau komunikasi yang sekaligus bisa memenuhi hakikat manusia yang disebutkan tadi, lahir bersamaan dengan adanya kehidupan manusia bersama. Setiap orang membutuhkan hubungan sosial dengan lingkungannya, untuk itu diperlukan komunikasi, baik secara langsung maupun tidak langsung, komunikasi personal maupun komunikasi lewat media massa. Karena itu, komunikasi memegang peranan penting dalam kehidupan, sehingga tidak dapat dibayangkan, bahwa kehidupan ini dapat beriangsung tanpa adanya komunikasi.

Raimond Roos mengatakan, "Part of man's nature is need to communicate ... we communicate to influence others to make desired responses, whether we are always aware of it or not. This process has no beginning and no end, it is ever changing, dinamic, and mutual". (Raimond S. Ross, Persuasion : Communication and interpersonal Relations, 1974). Selanjutnya, dari proses pengaruh mempengaruhi itu akan merupakan landasan dari pembentukan suatu kelompok. Di sinilah proses komunikasi itu merupakan proses yang bersifat sosial.

Dalam hubungannnya dengan sistem komunikasi, menurut Dr. Julius E. Lips merupakan, "The simplest medium of communication or the oldest means of human communication". Banyak kesalahan informasi maupun interpretasi disebabkan oleh bahasa. Bahasa di sini tidaklah semata mata bahasa lisan (spoken words), melainkan juga segala bentuk pernyataan lainnya, seperti bentuk bentuk lambang, simbol simbol gambar, atau yang sejenis lainnya. Pada prinsipnya, bahasa itu terdiri atas dua golongan dasar. Yang pertama adalah bahasa yang bisa ditangkap melalui indra pendengaran (acoustics, sound), dan bahasa yang dapat ditangkap melalui indra penglihatan {optic, visual).

Sistem yang pertama, pada awal mulanya, dikembangkan oleh masyarakat agraris, yang mendiami daerah tidak seberapa luas, sedangkan pada suatu masyarakat yang bersifat nomaden, yang mendiami daerah luas, cenderung mengembangkan sistem kedua. Kenyataannya, dalam kehidupan sehari-hari, kedua sistem bahasa tersebut saling melengkapi, dipakai secara bersamaan, baik oleh golongan masyarakat agraris maupun nomaden. Bahkan di zaman modern seperti sekarang ini, dengan tingkat teknologi yang semakin canggih, penggunaan secara kombinasi dari kedua sistem bahasa tadi (accoustic and optical system) sudah dalam kemasan yang sangat unik, seperti nampak dalam film, televisi, dan Internet (audio visual).

Bertolak dan sistem daya indra penglihatan (optical system), yakni sistem yang mula-mula dikembangkan oleh masyarakat yang mendiami daerah yang relatif luas, dengan mata pencaharian berburu. Sehingga di dalam gerak perjuangan hidupnya senantiasa berpindah dari satu tempat ke tempat lain, masyarakat tersebut mengadakan hubungan atau berkomunikasi dengan menggunakan segala sesuatu atau alat yang mungkin bisa dilihat dengan mata telanjang, dan jarak yang relatif jauh. Seperti api, asap, panah berapi, cermin, dan sebagainya. Sistem ini oleh Julius E. Lips dinamakan dengan, "Of much wider distribution than the acoustic means of communication".

Sistem komunikasi yang memakai prinsip daya penglihatan tersebut dalam keseluruhannya, meliputi pula pemberian tanda tanda atau isyarat isyarat pengenal lainnya, seperti gerak tangan, mimik wajah, warna, pakaian khusus yang menunjukkan kehidupan seeseorang, atau tanda tanda khusus, seperti bulu burung rajawali untuk seorang kepala suku bangsa Indian di Amerika Utara, atau bulu burung Cenderawasih untuk kepala suku di Papua. Makin lama, dalam perkembangannya, makin luas sifat dan macamnya.

Terutama sekali setelah orang mengenal sistem huruf atau tulisan, banyak sekali tanda tanda yang merupakan gerak tari (verbal symbol) yang bisa secara lebih luas dinyatakan, dan lebih jauh, banyak pengertian atau ide-ide baru bisa dirumuskan orang. Apalagi setelah Johan Gutenberg menemukan mesin cetak pada tahun 1450, jumlah penggandaan maupun sifat sistem komunikasi dengan prinsip daya penglihatan ini sudah tidak terhitung banyak dan macamnya.

Banyak lagi peralatan dan media diciptakan orang, sehingga apalagi kita kenai dengan "printed word" dalam segala manifestasinya, secara prinsip sudah kita kenal dan dilakukan oleh masyarakat yang masih sederhana cara hidup maupun tingkat peradabannya. Bahwa salah satu bentuk sistem komunikasi dengan prinsip penglihatan ini, yang boleh dikatakan paling efisien dalam hubungannya dengan proses "dessiminating" atau "transmitting" stimulus adalah komunikasi melalui gambar gambar. Karena untuk dapat memahami suatu hal yang dinyatakan dengan gambar, dalam batas batas tertentu, orang tidak perlu memiliki kecakapan membaca dan menulis.

Karena pada dasarnya, gambar-gambar berbicara dengan bahasa universal, sehingga orang tak perlu, umpamanya, harus mengerti bahasa asing. Contoh yang bisa kita jumpai dalam kehidupan sehari hari adalah tanda tanda lalu lintas, yakni tanda yang harus diketahui dan dipatuhi oleh seorang pemakai jalan umum di darat, terutama oleh para pengemudi kendaraan bermotor. Keseluruhan tanda tersebut sebenarnya sudah dikenal jauh pada zaman di mana orang masih hidup mengembara.

Pada waktu itu, orang sudah mengenal di dalam peradabannya, penggunaan tonggak ataupun batang kayu yang dipancangkan untuk menunjukkan arah sebagai rambu rambu lalu lintas, yang sekarang ini merupakan suatu tingkat pengembangan yang telah disempurnakan dan telah dimodernisasikan sesuai dengan tingkat perkembangan peradaban. Seperti dikatakan oleh Dr. Julius E. Lips, "Of a more realistic nature are pictures of things they can speaks for themselves. Thus we observe among the optical medium of communication a clean trend toward the drawn picture as means of expressing a message". Dengan demikian, berdasarkan uraian di atas, perangko selain sebagai "As evidence of prepayment of designated postage", sebenarnya adalah juga suatu alat atau sumber yang bisa dipakai atau dimanfaatkan dalam hubungan komunikasi yang luas kepada massa.

2. Perangko sebagai Obyek Ilmu Komunikasi

Tetapi tidak semua alat atau benda yang dengan bahasanya sendiri bisa atau mampu "menyatakan barang sesuatu" merupakan cakupan atau obyek ilmu komunikasi. Di dalam perangko sebagai sumber informasi, kita akan melihat pada tema atau maksud gambarnya, yang selanjutnya dihubungkan dengan teori-teori, gejaia komunikasi, dan komunikasi massa. Jadi, kita melihatnya pada apa yang dikandung oleh perangko terutama isi pernyataannya. Jelas, bukan jenis pertanyaan, "What is a stamp ?", melainkan jenis pertanyaan yang berbunyi, "What is in a stamp ?", yang kita garis bawahi.

Misalnya perangko peringatan seri Asian Games IV, sebagai contoh. Seri pertama yang diterbitkan pada tanggal 24 Maret 1962, sebanyak empat buah, yang dilukis oleh Soeroso. Menyusul kemudian, seri kedua yang terbit sebanyak lima buah, yang digambar oleh Kartono, Sadjirun, Soeroso, dan Soemarsono. Perangko ini menggambarkan seorang pemanah berciri khas Indonesia, dan bertuliskan Asian Games IV, Jakarta 1962, sedangkan seri kedua, selain bertuliskan sama dengan di atas, pada masing masing prangko digambarkan para atlet yang akan bertanding dalam cabang lempar cakram, senam, sepak bola, hoki, dan polo air.

Kesemuanya menggambarkan dan memberi tahu kepada kita dan dunia, bahwa di Jakarta sedang berlangsung peristiwa besar di bidang olah raga untuk kawasan negara Asia. Sebuah momentum yang merupakan suatu peristiwa sangat akbar dan langka waktu itu. Di mana bangsa bangsa di kawasan Asia, yang baru saja tumbuh dan berkembang, mampu menjadi penyelenggara pesta olah raga terbesar. (Bersambung) (HSB)

 
Dirgantara Online - Vol 10 No 2 Mar-Apr 2000
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space