| |
Indeks
Sapa Redaksi
Perforasi
DirgaNet
Aktif
Tokoh Kita
Citizen Band
DXperimen
Laporan Berita
Profil Stasiun
Review Top 50
Redaksi
Volume 10
|
|
Sapa Redaksi
Sembilan Tahun
Syukurlah, tonggak ke-9 usia klub IDXC akhirnya dapat kita
capai dengan selamat. Menjadi harapan kita semua, baik pengurus maupun
anggota, agar tonggak ini selanjutnya bisa dihiasi dengan prestasi prestasi,
seperti motto klub Unifikasi, Komunikasi, Prestasi. Tanpa prestasi, No way !!
Buat apa kita kumpul-kumpul tanpa menghasilkan sesuatu ? Ada acara yang sudah
direncanakan dan dikemas oleh Aries Subagyo cs, yaitu Temu Pendengar Djokdja
2000, detilnya bisa Anda simak di edisi ini.
Yang ini, kita juga patut mensyukurinya sebagai salah satu
usaha mencapai prestasi tertentu, khususnya untuk klub, dan umumnya untuk
semua SWLer, tanpa pandang usia atau golongan apapun, utamanya demi
silaturahmi. No silaturahmi, No prestasi. Salah satu syarat tercapainya
silaturahmi adaiah keterbukaan, dan itu sudah kami budayakan, misalnya
melalui media ini, berupa kolom Kassa Dirgantara. Bukan untuk pamer, ini lho
anggota kami punya uang sekian sekian, tetapi agar pengirimnya tahu bahwa
kirimannya sampai ke tangan kami dengan selamat.
Selanjutnya, kami pun punya tim pengawas keuangan intern,
yang melalui data~data itu dapat mengeceknya dengan Laporan Keuangan Bulanan.
Itu sedikit tentang prestasi dapur kita. Apakah hal itu profesional atau
tidak, rasanya bukan itu point-nya, yang penting adalah adanya transparansi,
ada keterbukaan. Anda pun bisa ikut serta sebagai anggota dari tim pengawas
keuangan intern, kenapa tidak ?
Kontes DX 2000 IDXC ditutup sesuai jadwalnya, persis pada
tanggal 14 Pebruari 2000. Hasilnya bisa juga Anda simak di halaman lain.
Selamat kepada Jemmy Liwang yang pada saat-saat terakhir, bak pelari
marathon pada kilometer terakhir menjelang finish, melakukan "rush" dengan
QSL QSLnya yang tergolong langka bagi DXer Indonesia. Demikian juga dengan
peserta lain yang menunjukkan adanya peningkatan dalam keseriusan DXer
kita. Sebagai barometer adanya peningkatan itu, bisa Anda lihat juga dalam
pergeseran posisi pada ajang IDXC Top 50, di mana DXer mancanegara pun ikut
nimbrung.
Jangan lupa, AKTIF 1999 tetap diteruskan sampai akhir Juni
2000 untuk pemilihan Master-nya. Kebangkitan kembali pendengar siaran gelombang
pendek di Makassar, begitulah judul salah satu laporan dari daerah. Ada lagi
laporan dari Batam, kemudian pernyataan dari staf Suara Jerman Deutsche Welle
tentang kegiatan kita, cerita yang cukup romantis tentang sepasang merpati
pendengar gelombang pendek, beium lagi Surat Anda, yang kami usahakan selalu
komunikatif bagi pembaca yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Kami
berusaha, Anda yang menilai hasilnya.
Selain input dari rekan-rekan pembaca, tidak kami lupakan
juga peran serta media DX lain, terutama dalam hal monitoring SW, satu dan
lain hal, demi keabsahan data yang kami tampilkan, misalnya dalam SW Siaran
Bahasa Indonesia. Terima kasih kami sampaikan kepada editor Atansi Mapem
Club, Shortwave Desk, Arena GP, SW DX Guide, VOA Guide, Ranesi, On Target,
dan masih banyak lagi yang tak bisa kami tulis semua di sini.
Selain beberapa prestasi itu, ada berita duka tentang
meninggalnya rekan kita, Bapak Hadi Prajitno, IDXC 0014/INS, di Yogyakarta,
dan ibunda rekan Eddy Setiawan di Jakarta. Kami sampaikan pernyataan turut
berbela sungkawa kepada keluarga almarhum dan almarhumah, Semoga arwah
mereka diterima di sisi Tuhan YME sesuai dengan amal ibadahnya.
Amin. (DBR/SAS)
Segenap anggota dan pengurus IDXC menyampaikan turut berbela
sungkawa atas meninggalnya :
Bapak Hadi Prajitno (Yogyakarta)
dan
Ibu Linawati Alianto Saputra (Jakarta)
Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan
pada anggota keluarga yang ditinggalkan, Semoga diberi kekuatan lahir
bathin.
In Memoriam: Bapak Hadi Prajitno, IDXC-0014/INS
Saya sangat terhentak kaget ketika pak Ton menelpon saya,
mengabarkan bahwa Pak Hadi telah meninggalkan kita semua. Redaksi sendiri
mengetahui dari surat yang dikirim buat beliau dikembalikan ke alamat
pengirim, dengan catatan Kem Sip - Nama tersebut telah meninggal dunia
tanggal 1/12/99. Saya mengenal Pak Hadi sudah cukup lama, yaitu sejak saya
masih tinggal di Yogyakarta, dan sudah beberapa kali bertemu beliau. Setiap
kali ada pertemuan yang diadakan oleh IDXC, beliau selalu menyempatkan untuk
datang.
Kehadiran beliau selalu membuat suasana menjadi sumringah
dan ger-geran, karena beliau memang memiliki "sense of humor" yang lumayan
tinggi. Sikap itulah yang membuat saya lebih akrab mengenal beliau, di
samping beliau adalah sosok yang mudah untuk didekati. Lahir pada tanggal 31
Desember 1933 di Sleman, bagian utara kota Yogyakarta, asal salak pondoh.
Nyaris seluruh nafas hidupnya diabdikan pada dunia pendidikan.
Setelah pensiun sebagai guru pegawai negeri sipil, beliau
mengajar di salah satu SLTP Muhammadiyah, sampai menduduki jabatan Kepala
Sekolah, selain sebagai pengurus organisasi Muhammadiyah di kota kelahirannya.
Selain punya bakat seni, beliau juga memiliki hobi menulis, di mana sempat
memenangkan Sayembara Kincir Emas, yang diselenggarakan pemerintah Belanda.
Sebagai pemenang, beliau diberi kesempatan untuk mengunjungi negeri bunga
tulip yang pernah menjajah negerinya.
Mungkin karena keluguan Pak Hadi, yang memang Jowo Asli
Jogja, beliau tidak minta yang macam-macam, tidak neko-neko, bahkan minta
segera pulang lebih awal dari jadwal semestinya yang kurang lebih 2 bulan.
Seperti yang telah diceritakan oleh Mas Asbari maupun Pak Hadi sendiri
kepada saya. Alasan kepulangannya yang di luar jadwal adalah karena sudah
sangat kangen dengan kota gudeg dan kesannya tentang wong Londo yang
angkuh menurutnya.
Pada suatu hari, saya bersama Aries Subagyo pernah
mengunjungi beliau di tempat kerjanya untuk tujuan wawancara. Saat itu, kami
berdua sempat "salah tembak", karena memang ada dua Pak Hadi di situ. Sayang
seribu sayang, mike-nya kebetulan ngadat. Akhirnya, kami bertiga hanya
ngobroi, dibarengi ger-geran, karena humor-humor yang segar. Pertemuan
terakhir dengan beliau adalah saat temu remah dengan Kim, Mi-no dari Radio
Korea Internasional KBS, di Hotel Quality Inn, Yogyakarta, bulan Oktober
1999 (lihat edisi IX (6), halaman 15, gambar bawah - Pak Hadi berdiri di
deretan belakang paling kanan dari bawah jam).
Saya tidak menduga bahwa pertemuan itu merupakan pertemuan
terakhir, karena beliau kemudian menghadap Sang Khalik mendahului kita semua.
Beliau juga meninggalkan seorang istri (mantan atlit panahan nasional dari
Yogyakarta), dua anak, dan tiga cucu. Anak dan menantunya mewarisi dan
meneruskan pengabdian beliau sebagei guru. Selamat Jalan Pak Hadi ... namamu
'kan dikenang selalu, tidak saja oleh kami, teman temanmu, tetapi juga oleh
anak-anak didikmu. Jasamu tiada tara ... pengabdianmu sungguh tanpa pamrih
... Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. (Aji Sukardy, Lampung)
|
|