Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 10 No 1 Jan-Feb 2000
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Perforasi
DirgaNet
Aktif
Citizen Band
Amateur Radio
Pro Anda
IDXC Top 50
Review Top 50
Redaksi

Volume 10
  Amateur Radio
Amatir Radio bukan Cuma untuk Ngobrol di Udara

Sebelum dapat memasuki dunia elektronik radio, seorang calon amatir radio sebaiknya membaca dan mempelajari dahulu isi dan kode etik radio amatir Indonesia. Jika ia betul-betui memahami makna kode etik itu, kemungkinan besar si calon akan menjadi seorang amatir radio yang baik. Pada tahun 1980-an, masih banyak amatir radio yang aktif di jalur dua meter band (144-148 MHz). Saat ini, jalur 80 meter band (3.5-4.0 MHz) dipenuhi oleh mereka yang belum menyandang call sign seperti yang pernah diulas oleh rekan Kustiyono pada salah satu media DX beberapa tahun yang lalu.

Bagaimana seorang anak yang baru berusia 13 tahun berasal dari Israel, 4X4VL, ber-QSO dengan salah seorang waroknya ORARI, Dr. Bambang Hartono, YB2EIZ, mulai dari mode CW hingga pindah ke SSB. Mereka asyik berdialog tentang teknik radio, sekitar pembuatan dan penggunaan power amplifier, sampai ke masalah antena. Frekuensi 2 meter band pada tahun 1980-an memang sedang in di Indonesia, khususnya di ibukota. Boleh dikata, dimana mana, sampai di dalam gangpun dapat dilihat antena Ring O mencuat di udara.

Sebagian pemakainya adalah mereka yang gemar pada suara yang keluar dari pemancar itu, bersih dan hi-fi. Terlebih lagi apabila memanfaatkan mic compresor, sehingga suaranya bisa menyaingi suara para penyiar radio atau televisi. Mic compresor adalah sebuah microphone yang diperkuat dengan pre-amplifier, sehingga suara yang masuk ke pemancar lebih besar daripada apabila mempergunakan mikropon standar. Ada juga yang memakai echo microphone, yaitu sebuah pre-amplifier yang dapat mengubah suara biasa menjadi menggema seperti di dalam gua.

Terdengarnya memang aneh, suara yang keluar jadi menggaung gaung, dan kadang kadang mirip suara hantu. Alat tersebut biasanya dipergunakan oleh mereka dari golongan remaja. Beberapa tahun yang lalu, ada salah seorang amatir radio pernah memakai alat semacam itu. Mungkin suasananya belum seperti sekarang, sewaktu ia mengudara, langsung mendapat teguran dari seorang senior. Dengan alasan, bahwa di ORARI, seseorang mempelajari ilmu dan pembicaraan sedikitnya mengandung hal-hal yang juga menyangkut ilmu. Karena itu, jika ingin ngobrol saja, bukan di sini tempatnya.

Yang dimaksud dengan ilmu di situ adalah mengembangkan ilmu di bidang elektronika, dan merupakan suatu aktivitas yang membantu pemerintah di dalam pengembangan telekomunikasi radio, yang sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No.21 Tahun 1967. Pemancar yang dipergunakan terdiri dari beraneka ragam merk dan bentuk. Tak ketinggalan Handy Talky (HT), yang sesuai dengan namanya dapat dibawa ke mana mana, dengan sumber tenaganya hanya beberapa batere tipe UM3 yang dapat diperoleh dengan mudah.

Daya pancar (output power-nya) kecil sekali, antara 0.5 sampai 5 watt, tetapi dengan bantuan penguat (power booster) bisa ditingkatkan sampai 80 watt. Lain lagi dengan transceiver-nya. Yang disebut Mobile Transceiver, sekaligus bisa dipergunakan sebagai Base Station. Daya yang dipancarkan rata-rata 10-25 watt, tetapi ada juga yang sampai 50 watt. Sebagian besar pesawat tersebut tidak dibuat oleh para amatir radio, melainkan diimpor. Demikian juga dengan boosternya, malah ada yang punya kapasitas sampai 2000 watt.

Sistem antenanya pun juga beraneka ragam. Yang paling sederhana buatan sendiri, Antena Jeruji Sepeda, yang tidak lain dari 0.25 lambda (panjang gelombang). Sebuah reflektor yang sama panjangnya melengkapi antena itu. Biasanya, antena buatan dalam negeri, ring O dan yagi beam juga banyak dipergunakan. Antena impor yang jadi andalan, serta banyak diincar oleh mereka yang berduit ialah log periodic atau 64 elemen cubicle quad. Paling mudah adalah antena mobil yang ditempelkan pada talang air rumah.

Sebuah antena ring O, dengan ketinggian 2 pipa ledeng yang disambungkan, biasanya sudah memenuhi syarat. Tingginya kira-kira 11 meter, tetapi bagi mereka yang senang dengan penampilan, tidak segan-segan mendirikan menara (tower) sampai puluhan meter tingginya. Masih menjadi pertanyaan, apakah ada batas untuk ketinggian antena ? dan apakah diperlukan izin dari pihak yang berwenang untuk itu ? Sebagai teknisi elektronika radio, seorang amatir radio yang menyandang gelar YB dan YC sangat diharapkan untuk:

• Memahami administrasi organisasi, prosedur operasi, dan peraturan radio
• Dapat melayani atau mengirim dan menerima berita dengan baik
• Mempunyai pengetahuan bahasa asing (bahasa Inggris)
• Mempunyai ketrampilan di bidang teknik radio
• Mampu mengirim berita secara morse 8 wpm (words per minute, kata per menit) bagi YC, dan 12 wpm bagi YB

Secara teoritis, seorang amateur radio harus sanggup memperbaiki sendiri radio pemancarnya. Hal ini dapat dilihat pada pemancar home brew (buatan sendiri) yang beroperasi di 80 meter band. Semua alat yang dipergunakan adalah hasil gabungan komponen baru dan bekas. Tetapi hal ini ketinggalan zaman, apabila dibandingkan dengan buatan luar negeri yang tidak hanya berkelas emisi A1 (morse) dan A3 (AM), tetapi juga beremisi tambahan A3J (SSB). Ada komponen mechanical filter yang mempunyai fungsi penting untuk hubungan SSB (Single Side Band).

Alangkah baiknya, apabila pemerintah bisa membantu amatir amatir radio membuat sendiri pemancar yang modern dan sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi mutakhir. Jadi, pesawat pemancar yang diimpor bukan dalam bentuk yang sudah jadi dan siap dioperasikan, tetapi dalam keadaan CKD atau pretelan, sehingga para amatir radio dapat mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya dari penataran, dan membanggakan tanda kecakapannya itu sesuai dengan tingkatnya. (Disusun dari beberapa sumber. Kiriman dari Ir. Hendrik Runtulalo, IDXC 0236/INS)

 
Dirgantara Online - Vol 10 No 1 Jan-Feb 2000
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space