Amateur Radio
Amatir Radio bukan Cuma untuk Ngobrol di Udara
Sebelum dapat memasuki dunia elektronik radio, seorang calon
amatir radio sebaiknya membaca dan mempelajari dahulu isi dan kode etik radio
amatir Indonesia. Jika ia betul-betui memahami makna kode etik itu,
kemungkinan besar si calon akan menjadi seorang amatir radio yang baik. Pada
tahun 1980-an, masih banyak amatir radio yang aktif di jalur dua meter band
(144-148 MHz). Saat ini, jalur 80 meter band (3.5-4.0 MHz) dipenuhi oleh
mereka yang belum menyandang call sign seperti yang pernah diulas oleh rekan
Kustiyono pada salah satu media DX beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana seorang anak yang baru berusia 13 tahun berasal
dari Israel, 4X4VL, ber-QSO dengan salah seorang waroknya ORARI, Dr. Bambang
Hartono, YB2EIZ, mulai dari mode CW hingga pindah ke SSB. Mereka asyik
berdialog tentang teknik radio, sekitar pembuatan dan penggunaan power
amplifier, sampai ke masalah antena. Frekuensi 2 meter band pada tahun 1980-an
memang sedang in di Indonesia, khususnya di ibukota. Boleh dikata, dimana
mana, sampai di dalam gangpun dapat dilihat antena Ring O mencuat di udara.
Sebagian pemakainya adalah mereka yang gemar pada suara
yang keluar dari pemancar itu, bersih dan hi-fi. Terlebih lagi apabila
memanfaatkan mic compresor, sehingga suaranya bisa menyaingi suara para
penyiar radio atau televisi. Mic compresor adalah sebuah microphone yang
diperkuat dengan pre-amplifier, sehingga suara yang masuk ke pemancar
lebih besar daripada apabila mempergunakan mikropon standar. Ada juga yang
memakai echo microphone, yaitu sebuah pre-amplifier yang dapat mengubah
suara biasa menjadi menggema seperti di dalam gua.
Terdengarnya memang aneh, suara yang keluar jadi menggaung
gaung, dan kadang kadang mirip suara hantu. Alat tersebut biasanya
dipergunakan oleh mereka dari golongan remaja. Beberapa tahun yang lalu, ada
salah seorang amatir radio pernah memakai alat semacam itu. Mungkin suasananya
belum seperti sekarang, sewaktu ia mengudara, langsung mendapat teguran dari
seorang senior. Dengan alasan, bahwa di ORARI, seseorang mempelajari ilmu
dan pembicaraan sedikitnya mengandung hal-hal yang juga menyangkut ilmu.
Karena itu, jika ingin ngobrol saja, bukan di sini tempatnya.
Yang dimaksud dengan ilmu di situ adalah mengembangkan ilmu
di bidang elektronika, dan merupakan suatu aktivitas yang membantu pemerintah
di dalam pengembangan telekomunikasi radio, yang sesuai dengan Peraturan
Pemerintah (PP) No.21 Tahun 1967. Pemancar yang dipergunakan terdiri dari
beraneka ragam merk dan bentuk. Tak ketinggalan Handy Talky (HT), yang sesuai
dengan namanya dapat dibawa ke mana mana, dengan sumber tenaganya hanya beberapa
batere tipe UM3 yang dapat diperoleh dengan mudah.
Daya pancar (output power-nya) kecil sekali, antara 0.5
sampai 5 watt, tetapi dengan bantuan penguat (power booster) bisa ditingkatkan
sampai 80 watt. Lain lagi dengan transceiver-nya. Yang disebut Mobile
Transceiver, sekaligus bisa dipergunakan sebagai Base Station. Daya yang
dipancarkan rata-rata 10-25 watt, tetapi ada juga yang sampai 50 watt.
Sebagian besar pesawat tersebut tidak dibuat oleh para amatir radio,
melainkan diimpor. Demikian juga dengan boosternya, malah ada yang punya
kapasitas sampai 2000 watt.
Sistem antenanya pun juga beraneka ragam. Yang paling
sederhana buatan sendiri, Antena Jeruji Sepeda, yang tidak lain dari 0.25
lambda (panjang gelombang). Sebuah reflektor yang sama panjangnya melengkapi
antena itu. Biasanya, antena buatan dalam negeri, ring O dan yagi beam juga
banyak dipergunakan. Antena impor yang jadi andalan, serta banyak diincar
oleh mereka yang berduit ialah log periodic atau 64 elemen cubicle quad.
Paling mudah adalah antena mobil yang ditempelkan pada talang air rumah.
Sebuah antena ring O, dengan ketinggian 2 pipa ledeng yang
disambungkan, biasanya sudah memenuhi syarat. Tingginya kira-kira 11 meter,
tetapi bagi mereka yang senang dengan penampilan, tidak segan-segan
mendirikan menara (tower) sampai puluhan meter tingginya. Masih menjadi
pertanyaan, apakah ada batas untuk ketinggian antena ? dan apakah diperlukan
izin dari pihak yang berwenang untuk itu ? Sebagai teknisi elektronika radio,
seorang amatir radio yang menyandang gelar YB dan YC sangat diharapkan untuk:
Memahami administrasi organisasi, prosedur operasi, dan peraturan radio
Dapat melayani atau mengirim dan menerima berita dengan baik
Mempunyai pengetahuan bahasa asing (bahasa Inggris)
Mempunyai ketrampilan di bidang teknik radio
Mampu mengirim berita secara morse 8 wpm (words per minute,
kata per menit) bagi YC, dan 12 wpm bagi YB
Secara teoritis, seorang amateur radio harus sanggup
memperbaiki sendiri radio pemancarnya. Hal ini dapat dilihat pada pemancar
home brew (buatan sendiri) yang beroperasi di 80 meter band. Semua alat yang
dipergunakan adalah hasil gabungan komponen baru dan bekas. Tetapi hal ini
ketinggalan zaman, apabila dibandingkan dengan buatan luar negeri yang tidak
hanya berkelas emisi A1 (morse) dan A3 (AM), tetapi juga beremisi tambahan
A3J (SSB). Ada komponen mechanical filter yang mempunyai fungsi penting untuk
hubungan SSB (Single Side Band).
Alangkah baiknya, apabila pemerintah bisa membantu amatir
amatir radio membuat sendiri pemancar yang modern dan sesuai dengan kemajuan
ilmu dan teknologi mutakhir. Jadi, pesawat pemancar yang diimpor bukan dalam
bentuk yang sudah jadi dan siap dioperasikan, tetapi dalam keadaan CKD atau
pretelan, sehingga para amatir radio dapat mengaplikasikan ilmu yang
diperolehnya dari penataran, dan membanggakan tanda kecakapannya itu sesuai
dengan tingkatnya. (Disusun dari beberapa sumber. Kiriman dari Ir. Hendrik
Runtulalo, IDXC 0236/INS)