Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 10 No 1 Jan-Feb 2000
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
Perforasi
DirgaNet
Aktif
Citizen Band
Amateur Radio
Pro Anda
IDXC Top 50
Review Top 50
Redaksi

Volume 10
  Perforasi
Sayang Prangko

Sesuai dengan janji kami pada edisi 9 (6) yang lalu, maka mulai nomor ini, Dirgantara menampilkan masalah filateli pada kolom khusus, yang kami beri nama "Perforasi". Sambil menunggu naskah-naskah dari Anda yang punya hobi mengumpulkan dan meneliti prangko, mari kita berbincang bincang dari masalah yang sederhana sederhana saja. Pertama, kenapa kolom baru ini memakai nama Perforasi ?

Perforasi merupakan salah satu ciri khas perangko pada umumnya, yaitu pada bagian tepi perangko yang bergerigi (perforated) untuk memudahkan penyobekan dari perangko lainnya pada satu lembaran (full sheet). Seorang filatelis tentu akan sangat teliti memperhatikan perforasi suatu perangko, karena paham betul akan lebih tingginya nilai perangko yang perforasinya masih bagus, lengkap, dan tak terpotong dikarenakan perlakuan pada saat merobeknya.

Untuk melepaskan prangko dari kertas amplopnya juga memerlukan kiat tersendiri, antara lain juga demi terpeliharanya keutuhan perforasi prangko. Pertama-tama, dengan menggunting kertas di sekeliling prangko. Kemudian merendamnya di air bersih sampai prangko itu lepas sendiri dari kertasnya. Walaupun dalam keadaan basah, prangko tidak akan mudah robek, tetapi hindari usaha melepaskan prangko dari kertasnya dengan paksaan. Biarkan prangko lepas sendiri.

Berikutnya, mengeringkan perangko. Dengan mengangkatnya dari air, dan menelungkupkannya di atas kertas koran, dan menjaganya jangan sampai prangko itu justru melekat pada kertas korannya. Cara penempelan prangko pada surat juga menunjukkan apakah si pengirim punya rasa sayang pada prangko atau tidak. Misalnya saja, pemberian perekat (lem), tidak perlu berlebihan, cukup basahi bagian belakang prangko dengan air secukupnya sampai merata.

Pada kantor pos tertentu, seperti Kantor Pos di Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, tersedia beberapa deret meja beralaskan kaca, dan nampan nampan berisi air dengan lembaran karet busa di atasnya. Dengan mudah, pengirim surat tinggal menekan-nekan perangko di atas karet busa yang lembab karena air, sebelum menempelkannya di amplop. Sungguh praktis, karena tangan tak berlepotan perekat, ruangan atau meja tetap bersih.

Agak aneh juga. Ternyata masih banyak pengguna jasa pos belum paham atau masa bodoh dengan keberadaan lembaran lembaran karet busa itu. Mereka masih juga mencolekkan jarinya pada nampan lain yang berisi lem perekat, dan setelah itu, seperti biasa, membersihkan jarinya dengan cara mengoles oleskan jarinya beberapa kali ke kaca meja. Pihak Kantor Pos menyediakan perekat itu tentunya untuk merekatkan penutup amplop yang tanpa perekat.

Pada beberapa kiriman untuk anggota, kami sengaja memakai prangko yang nonreguler, yang diterbitkan untuk peringatan peristiwa peristiwa tertentu. Sebagai contoh, beberapa seri perangko nonreguler, misalnya : 50 Tahun Universitas Gadjah Mada, Piala Dunia, Asian Games, dan Thomas Cup, sedangkan seri prangko reguler misalnya Pelita, Bebek, Presiden Soekarno, dan Presiden Soeharto. Bagi filatelis sejati diwajibkan untuk memiliki katalog prangko, sebagai pegangannya untuk mengetahui seri-seri lengkap prangko yang telah diterbitkan.

Dengan katalog itu, antara lain filatelis bisa mengetahui kapan diterbitkannya suatu seri perangko, terdiri dari berapa jenis atau berapa macam nominal harganya, ukuran prangko, jenis cetakan, sampai ke harga pasaran, baik dalam kondisi mint (baru) maupun used (bekas pakai). Ada lagi jenis benda pos berbentuk Sampul Hari Pertama (Fist Day Cover), yang juga menjadi buruan filatelis. Sesuai dengan namanya, sampul ini diterbitkan bertepatan dengan penerbitan seri prangko tertentu.

Pada sampul tersebut tertempel satu seri lengkap prangko dan diberi cap khusus yang menunjukkan tanggal penerimaan seri-seri perangko tersebut. Biasanya, Pos Indonesia mengumumkan penerbitan sampul-sampul tersebut melalui media cetak. Selain itu, pada beberapa kantor pos tersedia loket khusus untuk urusan filateli, di mana Anda bisa mendapat penjelasan tentang apa saja yang ingin Anda ketahui tentang suatu seri prangko.

Dari harian Kompas terbaca tulisan mengenai produk terbaru Divisi Filateli P.T. Pos Indonesia, yang dikelola oleh Kantor Pos Jakarta Pusat, dengan nama Prisma, singkatan dari Prangko Identitas Milik Anda. Di sini, foto Anda bisa dicetak bersebelahan dengan prangko resmi bernilai nominal Rp 1000. Karena dicetak sebagai bagian dari prangko resmi, maka prangko itupun bisa bertaku sebagai prangko untuk surat-surat, seperti lazimnya.

Dengan uang Rp 20.000, seseorang bisa mendapatkan 10 perangko diri senilai Rp l0.000, yang tercetak di atas selembar kertas berwarna ungu, dan berlogo 125 Tahun Uni Pos Sedunia. Uang sepuluh ribu sisanya untuk biaya produksi, termasuk membayar royalti pada pihak Pos Australia, si pemilik program, tulis Kompas selanjutnya. Direncanakan, untuk di masa datang, mencetak foto diri tersebut pada prangko seri lain, dan juga pengembangan pelayanannya di kota-kota Surabaya dan Bandung, maupun pada unit-unit mobile di tempat-tempat umum.

Dengan berkembangnya komunikasi melalui Internet, para filatelis semakin dimanjakan dengan dibukanya situs-situs Web, yang selain cukup mudah diakses, juga sangat bervariasi. Misalnya, Anda berminat dan mau membeli prangko bertema presiden atau kepala negara dari satu negara, tinggal klik saja, dan siapkan pembayarannya. Simak terus halaman berikutnya. (SAS)

Sekedar Pengetahuan Tentang Filateli
Pendahuluan

Dalam mengarungi hobi DXing, seringkali, bahkan dapat dikatakan selalu, kita bertemu dengan carik-carik kecil, yang biasa dijual di Kantor Pos. Carik-carik itu adalah prangko. Dan sekian pembaca Dirgantara mungkin tidak tahu apa arti filateli, bahkan mungkin tidak begitu memberi perhatian, sehingga carik-carik kecil yang dinamakan perangko itu hanya disia-siakan dan dibuang begitu saja. Padahal, kalau kita tahu cara merawatnya bukan tidak mungkin carik-carik kecil tersebut membawa keberuntungan yang tak terduga. Siapa tahu ?

Mulai edisi kali ini, saya akan mencoba memberikan sedikit gambaran apa sebenarnya hobi yang satu ini, hobi filateli. Mungkin saja, dan sekian banyak pembaca sudah ada yang menekuni hobi ini, bahkan sudah dapat dikatakan aktif. Tulisan ini hanyalah sekedar perkenalan, terutama ditujukan kepada para pemula atau yang sama sekali belum mengenal istilah "Filateli". Saya bukanlah seorang pakar, dan sama sekali tidak berbakat menjadi seorang pengajar, karena itu saya mohon maaf apabila di sana-sini masih terdapat kekurangan.

Kalau dari tulisan saya timbul pertanyaan, atau saran saran, pembaca dapat menulis surat ataupun email melalui Redaksi Dirgantara. Di atas tadi, saya tulis bahwa saya bukanlah pakar di bidang filateli, namun saya mempunyai teman dan rekan sekerja yang mengerti soal filateli. Tentu dari merekalah saya akan memberi jawaban atas pertanyaan pertanyaan Anda, OK ?

Sejarah Singkat Filateli

Carik kecil itu mulanya semata-mata hanya digunakan untuk pelunasan biaya pengiriman surat lewat dinas pos. Namun ternyata, ada juga orang yang senang mengumpulkan carik-carik tersebut. Mereka menjadikan carik kecil itu sebagai benda yang pantas untuk dikoleksi. Motivasi para kolektor itu ternyata berbeda-beda. Ada yang mengumpulkan prangko sebagai hiasan di rumah, ada yang mengumpulkannya dengan maksud untuk dipakai kembali dalam pengiriman, ada yang mengumpulkannya untuk tujuan pendidikan, dan ada pula yang mengumpulkannya untuk tujuan kesenangan semata.

Prangko sendiri pertama kali diterbitkan di Inggris, pada tahun 1840 sebagai hasil perjuangan seorang yang dikenal dengan nama Sir Rowland Hill. Perlu diketahui, waktu itu, pembayaran ongkos pengiriman surat adalah dengan sistem pascabayar, dibayar oleh penerimanya. Ternyata, kemudian sistem ini sangatlah merugikan dinas pos. Dalam perkembangan selanjutnya, semakin banyak orang yang mulai mengumpulkan benda itu, dan merawatnya sebagai benda koleksi.

Setelah kegiatan filateli berkembang, ada yang melihatnya sebagai prospek bisnis yang lumayan. Muncullah kemudian para pedagang prangko dengan katalog perangkonya. Katalog perangko pertama diterbitkan di Paris pada tahun 1861. Istilah "Filateli" sendiri diperkenalkan pada tahun 1864 oleh Herpin, seorang berkebangsaan Perancis. Sejak saat itu, kegiatan filatelis berkembang dan mulailah para filatelis saling tukar menukar informasi satu sama lain. Mereka membentuk klub-klub kecil, yang kemudian berkembang menjadi asosiasi yang besar.

Di tingkat dunia dikenal FIP (Federation Internationale de Philatelie), yang berkedudukan di Zurich, Swis. FIP bertujuan untuk mempromosikan filateli secara luas, mempererat persahabatan dan kerjasama yang baik di antara anggota anggotanya, membantu promosi filateli di tingkat nasional masing masing negara anggotanya, mempertahankan keberadaan kegiatan filateli, serta berusaha menjadikan filateli bebas dari gangguan diskriminasi suku bangsa, agama, ras, dan antar golongan.

Di tingkat Asia Pasifik ada FIAP (Federation of Inter-Asian Philately), yang didirikan pada tanggal 14 September 1974, dan sekarang berkedudukan di Singapura. Indonesia termasuk negara pendiri FIAP tersebut. Sementara di Indonesia sendiri, kegiatan filateli sebenarnya sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda. Tanggal 19 Maret 1922 di kota Batavia berdiri suatu perkumpulan yang diberikan nama Vereniging van Postzegelverzamelaar in Nederlands Indie (VPNI). Pada tahun 1947, nama perkumpulan ini diubah menjadi Algemene Vereniging voor Philatelisten in Indonesia (AVPI).

Selanjutnya, pada tahun 1953 nama AVPI diubah lagi menjadi Perkumpulan Umum Phitatelis Indonesia (PUPI). Melalui kongresnya di Semarang pada tahun 1965, namanya berubah lagi menjadi Perkumpulan Philatelis Indonesia (PPI). Dan terakhir, berubah lagi menjadi Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) sampai sekarang ini. Kegiatan PFI antara lain menyelenggarakan pameran filateli, yang berskala nasional maupun internasional. (JB Kereh)

Layaknya sebuah pameran filateli tingkat dunia, Indonesia 2000 merupakan arena pertandingan untuk menjajal kepiawaian para filatelis kaliber dunia. Kesempatan emas untuk menyaksikan langsung koleksi filateli yang sangat berharga, yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI), dengan dukungan penuh dari P.T. Pos Indonesia (Persero). Pameran Filateli Sedunia - World Philatelic Exhibition. INDONESIA 2000. 15-21 Agustus 2000, Balai Sidang Jakarta (JCC), Jakarta. The Federation Internationale de Philatelie (FIP) - The Federation of Inter-Asian Philately (FIAP).

Sisi Lain Kegunaan Prangko Sebagai Media Informasi

Kemajuan peradaban manusia sekarang ini banyak ditunjang oleh adanya media komunikasi yang dari waktu ke waktu semakin canggih dan beragam. Berbagai fungsi pun dapat dijangkau oleh media tersebut, baik fungsi sosial, politik, ekonomi, budaya, pendidikan, atau pun sebagai hiburan semata, sedangkan dalam penyebarannya, di samping melalui pers, dalam arti surat kabar, majalah, radio, film, televisi, Internet, dapat juga melalui selebaran, poster, maupun juga prangko.

Prangko selama ini dianggap sebagai suatu benda pos belaka. Padahal, di dalamnya mengandung suatu pesan khusus, yang apabila dilihat dari segi komunikasi mempunyai nilai yang tidak kecil artinya. Secara resmi, prangko pertama dikeluarkan oleh Dinas Jawatan Pos Inggris pada tahun 1840, atas usulan Sir Rowland Hill. Di Indonesia sendiri, prangko untuk pertama kali diperkenalkan pada tanggal 1 April 1864, bergambarkan Raja Willem III (lampiran : perangko yang diterbitkan pada masa pra kemerdekaan, tahun 1864 sampai tahun 1944, Sejarah Pos dan Telekomunikasi di Indonesia, Jilid I, Masa Pra Republik).

Dalam perkembangannya kini, pemantaatannya tak sekedar sebagai ongkos kirim, melainkan secara intensif dan sistematik prangko dipergunakan untuk menyatakan sesuatu, atau guna membawa suatu message (pesan, amanat) yang lebih luas lagi. Yakni dapat dipergunakan sebagai sumber (source) informasi, dalam arti yang seluas luasnya. Apalagi setelah terbentuknya UPU (Universal Postale Union), pada tahun 1874, daerah edar serta pemakaian prangko lebih luas lagi.

Ditambah dengan munculnya gejala semakin banyaknya para peminat untuk mengumpulkan benda-benda filateli pada akhir abad ke-19. Daya tarik prangko sebagai benda koleksi semakin besar. Terutama karena semakin bervariasinya bentuk maupun desain prangko prangko dunia. Tidak seperti prangko di masa-masa awal kelahirannya, yang hanya melukiskan gambar kepala negara, lambang negara, dan angka-angka. Seperti halnya lukisan, ilustrasi, poster, reklame, karikatur, prangko merupakan pengejawantahan dari picture of things (benda bergambar) pada umumnya.

Sebagai bagian dari visual system of communication, di mana masing masing mempunyai ciri yang hampir sama, melalui prangko orang dapat mengetehui apa yang sedang terjadi di masa lampau maupun kini, baik peristiwa politik, kebudayaan, maupun peristiwa lain. Dari prangko, kita dapat pula belajar sejarah, kebudayaan, flora, fauna, teknologi, dan banyak lagi. Di samping itu, mengumpulkan prangko berarti melatih kesabaran, kesabaran, ketelitian, kecermatan, serta mendorong orang kepada aktivitas maupun kegiatan yang positif sifatnya (Filateli Selayang Pandang).

Bahkan di negara Eropa, orang mengumpulkan prangko untuk mempelajari bahasa, seperti yang dikemukakan oleh Anthony S. Mollica, "There are those rare teachers capable of compiling grammar out line for a language using illustration solely the inscription on postage stamps from that country" (Richard E. Wood, Teaching Francophonie with Postage). Selain itupun, prangko dapat dipergunakan sebagai media propaganda yang sangat ideal, karena pesan yang terkandung di dalamnya sangat bermanfaat.

Charlos Stoetzer mengatakan, "The stamp itself is an ideal propaganda. It goes from hand to hand, and town to town. It reaches the farthest corners and the provinces of countries of the world. It is symbol of the nation, from which the stamp is mailed, a vivid expression of that country's culture and civilization, and of ideas and ideals. By the use of symbol, slogans, pictures, even loaded words, it conveys its tar and wide (Charlos Stoetzer, Library of Congress Catalog Card Number 53-5788).

Selanjutnya, Carl I. Hovland mengatakan, "Komunikasi adalah proses, di mana seseorang memindahkan perangsang yang biasanya berupa kata-kata untuk mengubah tingkah laku orang lain". Jadi, pengertian komunikasi di sini adalah suatu proses seseorang atau kegiatan menyampaikan perangsang, berupa pikiran, perasaan, harapan, maupun pengalaman yang mengandung makna kepada orang lain, dan biasanya mempergunakan lambang lambang dalam bentuk bahasa.

Lambang yang paling banyak digunakan ialah bahasa, karena hanya bahasa yang dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan, fakta, serta opini yang konkrit dan abstrak, pengalaman yang sudah lalu, dan kegiatan yang akan datang, dan sebagainya. Karena itu, dalam komunikasi, bahasa memegang peran yang sangat penting. Tanpa penguasaan bahasa, hasil yang bagaimana pun baiknya tidak dapat dikomunikasikan kepada orang lain secara tepat. (Bersambung / HSB)

Sebagian Koleksi Surat Saya

Bercerita tentang pengalaman pribadi yang mungkin oleh orang lain dianggap terlampau biasa. Ya, kegemaran menulis surat, atau dengan perkataan lain "korespondensi" sudah lama saya lakukan, semenjak saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Waktu itu, di Indonesia masih banyak klub sahabat pena dan korespondensi, baik yang resmi di bawah pemerintah (Pos dan Giro, bernama Persatuan Sahabat Pena Indonesia), maupun yang dikelola penggemar sendiri, seperti Himalaya Correspondence Club, yang kemudian, seperti halnya klub pendengar radio, satu demi satu hilang dari peradaban.

Perempuan dari Timor Timur

Menulis surat kepada tokoh yang terkenal memang memerlukan kesabaran tersendiri, khususnya mengenai waktu kapan balasannya, dan apakah tokoh yang bersangkutan akan bersedia menerima. Dalam hal memilih pertemanan, saya tidak membedakan siapakah orangnya, bisa saja dia saya jumpai nama dan alamatnya di surat kabar, sampai dengan tokoh pemerintahan.

Awal tahun tujuh puluhan, ketika terjadi pergolakan di Timor Timur, yang kemudian bergabung dengan Indonesia selama 23 tahun, namun akhirnya dilepaskan kembali, saya menemukan seorang nama perempuan Portugis. Kemudian saya menyuratinya, ternyata perempuan tersebut adalah anak Gubernur Timor Timur yang pertama, Dos Reis Araujo. Korespondensi kami berjalan cukup lama, sebelum pada akhirnya saya memperoleh berita kalau dia sudah meninggal dunia.

Dibunuh dan Ditumbangkan

Beberapa kepala negara pernah saya surati, namun demikian tak semuanya sempat membalasnya. Saya menyadari bahwa kesibukan sebagai kepala pemerintahan memang banyak menyita waktu. Sehingga dalam membalas surat tak sepenuhnya ditanda tangani sendiri, melainkan lewat sekretarisnya, bisa juga ajudan maupun sekretariat negara. Misalnya, ketika saya menulis surat kepada Presiden Korea Selatan, Park, Chung Hee, ke Istana Chong, Wa Dae, pada tahun 1978. Atas nama presiden, yang membalasnya adalah Senior Protocol Secretary, Kwang, Soo Choi.

Balasan yang saya terima adalah perangko dan foto Presiden Park, lengkap beserta tanda tangannya, sedangkan dari Istana Malacanang, saya juga memperoleh foto pribadi beserta surat yang ditanda tangani oleh Presiden Ferdinand E. Marcos. Koleksi saya yang lain adalah foto dengan tanda tangan dari Perdana Menteri Kanada Trudue, Anggota Kongres Paul E. Tsongas, Presiden Irlandia Utara, Presiden Lebanon Elias Sarkis, Presiden Anwar Sadat, dan lain-lain. Saya tidak tahu, apakah memang kebetulan atau memang sudah takdirnya, beberapa kepala kepala negara yang saya surati, mengakhiri masa jabatannya dengan ditumbangkan atau dibunuh.

Hampir Setahun Baru Saya Terima

Balasan yang paling lama saya terima adalah surat dari Israel. Yah, ketika itu memang sedang hangat hangatnya perang antara Arab dan Israel. Waktu itu, saya menulis surat kepada Perdana Menteri Golda Meir. Tak saya sangka, ternyata surat saya itu dibalasnya juga, yang dikirimkan dari Belanda. Saya memperoleh sebuah buku yang menarik, dengan Judul "Fact About Israel", walaupun ketika saya terima, sampulnya sudah nggak karu-karuan lagi. Karena di masa itu, sensor terhadap surat atau kiriman dari luar negeri di mana kita tidak mempunyai hubungan diplomatik sangat ketat.

Hingga kini, kegemaran menulis surat tidak pernah saya tinggalkan. Bagi saya, merupakan kewajiban untuk membalas semua surat yang datang, meskipun kadang balasannya sangat lama. Semua surat yang saya kirimkan atau balasan, saya agendakan dengan cermat. Kapan surat tersebut datang, lengkap dengan cap pos tanggal pengirimannya, serta dari kota mana surat tersebut dikirimkan, serta apa isinya. Inilah sebagian dari koleksi surat saya. Suatu ketika, saya berniat akan memamerkan koleksi saya, baik berupa surat, stiker, vandel, maupun cindera mata lainnya. (HSB)

 
Dirgantara Online - Vol 10 No 1 Jan-Feb 2000
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space