Sapa Redaksi
Satu Rasa
Setahun lebih kami bertahan dengan iuran langganan buletin kita ini, yang memaksa kami untuk tetap berkibar, walaupun dengan pas-pasan, bahkan minim sekali. Hal itu berakibat pada tertundanya rencana-rencana untuk memenuhi keinginan para anggota, seperti pembuatan t-shirt, stiker klub, sampai ke pencetakan kalender 2000. Nafsu besar tenaga kurang, kata orang. Tapi toh, kita harus tetap proaktif kalau memang masih ingin berkiprah di bidang yang langka penggemar ini.
Semuanya juga demi keinginan kita bersama, baik sebagai anggota biasa, sebagai pengurus, maupun sebagai editor media klub. Satu rasa. Karena itu, mulai nomor ini, iuran langganan kami naikkan menjadi Rp 20.000 per tahun atau per enam edisi. Pada kesempatan ini pula, kami ingin mengingatkan kepada rekan-rekan yang sudah waktunya membayar iuran langganan, agar tidak menunda nunda lagi pemenuhan kewajibannya.
Kami sudah memberi kemudahan, dengan mencantumkan pada label nama di sampul belakang nomor edisi yang sudah dibayar, atau tulisan habis, yang berarti sudah saatnya untuk membayar. Pada waktu yang lalu, kami masih memberi kesempatan, dengan sekali lagi mengirim media, dengan harapan agar anggota yang bersangkutan ingat kembali akan kewajibannya. Namun kebijaksanaan itu tidak akan lagi kami adakan, artinya begitu tulisan habis muncul, rekan anggota agar segera mengirim iurannya.
Bukannya kami tidak mau tahu kesibukan rekan-rekan anggota, tetapi ini semua juga demi kita semua, terutama rekan-rekan anggota yang kebetulan sudah membayar iuran jauh ke depan. Itulah hakekat satu rasa, satu dicubit, yang lainpun akan merasakan cubitan itu. Selain masalah iuran, ada rencana Djokdja 2000 sebagai kelanjutan Tawangmangu 1999, salah satu kegiatan yang cukup sukses membangkitkan kembali satu rasa kebersamaan anggota dan simpatisan klub.
Untuk Djokdja 2000, kepada beberapa rekan anggota telah kami mintakan masukan mengenai tanggal pelaksanaannya. Permintaan itu hanyalah sebagai penjajakan, sampai di mana antusiasme dan keinginan anggota atau calon peserta, sementara koordinator masih tetap dipegang rekan Aries Subagyo, ketua klub. Kalau kami sama sekali tak tahu apa maunya anggota, percuma saja rencana sebesar apapun. Selanjutnya, ikuti perbincangan mengenai itu di Surat Anda atau Sapa Mitra, selain Informasi tentang Temu Lokal sebagai persiapannya.
Dari Makassar, kami dengar rencana Temu Lokal yang penyelenggaraannya bertepatan dengan hari edar edisi ini. Kepada koordinatornya, Bapak dan lbu Andi Azis Taba, kami ucapkan Selamat dan kami mendoakan semoga sukses. Cerita tentang dunia filateli bisa dinikmati juga di dalam edisi ini, dengan harapan bisa menarik minat pembaca, dan calon anggota tentunya. Menjelang hari ulang tahun ke-9 klub, Aktif bersiap-siap menutup kompetisi DX2000 IDXC, sementara data dari DXer terus mengalir ke meja Redaksi untuk diikutkan dalam Aktif 1999 maupun IDXC Top 50.
Kami lihat ada tendensi kenaikan aktivitas anggota dalam DXing, sesuatu yang memang sangat kami harapkan. Go ahead !! DX Parade Indonesia kali ini didominasi oleh data dari daerah-daerah bergolak, biasanya inilah yang dicari DXer manca negara. Enak juga mereka, yang dengan gratis bisa ikut menikmati Dirgantara ini di manapun mereka berada. Kami tidak merasa dirugikan, selama ada kebanggaan bisa mengibarkan bendera klub. Tetapi, itulah memang satu sisi dari kemajuan teknologi, yang ibarat pisau bermata dua bagi kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya suatu bangsa. (SAS)