Berita Telekomunikasi
Telepon Umum Bisa untuk Terima
PT Inti akan mengeluarkan telepon umum model baru. Telepon
umum ini tak akan bisa diutak atik dengan quick dialer untuk mengadakan
kontak hubungan interlokal. Selain itu, telepon umum tersebut memiliki
beberapa kelebihan lain, misalnya dapat menerima panggilan, persis seperti
fungsi telepon rumah. "Telepon model baru ini memang mengantisipasi masalah
yang ada di lapangan," kata Ir. Firman Said, salah seorang petugas PT Inti.
Oleh karena itu mempunyai nomor yang tertera pada badannya.
Tidak ada masalah lagi kalau akan berbicara lama, sedangkan
koin uang logam tinggal satu. Cukup panggil nomor yang dituju, lalu minta
orang tersebut memutar nomor telepon umum yang kita pakai. Penggunaan koin
pun bisa fleksibel, tidak perlu repot lagi mencari koin Rp 50, koin berapa
pun bisa dipakai, Rp 50 maupun Rp 100, telepon ini akan mencatat, koin Rp
100 berarti dua pulsa.
Kelebihan lain adalah tampilan seperti pada telepon kartu,
begitu gagang telepon diangkat, pada tampilan terbaca "... masukkan koin Rp
50 atau Rp 100". Pada saat dipakai bicara, tampilan memberi tahukan waktu
yang tersisa. Telepon baru ini kira kira 10 cm lebih tinggi dari pada model
lama. Menurut Firman, telepon baru ini akan dikeluarkan tahun 1991 ini juga.
(Berita Buana / IDXC / AS)
Jaringan Surat Lewat Komputer
Kirim-mengirim surat lewat jaringan komputer, suatu sistem
komunikasi yang sedang nge-trend di dunia. Bagaimana dengan Indonesia ?
Langkah ke arah sana nampak masih pada taraf percobaan, masih banyak kendala
yang harus diatasi. Kendalanya adalah infrastruktur jaringan komputer di
Indonesia belum sempurna. Masih menggunakan jaringan telepon, dan belum
ada jaringan yang menjembatani antar pengguna jaringan.
Dr. Rahmat M. Samik Ibrahim, pakar komputer dari UI,
Universitas Indonesia, mencoba mengirimkan surat lewat jaringan komputer.
Tidak jauh, hanya di Jakarta. Bagaimana hasilnya ? Mestinya surat itu sampai,
tetapi surat itu ternyata baru sampai hampir sehari, karena belum adanya
jaringan terpadu itulah, maka harus melancong ke luar negeri dulu.
Dari Cibinong, informasi itu dikirimkan ke satelit milik
Amerika Serikat, agar diteruskan ke jaringan komputer Schlumberger, tempat
di mana orang yang dituju berada. Schlumberger ialah sebuah perusahaan
minyak milik Perancis, oleh karena itulah dari satelit milik Amerika Serikat
lalu diteruskan ke Paris, pusat perusahaan minyak tersebut, baru kemudian
dikirim ke Jakarta. Kejadian tersebut sekaligus menggambarkan bahwa
Indonesia memerlukan jaringan komputer sendiri.
Dengan jalan membangun infrastruktur telekomunikasi.
Jaringan ini bisa ditangani Telkom maupun lembaga swasta yang bergerak di
bidang jasa tersebut. Lembaga itu harus memiliki perangkat lunak dan
wewenang untuk mengatur lalu lintas informasi dari berbagai pengguna.
Teknologi ini memang sudah terealisasi sebagian di Indonesia. Beberapa
lembaga telah menggunakan secara terbatas pada kalangan intern, misalnya
Pertamina, Caltex, dan Indosat.
Juga beberapa perguruan tinggi, Bank Rakyat Indonesia
(BRI), Bank Ekspor Impor Indonesia (BEII), dan Bank Pembangunan Daerah (BPD)
Jawa Timur, dan beberapa lembaga lainnya. Akan tetapi, masih banyak
kelemahan untuk disebut sebagai jaringan komputer nasional. Apabila jaringan
komputer itu terwujud, maka seseorang yang memiliki komputer dapat saling
berkirim surat atau informasi dengan pemilik komputer lain, seperti
pembicaraan telepon.
Mereka juga dapat melakukan pengolahan data jarak jauh,
cetak jarak jauh, pengatur lalu lintas keuangan jarak jauh, serta berbagai
proses jarak jauh lainnya yang lebih luwes dan memiliki tingkat keamanan
lebih tinggi dari pada telepon. Selama ini, ada dua cara yang dipergunakan
untuk mentransmisikan informasi komputer, yaitu lewat jaringan telepon dan
lewat satelit. Sebagian besar pengguna di Indonesia sudah memanfaatkan
jaringan telepon, dengan menggunakan modem.
Tetapi karena terbatasnya kapasitas jaringan ini, maka
banyak keluhan yang dilontarkan pemakai berkaitan dengan kelambatan dan
keterbatasan akses. Namun tak bisa tidak, suatu ketika Indonesia akan
menerapkan teknologi ini. Trend informasi dunia kini telah mengarah pada
pemakaian jaringan komputer untuk berbagai keperluan. Beberapa negara di
Eropa, Amerika Serikat, Jepang telah menggunakan jaringan komputer ini.
Maka, apabila semua negara yang menjadi partner Indonesia
sudah mempergunakan teknologi tersebut, maka Indonesia tak bisa tidak,
harus menggunakannya. Jika tidak, Indonesia akan mengalami kesulitan untuk
melakukan berbagai interaksi dengan mereka, misal interaksi ekonomi. Suatu
saat nanti boleh jadi transaksi ekonomi dilakukan lewat jaringan komputer.
Berbagai berkas perdagangan ekspor impor tidak lagi berupa dokumen kertas,
tetapi melalui akses jaringan ini.
Transaksi konvensional telah dianggap lambat, tentu
Indonesia tidak ingin terkucil dalam interaksi dunia yang semakin cepat.
Dampaknya terlalu luas di bidang ekonomi dan pembangunan nasional. Jaringan
komputer yang dibentuk antara perguruan tinggi merupakan suatu contoh
jaringan komputer di Indonesia. Jaringan ini terpusatkan di Universitas
Indonesia, dengan anggota lainnya ITS, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan
Institut Teknologi Bandung (ITB).
Jika anggota jaringan ini akan menghubungi anggota yang
lain, mereka on line dulu dengan komputer Indo Gate Way di Universitas
Indonesia. Dari komputer pusat ini, informasi tersebut dikirimkan ke alamat
yang dituju. Jaringan ini bisa diperluas. ITB misal, bisa melayani
jaringan di Bandung dan sekitarnya. Seseorang yang memiliki komputer dan
ingin bergabung bisa menghubungkan diri dengan ITB. Informasi darinya
kemudian akan dikirimkan ke pusat pengolahan informasi yang ada di UI.
Setelah diolah, informasi tersebut akan diarahkan ke alamat
yang dituju. Demikian pula UGM di Yogyakarta, ITS di Surabaya, dan seterusnya,
hingga terbentuk jaringan komputer dengan terpusatkan di UI. Bahkan,
informasi itu pun bisa diteruskan ke luar negeri melewati satelit. Sayang
sekali, jaringan ini masih amatir hingga pengelolaannya juga tak optimal.
Dalam segi pembiayaan misalnya, tak dikenakan charge pada pengguna,
tetapi mengajak urunan menanggung beban yang disodorkan oleh pihak Telkom.
(Jawa Pos / IDXC / AS)
Perumtel Periksa Ulang Telepon Umumnya... !!
Pihak Perumtel akan melakukan pemeriksaan dan pemblokiran
ulang telepon telepon umum. Hal itu dilakukan untuk mencegah pembobolan
blocking interlokal oleh alat tone dialer atau quick dialer pada telepon
umum koin yang banyak digunakan masyarakat akhir akhir ini. Untuk mengatasinya
juga tidak tertutup adanya kemungkinan diubahnya sistem
penyelenggaraan telepon umum.
Penyalahgunaan alat tone dialer atau quick dialer pada
telepon umum koin untuk melakukan SLJJ, Sambungan Langsung Jarak Jauh, atau
SLI, Sambungan Langsung Internasional, sangat merugikan Perumtel. Ada
beberapa telepon umum yang bisa "dijebol" untuk melakukan SLJJ dan SLI,
dikarenakan telepon umum tersebut belum dipasangi alat blocking. Namun tidak
semua telepon umum bisa dijebol seperti itu, karena ada juga yang dipasangi
alat blocking.
Sementara, ada sumber yang mengatakan, justru alat tersebut
yang bisa membuka sistem blocking yang ada pada telepon umum koin. Telepon
umum kita sebenarnya sama dengan telepon biasa yang digunakan untuk SLJJ
atau SLI. Namun setiap pesawat dilengkapi dengan blocking untuk hubungan
itu, mungkin itulah kelemahannya. Mestinya, sistem blocking itu diterapkan
di pusatnya. Sampai sekarang, pihak Perumtel masih meneliti sistem kerja
alat yang bisa membobolkan sistem blocking yang ada di telepon umum.
Alat yang sudah umum dijual, tone dialer, itu bertujuan
memudahkan pemakaian telepon, dan bukannya untuk tujuan mencuri. Alat yang
berisi rekaman atau memori nomor telepon cukup ditempelkan pada lubang
bicara, bila ingin melakukan hubungan komunikasi. Setelah tertempel, alat
itu akan mengeluarkan bunyi, yang frekuensinya menggantikan fungsi tombol
tombol nomor. Mungkin karena itulah, alat tersebut hanya bisa digunakan di
telepon umum yang bersistem dial tone.
Alat ini hanya bisa jalan kalau pusat dan sistem sinyalnya
menggunakan sistem DTMF, Dial Tone Multi Frequency, atau sistem bunyi.
Pusat pusat yang sekarang kebanyakan bisa melakukan proses ganda, yaitu
kadik, getaran pulsa, yang dipergunakan sejak dulu. Kejadian pencurian pulsa
dengan tone dialer sebenarnya pernah terjadi di sebuah hotel di Medan,
pada tahun 1987. Sebenarnya, telepon telepon umum sudah dipasangi dua alat
untuk memblok.
Pemblokiran pertama dipasangkan pada pesawat telepon
tersebut. Jadi bila penelepon akan melakukan SLJJ, ia harus memijit dulu
angka nol. Jika sistem pemblokiran yang dipasang adalah sistem pulsa, ia
sudah akan langsung menolaknya, atau bila menggunakan sistem digit, jumlah
digit lebih dari tujuh, otomatis akan ditolak. Pemblokiran selanjutnya
dilakukan di pusat lewat SPC, Storage Programme Control. Meskipun demikian,
tak disangkal adanya kemungkinan penggunaan telepon umum untuk hubungan
telepon lintas kota, atau bahkan lintas negara.
Hal itu bisa terjadi, karena kemungkinan orang orang
Perumtel lupa tidak melakukan blok di pusat, sementara blocking yang
dipasang di telepon adalah untuk sistem dikadik, sehingga tidak mampu
menahan bunyi yang dipancarkan tone dialer. Hal itu bisa dipahami karena
banyaknya telepon umum, sehingga bisa saja petugas lupa untuk memblokir
suatu telepon umum. Beberapa telepon umum model lama hanya dipasangi
blocking untuk dikadik, sehingga tidak mampu menahan tone dialer.
Akibatnya, pada saat petugas di sental lupa melakukan
pemblokiran, telepon umum pun bisa digunakan untuk SLJJ dan SLI. Sehingga
kini telepon model lama masih berjumlah sekitar 20 persen, sedangkan pada
telepon umum koin baru, sistem blocking yang dipasang adalah ganda. Petugas
tinggal memilih sistem blocking mana yang akan dipergunakan. Untuk mencegah
hal itu, pihak Perumtel akan melakukan pemeriksaan dan pemblokiran ulang
telepon telepon umum.
Sistem koin uang logam 50-an rupiah pada telepon umum di
Indonesia sebenarnya tak menguntungkan. Untuk menutupinya, Perumtel memberi
subsidi untuk telepon jenis itu. Sistem tersebut bisa saja diubah, dengan
menggunakan koin dengan nilai tertentu, sehingga seperti di negara negara
maju, telepon umum tersebut bisa digunakan bebas untuk interlokal, atau
internasional, seperti pada sistem kartu. (Kompas / IDXC / AS)