Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 1 No 3 Jul-Agu 1991
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
• Laporan Berita
DX Ranesi
RJ - RN - CBC
Profil Stasiun
Amateur Radio
Antena
DX Mania
IDXC Ria
Televisi
TVRI - RCTI
Belanda-SCTV
MTV - Video
Telekomunikasi
SCJJ - Pasifik
Telepon-Surat
Help Me
Pengurus

Volume 1
  Berita Telekomunikasi
Telepon Umum Bisa untuk Terima

PT Inti akan mengeluarkan telepon umum model baru. Telepon umum ini tak akan bisa diutak atik dengan quick dialer untuk mengadakan kontak hubungan interlokal. Selain itu, telepon umum tersebut memiliki beberapa kelebihan lain, misalnya dapat menerima panggilan, persis seperti fungsi telepon rumah. "Telepon model baru ini memang mengantisipasi masalah yang ada di lapangan," kata Ir. Firman Said, salah seorang petugas PT Inti. Oleh karena itu mempunyai nomor yang tertera pada badannya.

Tidak ada masalah lagi kalau akan berbicara lama, sedangkan koin uang logam tinggal satu. Cukup panggil nomor yang dituju, lalu minta orang tersebut memutar nomor telepon umum yang kita pakai. Penggunaan koin pun bisa fleksibel, tidak perlu repot lagi mencari koin Rp 50, koin berapa pun bisa dipakai, Rp 50 maupun Rp 100, telepon ini akan mencatat, koin Rp 100 berarti dua pulsa.

Kelebihan lain adalah tampilan seperti pada telepon kartu, begitu gagang telepon diangkat, pada tampilan terbaca "... masukkan koin Rp 50 atau Rp 100". Pada saat dipakai bicara, tampilan memberi tahukan waktu yang tersisa. Telepon baru ini kira kira 10 cm lebih tinggi dari pada model lama. Menurut Firman, telepon baru ini akan dikeluarkan tahun 1991 ini juga. (Berita Buana / IDXC / AS)

Jaringan Surat Lewat Komputer

Kirim-mengirim surat lewat jaringan komputer, suatu sistem komunikasi yang sedang nge-trend di dunia. Bagaimana dengan Indonesia ? Langkah ke arah sana nampak masih pada taraf percobaan, masih banyak kendala yang harus diatasi. Kendalanya adalah infrastruktur jaringan komputer di Indonesia belum sempurna. Masih menggunakan jaringan telepon, dan belum ada jaringan yang menjembatani antar pengguna jaringan.

Dr. Rahmat M. Samik Ibrahim, pakar komputer dari UI, Universitas Indonesia, mencoba mengirimkan surat lewat jaringan komputer. Tidak jauh, hanya di Jakarta. Bagaimana hasilnya ? Mestinya surat itu sampai, tetapi surat itu ternyata baru sampai hampir sehari, karena belum adanya jaringan terpadu itulah, maka harus melancong ke luar negeri dulu.

Dari Cibinong, informasi itu dikirimkan ke satelit milik Amerika Serikat, agar diteruskan ke jaringan komputer Schlumberger, tempat di mana orang yang dituju berada. Schlumberger ialah sebuah perusahaan minyak milik Perancis, oleh karena itulah dari satelit milik Amerika Serikat lalu diteruskan ke Paris, pusat perusahaan minyak tersebut, baru kemudian dikirim ke Jakarta. Kejadian tersebut sekaligus menggambarkan bahwa Indonesia memerlukan jaringan komputer sendiri.

Dengan jalan membangun infrastruktur telekomunikasi. Jaringan ini bisa ditangani Telkom maupun lembaga swasta yang bergerak di bidang jasa tersebut. Lembaga itu harus memiliki perangkat lunak dan wewenang untuk mengatur lalu lintas informasi dari berbagai pengguna. Teknologi ini memang sudah terealisasi sebagian di Indonesia. Beberapa lembaga telah menggunakan secara terbatas pada kalangan intern, misalnya Pertamina, Caltex, dan Indosat.

Juga beberapa perguruan tinggi, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Ekspor Impor Indonesia (BEII), dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jawa Timur, dan beberapa lembaga lainnya. Akan tetapi, masih banyak kelemahan untuk disebut sebagai jaringan komputer nasional. Apabila jaringan komputer itu terwujud, maka seseorang yang memiliki komputer dapat saling berkirim surat atau informasi dengan pemilik komputer lain, seperti pembicaraan telepon.

Mereka juga dapat melakukan pengolahan data jarak jauh, cetak jarak jauh, pengatur lalu lintas keuangan jarak jauh, serta berbagai proses jarak jauh lainnya yang lebih luwes dan memiliki tingkat keamanan lebih tinggi dari pada telepon. Selama ini, ada dua cara yang dipergunakan untuk mentransmisikan informasi komputer, yaitu lewat jaringan telepon dan lewat satelit. Sebagian besar pengguna di Indonesia sudah memanfaatkan jaringan telepon, dengan menggunakan modem.

Tetapi karena terbatasnya kapasitas jaringan ini, maka banyak keluhan yang dilontarkan pemakai berkaitan dengan kelambatan dan keterbatasan akses. Namun tak bisa tidak, suatu ketika Indonesia akan menerapkan teknologi ini. Trend informasi dunia kini telah mengarah pada pemakaian jaringan komputer untuk berbagai keperluan. Beberapa negara di Eropa, Amerika Serikat, Jepang telah menggunakan jaringan komputer ini.

Maka, apabila semua negara yang menjadi partner Indonesia sudah mempergunakan teknologi tersebut, maka Indonesia tak bisa tidak, harus menggunakannya. Jika tidak, Indonesia akan mengalami kesulitan untuk melakukan berbagai interaksi dengan mereka, misal interaksi ekonomi. Suatu saat nanti boleh jadi transaksi ekonomi dilakukan lewat jaringan komputer. Berbagai berkas perdagangan ekspor impor tidak lagi berupa dokumen kertas, tetapi melalui akses jaringan ini.

Transaksi konvensional telah dianggap lambat, tentu Indonesia tidak ingin terkucil dalam interaksi dunia yang semakin cepat. Dampaknya terlalu luas di bidang ekonomi dan pembangunan nasional. Jaringan komputer yang dibentuk antara perguruan tinggi merupakan suatu contoh jaringan komputer di Indonesia. Jaringan ini terpusatkan di Universitas Indonesia, dengan anggota lainnya ITS, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Jika anggota jaringan ini akan menghubungi anggota yang lain, mereka on line dulu dengan komputer Indo Gate Way di Universitas Indonesia. Dari komputer pusat ini, informasi tersebut dikirimkan ke alamat yang dituju. Jaringan ini bisa diperluas. ITB misal, bisa melayani jaringan di Bandung dan sekitarnya. Seseorang yang memiliki komputer dan ingin bergabung bisa menghubungkan diri dengan ITB. Informasi darinya kemudian akan dikirimkan ke pusat pengolahan informasi yang ada di UI.

Setelah diolah, informasi tersebut akan diarahkan ke alamat yang dituju. Demikian pula UGM di Yogyakarta, ITS di Surabaya, dan seterusnya, hingga terbentuk jaringan komputer dengan terpusatkan di UI. Bahkan, informasi itu pun bisa diteruskan ke luar negeri melewati satelit. Sayang sekali, jaringan ini masih amatir hingga pengelolaannya juga tak optimal. Dalam segi pembiayaan misalnya, tak dikenakan charge pada pengguna, tetapi mengajak urunan menanggung beban yang disodorkan oleh pihak Telkom. (Jawa Pos / IDXC / AS)

Perumtel Periksa Ulang Telepon Umumnya... !!

Pihak Perumtel akan melakukan pemeriksaan dan pemblokiran ulang telepon telepon umum. Hal itu dilakukan untuk mencegah pembobolan blocking interlokal oleh alat tone dialer atau quick dialer pada telepon umum koin yang banyak digunakan masyarakat akhir akhir ini. Untuk mengatasinya juga tidak tertutup adanya kemungkinan diubahnya sistem penyelenggaraan telepon umum.

Penyalahgunaan alat tone dialer atau quick dialer pada telepon umum koin untuk melakukan SLJJ, Sambungan Langsung Jarak Jauh, atau SLI, Sambungan Langsung Internasional, sangat merugikan Perumtel. Ada beberapa telepon umum yang bisa "dijebol" untuk melakukan SLJJ dan SLI, dikarenakan telepon umum tersebut belum dipasangi alat blocking. Namun tidak semua telepon umum bisa dijebol seperti itu, karena ada juga yang dipasangi alat blocking.

Sementara, ada sumber yang mengatakan, justru alat tersebut yang bisa membuka sistem blocking yang ada pada telepon umum koin. Telepon umum kita sebenarnya sama dengan telepon biasa yang digunakan untuk SLJJ atau SLI. Namun setiap pesawat dilengkapi dengan blocking untuk hubungan itu, mungkin itulah kelemahannya. Mestinya, sistem blocking itu diterapkan di pusatnya. Sampai sekarang, pihak Perumtel masih meneliti sistem kerja alat yang bisa membobolkan sistem blocking yang ada di telepon umum.

Alat yang sudah umum dijual, tone dialer, itu bertujuan memudahkan pemakaian telepon, dan bukannya untuk tujuan mencuri. Alat yang berisi rekaman atau memori nomor telepon cukup ditempelkan pada lubang bicara, bila ingin melakukan hubungan komunikasi. Setelah tertempel, alat itu akan mengeluarkan bunyi, yang frekuensinya menggantikan fungsi tombol tombol nomor. Mungkin karena itulah, alat tersebut hanya bisa digunakan di telepon umum yang bersistem dial tone.

Alat ini hanya bisa jalan kalau pusat dan sistem sinyalnya menggunakan sistem DTMF, Dial Tone Multi Frequency, atau sistem bunyi. Pusat pusat yang sekarang kebanyakan bisa melakukan proses ganda, yaitu kadik, getaran pulsa, yang dipergunakan sejak dulu. Kejadian pencurian pulsa dengan tone dialer sebenarnya pernah terjadi di sebuah hotel di Medan, pada tahun 1987. Sebenarnya, telepon telepon umum sudah dipasangi dua alat untuk memblok.

Pemblokiran pertama dipasangkan pada pesawat telepon tersebut. Jadi bila penelepon akan melakukan SLJJ, ia harus memijit dulu angka nol. Jika sistem pemblokiran yang dipasang adalah sistem pulsa, ia sudah akan langsung menolaknya, atau bila menggunakan sistem digit, jumlah digit lebih dari tujuh, otomatis akan ditolak. Pemblokiran selanjutnya dilakukan di pusat lewat SPC, Storage Programme Control. Meskipun demikian, tak disangkal adanya kemungkinan penggunaan telepon umum untuk hubungan telepon lintas kota, atau bahkan lintas negara.

Hal itu bisa terjadi, karena kemungkinan orang orang Perumtel lupa tidak melakukan blok di pusat, sementara blocking yang dipasang di telepon adalah untuk sistem dikadik, sehingga tidak mampu menahan bunyi yang dipancarkan tone dialer. Hal itu bisa dipahami karena banyaknya telepon umum, sehingga bisa saja petugas lupa untuk memblokir suatu telepon umum. Beberapa telepon umum model lama hanya dipasangi blocking untuk dikadik, sehingga tidak mampu menahan tone dialer.

Akibatnya, pada saat petugas di sental lupa melakukan pemblokiran, telepon umum pun bisa digunakan untuk SLJJ dan SLI. Sehingga kini telepon model lama masih berjumlah sekitar 20 persen, sedangkan pada telepon umum koin baru, sistem blocking yang dipasang adalah ganda. Petugas tinggal memilih sistem blocking mana yang akan dipergunakan. Untuk mencegah hal itu, pihak Perumtel akan melakukan pemeriksaan dan pemblokiran ulang telepon telepon umum.

Sistem koin uang logam 50-an rupiah pada telepon umum di Indonesia sebenarnya tak menguntungkan. Untuk menutupinya, Perumtel memberi subsidi untuk telepon jenis itu. Sistem tersebut bisa saja diubah, dengan menggunakan koin dengan nilai tertentu, sehingga seperti di negara negara maju, telepon umum tersebut bisa digunakan bebas untuk interlokal, atau internasional, seperti pada sistem kartu. (Kompas / IDXC / AS)

 
Dirgantara Online - Vol 1 No 3 Jul-Agu 1991
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space