Berita Telekomunikasi
Sri Lanka Broadcasting Corporation (atau SLBC) serta NHK Jepang
telah bekerja sama untuk meningkatkan siaran radio gelombang pendek. Fasilitas
pemancar SLBC yang berada di Ekala, 18 kilometer dari kota Kolombo akan dipermodern
dengan biaya sebesar 40 milyar rupiah.
Kerjasama ini sudah ditanda tangani, dan Jepang telah
membuat pesawat pemancar berkekuatan besar, yang akan banyak digunakan oleh
banyak negara. SLBC dengan pemancar stasiun gelombang pendeknya akan
menyiarkan acara dalam bahasa Urdu, Arab, Bengali, dan Hindi. (Radio
Nederland / Asbari Nurpatria Krisna / ASB)
Pemerintah Indonesia Belum Restui SCJJ
Pemerintah sampai saat ini belum mengeluarkan izin
pemakaian Sistem Cetak Jarak Jauh, SCJJ. Menteri Penerangan Harmoko
menjelaskan ketika ditanya tentang izin pemakaian SCJJ untuk sebuah koran
yang terbit di Padang, Sumatra Barat. Pemakaian SCJJ sebenarnya sudah
merupakan kebutuhan masyarakat pers kita, terutama dalam menghadapi masa
globalisasi saat ini.
Tetapi, tolong dibicarakan dulu, tegasnya. Pemerintah RI
menyerahkan sepenuhnya pemakaian teknologi Sistem Cetak Jarak Jauh, SCJJ,
pada masyarakat pers. Namun sebelum pemakaian teknologi itu diputuskan,
hendaknya masyarakat pers bermusyawarah dulu. Maksudnya, agar tak menimbulkan
gejolak kemudian hari. Menurut Harmoko, untuk realisasi pemberian izin
pemakaian SCJJ, pemerintah masih menunggu hasil kajian yang dilakukan tim
yang dibentuk oleh Dewan Pers Pusat.
Masalah SCJJ tersebut kembali muncul, setelah Ketua Umum
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, M. Soegeng Widjaja, menegaskan
pemerintah memutuskan akan memberikan izin pemakaian Sistem Cetak Jarak Jauh,
SCJJ, kepada salah satu koran di Sumatra Barat. Pemberian izin itu sebagai
"kejutan" bagi para penerbit, terutama yang berpusat di Jakarta. "Tidak ada
yang mengira kalau yang diizinkan itu justru koran daerah," katanya.
Tetapi nama koran daerah tersebut masih dirahasiakan,
hanya disebutkan ciri cirinya. Koran yang beruntung akan mendapatkan izin
menggunakan alat canggih tadi berpusat di Padang. Digambarkan dalam cara
kerjanya, koran itu memakai sistem yang disebutnya sebagai "warung nasi
Padang". Tiap perantau Minang diminta berlangganan koran itu. Soegeng
Widjaja mengakui, biaya percetakan itu cukup mahal.
Harga satu unitnya mencapai Rp 5 milyar. Bila ditambah
dengan biaya pemasangan serta pengadaan peralatan penerimaan di daerah
tujuan, pembiayaan penggunaan sistem itu bisa membengkak lagi, mencapai Rp
10 milyar. Sementara itu, Pemimpin Umum Harian Singgalang, Padang, Basyril
Djabar, membenarkan pihaknya pernah mengajukan permohonan untuk mendapatkan
izin penggunaan SCJJ kepada Dewan Pers sekitar bulan Maret 1991.
Tetapi dikatakannya, pihaknya belum mendapatkan keputusan
tertulis mengenai hal tersebut. Karena, konon semuanya sedang dipelajari
pihak Dewan Pers Pusat. Koran Singgalang adalah koran yang spesifik, yakni
menginformasikan seluruh kejadian di Sumatra Barat pada urang awak yang
dirantau. Koran ini, selain di Sumatra Barat, juga mempunyai fans yang
tersebar di seluruh Indonesia. Di Jakarta saja, oplah mingguan ini mencapai
10.000 eksemplar.
Djaffar Assegaf, seorang anggota di Dewan Pers Pusat,
membenarkan bahwa pemilik koran Singgalang pernah mendatangi Dewan Pers
untuk membicarakan izin itu. Namun saat itu, perizinan pemakaian SCJJ belum
bisa diputuskan. Detail proposalnya pun tidak ada, katanya. Assegaf tak
membantah bahwa izin pemakaian SCJJ dalam waktu dekat ini mungkin akan
dikeluarkan pemerintah. "Kemungkinan tidak sampai tahun depan, pemerintah
sudah akan memberi izin pemakaian SCJJ," katanya.
Menurut Assegaf, pemberian izin itu nantinya tidak hanya
terbatas untuk koran daerah. Masalahnya, hingga kini belum ada peraturannya.
Misal, soal aturan main pemakaian SCJJ, sampai saat ini masih dipelajari
oleh tim khusus yang dibentuk Dewan Pers Pusat. Tim itu dipimpin Ketua
Prasarana dan Sarana Pers Pusat, Zulharman Said. Menurut Assegaf, tim itu
bertugas mengkaji aturan main penggunaan SCJJ.
Aturannya antara lain koran pemakai fasilitas itu
wajib mempergunakan perusahaan percetakan yang ada di daerah tujuan, tak
boleh membangun perusahaan percetakan sendiri di daerah tujuan. Sementara
itu, Perumtel yang dihubungi menyatakan bahwa pihaknya siap melaksanakan
SCJJ. Kasubdit Purel Perumtel, Mohammad Gempita, didampingi Ir. Achadiat,
Kepala Bidang Perencanaan pada Pusat Perencanaan Penelitian dan Pengembangan
(Pusren litbang) Perumtel, mengatakan, Perumtel hanya menyediakan transmisi
atau salurannya.
Sedangkan terminal pengiriman dan penerimaan berita
harus disediakan sendiri oleh pihak penerbit. SCJJ saat ini belum berjalan.
Tetapi, harian Singgalang sudah berunding dengan pihak Perumtel. "Dalam hal
ini Perumtel sudah oke, koran tersebut tinggal menunggu realisasinya," kata
Kasubdit Purel Perumtel. Achadiat mengemukakan, bahwa SCJJ dapat menggunakan dua
macam sarana transmisi, melalui VSAT atau TDMA. (Berita Buana / IDXC / AS)
Jaringan Komunikasi Pasifik
Perencanaan dan penggarapan jaringan satelit bantuan dari
Australia memakan waktu tiga tahun, yang nantinya akan memberikan fasilitas
komunikasi modern dan cepat kepada negara negara pulau yang tersebar luas di
kawasan Pasifik. Penataran sistem ini sangat besar manfaatnya bagi penduduk
yang tinggal di pulau terpencil di Nauru, Niue, Kepulauan Cook, Tuvalu,
Kiribati, dan Kepulauan Mashall.
Manfaat sistem baru ini adalah bahwa
penduduk pulau pulau Pasifik yang ingin menelepon tetangganya di pulau lain,
tadinya harus melalui Australia, suatu proses yang memakan waktu lebih lama
dan lebih mahal. Dengan adanya sistem satelit ini, mereka dapat berhubungan
langsung dengan negara tetangganya. Ini juga berarti bahwa salurannya akan
lebih baik, dan pembicaraan akan lebih jelas, seperti halnya IDD yang kita kenal.
Dengan adanya komunikasi satelit ini, tidak lama lagi,
negara negara Pasifik tadi juga dapat memanfaatkan komunikasi faksimil dan
data links yang penting bagi kehidupan bisnis kawasan Pasifik. Sebegitu jauh,
hanya negara negara kecil yang telah menanda tangani kontrak pemakaian sistem
satelit. Namun terbuka kemungkinan adanya hubungan faksimil dan data
links yang lebih banyak dari negara Pasifik yang memanfaatkan jaringan ini.
Yang jelas, adalah bahwa biaya telepon interlokal maupun
internasional antara pulau pulau itu akan lebih mudah dari pada sebelum
adanya satelit. Dan sistem tersebut merupakan sarana komunikasi regional
yang penting. Perkembangan di kawasan Pasifik sangat mengandalkan komunikasi
yang teratur dan cepat, mengingat letak geografisnya terpencar luas.
Sementara itu, 36 badan telekomunikasi terkemuka dunia,
beberapa waktu yang lalu, telah menanda tangani persetujuan pemasangan kabel di
kawasan Pasifik. Apa yang dinamakan South Pacific Network, atau Jaringan
Pasifik Selatan itu, merupakan sarana perhubungan lewat kabel yang
menghubungkan semua negara di Samudra Pasifik. Persetujuan yang ditanda
tangani di Canberra tersebut melibatkan pemasangan tiga rentangan kabel
sepanjang 16.000 kilometer.
Dan masing masing menghubungkan Selandia Baru dan Hawaii,
yang dinamakan Pacrim Timur, Sydney dan Guam yang disebut Pacrim Barat, dan
Sydney dengan Auckland yang diberi nama Tasman 2. Yang terakhir ini sudah
lama digarap, dan diduga akan rampung akhir tahun depan. Kabel komunikasi
tersebut dipasang dengan menggunakan teknologi serat optik canggih di bawah
permukaan laut, yang akan menyediakan saluran televisi, faksimil berwarna,
ISDN broad-band, dan video.
Jaringan Pasifik Selatan ini akan dapat menyalurkan lebih
dari 30.000 percakapan telepon secara serentak. Malah para pakar mengatakan
mutunya akan lebih baik dari pada hubungan melalui satelit. Perdana Menteri
Bob Hawke mengatakan pada upacara penanda tanganan persetujuan jaringan
kabel Pasifik Selatan itu, bahwa sarana ini penting sekali artinya bagi
komunikasi negara Pasifik dengan dunia luar.
Bob Hawke memuji peranan OTC dalam proyek telekomunikasi
canggih ini, bekerja sama dengan perusahaan KDD Jepang, AT&T Amerika Serikat,
TNI Selandia Baru. OTC Australia merupakan pemegang saham terbesar. Di
samping ke empat maskapai terbesar tadi, terdapat 32 negara lain yang ikut
memiliki saham dalam pemasangan jaringan baru tersebut. Persetujuan kemarin
itu adalah untuk komunikasi dan perawatan seluruh jaringan Pasifik Selatan
yang rampung dalam waktu 4 tahun.
Dalam upacara terpisah di Sydney, perusahaan kabel setempat,
Alcatel TCC telah mendapat kontrak bernilai 450 juta dolar untuk membuat dan
menyediakan kabel serat optik untuk Pacrim Barat dan Timur, sedangkan untuk
saluran Tasman 2 akan disediakan oleh AT&T Amerika.
Pendeknya dalam empat tahun mendatang sarana telekomunikasi
daerah Pasifik, tidak hanya antar pulau, tapi juga negara negara sepanjang
tepi Pasifik, akan demikian canggih, hingga tujuan tujuan berbagai kerja
sama ekonomi demi kemakmuran lebih mudah terjangkau. (Ario Sungkono dan Yuni
Tampi / Jayakarta / IDXC / ASB)