Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 1 No 3 Jul-Agu 1991
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
• Laporan Berita
DX Ranesi
RJ - RN - CBC
Profil Stasiun
Amateur Radio
Antena
DX Mania
IDXC Ria
Televisi
TVRI - RCTI
Belanda-SCTV
MTV - Video
Telekomunikasi
SCJJ - Pasifik
Telepon-Surat
Help Me
Pengurus

Volume 1
  Berita Telekomunikasi

Sri Lanka Broadcasting Corporation (atau SLBC) serta NHK Jepang telah bekerja sama untuk meningkatkan siaran radio gelombang pendek. Fasilitas pemancar SLBC yang berada di Ekala, 18 kilometer dari kota Kolombo akan dipermodern dengan biaya sebesar 40 milyar rupiah.

Kerjasama ini sudah ditanda tangani, dan Jepang telah membuat pesawat pemancar berkekuatan besar, yang akan banyak digunakan oleh banyak negara. SLBC dengan pemancar stasiun gelombang pendeknya akan menyiarkan acara dalam bahasa Urdu, Arab, Bengali, dan Hindi. (Radio Nederland / Asbari Nurpatria Krisna / ASB)

Pemerintah Indonesia Belum Restui SCJJ

Pemerintah sampai saat ini belum mengeluarkan izin pemakaian Sistem Cetak Jarak Jauh, SCJJ. Menteri Penerangan Harmoko menjelaskan ketika ditanya tentang izin pemakaian SCJJ untuk sebuah koran yang terbit di Padang, Sumatra Barat. Pemakaian SCJJ sebenarnya sudah merupakan kebutuhan masyarakat pers kita, terutama dalam menghadapi masa globalisasi saat ini.

Tetapi, tolong dibicarakan dulu, tegasnya. Pemerintah RI menyerahkan sepenuhnya pemakaian teknologi Sistem Cetak Jarak Jauh, SCJJ, pada masyarakat pers. Namun sebelum pemakaian teknologi itu diputuskan, hendaknya masyarakat pers bermusyawarah dulu. Maksudnya, agar tak menimbulkan gejolak kemudian hari. Menurut Harmoko, untuk realisasi pemberian izin pemakaian SCJJ, pemerintah masih menunggu hasil kajian yang dilakukan tim yang dibentuk oleh Dewan Pers Pusat.

Masalah SCJJ tersebut kembali muncul, setelah Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, M. Soegeng Widjaja, menegaskan pemerintah memutuskan akan memberikan izin pemakaian Sistem Cetak Jarak Jauh, SCJJ, kepada salah satu koran di Sumatra Barat. Pemberian izin itu sebagai "kejutan" bagi para penerbit, terutama yang berpusat di Jakarta. "Tidak ada yang mengira kalau yang diizinkan itu justru koran daerah," katanya.

Tetapi nama koran daerah tersebut masih dirahasiakan, hanya disebutkan ciri cirinya. Koran yang beruntung akan mendapatkan izin menggunakan alat canggih tadi berpusat di Padang. Digambarkan dalam cara kerjanya, koran itu memakai sistem yang disebutnya sebagai "warung nasi Padang". Tiap perantau Minang diminta berlangganan koran itu. Soegeng Widjaja mengakui, biaya percetakan itu cukup mahal.

Harga satu unitnya mencapai Rp 5 milyar. Bila ditambah dengan biaya pemasangan serta pengadaan peralatan penerimaan di daerah tujuan, pembiayaan penggunaan sistem itu bisa membengkak lagi, mencapai Rp 10 milyar. Sementara itu, Pemimpin Umum Harian Singgalang, Padang, Basyril Djabar, membenarkan pihaknya pernah mengajukan permohonan untuk mendapatkan izin penggunaan SCJJ kepada Dewan Pers sekitar bulan Maret 1991.

Tetapi dikatakannya, pihaknya belum mendapatkan keputusan tertulis mengenai hal tersebut. Karena, konon semuanya sedang dipelajari pihak Dewan Pers Pusat. Koran Singgalang adalah koran yang spesifik, yakni menginformasikan seluruh kejadian di Sumatra Barat pada urang awak yang dirantau. Koran ini, selain di Sumatra Barat, juga mempunyai fans yang tersebar di seluruh Indonesia. Di Jakarta saja, oplah mingguan ini mencapai 10.000 eksemplar.

Djaffar Assegaf, seorang anggota di Dewan Pers Pusat, membenarkan bahwa pemilik koran Singgalang pernah mendatangi Dewan Pers untuk membicarakan izin itu. Namun saat itu, perizinan pemakaian SCJJ belum bisa diputuskan. Detail proposalnya pun tidak ada, katanya. Assegaf tak membantah bahwa izin pemakaian SCJJ dalam waktu dekat ini mungkin akan dikeluarkan pemerintah. "Kemungkinan tidak sampai tahun depan, pemerintah sudah akan memberi izin pemakaian SCJJ," katanya.

Menurut Assegaf, pemberian izin itu nantinya tidak hanya terbatas untuk koran daerah. Masalahnya, hingga kini belum ada peraturannya. Misal, soal aturan main pemakaian SCJJ, sampai saat ini masih dipelajari oleh tim khusus yang dibentuk Dewan Pers Pusat. Tim itu dipimpin Ketua Prasarana dan Sarana Pers Pusat, Zulharman Said. Menurut Assegaf, tim itu bertugas mengkaji aturan main penggunaan SCJJ.

Aturannya antara lain koran pemakai fasilitas itu wajib mempergunakan perusahaan percetakan yang ada di daerah tujuan, tak boleh membangun perusahaan percetakan sendiri di daerah tujuan. Sementara itu, Perumtel yang dihubungi menyatakan bahwa pihaknya siap melaksanakan SCJJ. Kasubdit Purel Perumtel, Mohammad Gempita, didampingi Ir. Achadiat, Kepala Bidang Perencanaan pada Pusat Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Pusren litbang) Perumtel, mengatakan, Perumtel hanya menyediakan transmisi atau salurannya.

Sedangkan terminal pengiriman dan penerimaan berita harus disediakan sendiri oleh pihak penerbit. SCJJ saat ini belum berjalan. Tetapi, harian Singgalang sudah berunding dengan pihak Perumtel. "Dalam hal ini Perumtel sudah oke, koran tersebut tinggal menunggu realisasinya," kata Kasubdit Purel Perumtel. Achadiat mengemukakan, bahwa SCJJ dapat menggunakan dua macam sarana transmisi, melalui VSAT atau TDMA. (Berita Buana / IDXC / AS)

Jaringan Komunikasi Pasifik

Perencanaan dan penggarapan jaringan satelit bantuan dari Australia memakan waktu tiga tahun, yang nantinya akan memberikan fasilitas komunikasi modern dan cepat kepada negara negara pulau yang tersebar luas di kawasan Pasifik. Penataran sistem ini sangat besar manfaatnya bagi penduduk yang tinggal di pulau terpencil di Nauru, Niue, Kepulauan Cook, Tuvalu, Kiribati, dan Kepulauan Mashall.

Manfaat sistem baru ini adalah bahwa penduduk pulau pulau Pasifik yang ingin menelepon tetangganya di pulau lain, tadinya harus melalui Australia, suatu proses yang memakan waktu lebih lama dan lebih mahal. Dengan adanya sistem satelit ini, mereka dapat berhubungan langsung dengan negara tetangganya. Ini juga berarti bahwa salurannya akan lebih baik, dan pembicaraan akan lebih jelas, seperti halnya IDD yang kita kenal.

Dengan adanya komunikasi satelit ini, tidak lama lagi, negara negara Pasifik tadi juga dapat memanfaatkan komunikasi faksimil dan data links yang penting bagi kehidupan bisnis kawasan Pasifik. Sebegitu jauh, hanya negara negara kecil yang telah menanda tangani kontrak pemakaian sistem satelit. Namun terbuka kemungkinan adanya hubungan faksimil dan data links yang lebih banyak dari negara Pasifik yang memanfaatkan jaringan ini.

Yang jelas, adalah bahwa biaya telepon interlokal maupun internasional antara pulau pulau itu akan lebih mudah dari pada sebelum adanya satelit. Dan sistem tersebut merupakan sarana komunikasi regional yang penting. Perkembangan di kawasan Pasifik sangat mengandalkan komunikasi yang teratur dan cepat, mengingat letak geografisnya terpencar luas.

Sementara itu, 36 badan telekomunikasi terkemuka dunia, beberapa waktu yang lalu, telah menanda tangani persetujuan pemasangan kabel di kawasan Pasifik. Apa yang dinamakan South Pacific Network, atau Jaringan Pasifik Selatan itu, merupakan sarana perhubungan lewat kabel yang menghubungkan semua negara di Samudra Pasifik. Persetujuan yang ditanda tangani di Canberra tersebut melibatkan pemasangan tiga rentangan kabel sepanjang 16.000 kilometer.

Dan masing masing menghubungkan Selandia Baru dan Hawaii, yang dinamakan Pacrim Timur, Sydney dan Guam yang disebut Pacrim Barat, dan Sydney dengan Auckland yang diberi nama Tasman 2. Yang terakhir ini sudah lama digarap, dan diduga akan rampung akhir tahun depan. Kabel komunikasi tersebut dipasang dengan menggunakan teknologi serat optik canggih di bawah permukaan laut, yang akan menyediakan saluran televisi, faksimil berwarna, ISDN broad-band, dan video.

Jaringan Pasifik Selatan ini akan dapat menyalurkan lebih dari 30.000 percakapan telepon secara serentak. Malah para pakar mengatakan mutunya akan lebih baik dari pada hubungan melalui satelit. Perdana Menteri Bob Hawke mengatakan pada upacara penanda tanganan persetujuan jaringan kabel Pasifik Selatan itu, bahwa sarana ini penting sekali artinya bagi komunikasi negara Pasifik dengan dunia luar.

Bob Hawke memuji peranan OTC dalam proyek telekomunikasi canggih ini, bekerja sama dengan perusahaan KDD Jepang, AT&T Amerika Serikat, TNI Selandia Baru. OTC Australia merupakan pemegang saham terbesar. Di samping ke empat maskapai terbesar tadi, terdapat 32 negara lain yang ikut memiliki saham dalam pemasangan jaringan baru tersebut. Persetujuan kemarin itu adalah untuk komunikasi dan perawatan seluruh jaringan Pasifik Selatan yang rampung dalam waktu 4 tahun.

Dalam upacara terpisah di Sydney, perusahaan kabel setempat, Alcatel TCC telah mendapat kontrak bernilai 450 juta dolar untuk membuat dan menyediakan kabel serat optik untuk Pacrim Barat dan Timur, sedangkan untuk saluran Tasman 2 akan disediakan oleh AT&T Amerika.

Pendeknya dalam empat tahun mendatang sarana telekomunikasi daerah Pasifik, tidak hanya antar pulau, tapi juga negara negara sepanjang tepi Pasifik, akan demikian canggih, hingga tujuan tujuan berbagai kerja sama ekonomi demi kemakmuran lebih mudah terjangkau. (Ario Sungkono dan Yuni Tampi / Jayakarta / IDXC / ASB)

 
Dirgantara Online - Vol 1 No 3 Jul-Agu 1991
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2009 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space