Televisi
MTV Tanda Tangani Kerjasama
Mulai bulan September 1991, seluruh masyarakat Indonesia,
khususnya pemilik antena parabola, akan dapat menikmati program siaran Music
Television, MTV, versi Asia, yang akan disiarkan oleh Star TV, Satellite
Television Asia Regional, dari Hong Kong. Penyiaran program itu akan
memanfaatkan Satelit AsiaSat 1. Penyiaran Star TV yang merupakan jaringan
televisi internasional pertama di Asia tersebut akan menyuguhkan beberapa
program yang sudah cukup terkenal di seluruh dunia.
Terutama dalam bidang musik rock, maupun hiburan musik pop
untuk kalangan kawula muda. Demikian siaran pers dari Hutch Vision Group.
Dengan ditanda tanganinya kerja sama antara Hutch Vision dan MTV Networks
tersebut, maka sekitar 2,7 milyar pemirsa di 38 negara Asia akan dapat
menikmati acara tersebut secara bebas, karena sebelumnya MTV hanya dapat
ditonton secara terbatas, ungkap Levison.
Diharapkan kemampuan para ahli MTV dalam berkomunikasi
dengan penggemarnya akan sangat bermanfaat dalam penyelenggaraan jaringan
ini. Presiden Direktur MTV Network, Tom Freston mengatakan bahwa kerja sama
tersebut akan membuka pasaran baru yang sangat luas bagi produk produk
siaran MTV. Diakui pula, bahwa minat terhadap siaran MTV tersebut lebih
banyak pada penyuguhan musik rock 'n roll yang demikian kuat.
Tadinya, siaran seperti itu sangat terbatas bagi kawula
muda di Asia, tetapi sekarang mereka dapat menikmati melalui jaringan
tersendiri, tegas Freston. Diperoleh keterangan, bahwa program siaran MTV
berlangsung selama 24 jam penuh, dengan bahasa Inggris. Programnya sendiri
tetap berorientasi pada selera kawula muda, dengan konsep MTV sebagai satu
lembaga musik rock dan budaya pop internasional, dengan cakupan ke seluruh
Indonesia.
Di samping itu, mulai September 1991, juga ditambah 3
program, masing masing siaran musik, olah raga, dan bahasa Mandarin. Siaran
Star TV dapat diterima pemirsa melalui transponder N5 AsiaSat untuk kawasan
pantulan utara, northern footprint. Sementara pemirsa di kawasan selatan
dapat menangkap siaran melalui transponder S6.
Sedangkan yang telah memiliki antena jenis TVRO, Television
Receive Only, atau jenis antena SMA TV harus mengarahkan pada sinyal utara
gelombang 3880 Mg, maupun sinyal selatan pada gelombang 3940 Mg. (Kedaulatan
Rakyat / IDXC / AS)
Pengusaha Palwa Video di Solo Khawatirkan Kehadiran
TV Swasta
Hadirnya Televisi Pendidikan Indonesia, TPI, yang mengudara
pada pagi hari belum merupakan saingan yang berarti bagi keberadaan penjualan
dan persewaan (palwa) kaset video. Namun kehadiran stasiun televisi swasta
menyajikan berbagai hiburan menarik bagi keluarga di rumah, sangat
mungkin merupakan ancaman yang cukup meresahkan kalangan pengusaha palwa
yang tergabung di dalam Gabungan Pengusaha Palwa Indonesia (Gapalwi).
"Di Solo pengaruh siaran TPI belum nampak, namun apabila
kelak ada televisi swasta di Yogyakarta dan Semarang, kami yakin sejumlah
palwa di Jawa Tengah akan gulung tikar," kata Doddy Sindhunata, Sekretaris
Gapalwi Kodya Surakarta. Dikatakan, sekarang ini, Gapalwi Surakarta
beranggotakan sekitar 23 buah palwa, namun rata rata usahanya belum berkembang.
Kelesuan bisnis palwa ini lebih disebabkan oleh suasana dan keadaan dunia
usaha yang sedang dilanda keprihatinan.
Masyarakat Surakarta sekarang ini juga bisa menikmati siaran
dari Surya Citra Televisi, SCTV, dengan cara memasang suatu antena khusus
yang banyak dijual di berbagai toko elektronika. Untuk seperangkat antena
penangkap siaran SCTV harganya 150 ribu rupiah, antara lain terdiri dari
booster seharga 55 ribu rupiah, antena sirip buatan Taiwan Rp 65 ribu.
Sedang buatan lokal, Bandung, hanya 35 ribu rupiah.
Bagi warga yang menempati daerah yang letaknya tinggi di
Solo, seperti penduduk Kampung Mojosongo, pemasangan antena hanya butuh
dua lonjor pipa air ledeng, sekitar 12 meter. Sedang untuk di pusat kota
Solo membutuhkan empat lonjor pipa ledeng. Pengaruh pahit siaran televisi
swasta paling tidak dirasakan oleh Gapalwi Surabaya. Dengan hadirnya SCTV,
yang menayangkan beraneka ragam hiburan, terutama sajian film film barat
merupakan saingan berat bagi dunia palwa kaset video.
Di Surabaya, yang semula terdapat sekitar 140 palwa, sejak
adanya SCTV sekarang ini, hanya tinggal sekitar 50 palwa. Dari jumlah yang
tersisa, beberapa palwa itu di antaranya "hidup enggan, mati tak mau",
menunggu kebangkrutan. Bisnis palwa video, ungkap seorang anggota Gapalwi
lain, memang usaha yang memanfaatkan kemajuan teknologi elektronika, yang
pada kemunculan awal sempat meresahkan pengusaha bioskop. Bahkan peredaran
kaset video tanpa sensor itu dikhawatirkan dapat merusak moral dan tata
nilai masyarakat.
Kini perkembangan dan kemajuan
teknologi menghadirkan TV swasta, mau tidak mau masyarakat harus menerima
kenyataan ini, kendati dirasa pahit bagi kalangan pengusaha palwa video.
"Gapalwi tak perlu merintih sedih dengan munculnya televisi swasta. Ini
kenyataan selaras dengan perkembangan zaman, yang diwarnai dengan
kemajuan teknologi. Ya ... nanti kami membuka usaha lain, yang sesuai dengan
selera masyarakat," katanya bernada pasrah. (Suara Merdeka / AS)