Televisi
Belanda dan Televisi Komersialnya
Anda dapat bayangkan, sebuah negeri sebesar Jawa Barat,
berpenduduk 15 juta jiwa, Belanda, mempunyai 9 perusahaan televisi, dan
sebuah stasiun televisi komersial, yang mengudara pada empat saluran. Yang
menjadi soal, tiga saluran harus dibagi bagi kepada sembilan organisasi,
sehingga tiap saluran dikelola oleh tiga stasiun televisi. Dengan adanya
usaha meningkatkan pendapatan, berarti mengomersialkan stasiun TV.
Maka, besar kemungkinan, dua stasiun televisi, yaitu Trops
dan Veronica akan lebih leluasa mencari duit, walaupun satu stasiun lainnya
mungkin tidak, yaitu EO. Beberapa tahun lalu, usaha mengomersialkan stasiun
televisi ini memang sudah ada. Tetapi nampaknya memang masih malu malu,
sehingga iklan sangat dibatasi, hanya 15 persen dari seluruh jam siaran.
Pembagian rezeki semacam ini nampaknya hanya menyenangkan Dewan KRO yang
terdiri dari 114 orang.
Masalahnya, pembagian itu dianggap kurang adil, dan tidak
memenuhi harapan KRO, yang bekerja sama dengan AVRO dan MCRV. Apapun yang
akan terjadi, siaran TV harus dibayar. Hanya mengandalkan iuran TV
tidak cukup, karena itu selama ini banyak acara yang menggunakan sponsor,
yang kadang hampir menyerupai iklan terselubung. Sekali lagi, undang
undang media akan direvisi untuk memenuhi tuntutan baru. Tentu ada alasan
utama mengapa pembagian itu menjadi demikian.
Tentu ada alasan mengapa pula Trops dan Veronica harus
mencari duit untuk menyaingi RTL VIR, yang secara yuridis bekerja sama
dengan Radio & Televisi Luxemburg, namun semua kegiatan berada di
Belanda, yaitu di Hilversum. Surat surat penonton ada yang harus disampaikan
ke Hilversum, tetapi ada pula yang harus disampaikan ke Luxemburg untuk
memenuhi kriteria yuridisnya. Tiap stasiun televisi di Belanda mempunyai
penggemar atau penonton sendiri.
Perusahaan televisi ini menerbitkan buku panduan radio dan
TV sendiri. Melalui pelanggan buku panduan inilah dapat diketahui seberapa
besar anggota suatu stasiun. Untuk mendapatkan kategori A, sebuah stasiun
harus mempunyai 500.000 orang penonton, karena itu semua stasiun televisi
berusaha untuk mencapai jumlah anggota sebanyak itu. (Radio Nederland / Asbari Nurpatria Krisna, IDXC / AS)
SCTV Tangani Sendiri Materi Luar Negerinya
Sebagian materi tayangan Surya Citra Televisi, SCTV, dari
luar negeri telah ditangani SCTV sendiri tanpa lewat RCTI, Rajawali Citra
Televisi Indonesia. SCTV sudah memiliki studio kecil dan kontrol master
sendiri. Begitu pula siaran percobaan RCTI lewat Satelit Palapa telah
dihentikan sejak 27 Mei 1991. Jasa Palapa ini dihentikan untuk seluruh
pengiriman materi acara daerah, untuk SCTV Surabaya maupun RCTI Bandung.
Namun, untuk produksi dalam negeri, seperti Melodi Memori,
Rocket, Fokus Kita, Dialog Ekonomi, dan lain lain, masih diambil dari RCTI
Jakarta melalui udara. Untuk RCTI Bandung, pengadaan materi tayangan
dilakukan lewat darat. Siaran percobaan dengan sewa transponder pada Satelit
Palapa ini membutuhkan biayan Rp 2,12 milyar per bulan. Dengan jasa Satelit
Palapa ini, siaran RCTI bisa diterima di seluruh Indonesia, dan sejumlah
negara Asia Tenggara.
Siaran percobaan ini sempat mendapat tanggapan dari
pemerintah. Bila RCTI bisa ditangkap di seluruh daerah, itu berarti tidak
sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Penerangan Nomor 111. Siaran
penayangan televisi swasta yang terfokus pada satu kota, tempat di mana
televisi swasta itu berada, penyiaran nasional dan regional dilakukan oleh
pihak Televisi Republik Indonesia, TVRI. (Jawa Pos / IDXC / HSB)