Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 1 No 3 Jul-Agu 1991
Home
Dirgantara Online
  Indeks
Sapa Redaksi
• Laporan Berita
DX Ranesi
RJ - RN - CBC
Profil Stasiun
Amateur Radio
Antena
DX Mania
IDXC Ria
Televisi
TVRI - RCTI
Belanda-SCTV
MTV - Video
Telekomunikasi
SCJJ - Pasifik
Telepon-Surat
Help Me
Pengurus

Volume 1
  Televisi
Pemancar TVRI Perlu Diganti

Peralatan pemancar TVRI Palangkaraya selama satu tahun lebih ini berkondisi darurat, sehingga siarannya hanya dapat ditangkap di ibukota Kalimantan Tengah. Daerah lain harus menangkap siaran TVRI dengan parabola, yang harganya relatif mahal. "Transformator tegangan tinggi untuk sinyal gambar dan suara rusak, sehingga harus dibantu dengan trafo buatan dalam negeri, yang kekuatannya tidak sama dengan suku cadang asli," kata Kepala Stasiun TVRI Palangkaraya, Marsudi.

Peralatan pemancar TVRI Palangkaraya yang dibangun para 1977 itu buatan Inggris, dengan kekuatan 10.000 watt dan 1.000 watt, sedangkan alat bantu yang didatangkan dari Jawa Timur itu hanya berkekuatan 100 watt. "Wajar saja kalau siaran TVRI kurang dapat dinikmati secara baik dan dapat ditangkap dalam radius yang lebih luas lagi," katanya. Ia menambahkan, hal itu diperparah kondisi Stasiun Bumi Sedang (SBS) TVRI Palangkaraya, yang juga sangat memprihatinkan.

Untuk lebih memberikan pelayanan kepada masyarakat, perlu adanya penggantian peralatan pemancar, termasuk SBS tadi, yang terletak 3,5 km dari kota Palangkaraya. Ia mengatakan pemerintah pusat berencana mengganti dengan peralatan dari Jepang. Tapi sampai sekarang, rencana tersebut belum terlaksana. Itulah sebabnya, kenapa siaran TPI, Televisi Pendidikan Indonesia, belum dapat diterima karena peralatan pemancar darurat tak bisa dipaksa digunakan pagi, siang, malam. (Jawa Pos / AS)

RCTI Lebarkan Sayap ke Bandung

Mulai pukul 17.00, hari Rabu, tanggal 1 Mei 1991, warga Bandung secara resmi mulai menikmati siaran TV swasta, Rajawali Citra Televisi Indonesia, RCTI, Bandung. Pemancaran siaran perdana yang masih berstatus siaran percobaan dilakukan dari stasiun RCTI di Panyandaan, Bandung Utara, sekitar 20 kilometer dari pusat kota. Meskipun disebut siaran ini dilakukan pada posisi Ultra High Frequency, UHF, saluran 50, tanpa antena UHF pun sebagian masyarakat Bandung bisa menerima siaran tersebut pada pesawat televisi mereka.

Untuk siaran percobaan ini, RCTI Bandung hanya mengudara hingga pukul 21.00. Dibuka dengan ucapan perkenalan dari seorang penyiar wanita, siaran perdana RCTI Bandung ini menampilkan acara Seputar Indonesia, yang antara lain diisi dengan berita mengenai rencana operasi bayi berkaki tiga, Ahmad Jaelani, yang berasal dari Purwakarta, dan kini sedang dalam perawatan tim dokter dari Rumah Sakit Hasan Sadikin. Rencana penyiaran RCTI Bandung ini sempat tertunda beberapa kali.

Semula, sempat tersiar kabar, penyiarannya sudah bisa dimulai awal tahun 1991, namun ternyata meleset. Kemudian, terdengar lagi berita, siarannya baru bisa dimulai bulan Maret, dan paling lambat April. Namun, rencana itu belum bisa ditepati. Alasannya, antara lain karena beberapa peralatan penyiaran yang dibutuhkan belum dimiliki oleh stasiun penyiaran RCTI, di antaranya adalah menara untuk penyiaran.

Kepastian waktu penyiaran perdana tanggal 1 Mei 1991 baru diperoleh setelah pihak RCTI Bandung sendiri memberikan penjelasan. Sejak itu, masyarakat Bandung terlihat memberikan sambutan yang cukup meriah, setidaknya menyadari akan adanya sarana hiburan baru, dan menjadi pelengkap bagi kota Bandung.

Beberapa pihak terlihat mulai melirik keuntungan yang bisa diperoleh dengan kehadiran RCTI Bandung ini, di antaranya para pedagang antena UHF. Beberapa pedagang terlihat mulai menggelar dagangan mereka di beberapa tempat di kota Bandung. Antena UHF buatan lokal dijual dengan harga Rp 25.000. (Harian Kompas, IDXC / ASB)

 
Dirgantara Online - Vol 1 No 3 Jul-Agu 1991
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space