Televisi
Pemancar TVRI Perlu Diganti
Peralatan pemancar TVRI Palangkaraya selama satu tahun lebih
ini berkondisi darurat, sehingga siarannya hanya dapat ditangkap di ibukota
Kalimantan Tengah. Daerah lain harus menangkap siaran TVRI dengan parabola,
yang harganya relatif mahal. "Transformator tegangan tinggi untuk sinyal
gambar dan suara rusak, sehingga harus dibantu dengan trafo buatan dalam
negeri, yang kekuatannya tidak sama dengan suku cadang asli," kata Kepala
Stasiun TVRI Palangkaraya, Marsudi.
Peralatan pemancar TVRI Palangkaraya yang dibangun para
1977 itu buatan Inggris, dengan kekuatan 10.000 watt dan 1.000 watt, sedangkan
alat bantu yang didatangkan dari Jawa Timur itu hanya berkekuatan 100 watt.
"Wajar saja kalau siaran TVRI kurang dapat dinikmati secara baik dan dapat
ditangkap dalam radius yang lebih luas lagi," katanya. Ia menambahkan, hal
itu diperparah kondisi Stasiun Bumi Sedang (SBS) TVRI Palangkaraya, yang
juga sangat memprihatinkan.
Untuk lebih memberikan pelayanan kepada masyarakat, perlu
adanya penggantian peralatan pemancar, termasuk SBS tadi, yang terletak
3,5 km dari kota Palangkaraya. Ia mengatakan pemerintah pusat berencana
mengganti dengan peralatan dari Jepang. Tapi sampai sekarang, rencana
tersebut belum terlaksana. Itulah sebabnya, kenapa siaran TPI, Televisi Pendidikan
Indonesia, belum dapat diterima karena peralatan pemancar darurat
tak bisa dipaksa digunakan pagi, siang, malam. (Jawa Pos / AS)
RCTI Lebarkan Sayap ke Bandung
Mulai pukul 17.00, hari Rabu, tanggal 1 Mei 1991, warga
Bandung secara resmi mulai menikmati siaran TV swasta, Rajawali Citra
Televisi Indonesia, RCTI, Bandung. Pemancaran siaran perdana yang masih
berstatus siaran percobaan dilakukan dari stasiun RCTI di Panyandaan,
Bandung Utara, sekitar 20 kilometer dari pusat kota. Meskipun disebut
siaran ini dilakukan pada posisi Ultra High Frequency, UHF, saluran 50,
tanpa antena UHF pun sebagian masyarakat Bandung bisa menerima siaran
tersebut pada pesawat televisi mereka.
Untuk siaran percobaan ini, RCTI Bandung hanya mengudara
hingga pukul 21.00. Dibuka dengan ucapan perkenalan dari seorang penyiar
wanita, siaran perdana RCTI Bandung ini menampilkan acara Seputar Indonesia,
yang antara lain diisi dengan berita mengenai rencana operasi bayi berkaki
tiga, Ahmad Jaelani, yang berasal dari Purwakarta, dan kini sedang dalam
perawatan tim dokter dari Rumah Sakit Hasan Sadikin. Rencana penyiaran
RCTI Bandung ini sempat tertunda beberapa kali.
Semula, sempat tersiar kabar, penyiarannya sudah bisa
dimulai awal tahun 1991, namun ternyata meleset. Kemudian, terdengar lagi
berita, siarannya baru bisa dimulai bulan Maret, dan paling lambat April. Namun,
rencana itu belum bisa ditepati. Alasannya, antara lain karena beberapa
peralatan penyiaran yang dibutuhkan belum dimiliki oleh stasiun penyiaran
RCTI, di antaranya adalah menara untuk penyiaran.
Kepastian waktu penyiaran perdana tanggal 1 Mei 1991
baru diperoleh setelah pihak RCTI Bandung sendiri memberikan penjelasan.
Sejak itu, masyarakat Bandung terlihat memberikan sambutan yang cukup meriah,
setidaknya menyadari akan adanya sarana hiburan baru, dan menjadi
pelengkap bagi kota Bandung.
Beberapa pihak terlihat mulai melirik keuntungan
yang bisa diperoleh dengan kehadiran RCTI Bandung ini, di antaranya para
pedagang antena UHF. Beberapa pedagang terlihat mulai menggelar dagangan
mereka di beberapa tempat di kota Bandung. Antena UHF buatan lokal dijual
dengan harga Rp 25.000. (Harian Kompas, IDXC / ASB)