Televisi
Perang, Neraka bagi Televisi... ?
Siapa tidak kenal Peter Arnett ? Kalau saja Perang Teluk
tidak pecah, nama Peter Arnett tidak menjulang tinggi bagai Rudal Scud
menembus langit. Barangkali, Perang Teluk membawa berkah tersendiri bagi
Peter Arnett, wartawan jaringan Televisi CNN, yang laporannya mengenai kemelut
Perang Teluk disaksikan atau malahan dinikmati jutaan pasang mata di sudut-sudut dunia.
Perang Teluk membawa keberuntungan Peter Arnett. Ia terkenal.
Ia kondang. Ia disebut-sebut jutaan mulut manusia.
Apalagi kalau kita bisa pula menikmati siaran Televisi CNN
bukan hanya mendengar namanya disebut-sebut, melainkan menatap rupa
wajahnya saat ia sedang beraksi. Memang, bukan hanya Peter Arnett saja
yang gara-gara Perang Teluk namanya disebut-sebut orang.
Rudal Patriot, Scud, atau
Jenderal Norman S. pemimpin koalisi ikut menikmati berkah dari Perang Teluk.
Perang, memang, berwajah ganda, keberuntungan, kebangkrutan. Peter Arnett
boleh tersenyum, karena ia menjadi tokoh peliput perang, namun apa jaringan
TV, termasuk CNN tersenyum karena perang ?
Perang bagi jaringan televisi adalah neraka !! Ia neraka
yang mau tidak mau harus diselami. Bukan pertempurannya sendiri yang
merupakan neraka bagi jaringan televisi, melainkan dananya. Sejak pengeboman
atas Irak dilancarkan, 17 Januari 1991 lalu, jaringan televisi ABC, CBS,
CNN, dan NBC, setiap kali meliput perang harus mengeluarkan dana enam juta
Dolar, atau berjumlah sekitar Rp 11,496 milyar hingga Rp 15,328 milyar.
Jumlah uang itu bisa jadi akan semakin membengkak, andaikan perang benar-benar pecah.
Bila perang darat pecah, jaringan televisi yang sudah
ternama itu pasti akan menambah wartawannya. Ini berarti lebih banyak wilayah
yang harus diliput, dan orang tidak bakal tahu berapa banyak dana harus
dikeluarkan untuk meliput peristiwa bergengsi itu. Konyolnya lagi, banyak
perusahaan yang enggan memasang iklan pada hari-hari pertama perang pecah. Mereka
tak menginginkan iklan mereka ditayangkan berbarengan dengan berita buruk perang.
Tak mengherankan, kalau jaringan televisi ABC, CBS, dan NBC
selama pekan-pekan pertama harus kehilangan uang 40 juta Dolar hingga 50 juta
Dolar. Malahan, kalau jaringan televisi itu secara khusus menayangkan berita
perang atau, istilah di negeri itu, menayangkan laporan khusus, biayanya
lebih gede lagi. Untuk sejam siaran, CBS harus mengeluarkan uang sebesar
1,4 juta Dolar, atau sekitar Rp 2,6824 milyar, tidak ada iklan yang masuk !!
Tapi memang, mereka dapat mempertanggungjawabkan hasil
liputannya. Harga yang harus dibayar memang tinggi untuk suatu liputan yang
baik. Tidak ada iklan pun, demi konsumen, mereka berani melangkah maju. Lantas,
bagaimana dengan TVRI ? TVRI tidak ada iklannya, toh tetap dapat mengirimkan
wartawannya meliput Perang Teluk, dan tiap malam menayangkan siaran langsung.
Hebat bukan ?
Tapi, rasanya tak perlu untuk dibandingkan bagaimana
hasilnya dibanding dengan CBS atau CNN, misalnya. Sudah dapat meliput,
itu benar-benar anugrah. Jeffrey Logsdon, seorang analis televisi
mengatakan, memang saat ini, animo pengusaha memasang iklan sudah mendekati
normal. Tetapi, keengganan memasang iklan berbarengan dengan berita perang
masih kuat. Ia malahan memperkirakan, kalaupun siaran iklan sudah pulih
seperti sedia kala, ongkos peliputan Perang Teluk tetap tinggi.
Untuk apa saja uang sebanyak itu ? Untuk membayar jasa
satelit, misal, setiap jaringan televisi harus membayar jasa satelit
sebanyak 100.000 Dolar, atau Rp 191,6 juta, setiap jam. Uang sebanyak itu
untuk menyewa transmisi video dan telepon. "Anda menginginkan itu, maka
Anda harus membayar sebanyak itu," tutur David Miller, direktur berita
luar negeri NBC. Setiap jaringan televisi mengirimkan sekitar 80 reporter,
produser, teknisi kamera, dan teknisi sound, untuk meliput perang.
Mereka harus makan dan perlu tempat tinggal. Biaya yang
dibutuhkan untuk semua itu, selama sepekan, 100.000 Dolar. Tarif hotel
semalam, umumnya 100 Dolar, namun di beberapa kota naik menjadi 200 Dolar.
Mereka, para reporter yang tidak paham bahasa Arab terpaksa harus menyewa
penerjemah untuk menerjemahkan berita di koran, televisi, dan radio lokal.
Tarif seorang penerjemah untuk kerja sehari 100 Dolar.
Belum lagi, sewa kendaraan, beli masker, pakaian anti bahan kimia.
Sepasang pakaian dan masker anti bahan kimia harganya
1.000 Dolar, belum lagi biaya pengangkutan peralatan, misalnya dari
Washington ke Amman, atau Riyadh, atau tempat-tempat lain. NBC, misalnya,
harus mengeluarkan uang 18.000 Dolar untuk mengirimkan empat awaknya dari
London ke Teheran. Biaya bertambah besar, karena tidak mudah terbang ke
kawasan itu. Tidak heran, kalau banyak eksekutif jaringan TV mulai
memikirkan untuk menempatkan orang di kawasan itu.
Mereka selalu bicara anggaran berita jaringan televisi yang
mencapai 250 juta Dolar hingga 300 juta Dolar setiap tahunnya. Jumlah sebanyak
itu, selama Perang Teluk tidak dapat ditutupi. Ini sebagian besar karena
merosotnya jumlah iklan. Sebagian besar pemasang iklan menunda, atau malahan
membatalkan 25 persen komitmennya selama peride ini. Harga yang harus dibayar
memang terlalu mahal.
Tetapi, berapapun harganya, memang harus dibayar kalau
sudah sejak semula sudah disepakati dan diyakini, bahwa bisnis informasi
adalah sesuatu yang teramat penting. Tanpa ada keberanian membayar harga
yang mahal itu, rasanya sulitlah dapat bertahan hidup dalam pusaran bisnis
informasi, yang dari waktu ke waktu kian bertambah kejam ini.
Memang, kadang, terdapat benturan di dalam tugas suci
menegakkan idealisme, yang mendasari dilahirkannya bisnis informasi.
Persoalannya, apalah arti sebuah idealisme itu sendiri, pada
akhirnya akan menggulung jiwa dari bisnis itu sendiri. Yang
diangankan dan yang kenyataan, kadang tidak selalu sama, atau bahkan justru
bertabrakan. (Trias Kuncahyono via Bernas via IDXC-002/INS)
Televisi Irak Tayangkan Lagi Film, Film Amerika
Stasiun televisi Irak yang baru dibangun lagi setelah
hancur oleh bom sekutu atas kota Bagdad, mulai menayangkan kembali film-film
Amerika maupun film barat lainnya, dan Mesir, film yang diproduksi oleh bekas
musuhnya dalam Perang Teluk. Masyarakat Irak sejak dulu memang penggemar
film barat dan Mesir. Sejak dulu, stasiun televisi Irak ini biasa menayangkan
film-film tersebut.
Penayangan kembali film favorit mereka dilaporkan
disambut gembira oleh rakyat Irak yang memang kekurangan hiburan. Selain
pengaktifan kembali siaran televisi, kembalinya Irak ke kehidupan normal,
setelah berakhirnya perang seratus harinya dengan pasukan multinasional,
juga mulai terjadi di sektor-sektor lain.
Pemerintah Irak telah membentuk
komite komite khusus untuk mengkaji dan melaksanakan rencana luas dan
intensif pembangunan kembali aspek aspek kehidupan yang telah dihancurkan
pesawat pesawat pengebom dan rudal-rudal sekutu. Demikian, tulis Harian
Al Thawra, yang dilansir Harian Jawa Pos, tanggal 7 Maret 1991. (IDXC-0001/INS)
TVRI Sediakan Paket Lebaran buat Anda
Sudah menjadi semacam tradisi, setiap menyambut hari besar,
seperti Hari Natal, Tahun Baru, dan Hari Raya Idul Fitri, pihak TVRI harus
banting tulang. Beragam paket acara dibikin. Dan sebaliknya, sudah menjadi
rutin, berbagai kendala akan banyak muncul. Untuk menyambut Hari Raya Idul
Fitri tanggal 16-17 April 1991 mendatang, TVRI telah pula merancang dan
menyiapkan berbagai acara. Menurut catatan, ada lima paket acara yang telah disetujui.
Masing-masing paket adalah : Kesan Bergema, Operet Lebaran
garapan Titik Puspa yang melibatkan artis-artis Papiko, Menyambut Lebaran,
Komedi Lebaran yang dipercayakan kepada Bagito Grup, serta Drama Musikal.
Selain paket yang berbentuk drama musikal, TVRI tak lupa menyelipkan paket
paket acara humor. Kali ini, TVRI mempercayakan kepada Bagito Grup atas
suksesnya paket acara yang berjudul Visit Indonesian Year, dalam Tahun Baru
1994 kemarin. Demikian, tulis Berita Nasional, yang disadur Indonesian DX Club.