FM Hunting
Mendengarkan radio FM stereo lebih enak, lebih ngencring,
sebab musik musik yang didendangkan hampir seluruh frekuensinya terdengar.
Tetapi kebiasaan atau sifat radio penerima MW dengan Modulasi Amplitudo (AM)
berbeda dengan radio penerima VHF dengan Modulasi Frekuensi (FM). Pada MW,
tidak diperlukan antena luar tambahan, sebab itu, tidak terdapat antena
teleskopik di radio portabel, sedangkan radio penerima FM selalu memerlukan
antena luar.
Bisa antena teleskopik yang biasa terdapat pada jenis radio
portabel, ataupun ditambahkan. Agar kekuatan sinyal dapat ditangkap dengan baik
perlu ditambahkan dengan antena luar. Sebelum menentukan antena yang cocok
perlu memilih terlebih dahulu lewat penelitian. Jika lokasi penerima dan
pemancar berjauhan, maka gunakan antena terarah, yagi, sedangkan lokasi di
sekitar perkotaan lebih cocok menggunakan antena segala arah, omnidirectional.
Antena Omnidirectional
Antena omnidirectional sangat ngetop di kalangan fans
FM, khususnya yang stereo. Salah satu keuntungan dari antena ini adalah dapat
menerima sinyal FM stereo dengan baik dari segala arah. Kelemahannya pada gain
(penguatan) tidak sebesar antenna Yagi. Antena J-Sonora adalah salah satu
dari antena omnidirectional. Antena tersebut dapat dibuat dari kawat tebal,
pipa tembaga, dan pipa aluminium, dibentuk menyerupai huruf "J", lihat gambar 1.
Kemudian, Antenna J diletakkan pada kayu penyangga, seperti
terlihat pada gambar 2, konstruksinya nampak sederhana. Antena J-Sonora ini
disesuaikan pada frekuensi resonansi 100,9 MHz, tetapi dapat digeser sambungan
kabel koaksialnya (kotak isolator penyesuai) untuk mendapat resonansi pada
frekuensi lain. Kabel koaksial 72 ohm dapat Anda pakai dari kabel yang biasa
untuk kabel penyalur pada antena TV berwarna, langsung dihubungkan dengan antena
ke penerima FM stereo.
Antena J-Matched ini pada prinsipnya dioperasikan sebagai stub
1/4 panjang gelombang, dengan sifat impedansinya yang tinggi diberikan ke bagian
1/2 panjang gelombang, dalam hal ini sebagai "voltage feed". Pada bagian
atas atau ujung terbuka stub mempunyai impedansi yang menurun atau tinggi
ke rendah. Semakin ke bawah, semakin kecil impedansinya. Sehingga bagian dasarnya
berharga nol. Polarisasi antena vertikal akan condong miring ke atas, yaitu
miring ke ujung antena.
Pada gambar 1, diberikan konstruksi Antenna J-Sonora, yang
berbeda dengan gambar 2. Dapat dipilih mana yang dirasakan lebih mudah
dibuat, hasil percobaan tetap sama. Hasil percobaan di Jakarta dan sekitarnya
cocok untuk frekuensi 100,9 MHz, tetapi tetap dapat digunakan pada frekuensi
88,5-108 MHz. Bagi rekan-rekan DXer yang berdomisili di Yogyakarta dan sekitarnya,
dapat Anda ikuti acara FM Hunter pada 104,05 MHz GCD (Gema Cecya Dhaksinarga) FM Stereo
Setiap Rabu dan Minggu, pukul 20.30 WIB.
Pada acara ini, Anda dapat memperoleh banyak informasi
tentang FM hunting, seperti antena yang digunakan. Bagi DXer yang ingin
kirim naskah untuk FM Hunting ini, kami nantikan kedatangannya. Juga hasil
dalam FM hunting, kirimkan datanya, nama frekuensi, dan kalau bisa
alamat. (Hai/IDXC-0001)