Tell Friend  ·  Chat Room  ·  Bookmark Us  ·  Contact Us  ·  Site Map  ·  Free Email
advanced search
IDXC.ORG - Indonesian DX Club Website IDXC Free Email Service
Free Email Service
 @idxc.org
New user ? Sign up !
Radio Directory  ·  Indonesian DX Club  ·  Amateur Radio  ·  Citizen Band  ·  IBSI DX News  ·  Jembatan DX
CB Radio Directory  ·  Callsign Prefix  ·  Dirgantara  ·  DX Diploma  ·  IDXC Top 50  ·  QSL Gallery  ·  ITU  ·  HFCC
IDXC Shop  ·  Free Translation  ·  Regulation  ·  Download  ·  Web Awards  ·  Radio TV Links  ·  WAP Site


Dirgantara
Bulletin

Dirgantara Online
Vol 1 No 1 Mar-Apr 1991
Home
Dirgantara Online
  Indeks
IDXC
Laporan Berita
Antena
Profil Stasiun
FM Hunting
Televisi
Help Me
Pengurus

Volume 1
  Laporan dan Berita
News Release from Radio Nederland

Salah seorang anggota intelijen Irak memukul Moch. Al Katani untuk menyiarkan kutukan Saddam Hussein atas para Seikh di Kuwait. Katani, Direktur Berita Radio Kuwait, dan juga penyiar terkenal Televisi Kuwait melarikan diri dari Baghdad ke Kuwait. Tapi malangnya, pada hari itu, tanggal 2 Agustus 1990, Irak menyerbu Kuwait.

Hingga ia harus melarikan diri ke Arab Saudi. Di Arab Saudi, ia bersama 38 orang lainnya mendirikan stasiun radio gelap di salah satu tempat di Arab Saudi. Dari sana, ia menyiarkan seruan seruannya kepada 230.000 orang Kuwait agar Irak menyerah kepada Sekutu, dan menyerukan agar rakyat Kuwait tidak keluar rumah, apabila serangan Sekutu datang.

Sejak alat pengganggu Irak dihancurkan pihak Sekutu, Radio Kuwait di pengasingan mengudara dengan bebas ke Kuwait, Irak Selatan, dan Iran. Kini, Al Katani yakin Irak menyadapnya (pada saat konflik Teluk, red). Menurut para penelepon, Kuwait dilanda kekurangan pangan, termasuk air bersih. Televisi Kuwait berada di salah satu gedung pencakar langit di Kuwait City. Televisi Kuwait mempunyai 1700 karyawan.

***

Televisi milik swasta lebih baik ketimbang harus dikelola oleh negara. Bila untung, perusahaan dapat meningkatkan segalanya. Tetapi, bila buntung, akan ketahuan, sebab tidak akan terselubung. Dewasa ini, industri siaran Australia sedang dilanda kebuntungan, karena manajemen yang kurang baik. Paling tidak itulah yang diungkapkan Bendaharawan Federal, Paul Kitty dan Menteri Komunikasi, Kim Bassley.

Dua tahun terakhir, baru diketahui meruginya industri televisi komersial, setelah pada 1957 mulai beroperasi. Para pemilik baru terlalu berlebihan memperkirakan dan menggunakan keuntungan. Dengan adanya Undang undang siaran yang baru, maka pemilikan stasiun televisi di Australia menjadi makin luas, tetapi kebanyakan menderita rugi. Federasi Stasiun Televisi Komersial (FAC) berharap, pada pertengahan tahun 1991 ini, nasib televisi komersial akan lebih baik.

Agaknya, situasi radio komersial lebih mendingan, walaupun 59 dari 143 stasiun yang ada merugi pada tahun 1988-1989. Angka pasti tak dapat diperoleh. Namun salah satu badan di Australia menjelaskan, jaringan besar merugi 103,33 juta Dolar AS. Federasi Siaran Radio Australia mengatakan, tantangan industri siaran termasuk tak menentunya industri TV, prospek TV bayar, iklan dan perluasan baik Australian Broadcasting Corporation milik negara, maupun stasiun stasiun milik swasta.

Federasi Siaran Radio Australia yakin dengan manajemen yang baik, dan pemerintah yang simpatik, maka industri siaran akan dapat mengatasi kesulitannya. Masalah utama sebenarnya terletak pada kesenjangan yang terjadi dalam industri televisi, dan resesi ekonomi itu sendiri. Tarif televisi dianggap terlalu murah, sehingga pemasang iklan dapat membeli jam siaran tanpa mengurangi anggaran, tetapi memukul industri televisi.

Tahun lalu, Australia memperketat pemilikan stasiun TV oleh pengusaha asing. Hanya 20% untuk pribadi, dan 60% untuk grup. Pemerintah akan tetap mempertahankan angka tersebut. Sayangnya, investasi sulit dicari di dalam negeri. Pemecahan yang mungkin akan ditempuh oleh pemerintah adalah televisi yang dibayar oleh pemirsa, baik melalui kabel atau satelit. Paling cepat pada 1992.

***

Revolusi satelit di Asia kini sedang berjalan. Dengan RRC sebagai pesaing utama dari Amerika Serikat, Uni Soviet, maupun Eropa. Pada tanggal 7 April 1990 tahun lalu, RRC telah meluncurkan satelit Roket Long March, dari Shinjiang di Propinsi Shen Chuan, membawa Satelit AsiaSat I, sebuah satelit komunikasi pertama milik swasta.

Setelah enam pekan peluncuran, salah satu dari 24 transponder itu sudah digunakan oleh televisi Myanmar. Sehingga di seluruh Myanmar, orang bisa menyaksikan televisi. Karena kemampuannya ini, Australia juga telah meminta RRC untuk meluncurkan dua satelit untuk TV.

Tiga satelit Intelsat kini sudah mengorbit di atas Samudra Hindia, namun kesemuanya itu milik negara. Dua satelit RRC digunakan untuk siaran pendidikan, televisi regional dan nasional. Satelit Palapa milik Indonesia digunakan untuk televisi, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga disewa oleh Thailand, Malaysia, dan Filipina.

***

Ketika para tawanan perang Sekutu disiarkan dalam televisi Irak, yang juga disiarkan CNN, reaksi utama datang dari negara negara Sekutu, menyatakan Irak telah melanggar Konvensi Jenewa 1949. Apakah sebenarnya bedanya, ketika tawanan Irak yang tertangkap oleh Sekutu ditelanjangi pakaiannya, lalu ditutupi matanya dengan selembar kain putih, kemudian disiarkan oleh televisi ?

Tidakkah hal ini melanggar Konvensi Jenewa 1949 juga ? Inilah umum dipertanyakan, muncul dalam surat-surat pembaca di berbagai media massa. Salah satu harian terbitan Belanda mengemukakan, pelanggaran Konvensi Jenewa, bahkan konvensi konvensi yang lain atas orang orang Palestina di daerah pendudukan Israel juga terjadi.

Menurut tulisan harian itu, Israel telah melanggar Konvensi Jenewa 1949. Namun dunia tidak bergeming atas nasib orang-orang Palestina di daerah pendudukan Israel. Sehubungan dengan serangan rudal Scud Irak ke Israel, pemerintah Belanda di samping mengirim rudal penangkis Patriot ke Israel, juga menawarkan 3000 masker kepada orang-orang Palestina, yang oleh salah seorang tokoh Palestina di Belanda dikatakan tak cukup untuk orang-orang Palestina, terlalu sedikit.

***

Para ahli elektronika di Indonesia mestinya dirangsang oleh kemajuan teknologi satelit, karena Indonesia telah punya satelit. Negara-negara lain kini berlomba lomba untuk memiliki. Beberapa negara tetangga mungkin tidak lagi menyewa satelit Indonesia, karena akan memilikinya sendiri. Satelit mempermudah siaran televisi dan radio, telepon, tetapi juga untuk pemotretan jarak jauh.

Dalam siaran televisi, CNN telah melakukan telekonferensi. Pusatnya di Atlanta, berhubungan dengan kota-kota lain di dalam negeri, dan bahkan di luar negeri. Bagaimana kalau di suatu kota tak ada antena penerima ? Maka diciptakan kini video gelombang mikro 2 arah. Sistem gelombang mikro ini akan beroperasi pada frekuensi 10-23 GHz menggunakan gelombang FM, RF, dan tentu saja, mencari biaya yang lebih murah.

***

Apabila kita di Indonesia menyaksikan antena parabola atau cakram sebesar gajah bengkak, pada saatnya nanti, antena yang lebih kecil akan lebih berarti sesuai dengan kemajuan teknologi elektronik. Itu sebabnya suara-suara positif untuk tidak menggunakan antena parabola yang besar, yang kadang menutup atap rumah ini datang dari Singapura.

Tak lain adalah Menteri Penerangan dan Kesenian yang mengungkapkan hal di atas. Dalam waktu 10-15 tahun mendatang, antena parabola usah dilarang. Antena yang sekarang digunakan orang di Singapura juga besar besar. Yang lebih penting, menurut Sang Brigjen, Singapore Broadcasting Corporation harus tanggap terhadap kemajuan teknologi tersebut. (Indonesian DX Club / Radio Nederland)

 
Dirgantara Online - Vol 1 No 1 Mar-Apr 1991
About Us  ·  Tentang Kami  ·  Copyright 1998-2008 Indonesian DX Club  ·  Privacy Policy  ·  Contact Us  ·  Site Map
  IDXC Banner Space