| |
Indeks
IDXC
Laporan Berita
Antena
Profil Stasiun
FM Hunting
Televisi
Help Me
Pengurus
Volume 1
|
|
Laporan dan Berita
News Release from Radio Nederland
Salah seorang anggota intelijen Irak memukul Moch. Al Katani
untuk menyiarkan kutukan Saddam Hussein atas para Seikh di Kuwait. Katani,
Direktur Berita Radio Kuwait, dan juga penyiar terkenal Televisi Kuwait
melarikan diri dari Baghdad ke Kuwait. Tapi malangnya, pada hari itu,
tanggal 2 Agustus 1990, Irak menyerbu Kuwait.
Hingga ia harus melarikan diri ke Arab Saudi. Di Arab
Saudi, ia bersama 38 orang lainnya mendirikan stasiun radio gelap di salah
satu tempat di Arab Saudi. Dari sana, ia menyiarkan seruan seruannya kepada 230.000
orang Kuwait agar Irak menyerah kepada Sekutu, dan menyerukan agar rakyat
Kuwait tidak keluar rumah, apabila serangan Sekutu datang.
Sejak alat pengganggu
Irak dihancurkan pihak Sekutu, Radio Kuwait di pengasingan mengudara
dengan bebas ke Kuwait, Irak Selatan, dan Iran. Kini, Al Katani yakin Irak
menyadapnya (pada saat konflik Teluk, red). Menurut para penelepon, Kuwait dilanda
kekurangan pangan, termasuk air bersih. Televisi Kuwait berada di salah satu
gedung pencakar langit di Kuwait City. Televisi Kuwait mempunyai 1700 karyawan.
***
Televisi milik swasta lebih baik ketimbang harus dikelola
oleh negara. Bila untung, perusahaan dapat meningkatkan segalanya. Tetapi,
bila buntung, akan ketahuan, sebab tidak akan terselubung. Dewasa ini,
industri siaran Australia sedang dilanda kebuntungan, karena manajemen yang
kurang baik. Paling tidak itulah yang diungkapkan Bendaharawan Federal, Paul
Kitty dan Menteri Komunikasi, Kim Bassley.
Dua tahun terakhir, baru diketahui meruginya industri
televisi komersial, setelah pada 1957 mulai beroperasi. Para pemilik baru terlalu
berlebihan memperkirakan dan menggunakan keuntungan. Dengan adanya Undang
undang siaran yang baru, maka pemilikan stasiun televisi di Australia menjadi makin
luas, tetapi kebanyakan menderita rugi. Federasi Stasiun Televisi Komersial
(FAC) berharap, pada pertengahan tahun 1991 ini, nasib televisi komersial
akan lebih baik.
Agaknya, situasi radio komersial lebih mendingan, walaupun
59 dari 143 stasiun yang ada merugi pada tahun 1988-1989. Angka pasti tak dapat
diperoleh. Namun salah satu badan di Australia menjelaskan, jaringan besar
merugi 103,33 juta Dolar AS. Federasi Siaran Radio Australia mengatakan,
tantangan industri siaran termasuk tak menentunya industri TV,
prospek TV bayar, iklan dan perluasan baik Australian Broadcasting
Corporation milik negara, maupun stasiun stasiun milik swasta.
Federasi Siaran Radio Australia yakin dengan manajemen yang
baik, dan pemerintah yang simpatik, maka industri siaran akan dapat mengatasi
kesulitannya. Masalah utama sebenarnya terletak pada kesenjangan yang
terjadi dalam industri televisi, dan resesi ekonomi itu sendiri. Tarif
televisi dianggap terlalu murah, sehingga pemasang iklan dapat membeli jam
siaran tanpa mengurangi anggaran, tetapi memukul industri televisi.
Tahun lalu, Australia memperketat pemilikan stasiun TV
oleh pengusaha asing. Hanya 20% untuk pribadi, dan 60% untuk grup. Pemerintah
akan tetap mempertahankan angka tersebut. Sayangnya, investasi sulit dicari
di dalam negeri. Pemecahan yang mungkin akan ditempuh oleh pemerintah adalah
televisi yang dibayar oleh pemirsa, baik melalui kabel atau satelit. Paling
cepat pada 1992.
***
Revolusi satelit di Asia kini sedang berjalan. Dengan RRC
sebagai pesaing utama dari Amerika Serikat, Uni Soviet, maupun Eropa. Pada
tanggal 7 April 1990 tahun lalu, RRC telah meluncurkan satelit Roket Long
March, dari Shinjiang di Propinsi Shen Chuan, membawa Satelit AsiaSat I,
sebuah satelit komunikasi pertama milik swasta.
Setelah enam pekan peluncuran, salah satu dari 24
transponder itu sudah digunakan oleh televisi Myanmar. Sehingga di seluruh
Myanmar, orang bisa menyaksikan televisi. Karena kemampuannya ini,
Australia juga telah meminta RRC untuk meluncurkan dua satelit untuk TV.
Tiga satelit Intelsat kini sudah mengorbit di atas
Samudra Hindia, namun kesemuanya itu milik negara. Dua satelit RRC digunakan
untuk siaran pendidikan, televisi regional dan nasional. Satelit Palapa milik
Indonesia digunakan untuk televisi, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga
disewa oleh Thailand, Malaysia, dan Filipina.
***
Ketika para tawanan perang Sekutu disiarkan dalam televisi
Irak, yang juga disiarkan CNN, reaksi utama datang dari negara negara
Sekutu, menyatakan Irak telah melanggar Konvensi Jenewa 1949. Apakah sebenarnya
bedanya, ketika tawanan Irak yang tertangkap oleh Sekutu ditelanjangi
pakaiannya, lalu ditutupi matanya dengan selembar kain putih, kemudian
disiarkan oleh televisi ?
Tidakkah hal ini melanggar Konvensi Jenewa 1949 juga ?
Inilah umum dipertanyakan, muncul dalam surat-surat pembaca di berbagai
media massa. Salah satu harian terbitan Belanda mengemukakan, pelanggaran
Konvensi Jenewa, bahkan konvensi konvensi yang lain atas orang orang
Palestina di daerah pendudukan Israel juga terjadi.
Menurut tulisan harian itu, Israel telah melanggar Konvensi
Jenewa 1949. Namun dunia tidak bergeming atas nasib orang-orang Palestina di
daerah pendudukan Israel. Sehubungan dengan serangan rudal Scud Irak ke
Israel, pemerintah Belanda di samping mengirim rudal penangkis Patriot ke
Israel, juga menawarkan 3000 masker kepada orang-orang Palestina, yang oleh
salah seorang tokoh Palestina di Belanda dikatakan tak cukup untuk
orang-orang Palestina, terlalu sedikit.
***
Para ahli elektronika di Indonesia mestinya dirangsang
oleh kemajuan teknologi satelit, karena Indonesia telah punya satelit.
Negara-negara lain kini berlomba lomba untuk memiliki. Beberapa negara
tetangga mungkin tidak lagi menyewa satelit Indonesia, karena akan memilikinya
sendiri. Satelit mempermudah siaran televisi dan radio, telepon, tetapi
juga untuk pemotretan jarak jauh.
Dalam siaran televisi, CNN telah melakukan telekonferensi.
Pusatnya di Atlanta, berhubungan dengan kota-kota lain di dalam negeri, dan
bahkan di luar negeri. Bagaimana kalau di suatu kota tak ada antena
penerima ? Maka diciptakan kini video gelombang mikro 2 arah. Sistem
gelombang mikro ini akan beroperasi pada frekuensi 10-23 GHz menggunakan
gelombang FM, RF, dan tentu saja, mencari biaya yang lebih murah.
***
Apabila kita di Indonesia menyaksikan antena parabola atau
cakram sebesar gajah bengkak, pada saatnya nanti, antena yang lebih kecil
akan lebih berarti sesuai dengan kemajuan teknologi elektronik. Itu
sebabnya suara-suara positif untuk tidak menggunakan antena parabola yang
besar, yang kadang menutup atap rumah ini datang dari Singapura.
Tak lain adalah Menteri Penerangan dan Kesenian yang
mengungkapkan hal di atas. Dalam waktu 10-15 tahun mendatang, antena parabola
usah dilarang. Antena yang sekarang digunakan orang di Singapura juga besar
besar. Yang lebih penting, menurut Sang Brigjen, Singapore Broadcasting
Corporation harus tanggap terhadap kemajuan teknologi tersebut. (Indonesian DX Club / Radio Nederland)
|
|